|
Ringkasan Khotbah : 16 Nopember 2003
Nats: Yoh. 16:32-33 Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno |
Ajaran Tuhan Yesus yang bersifat eksklusif tersebut menunjukkan relasi yang berkait erat antara Bapa di surga dan umat pilihan Tuhan dimana Kristus sebagai pendamai sehingga kita bisa memanggil Allah di surga dengan sebutan Bapa. Iman sejati membawa kita pada pengenalan akan Allah yang sejati, mengerti kebenaran sejati dan mengembalikan manusia pada naturnya yang sejati, yaitu sesuai dengan gambar dan rupa Allah. Dosa menyebabkan natur manusia menjadi rusak sehingga manusia tidak ubahnya mesin pencetak uang atau manusia tetapi bertingkah laku seperti binatang.
Hanya anugerah bila manusia sadar akan dosa-dosanya dan menjadi percaya pada Allah sejati yakni Yesus Tuhan sebagai satu-satunya Juruslamat dunia. Begitu juga para murid setelah melalui perdebatan yang panjang akhirnya mereka percaya bahwa Yesus datang dari Allah (Yoh. 16:29-30). Berarti mereka memahami kaitan antara kesementaraan dengan kekekalan. Jadi, jangan ada seorangpun yang memegahkan diri. Bukan karena kemampuan atau jasa kita kalau kita dapat beriman pada Tuhan Yesus Kristus. Ironisnya, dunia merasa diri pandai sehingga ia akan bereaksi keras dan marah bila ditegur dosanya. Yang menjadi pertanyaan bagaimanakah seseorang dikatakan “pandai“ bila ia percaya evolusi dan menjadi marah ketika ditegur dosa-dosanya? Hal ini justru semakin membuktikan kebodohannya.
Dua aspek yang menjadi penyebab sulitnya manusia mengenal Allah sejati dan mengenal diri, yaitu: pertama, kesuksesan yang diperoleh manusia karena mempunyai intelektual tinggi; kedua, rasa sombong dalam diri manusia, merasa diri sebagai orang yang ber-religiusitas tinggi. Rasul Paulus seorang yang berintelektual sekaligus ber-religiusitas dan berjasa bagi “allah“ dengan membunuh pengikut Kristus. Puji Tuhan, semua karena anugerah Tuhan jikalau Paulus sadar akan perbuatannya yang bodoh. Sinar kemuliaan Tuhan membutakan mata jasmani Paulus tetapi justru mencelikkan mata rohaninya sehingga segala sesuatu dianggap rugi oleh Paulus karena pengenalannya akan Kristus (Fil.3:8).
Roh Kuduslah yang menyadarkan manusia akan dosa dan mengakui kalau Kristus datang dari Allah. Akan tetapi Kristus mempertanyakan hal yang sama kembali,“Percayakah kamu sekarang?“ (Yoh. 16:31). Pertanyaan ini bukan pertanyaan konfirmasi melainkan pertanyaan refleksi karena Kristus tahu saatnya datang, bahkan sudah datang, bahwa kamu dicerai beraikan...dan meninggalkan Aku seorang diri namun Aku tidak seorang diri, sebab Bapa menyertai Aku (Yoh. 16:32). Kristus tidak pernah janjikan hidup senang justru Ia ingin menunjukkan realita dan konsekuensi mengikut dan menjadi Kristen.
Sia-sialah semua pengetahuan teologi kita jika hal tersebut hanya menjadi teori yang kita mengerti tetapi tidak menjadi dasar hidup. Iman kristen tidak boleh berkompromi dengan dunia tapi justru harus menjadi contoh teladan bagi dunia. Akibatnya di kekristenan iman terbagi menjadi dua ekstrim, yaitu: 1) Iman dipahami secara konseptual, ditegakkan secara solid tapi tidak menjadi bagian dari hidup kekristenan, iman tidak “mendarat“ pada sasaran yang tepat, 2) Iman kristen “mendarat“ tapi berkompromi dan mengikuti konsep dunia.
Hari ini kita menjumpai pencampuran (sinkretisme) antara iman kristen dan praktek kehidupan di dunia. Maka wajarlah jika banyak orang yang tertarik dan menjadi kristen tapi kemudian mereka menjadi kecewa. Sebab mereka telah berpikir dengan cara dan konsep dunia; orang akan memperoleh kesuksesan, kekayaan, kekuasaan, kesehatan, dll apabila menjadi pengikut Kristus. Bukankah hidup senang berlimpah, tidak ada kesusahan dan kesulitan menjadi keinginan setiap manusia di dunia? Bukanlah hal yang mudah bagi kita “mendaratkan“ iman kristen sejati yang mengenal Allah sejati di dalam kebenaranNya yang sejati sehingga manusia dapat kembali ke natur yang sesuai dengan gambar dan rupa Allah.
Orang seringkali terjebak dengan konsep dualisme; di gereja atau di tempat-tempat persekutuan rohani selalu membicarakan tentang kekristenan dan mempercayai semua Firman Tuhan, tetapi ketika berada di luar lingkup persekutuan rohani kita bersikap dan bertingkah laku seperti dunia. Ingat, Tuhan tidak pernah berkompromi dengan dunia, kita tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon (Mat. 6:24). Tantangan terberat yang harus dihadapi kekristenan, yaitu di bidang politik dan ekonomi.
Bidang Politik Politika berasal dari kata polis berarti kota dan etika berarti tatanan. Menurut Aristoteles politik adalah bagaimana cara menata sebuah kota untuk mencapai kesejahteraan bersama. Pemerintahan pada jaman itu hanya meliputi satu kota saja. Kini, istilah politik telah menyeleweng menjadi ajang untuk mencari kekuasaan demi untuk kesejahteraan diri sendiri. Machiavelli beberapa abad yang lalu juga mencetuskan bahwa politik identik dengan penguasaan, seseorang harus mengatur kekuasaannya sedemikian rupa agar kekuasaan tersebut tetap berada pada dirinya. Di jaman itu meski takut orang masih menghargai pemegang kekuasaan sampai muncul seorang filsuf “gila“ (harafiah) bernama Michael Foucault. Ia berpendapat segala bentuk kekuasaan dan otoritas sebagai suatu kejahatan yang harus diberantas tetapi ironisnya ia menegaskan kekuasaan menjadi milik individu. Akibatnya manusia tidak mau dikuasai oleh siapapun, manusia hanya mau menguasai. Orang takut jika hidupnya tertindas dan mengalami kesulitan sehingga mereka ingin menjadi penguasa dan bukan dikuasai. Bukankah hal ini juga terjadi di Indonesia, segala cara dihalalkan demi supaya diri menjadi penguasa. Kini rakyat Indonesia menjadi kehilangan harapan akan adanya seorang pemimpin ideal yang memerintah negara ini karena tidak ada seorangpun yang benar-benar memikirkan kesejahteraan rakyat. Kita seharusnya sadar akan realita dunia ini tetapi janganlah kita menjadi serupa dengan dunia.
Bidang ekonomi Dunia politik dan ekonomi saling berkait erat, demi uang orang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan. AFTA (Asian Free Trade Area) akan semakin mempersulit bangsa Indonesia khususnya di bidang ekonomi. Dilihat dari filosofi kerja bangsa Indonesia maka bangsa Indonesia belum siap menghadapi AFTA. Sebagai contoh, orang lebih suka meminta-minta dan menjadi pengemis daripada bekerja berat misalnya menjadi tukang batu untuk mendapatkan hasil yang sama. Akibatnya mentalitas kerja orang Indonesia menjadi rusak, akibatnya terciptalah generasi-generasi yang bermental pengemis. Kejahatan juga semakin meraja lela akibat iri hati pada mereka yang kaya. Maka wajarlah jika jembatan antara si miskin dan si kaya semakin lebar. Demi untuk mendapatkan kenikmatan hidup orang akan menggunakan berbagai macam cara, tidak peduli akibat atau korban yang akan ditimbulkan.
Sebagai anak Tuhan kita harus siap hati dengan kondisi dunia di masa-masa yang akan datang dengan berharap dan bersandar pada Tuhan. Jangan serahkan hidupmu pada dunia karena dunia hanya memberikan janji-janji kosong belaka tapi serahkanlah hidupmu hanya kepada Tuhan yang adalah kebenaran sejati. Orang hanya mau nikmat tapi tidak mau sengsara. Mereka memisahkan kenikmatan dan penderitaan menjadi dua konsep yang berbeda, orang yang merasakan kenikmatan pastilah tidak akan hidup sengsara begitu juga sebaliknya. Tanpa disadari konsep inilah yang menjadi penyebab kehancuran manusia.
Realita jusru menunjukkan kenikmatan dan kesengsaraan bagaikan dua sisi mata uang yang saling berkait. Jadi, barangsiapa mau kenikmatan ia harus siap mengalami penderitaan. Konsep utilitarianisme telah berhasil merasuk pikiran dan hati manusia. Orang akan melakukan apapun termasuk mengorbankan orang lain demi mendapatkan kenikmatan. Ingat, Allah akan menuntut keadilan dari setiap mereka yang telah memperlakukan manusia dengan semena-mena. Jangan pernah berpikir orang yang telah mengorbankan orang lain demi untuk kenikmatan diri sendiri akan selamanya bahagia. Tidak! Keadilan Tuhan akan turun atasnya, ia akan mengalami kenikmatan sekaligus penderitaan; bagaikan dua sisi mata uang.
Iman sejati tidak menipu kita dari realita dunia yang sesungguhnya tapi iman sejati memberikan kekuatan pada kita menghadapi tantangan dunia. Hati-hati dengan ajaran-ajaran sesat yang memutarbalikkan janji-janji dalam Firman Tuhan demi untuk keuntungan diri sendiri. Tuhan yesus justru menunjukkan realita pada sebelas muridNya yang sejati, yaitu engkau akan dicerai beraikan. Petrus dengan rasa percaya diri yang besar merasa yakin bahwa ia tidak akan meninggalkan Yesus meski yang lain pergi. Dia pikir dirinya hebat dan beriman sehingga mampu menghadapi tantangan dunia. Beberapa aspek yang harus kita perhatikan saat “mendaratkan“ iman di tengah dunia, yaitu:
Pertama, beriman pada Kristus berarti harus siap menghadapi konsekuensi. Hidup bagi Yesus berarti kita harus meninggalkan dunia dan hidup dengan benar. Dalam Yesus hidup manusia menjadi lebih bermakna. Ironisnya manusia seringkali menunda-nunda waktu untuk percaya Tuhan Yesus. Mereka pikir hidup di dunia masih lama sehingga lebih suka menikmati gemerlapnya dunia lebih dahulu jikalau sudah mendekati ajal barulah memikirkan surga. Terlambat! Alkitab mengatakan kualitas hidup di surga tergantung kualitas hidup kita di dunia. Seperti apakah kualitas kita di surga nanti apakah kualitas permata, emas, perak ataukah kualitas jerami, kayu, rumput kering? Tuhan akan menguji pekerjaan kita dengan api maka disana akan nampaklah kualitas pekerjaan kita. Jika kualitas kita memang dari permata, emas atau perak maka kita akan semakin dimurnikan. Orang menganggap mengikut Tuhan lebih susah karena banyak konsekuensi dan lebih baik tidak usah mengikut Tuhan karena “seolah-olah“ tidak ada konsekuensi. Salah! Justru celakalah orang yang tidak mau mengikut jalan Tuhan sebab ia akan masuk dalam penghukuman kekal. Tuhan tidak pernah janjikan hidup kita selalu lancar dan senantiasa senang; Ia justru menunjukkan konsekuensi jika menjadi muridNya maka kita akan dicerai beraikan dan mengalami penganiayaan. Tapi ingat itu semua hanyalah bersifat sementara, kita akan masuk dalam kebahagiaan kekal bersama Tuhan nanti.
Kedua, orang bisa menghadapi konsekuensi kalau ia berposisi/beridentitas tepat. Hari ini banyak anak Tuhan takut mengakui akan posisinya sebagai seorang Kristen, karena: 1) takut dicap sombong dan sok suci oleh dunia, 2) takut dianggap telah menyerang mereka yang non Kristen. Makin tidak jelas identitas dan teologi kita maka semakin sulit menentukan posisi sehingga kita tidak dapat mengambil konsekuensinya. Dunia berusaha mengaburkan antara realita dengan hal yang semu dan biasa disebut virtual reality. Dunia mengajarkan mimpi itulah realita sehingga kita tidak jelas berada di posisi mana dengan demikian kita mudah dipermainkan. Ingat, bukan kita yang membutuhkan dunia melainkan dunia yang seharusnya membutuhkan kita; bukan Tuhan yang butuh manusia justru manusia butuh Tuhan. Anak Tuhan harus tegas mengakui posisinya sebagai seorang Kristen, menegakkan kebenaran sejati dan tidak berkompromi dengan dunia. Tuhan memilih kita dari dunia maka tidaklah heran jika dunia selalu membenci kita. Ironisnya, anak Tuhan justru takut akan aniaya dunia yang hanya membunuh tubuh tapi tidak membunuh jiwa. Tuhanlah pemegang kehidupan yang berkuasa atas tubuh dan jiwa kita. Jangan mudah diombang ambingkan dunia.
Ketiga, posisi sejati harus didukung dengan pengertian yang sejati. Pengertian sejati akan kita peroleh jika kita percaya Tuhan bukan sebaliknya. Credo ut intelligum, I believe therefore I understand merupakan prinsip iman Kristen yang ditegaskan oleh Agustinus. Beriman pada Tuhan akan peroleh pengertian sejati sehingga iman kita semakin bertumbuh dan pertumbuhan iman tersebut membuat kita selalu ingin belajar kebenaran Firman begitu seterusnya. Pengertian kita akan Firman bagaikan bola salju yang semakin lama semakin besar. Iman Kristen bukan iman yang membabi buta dan sembarangan tetapi dapat dipertanggungjawabkan. Anak Tuhan seharusnya mengerti akan apa yang terjadi di dunia dan menjadi orang yang paling bijaksana. Intelektual tinggi bukan hal yang utama akan tetapi takut akan Tuhanlah menjadi permulaan hikmat dan awal semua pengetahuan. Hendaklah kita punya kerinduan belajar kebenaran Firman Tuhan.
Keempat, iman sejati harus kembali pada janji Tuhan sejati. Tuhan janji akan memberikan damai sejahtera di saat kita mengalami penganiayaan dan Dia juga janji akan memberikan hidup kekal. Manusia selalu berjanji-janji kosong akan mengecewakan kita. Puji Tuhan, Dia tidak pernah lupa janjiNya, Dia selalu menepati janji-janjiNya. Janganlah kita dibodohi oleh mereka yang mengaku anak Tuhan dan memberikan janji-janji palsu. Hal inilah yang seringkali menjadi batu sandungan untuk kita memberitakan Injil. Syarat-syarat yang Tuhan berikan harus kita lakukan terlebih dahulu maka janji yang pasti akan menyertai kita. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)