|
Ringkasan Khotbah : 14 Desember 2003
Nats: Luk 1:72-73 Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno |
Suatu anugerah dan berkat besar bagi keluarga Zakharia karena dari merekalah akan lahir Yohanes Pembaptis yang menjadi pembuka jalan bagi Juruslamat. Setelah 400 tahun Tuhan tidak berfirman kini Tuhan berkenan melawat umatNya kembali dan perjanjian Allah dengan umat Israel digantikan oleh Israel yang baru, yaitu gereja Tuhan. Adalah anugerah jikalau dari sekian banyak suku bangsa di dunia Tuhan berkenan memilih bangsa Israel. Tapi sayang, mereka tidak memandang hal tersebut sebagai berkat Tuhan dan mereka justru menyeleweng dari jalan Tuhan.
Pelaksanaan dan cara dapat berubah tapi prinsip perjanjian Allah tidak pernah berubah karena: 1) Kebenaran sejati bersifat mutlak dan universal, manusia harus taat; melanggar berarti melawan keberadaan dan kedaulatan Tuhan, 2) Kebenaran sejati tidak dibatasi oleh waktu, dari dulu sampai sekarang pasti benar. Satu-satunya kebenaran yang telah teruji selama beribu-ribu tahun hanyalah Alkitab. Rentang waktu kitab Kejadian dan kitab Yohanes diperkirakan 1500 tahun dan ditulis oleh puluhan nabi tapi keseluruhan isi kitab tidak saling bertentangan. Alkitab tidak terkunci oleh waktu, tempat dan budaya tertentu. Tuhan memakai umatNya, keluarga Allah untuk menjadi saksi bagiNya dan prinsip ini ditegaskan kembali dalam kitab Perjanjian Baru.
Manusia selalu berusaha mencari Tuhan tapi dengan konsep dan cara mereka sendiri maka tidaklah heran jikalau mereka sulit menerima Allah datang melawat umatNya (Luk. 1:68). Ingat, saat jatuh dalam dosa manusia justru lari dan bersembunyi dari Allah; Tuhanlah yang berinisiatif melawat mereka terlebih dahulu. Prinsip teologi perjanjian, the covenant theology harus dimengerti sebagai satu kaitan bahwa Allah beranugerah mendatangi umatNya dan mengaruniakan keselamatan sehingga hubungan manusia yang terputus diperdamaikan dengan Allah kembali. Sejak tahun 1800 timbul kontroversi mengenai baptisan. Baptisan mulai dijalankan pada jaman Perjanjian Baru menggantikan modus dalam Perjanjian Lama, yaitu sunat.
Bayi yang berumur delapan hari harus disunat sebagai lambang bahwa ia sudah menjadi anggota keluarga Allah yang dalam PB ditegaskan dengan baptisan. Seorang anak yang lahir dalam keluarga Kristen berarti ia sudah menjadi anggota keluarga Allah; anugerah Tuhan bekerja terlebih dahulu sehingga manusia dapat menyadari dosa. Hati-hati dengan ajaran sesat yang melawan prinsip anugerah Tuhan yang menyatakan kita harus percaya dulu barulah dibaptis. Anugerah Tuhan tidak tergantung dari respon manusia. Orang yang bertobat justru dengan rendah hati mengaku di hadapan Tuhan akan keberadaan dirinya yang berdosa. Alkitab menegaskan hidup kekal yang kita peroleh bukan karena usaha manusia tapi Tuhan yang beranugerah terlebih dahulu.
Banyak orang mengira baptisan sama dengan tiket menuju ke surga sehingga seringkali kita menjumpai orang yang bergiat dalam pelayanan sebelum dibaptis. Baptisan merupakan tanda awal anugerah Tuhan beserta dan menjadi tugas setiap kita dan orang tua untuk membuktikan hal tersebut. Itulah sebab seorang anak yang dibaptis maka orang tuanyalah yang harus bertanggung jawab mendidik mereka untuk takut akan Tuhan sehingga jika ia dewasa nanti ia menyatakan kembali imannya di depan umum.
Natal menjadi momen bagi Allah setelah 400 tahun diam dan kini Ia kembali melawat umatNya untuk memberikan keselamatan. Surga bukanlah tujuan akhir dari keselamatan; keselamatan merupakan titik awal diperdamaikannya kembali manusia dengan Allah sehingga mempunyai persekutuan yang erat bersama Tuhan. Nubuat Zakharia menunjukkan bagaimana Tuhan memimpin umatNya untuk kembali percaya padaNya. Puji Tuhan, kalau kita dapat hidup berada di dalam pimpinan anugerah dan kedaulatan Tuhan sehingga kita dapat memuji dan bersorak bagi Tuhan karena Allah itu baik, kasih setiaNya untuk selama-lamanya (Mz. 100). Allah yang melawat umatNya adalah Allah yang berbelas kasih; Ia telah memberikan anakNya mati menjadi tebusan bagi manusia berdosa. Ironisnya, manusia seringkali salah menafsirkan rahmat Allah akibatnya rahmat iblislah yang dimengerti sebagai rahmat Allah. Dosa menyebabkan manusia tidak mau tunduk di bawah kedaulatan Allah tetapi justru mencocokkan konsep yang ada dalam pikirannya tersebut seolah-olah keinginan dari Allah. Kebaikan Tuhan yang tidak sesuai dengan konsep manusia dianggap bukan sebagai kebaikan Allah. Lebih tepatnya, keinginan manusia yang terpuaskan itulah yang dianggap sebagai kebaikan Allah padahal setiap keinginan manusia berdosa dan bersifat jahat. Ironisnya kebaikan Allah yang sesungguhnya dianggap sebagai kejahatan.
Calvin menegaskan walaupun Allah menghajar anak-anakNya dengan keras untuk waktu yang seketika, tujuanNya ialah untuk memahkotai mereka dengan sukacita dan kelimpahan. Adalah sifat manusia berdosa selalu ingin melawan kebenaran Tuhan. Seorang filsuf, Aristoteles mulai memikirkan akan arti kebaikan yang sesungguhnya. Manusia ingin melakukan kebaikan tapi karena tidak memahami kebaikan yang sejati maka hal yang dilakukan justru adalah ketidakbaikan. Orang seringkali menganggap perbuatan baik adalah bila seseorang melakukan hal-hal yang kita suka dan sebaliknya jika tindakan tersebut tidak menyenangkan atau tidak sesuai dengan keinginan kita maka hal itu dianggap sebagai perbuatan jahat. Jadi, baik atau jahat tergantung dari egoisnya kita padahal egois itu sendiri merupakan kejahatan.
Manusia pikir sifat Allah yang baik adalah seperti kebaikan yang dilakukan manusia. Bukan! Kita tidak tahu kebaikan sejati akibatnya ketika Allah berbuat baik kita tidak berpikir kebaikan tersebut datangnya dari Allah. Konsep ini bahkan telah merasuk ke dalam jiwa kekristenan, yaitu Allah itu baik kalau Ia mengabulkan setiap keinginan yang menjadi nafsu kita. Puji Tuhan, Firman Tuhan menegaskan Allah itu penuh rahmat di sepanjang sejarah jaman. Allah telah memberikan segala berkat rohani dari surga untuk kita (Ef. 1:3) tapi sayangnya, bukan berkat rohani yang diinginkan manusia tapi berkat jasmani. Manusia telah dibutakan sehingga tidak dapat melihat kebaikan Allah dan ironisnya, kebaikan iblis dianggap sebagai kebaikan Tuhan.
Suatu anugerah kalau kita dapat merasakan kebaikan Allah dan berkat-berkatNya yang penuh melimpah dan telah dibuktikanNya, yaitu:
1. Allah mengasihi manusia berdosa seperti Bapa yang mengasihi anakNya. Kebaikan Allah ini melampaui pikiran manusia karena manusia yang seharusnya dibinasakan justru diselamatkanNya. Pernahkah kita memikirkan untuk berbuat baik pada orang yang telah membenci dan menyakiti hati kita? Kekejian yang dilakukan manusia adalah ketika ia melawan Tuhan, yang menciptakannya. Bayangkan, jika anda mempunyai anak yang durhaka, melawan semua perintah anda bahkan ia tidak mengakui anda sebagai orang tua kandungnya. Bagaimanakah perasaan anda? Pastilah orang tua akan merasa sedih, marah, kecewa, perasaan menjadi tercampur aduk sampai-sampai terasa sulit untuk diungkapkan. Maka sudah sepatutnyalah kalau anak tersebut kita buang bahkan tidak kita akui lagi sebagai anak kandung.
Di dunia orang percaya hukum karma berlaku bagi anak yang durhaka pada orang tuanya maka seharusnya Tuhanpun berhak menghukum kita karena kedurhakaan kita. Manusia pantas dihukum dan dibinasakan karena telah menolak dan melawan Allah yang menciptakan dirinya. Duniapun tahu ada hukum sebab akibat di dunia ini yang sifatnya kekal, yaitu tidak sesuatu yang terjadi tanpa ada penyebabnya. Tapi khusus tentang adanya alam semesta dan manusia, orang justru berpendapat bahwa keberadaannya terjadi secara tiba-tiba. Sebenarnya tujuannya hanya satu, yaitu manusia menolak keberadaan Tuhan. Ironisnya, teori evolusi yang sangat tidak masuk akal diterima sebagai suatu kebenaran. Tanpa Allah mencipta tidak ada satu manusiapun di dunia; manusia tahu akan hal ini tapi manusia sengaja menolak dan melawan Dia.
Bukanlah hal yang mudah bagi manusia untuk mengasihi orang yang telah menyakiti kita. Dibutuhkan cinta kasih yang besar bagi mereka sehingga ia dapat mengasihi orang yang telah menyakitinya. Dapatkah anda mengasihi seorang penjahat yang telah membunuh, memerkosa salah seorang keluarga kita? Setiap manusia pastilah menginginkan keadilan ditegakkan supaya tidak semakin banyak korban yang jatuh karena hukuman ditiadakan. Bukankah manusia keji demikian seharusnya dibinasakan? Sebenarnya itu menjadi gambaran manusia berdosa yang seharusnya dihukum akan tetapi karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia mengaruniakan anakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16). Kasih Tuhan berbeda dengan kasih dunia; Tuhan tidak pernah mengharapkan imbalan atas pengorbanan yang Ia berikan berbeda dari kasih dunia yang mengasihi karena ada keuntungan yang diperoleh darinya. Pengalaman hidup yang telah dialami Paulus membuat dia dapat berkata kalau Bapa di surga sampai tidak menyayangkan anakNya sendiri, tetapi menyerahkanNya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? (Rm. 8:32) Respon yang seperti bagaimanakah yang seharusnya kita tunjukkan pada Bapa? Biarlah kita bertekad agar hidup kita senantiasa memuliakan Tuhan sehingga kita dapat menjadi saksi bagiNya.
2. Rahmat Allah bukan rahmat yang terjadi pada situasi dan kondisi tertentu tapi sepanjang jaman bahkan di setiap nafas kita. Manusia telah terbiasa dengan rahmat Tuhan di sepanjang hidupnya sehingga manusia seringkali mengabaikannya. Kita tidak menyadari kalau sampai detik ini kita masih bisa bernafas itu merupakan anugerah Tuhan terbesar. Hingga suatu hari kita tidak dapat bernafas barulah kita menyadari anugerah Tuhan itu. Allah itu baik, Ia menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan yang tidak benar (Mat. 5:45). Allah yang setia telah melimpahkan rahmatnya setiap hari pada manusia maka seharusnyalah kita membalas kasih setiaNya tersebut dengan hidup seturut kehendakNya.
Namun Tuhan itu sungguh amat baik meski manusia tidak setia, Allah tetap setia karena Dia tidak dapat menyangkal diriNya (2 Tim. 2:11-13). Janji Allah setia dari dulu hingga kini; Dia selalu menuntun kita setiap saat menuju janjiNya. Puji Tuhan, kalau sampai detik ini kita dapat merasakan kasih setia Tuhan menuntun di setiap pergumulan hidup dan tantangan yang bagi manusia rasanya mustahil. Rasakanlah setiap rahmat Tuhan di setiap detik hidup kita; Tuhan selalu menuntun bahkan dalam hal-hal kecil. Marilah kira refleksi dan mengevaluasi ulang berkat-berkat apa yang Tuhan telah berikan bagi anda? Allah kita yang rahmani adalah Allah yang baik.
3. Kasih dan Rahmat Tuhan tiada berkesudahan. Kalau hari ini kita masih dapat bernafas, bekerja, dan hidup itu merupakan anugerah yang besar. Manusia menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang biasa dan cenderung mengabaikan karena kebaikan Tuhan tersebut dirasakan tidak cocok dan tidak sesuai dengan keinginan kita. Kita tidak pernah menyadari setiap berkat yang Dia beri adalah yang terbaik. Kebaikan Tuhan tersebut justru kita balas dengan cacian karena kita tidak puas dengan berkat Tuhan yang telah kita terima. Bagaimana perasaan kita bila menerima perlakuan demikian dimana orang tidak berterima kasih atas pemberian kita tetapi justru memanfaatkan kebaikan kita demi untuk meraup keuntungan yang lebih besar lagi. Dan celakanya, konsep ini terjadi di kekristenan. Tuhan telah berbelas kasih kepada kita, Dia melimpahkan rahmat dan anugerah tapi kita seringkali tidak bersyukur bahkan kita selalu merasa kekurangan.
Ingat, kewajiban Tuhan bukan memberikan berkat pada manusia; Ia seharusnya membinasakan kita karena dosa-dosa kita. Namun Allah yang penuh berbelas kasih masih berkenan melimpahkan rahmatNya. Marilah kita merenungkan kasih Tuhan di sepanjang hidup kita dan bersyukurlah senantiasa atas segala hal, baik dalam keadaan susah ataupun senang karena Tuhan tidak pernah mereka-rekakan yang jahat untuk umatNya. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)