|
Ringkasan Khotbah : 23 Nopember 2003
Nats: Yoh. 16:33 Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno |
Puji Tuhan, hari ini sampailah kita di bagian akhir exclusive teaching of Christ. Suatu hal yang indah yang dilakukan Kristus ketika memulai pelayananNya yang pertama yaitu memberitakan tentang bagaimana pola/etika hidup yang berkualitas surgawi kepada ribuan orang di atas bukit. Dunia mengajarkan berbahagialah yang kaya, berbahagialah yang bersukacita, berbahagialah yang kenyang dan berbahagialah kamu yang dipuji namun Kristus menentang keras hal tersebut; Ia justru mengajarkan berbahagialah engkau yang miskin, berbahagialah yang berdukacita, berbahagialah yang lapar dan berbahagialah engkau yang dibenci oleh sebab kebenaran (Luk. 6:20-26). Pengajaran Kristus ini telah mendobrak pikiran dan hati manusia berdosa. Duniapun mengakui keagungan ajaranNya dan menyebutnya sebagai “the golden rule“.
Hanya orang yang beriman pada Kristus dan yang dimampukan oleh Roh Kuduslah dapat menikmati hidup surgawi seperti yang digambarkan Yesus dalam khotbah di bukit. Kejatuhan manusia dalam dosa menyebabkan manusia sukar untuk hidup dalam kebenaran sejati. Jadi, hanya anugerah dan kasih Tuhan semata kalau manusia dapat hidup dalam kebenaran. Berbahagialah kita yang peroleh kasih karunia Tuhan oleh karena itu jangan sia-siakan anugerah yang datang padamu. Yudas telah menyia-nyiakan anugerah meski ia telah memperoleh pendidikan dari Tuhan Yesus selama kurang lebih tiga tahun namun ia masih mengutamakan mamon dibanding Tuhan. Tuhan Yesus tahu Yudaslah si pengkhianat tersebut namun ia tidak mau bertobat dan mengelak. Hal ini hanya membuktikan kebebalan manusia dan siapa umat pilihan Allah yang sejati .
Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar; manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang (2 Tim. 3:1-9). “Hari-hari“ dimaksud di atas menggambarkan progressive condition dan membuktikan dunia semakin hari semakin rusak seperti yang dikatakan Paulus. Manusia tidak menyadari bahwa segala sesuatu yang dianggap “baik“ akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri dan justru kuk yang Kupasang itu enak dan bebanKupun ringan (Mat. 11:30). Ingat, manusia yang merasa dirinya pandai tetapi jika tidak ditundukkan di bawah salib Kristus justru akan menyengsarakan diri sendiri dan orang lain. Bukankah koruptor, teroris, dll yang kita jumpai sekarang merupakan sekumpulan orang pandai?
Manusia adalah satu-satunya makhluk yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sehingga manusia dapat berelasi dengan Allah, manusia dapat menyembah dan beribadah kepada Tuhan. Itulah kehidupan kristen yang sejati. Namun, dosa membuat manusia harus dibuang dari taman Eden dan murka Allah turun atasnya. Puji Tuhan, kasih karunia Allah yang berinisiatif terlebih dahulu telah memperdamaikan kembali hubungan manusia dengan Bapa yang rusak itu. Menjadi anak Tuhan tidak cukup hanya dengan berkata, “Aku percaya“. Iman sejati harus kembali pada Allah yang sejati. Hari ini manusia dengan mudahnya mengucapkan, “Aku percaya dan beriman“ tapi dibalik kata “percaya“ tersebut sebenarnya manusia mau percaya pada segala sesuatu yang dapat diaturnya dan sesuai dengan keinginannya.
Tuhan Yesus telah memperingatkan para murid sebelum disalibkan tentang saat dimana mereka akan dicerai-beraikan ketika mereka mengaku percaya. Akan tetapi percayalah, Ia tidak akan membiarkan kita sendiri, Ia akan memberikan damai sejahtera ketika kita dianiaya (Yoh. 16:33). Orang seringkali ditipu dengan ajaran dunia yang menyatakan bahwa dunia sudah maju dan manusia akan mendapatkan kebahagiaan. Ironisnya, manusia tidak menyadarinya dan malahan mengagungkan filsafat utilitarianisme, yakni segala sesuatu yang kita lakukan haruslah bermanfaat/utility yang dicetuskan oleh John Stuart Mill. Secara sepintas manusia pikir konsep ini sangat baik karena memikirkan tentang manfaat, tentang bagaimana kita mendapatkan kebahagiaan seperti slogannya yang berbunyi “the greatest benefit for the greatest amount of people“. Tugas kita sebagai anak Tuhan menyadarkan dunia akan dosa.
Pandangan utilitarianisme diperoleh John S. Mill dari ayahnya, James Mill yang mengadopsi dari Jeremy Bentham. Konsep Bentham mengenai asas manfaat ini sebelumnya ditentang masyarakat umum. Lima hal yang dicetuskan dan menjadi konsep filsafat utilitarianisme adalah: 1) happiness is the chief end of human being, tujuan hidup manusia tertinggi adalah kebahagiaan; 2) hidup di dunia hanya ada pleasure or pain, kenikmatan atau kesengsaraan yang dualisme; 3) happiness is pleasure and pain is the only evil, kita harus meninggalkan kesedihan maka kita akan memperoleh kebahagiaan dan penderitaan yang dialami seseorang merupakan akibat dosa yang dilakukannya; 4) ethics and morality must be equal to pleasure, etika/tatanan hidup dan moral harus setara dengan kenikmatan dan menunjang kebahagiaan maka etika harus dapat diatur sedemikian rupa; 5) pain is your own risk, semua orang di dunia pasti ingin mengejar kenikmatan/kebahagiaan sehingga kalau kita menjadi korban sebagai akibat dari pengejaran akan kebahagian tersebut maka itu merupakan kesalahan kita sendiri. Dunia ekonomi mengembangkan konsep ini dan dikenal dengan prinsip multi level marketing.
Dunia tidak menyadari pleasure and pain bagaikan dua bagian dalam satu keping mata uang yang saling berkait. Kenikmatan dan kesengsaraan bukanlah hal yang saling berlawanan maka orang yang semakin mengejar pleasure/kenikmatan ia pasti akan merasakan pain/kesengsa-raan. Sebagai anak Tuhan, kita seharusnya dapat melihat realita dunia dengan tajam, dunia berada di ambang kehancuran dan penderitaan. Adalah salah bila ada anggapan menjadi anak Tuhan berarti kita tidak akan hidup dalam penderitaan. Tidak! Karena dunia telah lebih dahulu membenci Aku maka kita umat pilihanNya akan dibenci juga bahkan mengucilkan kita dan mencerai beraikan setiap anak Tuhan. Tapi ingatlah, Tuhan tidak meniadakan penderitaan bagi anak-anakNya tapi di saat kita mengalami penderitaan Dia berikan damai sejahtera sehingga kita dapat menjadi pemenang.
Tanpa kita sadari hari ini sebenarnya kita telah berada dalam penderitaan dan penganiayaan. Namun karena kita telah terbiasa teraniaya maka kita tidak merasakan suatu penderitaan yang berarti bahkan menganggap sepele hal tersebut. Sebagai contoh, orang telah biasa hidup di Jakarta yang macet dan bising dan menganggap hal tersebut bukan sebagai penderitaan. Maka wajarlah kalau sekarang orang menghadapi hidup dengan skeptik dan berkata, “Ya, itu semua sudah biasa dan lumrah“. Mereka menganggap itu sebagai bagian dari hidup seperti kata pepatah “resiko ditanggung penumpang.“
Beberapa hal yang harus kita sadari dan menjadi perenungan kita, yaitu:
1. Penderitaan yang dialami orang Kristen tidak lazim, tidak sama seperti halnya penderitaan yang dialami oleh dunia.
Penderitaan yang tidak lazim inilah yang menjadi ketakutan tersendiri bagi umat Tuhan. Kita seringkali lupa akan janjiNya yang selalu beserta kita ketika kita tercerai berai dan mengalami penderitaan karena kebenaran. Kalau menjadi anak Tuhan kita akan menderita lalu apakah dengan tidak menjadi orang Kristen atau dengan kata lain menjadi anak iblis kita tidak akan menderita? Salah! Hidup di dunia dan menjadi serupa dengan dunia ini kita juga akan menderita bahkan penderitaan tersebut bersifat kekal. Kebahagiaan yang ditawarkan dunia hanya bersifat semu dan sementara; dunia selalu meminta imbalan atas pemberiannya. Akan tetapi penderitaan yang dialami anak Tuhan oleh sebab kebenaran tersebut hanya bersifat sementara dan sebagai gantinya kita akan mendapatkan sukacita kekal di surga. Kita tidak akan dibuang dan disia-siakan; Ia selalu beserta kita sehingga kita tidak akan pernah sendiri.
Dunia akan menjauh ketika kita sedang berada dalam penderitaan dan dunia akan memuji-muji saat kita berada dalam kenikmatan. Tapi sebaliknya Bapa akan beserta saat kita menderita dan Ia akan mengganti segala air mata menjadi sukacita. Sebab, kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Rm. 8:28). Oleh sebab itu jangan pernah bersandar dan berharap pada manusia tapi bersandarlah pada Allah.
Kristus tahu kematianNya akan membuat para pengikutNya tercerai berai. Namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku, Imanuel (Yoh. 16:32). Inilah yang menjadi kekuatan Kristus sehingga di atas salib Ia dapat berkata,“Bapa ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.“ Tidak ada satu orangpun di dunia yang dapat mengeluarkan kalimat yang agung sedemikian rupa justru ketika berada dalam penderitaan. Karena itu janganlah takut dan gentar, hidup sebagai Kristen sejati sangatlah indah karena kita hidup dalam anugerah penyertaanNya; penderitaan bukanlah menjadi sesuatu yang harus kita takutkan.
2. Manusia merasa sok kuat untuk mengatasi penderitaannya sendiri.
Siapakah manusia sehingga merasa diri mampu dan kuat dalam penderitaan? Setiap manusia pasti punya kelemahan. Jadi, jangan merasa sok kuat. Firman Tuhan menegaskan kita bisa kuat dalam penderitaan karena Kristus telah terlebih dahulu mengalahkan dunia. Janganlah engkau takut ditolak dan dibenci oleh dunia; mereka tidak menyadari justru dunialah yang butuh anak Tuhan. Dunia menuju pada kebinasaan kekal sedang anak Tuhan menuju pada kehidupan kekal. Jadi, kita yang telah dihidupkan dalam Kristus janganlah membinasakan diri sendiri dengan menjadi serupa dengan dunia ini tetapi hendaklah kita taat pada kebenaran.
Sebab Kristus telah mengalahkan dunia maka kita umat pilihanNya juga akan mengalahkan dunia, we are more than conqueyors, kita lebih daripada pemenang karena Bapa menyertai kita. Di saat dunia menganiaya, memfitnah dan mempermainkan keadilan Kristus maka di situlah kita dapat melihat dosa yang sedang didemonstrasikan dunia, kita dapat melihat bobroknya keadilan dan kebenaran yang dipermainkan dengan semena-mena. Mereka tidak sadar kalau mereka telah membuka topeng kepalsuan dan memperlihatkan wajah aslinya yang penuh dengan coret moret. Sekali lagi saya tegaskan jangan takut pada dunia karena sengat maut telah ditelan dan dikalahkan dengan kematian dan kebangkitan Kristus (1 Kor. 15:54-58).
3. Damai sejahtera Kristus selalu beserta dan menaungi kita.
Dunia selalu berusaha mencari dan mengejar kebahagiaan yang sifatnya sementara dan fatamorgana belaka. Di saat kita memuliakan Tuhan itulah kita akan mendapatkan kebahagiaan dan damai sejahtera. Jangan pernah berpikir kebahagiaan akan kita peroleh di dunia; kebahagiaan di dunia hanyalah bersifat semu. Orang semakin mengejar kebahagiaan maka penderitaanlah yang akan didapat. Manusia tidak akan mendapatkan dan merasa damai kecuali Tuhan yang memberikannya. Sebagai ilustrasi, ada sebuah patung Kedamaian dimana keberadaan patung tersebut akan membuat suatu negara menjadi damai, aman dan tenteram. Fakta membuktikan tidak, justru dimana patung itu berada maka akan ada perang; orang saling berebut untuk mendapatkannya.
Demi mengejar damai maka orang menghalalkan segala macam cara apapun bahkan melakukan hal-hal yang merusak kedamaian. Aneh tapi nyata, bukan? Dunia berpikir damai sejahtera tersebut ada di luar dan perlu diperjuangkan. Padahal damai sejahtera kita dapatkan jika kita berada di dalam Tuhan dan bergaul dengan Tuhan. Merupakan pendapat yang salah yang menyatakan bahwa tidak adanya penderitaan berarti akan ada damai. Damai sejahtera tidak akan pernah kita rasakan kalau kita tidak pernah menderita. Damai sejahtera sejati justru muncul di saat kita menderita, kita dapat merasakan sukacita Tuhan seperti yang dialami oleh Paulus dan Barnabas.
Apalah yang menjadi kebanggaan manusia hidup di dunia. Seumur hidup manusia ingin mengejar kebahagiaan. Mereka tidak sadar bahwa hidup manusia di dunia sangat pendek tujuh puluh tahun dan jika kuat delapan puluh tahun seperti yang dikatakan Musa namun kebanggaannya adalah kesusahan dan penderitaan (Maz. 90:10). Penderitaan dan kesusahan seakan-akan seperti sesuatu hal yang harus kita hindari dan memakai segala macam cara supaya penderitaan tersebut tidak menimpa kita. Penderitaan bersama Tuhan seharusnya menjadi kebanggaan tersendiri dan patut diceritakan pada semua orang karena kita dapat merasakan anugerah dan damai sejahtera Tuhan yang memimpin sehingga hal ini dapat menjadi teladan bagi orang lain; mereka dapat melihat indahnya hidup orang beriman yang berharap pada Tuhan meski dalam penderitaan. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)