Ringkasan Khotbah : 07 Desember 2003

Christmas & Salvation

Nats: Luk 1: 68-71

Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno

 

Alkitab terjemahan LAI memberikan judul Lukas pasal satu, dengan Nyanyian pujian Zakharia. Tapi ini bukan sekedar nyanyian pujian melainkan nubuat Tuhan bagi seluruh umatNya yang diucapkan Zakharia; setelah lebih kurang 400 tahun lamanya Tuhan tidak berfirman. Nubuat itu tentang hal kelahiran Kristus, yakni Natal yang pertama dan peranan anaknya, Yohanes Pembaptis yang menjadi pembuka jalan bagi Kristus. Nubuat Tuhan tersebut dibagi menjadi empat bagian berkaitan dengan kelahiran Yesus: 1) Natal memberikan keselamatan (ay. 68-71), 2) Natal dan berkat-berkat Allah (ay. 72-73), 3) bagaimana merespon natal sebagai ibadah (ay. 74-75), 4) Natal berkait dengan pelayanan atau hidup yang bekerja dan berbuah bagi Tuhan  (ay. 76-79). Keempat hal tersebut diatas dapatlah disimpulkan menjadi dua bagian besar, yaitu bagaimana Allah bekerja dan bagaimana manusia berespon.

Logika Zakharia sulit menerima nubuatan Tuhan yang menyatakan bahwa  istrinya yang mandul, Elisabet akan melahirkan seorang anak. Zakharia kurang beriman, dia lupa Tuhan Maha Kuasa sehingga tiada yang mustahil bagiNya. Hari inipun orang masih berpikir, beriman berarti apa yang menjadi keinginan sayalah yang harus terjadi. Salah! Iman sejati bukan apa yang kita mau tapi kembalinya manusia pada kehendak Allah yang sejati walaupun bagi manusia hal tersebut mustahil. Zakharia yang tidak percaya meminta tanda dan Tuhan membuatnya menjadi bisu. Keanehanpun terjadi bayi dalam kandungan Elisabet melonjak ketika Maria, ibu Tuhan Yesus mengunjunginya (Luk. 1:41). Alkitab menunjukkan sudah ada tanda kehidupan sejak bayi berada dalam kandungan ibu.

Sejak kejatuhan manusia dalam dosa, Allah merancangkan keselamatan; dari keturunan perempuan inilah yang akan meremukkan kepala iblis (Kej. 3:15). Tuhan memelihara bangsa Israel selama beratus-ratus tahun untuk memberitakan kabar keselamatan dan menjadi tempat kelahiran Juruselamat karena itu Tuhan meminta agar manusia menguduskan diri, hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Akan tetapi hidup mereka terus menyeleweng dari jalan Tuhan walaupun Tuhan telah berulang kali memperingat-kannya. Setelah Maleakhi, Tuhan tidak berfirman lagi selama lebih kurang 400 tahun lamanya. Untuk pertama kalinya Allah memakai imam Zakharia yang difungsikan sebagai nabi untuk mewartakan berita Firman.

Masa 400 tahun atau sama dengan 16 generasi antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru disebut inter testamental. Pada masa itu orang Israel dipaksa untuk bereligiusitas; bukan religiusitas sejati karena tidak berpaut dengan Allah yang sejati. Mereka hanya melakukan ritual agama yang membuat hidup mereka semakin tertekan. Muncullah golongan Saduki, golongan Parisi, dan muncul orang-orang yang membuat “peraturan-peraturan agama“. Aturan-aturan tersebut justru mengikat dan menyengsarakan hidup mereka sendiri. Mereka pikir dengan melakukan aturan-aturan, mereka telah beragama. Ironisnya, hal-hal yang seharusnya tidak perlu diatur justru dibuat peraturan seperti berat ringannya barang yang harus dibawa, seberapa jauh melangkah pada hari Sabat, dan lain-lain.

Agama menjadi tempat pelarian manusia ketika dalam kesulitan sehingga orang akan beragama kalau agama tersebut menguntungkan dan membuat hidup manusia sejahtera. Maka tidaklah heran Karl Max mengatakan agama sebagai candu untuk orang-orang yang tertekan dan kesulitan. Bahkan orang beranggapan supaya “allah“ tidak marah dan kita tidak dimurkai maka kita harus memberikan korban persembahan. Namun hal tersebut justru menjadi hal yang biasa; mereka tidak memahami lagi arti darah yang tercurah, yaitu sebagai ganti tebusan dosa mereka. Hal ini membuktikan: pertama, kepandaian manusia tidak dapat membuatnya beriman pada Tuhan Yesus; hanya anugerah kalau kita dapat beriman pada Tuhan Yesus, kedua manusia akan datang pada Tuhan saat mengalami penderitaan dan kesulitan dan melupakan Tuhan ketika ia sedang bahagia dan hidup berkelimpahan. Agama menjadi permainan belaka; bangsa Israel menjadi orang yang munafik, di satu pihak mereka mempunyai peraturan yang ketat tapi di lain pihak mereka tidak dapat menjalankannya. Tuhan Yesus menegur mereka sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran (Mat. 23:27). Mereka hanya memikirkan aturan-aturan yang dianggap idealis tapi lepas dari Allah yang merupakan sumber agama itu sendiri.

Tidak hanya masalah keagamaan, secara politis bangsa Israel juga mengalami tekanan. Mereka dipermainkan dari penjajah satu ke penjajah lain; jaman Zakharia hingga jaman Tuhan Yesus mereka berada di bawah kuasa bangsa Romawi. Untuk mendapatkan keuntungan dan kekuasaan maka pemimpin-pemimpin Israel lebih mementingkan kepentingan Romawi daripada bangsanya sendiri. Sebagai contoh, Raja Herodes kelihatannya berniat baik dengan membangun bait Allah megah dan berlapis emas namun itu semua hanya menyengsarakan rakyat sehingga Tuhan meratakannya dengan tanah di tahun 70 AD. Keadaan yang tertekan inilah yang menyebabkan mereka sukar memahami pengajaran Tuhan Yesus yang mengatakan berbahagialah yang miskin dan celakalah yang kaya, berbahagialah kamu yang dianiaya karena kebenaran dan celakalah kamu yang dipuji, dan masih banyak lagi. Tekanan hidup yang berat membuat manusia menjadi skeptis, putus asa, dan tidak tahu tujuan hidup.

Natal menjadi momen bagi Tuhan kembali berfirman setelah berhenti dengan Perjanjian Lama dan membuka babak baru, yaitu Perjanjian Baru dengan prinsip yang baru, modus baru dan cara baru. Imam Zakharia difungsikan sebagai nabi untuk bernubuat, the spokesman of God. Nubuat berarti pesan dari Allah yang bersifat kebenaran dan pembicaranya adalah nabi dari kata naba’ah. Nubuat bukan ramalan atau horoskop. Nubuat mempunyai beberapa prinsip, yaitu:

1. Nubuat mengandung kebenaran mutlak. Allah berbicara melalui nabi maka nabi tidak boleh berbicara apapun selain yang dari Allah; karena dari Allah sang Kebenaran sejati maka nubuat tidak bisa salah. Hanya nabi palsu yang bernubuat palsu dan harus dihukum mati tapi hari ini mereka justru bebas berkeliaran. Dan yang lebih celakanya lagi justu dia menyalahkan Tuhan Yesus atas kesalahannya. Ingat, hari ini kalau Tuhan belum bertindak bukan berarti Dia tidak akan menghukum. Bukan! tetapi karena kasih, Dia masih memberikan kesempatan bagi mereka untuk bertobat, seperti halnya Yudas. Kalau Tuhan mau pakai seseorang untuk membicarakan kebenaran maka Dia sendiri yang memerintahkan pada manusia apa yang harus dikatakan dan hal tersebut bersifat kebenaran mutlak tanpa cacat.

2. Nubuat tidak pernah dikunci oleh lokal atau pribadi tertentu. Zakharia memberikan nubuat tentang Yesus dan Yohanes Pembaptis untuk umat Israel. Tuhan memberikan nubuat untuk Musa, Nuh, Daud, dan lain-lain apakah itu berarti nubuat tersebut bukan untuk kita? Firman adalah kebenaran maka itu berlaku untuk semua manusia di seluruh dunia dan di sepanjang jaman bahkan untuk mereka yang bukan Kristen sekalipun. Allah kita adalah Allah yang tidak terbatas dan kebenaranNya bersifat universal. Maka nubuat tidak ditujukan untuk orang tertentu saja dan tidak dibatasi dengan konsep yang sempit dan ruang lingkup yang sempit; itu merupakan pelecehan buat Tuhan.

3. Nubuat sejati merupakan rangkaian dari seluruh nubuat Allah sebelumnya. Nubuat sejati tidak berdiri sendiri; seperti yang telah difirmankanNya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabiNya yang kudus (Luk. 1:70). Hari ini, banyak kita jumpai nubuat untuk kepentingan pribadi. Nubuat merupakan suatu total integritas Allah melalui orang-orang yang berbeda. Apakah nubuat benar-benar dari Allah maka perlu dilakukan cek dan ricek terlebih dahulu. Nubuat Tuhan maka pasti terkait dengan semua nubuat yang lain.

4. Nubuat sejati pasti berisi Firman.  Firman sejatu harus dibedakan dari pemberitanya, pengkhotbahnya pada jaman itu. Seorang pendeta bukanlah seorang nabi karena yang disampaikan bukan Firman melainkan interpretasi Firman. Oleh sebab itu tafsiran Firman yang disampaikan oleh manusia tersebut bisa salah akan tetapi kalau nubuat dari TUhan tidak bisa salah. Ingat, jangan samakan kotbah dengan nubua! Karena itu kita semua pendeta dan jemaat harus belajar sehingga kita tidak mudah diombang ambingkan dengan berbagai macam ajaran sesat oleh nabi-nabi palsu. Firman merupakan kebenaran sedangkan manusia yang memahami Firman bisa salah. Tugas setiap orang Kristen untuk belajar Firman sehingga kita tidak mudah disesatkan maka kalau ada kesalahan dalam menafsirkan Firman, dosa ditanggungkan kepada si pendeta dan jemaat. Berbeda dengan anak kecil kalau ia tersesat maka yang harus dipersalahkan adalah orang yang mengajarnya karena anak kecil tidak punya kemampuan untuk memahami Firman, dia hanya bisa menerima (Mrk. 9:42). Karena itu tanamkanlah hal-hal baik yang menjadi first degree bagi mereka.

Hal-hal yang perlu kita renungkan berkaitan dengan keselamatan yang dinubuatkan Zakharia adalah:

I. God is the Inisiator of Salvation. Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umatNya (Luk. 1:68). Tuhanlah yang berinisiatif terlebih dahulu mengunjungi manusia sehingga kita dapat beribadah. Tanpa anugerah Tuhan, dunia yang humanis dan hedonis tidak akan bisa mengenal Allah. Seperti kita ketahui, keadaan ekonomi, politik dan keamanan di tahun-tahun mendatang sangat mengerikan apalagi menghadapi Pemilu 2004 dimana manusia akan menghalalkan segala cara, yakni menggunakan uang demi untuk sebuah kekuasaan. Puji Tuhan, Dia berkenan melawat kita sehingga kita mempunyai pengharapan dalam menghadapi masa depan yang kita sendiri tidak tahu.  Manusia tidak dapat melawat Tuhan karena sifat manusia yang tidak konsistensi dan otoritasnya tidak jelas. Jadi, anugerah besar kalau kita boleh bertemu Tuhan, kalau kita dapat beribadah padaNya dan Tuhan masih berkenan memakai kita menjadi alatNya. Karena itu jangan sia-siakan waktumu selama di dunia! Biarlah kita melihat kejadian di dunia dari sudut pandang Tuhan bukan dari sudut pandang manusia. Hanya Tuhan, pencipta alam semestalah inisiator sejati.

2. God is the Provider of Salvation. Tuhan telah merancangkan keselamatan bagi manusia sejak kejatuhan manusia dalam dosa. Manusia boleh berinisiatif tapi banyak aspek kita tidak mampu menyediakan perlengkapan. Seperti halnya masalah pendidikan yang sedang menjadi pergumulan gereja saat ini menjadi kegentaran sendiri bagi kami benarkah inisiatif yang muncul tersebut merupakan kehendak Tuhan atau ambisi diri? Masalah pendidikan bukanlah hal yang mudah karena sekali kita masuk ke dalamnya maka kita harus bertanggung jawab dan pastinya akan berkembang terus hingga perguruan tinggi nantinya. Secara logika manusia, banyak hal kita tidak mampu menyediakan perlengkapan maupun sarananya, seperti Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas tapi takut akan Tuhan, dana yang bermilyar-milyar, dsb. Namun jikalau itu semua memang kehendak Tuhan maka Dia pasti akan menyediakan; tugas kita hanyalah taat mengerjakannya. Maka kesimpulannya, semua hanya karena anugerah.

3. Tuhan akan memberikan kekuatan dan kuasa bagi manusia untuk menggenapkan kehendakNya.  Setiap orang tidak tahu masa depannya; tanpa pimpinan Tuhan kita tidak mampu melangkah menghadapi dunia. Percayalah, sebab Allah setia sehingga Ia tidak akan mencobai kita melebihi kekuatanmu; dan Ia akan memberikan jalan keluar untuk setiap kesulitan yang kita hadapi tepat pada waktunya (1Kor. 10:13). Bagi manusia adalah mustahil ijin mendirikan gereja di Indonesia secara bersih tanpa cacat dapat keluar. Akan tetapi melalui setiap peristiwa yang terjadi kami merasakan pimpinan dan mujizat Tuhan yang ajaib dan tepat pada waktunya sehingga ijin tersebut dapat keluar tepat pada waktunya. Bersandar pada pimpinan Tuhan bukan berarti kita pasif tetapi justru  kita harus aktif kalau pimpinan Tuhan jelas. Bersyukurlah senantiasa untuk setiap ujian yang Tuhan ijinkan kita alami sehingga kita dapat merasakan pertolongan Tuhan yang ajaib. Bukan hal yang mudah bagi anak Tuhan, untuk hidup benar di tengah dunia yang kacau ini; kita akan mengalami aniaya karena dunia membenci kita. Keselamatan yang Tuhan berikan bukanlah keselamatan fenomena seperti yang dunia kerjakan; di luar kelihatan indah tapi berakhir dengan kebinasaan kekal. Bukan! Hidup dipimpin Tuhan adalah hidup yang paling indah; Tuhan menjadi sumber pengharapan kita. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)