|
Ringkasan Khotbah : 09 Nopember 2003
Nats: Yoh. 16:28-33 Pengkhotbah : Rev. Sutjipto Subeno |
Pengajaran Tuhan Yesus yang eksklusif kepada sebelas murid menimbulkan perdebatan yang panjang. Logika para murid yang belum dicerahkan menyebabkan mereka sukar untuk memahami ajaran Tuhan Yesus tentang Anak Manusia yang akan dipermuliakan oleh Bapa dan Bapa dipermuliakan di dalam Anak (Yoh. 13:31-32). Begitu juga tentang hal jalan menuju rumah Bapa yang dibukakan oleh Kristus. Mereka menganggap “jalan“ tersebut seperti layaknya sebuah alamat rumah sehingga Filipus meminta agar Yesus langsung menunjukkan jalan tersebut tanpa berpanjang lebar (Yoh. 14: 1-14). Hingga akhir pengajaran Yesus yang eksklusif ini para murid masih juga tidak mengerti. Hanya Roh Kuduslah yang memampukan dan mencerahkan mereka sehingga pikiran mereka menjadi terbuka. Adalah hal yang sukar diterima akal oleh orang Yahudi bahwa Mesias harus mati di salib. Justru karena kematian Kristus di atas salib itulah kita dapat meminta sesuatu pada Bapa. Allah Bapa sangat mengasihi kita manusia berdosa sehingga Ia memberikan anakNya, yaitu Kristus untuk mendamaikan kita dengan Bapa.
Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa (Yoh. 16:28) merupakan kalimat yang hanya berhak diucapkan oleh Kristus anak Allah yang berinkarnasi. Tidak ada seorangpun di dunia yang dapat memberikan identifikasi langsung bahwa Ia datang dari Allah kecuali anak Allah sendiri yang telah datang dari Bapa. Begitu juga dengan pernyataan Tuhan Yesus yang menegaskan bahwa Dia adalah jalan, dan kebenaran, dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku“ (Yoh. 14:6); Aku dan Bapa adalah satu, apa yang menjadi milik Bapa menjadi milikKu dan masih banyak lagi. Pernyataan yang diungkapkan Kristus tersebut telah mengoncangkan dunia dimana manusia hanya bisa memutuskan menerima atau tidak bahkan tidak ada pilihan untuk netral.
Dunia menunjukkan reaksi dengan menolak dan melawan Kristus. Dunia menganggap firman kebenaran yang diucapkan Kristus tersebut telah menghujat Allah. Benarkah demikian? Benarkah firman yang diucapkan Kristus sebagai suatu kebenaran atau kebohongan? Yang menjadi pertanyaan siapakah diri Yesus Kristus sehingga Ia berani dan berhak mengucapkan kalimat-kalimat yang menggoncangkan dunia? Josh McDowell mengungkapkan ada tiga kemungkinan tentang siapakah Yesus Kristus, yaitu:
1. Orang gila yang dapat berbicara apapun termasuk kebohongan . Yang menjadi pertanyaan kalau Yesus orang gila lalu kenapa ajaranNya dapat diterima oleh semua orang dan mempengaruhi kehidupan manusia di dunia? Dunia mengakui bahwa iman Kristen telah memberikan pengaruh dan andil yang sangat besar di segala aspek, seperti politik, hukum, dll. Dunia respect pada orang kristen yang setia berpegang pada ajaran Kristus. Adalah kebohongan bila seorang yang gila bisa memberikan pengajaran yang signifikan dan keluar perkataan agung dari mulutNya. Kehidupan Yesus tidak memberikan indikasi sedikitpun yang menunjukkan bahwa Ia gila. Jadi, pernyataan yang mengatakan bahwa Yesus orang gila gugur dengan sendirinya. Sebagai kesimpulan, orang yang mengatakan Yesus gila membuktikan bahwa dirinya sendiri yang gila.
2. Yesus Kristus seorang pembohong. Kalau Yesus seorang pembohong apakah Ia berhak dan layak mendapatkan atribut sebagai “pengajar moral tertinggi“ di dunia? Ajaran moral yang diajarkan Kristus berlawanan dengan ajaran dunia. Konsep etika dunia timur mengajarkan kalau engkau tidak mau mendapat perlakuan buruk dari seseorang maka jangan lakukan hal yang buruk pada orang tersebut. Etika tersebut mengandung unsur negatif, orang cenderung pasif karena tidak melakukan apapun, takut jika orang lain lakukan hal yang sama atas dirinya dan ada pembalasan bagi mereka yang telah menyakiti kita. Ajaran Kristus berlawanan dengan dunia; Ia justru mengajarkan jikalau kita ingin diperlakukan dengan baik oleh orang lain maka kita harus melakukan hal yang baik dan berguna pada orang lain terlebih dahulu dan kita harus tetap mengasihinya meski kita disakiti. Di atas salib, Kristus justru memohonkan pengampunan bagi orang-orang yang telah menganiaya dan menyiksa Dia. Dunia tidak sanggup melakukan perbuatan seperti yang dilakukan Yesus. Dunia timur hanya tahu pasif, yaitu kalau kita tidak mau disakiti maka kita jangan menyakiti tapi kalau kita disakiti maka kita harus membalasnya. Filsafat timur tidak bisa lepas dari unsur balas dendam. Ingatlah, firman Tuhan yang mengatakan bahwa pembalasan bukanlah hak kita tapi hak Tuhan (Ibr. 12:9). Tugas anak Tuhan adalah mengampuni.
Adalah hal yang wajar Yesus mendapat atribut sebagai “pengajar moral tertinggi“ dan ajaranNya diakui sebagai “the golden rule“. Maka pertanyaan benarkah orang yang telah mengajarkan bahkan mempraktekkan moral yang agung tersebut sebagai seorang pembohong? Salah! Kalau Yesus bukan orang gila dan seorang pembohong maka hanya ada satu kemungkinan, yaitu:
3. Yesus Kristus adalah Anak Allah. The Finality of Christ merupakan pokok dasar iman Kristen. Untuk mencerahkan pikiran para murid tidaklah mudah, pekerjaan Roh Kuduslah yang membuat mereka dapat memahami perkataan Tuhan Yesus yang berbunyi: Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa (Yoh. 16:28). Ketika para murid mengakui Yesus sebagai anak Allah, Yesus menegaskan dengan bertanya sekali lagi pada mereka: “Percayakah kamu sekarang?“ Sebab Yesus mengetahui akan tiba saatnya dimana para murid akan dicerai beraikan dan meninggalkan Yesus seorang diri (Yoh. 16:31-32).
Kita tahu dengan jelas sebagai orang Kristen kita harus percaya dan beriman namun sulit mempercayakan diri kita pada sesuatu yang tidak nyata apalagi di tengah situasi dunia yang kacau dimana manusia mengalami krisis kepercayaan. Bukan hal yang mudah mempercayakan nasib rakyat Indonesia ini kepada sekelompok orang tertentu yang kita sendiri tidak tahu dengan pasti kemampuannya. Hidup kita secara tidak langsung terkait dengan keputusan-keputusan yang dihasilkan oleh para pemimpin negara. Krisis yang terjadi di negara ini telah menyebar di segala aspek; bukan hanya krisis kepercayaan yang kita alami tetapi juga krisis ekonomi dan krisis spiritualitas. Krisis ekonomi membuat orang menjadi pasif dalam menjalani hidup; orang akan merasa lega bila dapat melewati hidup sehari demi sehari. Manusia akan menggunakan segala macam cara demi untuk keuntungan diri sendiri tanpa mempedulikan kesusahan yang dialami orang lain.
Krisis spiritualitas membuat orang menjadi pragmatis, orang tidak tahu lagi mau beragama apa? Dan percaya pada siapa? Agama yang diajarkan dunia hanya bersifat materialis dan cenderung menuju pada kekerasan. Agama dimanipulasi sedemikian rupa demi untuk keuntungan diri dan bersifat materi. Maka tidaklah mengherankan bila dunia timur mudah sekali berpaling dari kepercayaan kepada Confusius, Lao Tze dan tradisi spiritualitas pada kepercayaan komunisme ateis, marxisme, Lenin, dll. Ternyata iman mereka bergantung pada ekstensi yang bersifat sama, yakni bersifat materi dan yang menguntungkan. Bila ada agama baru yang lebih menguntungkan maka mereka akan berpindah ke agama baru tersebut begitu seterusnya. Jadi, “Tuhan“ dimanipulasi demi untuk kekayaan, kesehatan, kedudukan, dan lain-lain.
Ketika dunia mulai disadarkan bahwa iman tidak hanya bersifat materi belaka, orang malah beralih ke fanatisme dan mengandung unsur kekerasan. Orang rela mengorbankan nyawa, berperang dan membunuh orang lain yang berbeda kepercayaan. Mereka tidak menyadari iman percaya mereka keliru; mereka hanya beriman secara membabi buta. Demi “iman“ mereka halalkan segala cara bahkan meneror duniapun dilakukan. Apakah “iman“ seperti demikian yang harus kita teladani? TIDAK! Lalu apakah iman sejati itu? Jawabannya tidak akan kita dapatkan di konsep agama dunia. Iman yang sejati hanya ada dalam Kristus. Karena Ia telah memberikan teladan indah dan membuktikan diriNya adalah anak Allah.
Jangan serahkan iman percayamu pada manusia karena manusia mudah sekali berubah bahkan diri kita sendiri juga tidak layak untuk dipercaya. Sebab diri sendiri sedang mencari tempat untuk menyandarkan iman kepercayaan tapi malah dipercayai. Ironis, bukan? Akibatnya manusia akan terjebak ke dalam close system, manusia sukar untuk menerima konsep lain karena diri menjadi batas dan ukuran iman.
Iman sejati hanya ada dalam Kristus yang datang dari Bapa dan yang kini telah bersama-sama dengan Bapa.
Pertama, Iman sejati harus kembali pada Allah yang sejati. Satu-satunya jalan untuk mengenal Allah yang sejati hanya melalui Kristus sebab Kristus telah memperdamaikan hubungan kita dengan Bapa yang telah terputus. Di dunia ini tidak ada iman sejati yang begitu kokoh kecuali hanya dalam Kristus. Di sepanjang perjalanan hidupNya Kristus telah membuktikan bahwa Ia datang dari Bapa dan Ia kembali pada Bapa untuk menyediakan tempat bagi kita sehingga kita beroleh damai sejahtera dalam namaNya. Kasih Bapa pada manusia berdosa begitu besar, Bapa telah memberikan anakNya menjadi tebusan, mati untuk kita. Maka sangatlah tidak masuk akal kalau Bapa yang rela memberikan anakNya untuk kita tidak akan memberikan yang terbaik pada anakNya. Jangan biarkan dirimu ditipu oleh allah-allah palsu yang ada di dunia. Ingat, mengenal Kristus berarti mengenal Allah sejati.
Kedua, Iman sejati harus kembali pada kebenaran sejati. Dunia hanya menawarkan berbagai macam opini tapi tidak bisa membuktikan kebenaran. Iman yang tidak kembali pada kebenaran sejati akan masuk ke dalam penipuan dunia. Kebenaran sejati hanya ada dalam Kristus dan telah terbukti. Konsep agama dunia selalu berubah dan selalu ada pengecualian, yaitu jika tidak sesuai dengan keinginan kita maka hukum atau aturan tersebut dapat dirubah. Inilah yang disebut dengan kebenaran yang pragmatis, yakni tergantung situasi dan kondisi. Celakalah kita bila kebenaran tergantung pada situasi atau kondisi dimana hari ini benar dan esok salah. Coba bayangkan bila hari ini Tuhan mengatakan percaya Yesus masuk surga lalu keesokan harinya tidak masuk surga bagaiman nasib kita.
Filsafat dunia mudah sekali bergeser dan tidak bertahan lama; teori lama akan selalu digeser oleh teori baru dan teori baru tersebut akan digeser lagi oleh teori yang lebih baru dan seterusnya. Puji Tuhan, Kristus memberikan kepastian akan kebenaran sejati dan tidak ada pengecualian bagi mereka yang melakukan kesalahan.
Manusia sejati harus kembali pada natur yang sesuai dengan gambar dan rupa Allah. Seorang manusia sejati pasti mempunyai kesadaran akan naturnya yang asli dan mencari iman yang sejati. Sejak kejatuhan manusia dalam dosa secara pelan namun pasti posisi manusia mulai digeser. Hari ini terjadi disequilibrium position dimana manusia telah keluar dari natur sejati. Manusia tidak lebih hanya sebagai alat atau mesin produksi yang sewaktu-waktu dapat dibuang jika tidak berguna lagi dan manusia selalu diikat oleh nafsu dunia.
Dalam buku “Humanimal“ dari kata human-animal mengungkapkan secara prinsip dan filosofis manusia seperti binatang dan ironisnya manusia mau diperlakukan demikian. Manusia bukanlah manusia namun manusia hanya sekedar “sesuatu/it“. Manusai tidak ubahnya seperti binatang, tidak tahu tujuan hidup di dunia dan berkelakuan seperti layaknya binatang yang akan membunuh kawannya bila kelaparan. Wajarlah kita mendengar seorang manusia meneriakkan kalimat yang berbunyi “manusiakan manusia“. Untuk menjadi anak Tuhan sejati tidaklah mudah, dunia selalu berusaha menjauhkan kita dari Tuhan. Hanya melalui pengenalan akan Kristus, sang Kebenaran Sejati kita dapat mengerti cara hidup dan moralitas yang benar; kita mengerti apa yang harus kita lakukan selepas dari dosa.
Marilah kita intropeksi diri sudahkah anda mengenal Kristus yang adalah kebenaran yang sejati? Sudahkah kita menyerahkan kepercayaan kita pada Allah yang sejati? Dan maukah anda taat dipakai Tuhan menjadi alatNya? Yesus bertanya pada kita sekalian: “Percayakah kamu sekarang?“ Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)