Ringkasan Khotbah : 02 Nopember 2003

Civitas Dei vs Civitas Terrena

Nats: Kej. 4: 17-26

Pengkhotbah : Ev. Steve Hendra

 

Kitab Kejadian pasal 4 ditulis setelah kejatuhan manusia dalam dosa. Akibatnya mereka diusir dari taman Eden, mereka tidak dapat menikmati keindahan taman Eden, mereka tidak dapat menikmati anugerah pemeliharaan Tuhan dan mereka tidak lagi mendapatkan kemudahan dalam menjalankan hidupnya. Manusia harus bersusah payah demi untuk mempertahankan hidupnya di bumi yang telah dikutuk Tuhan. Kemudian Adam memperanakkan Kain, Kain memperanakkan Henokh, dan seterusnya hingga terbentuklah suatu silsilah keturunan. Kita seringkali melewatkan bagian silsilah padahal di balik nama dalam silsilah tersebut terkandung sejarah yang mengisahkan hidup.

Begitu juga dengan bagian Alkitab yang lain seperti kitab Imamat yang berisi rangkaian hukum-hukum dan peraturan-peraturan para imam yang tidak relevan dan tidak dapat kita jalankan pada jaman sekarang. Dari silsilah kita dapat memahami: 1)  fakta sejarah kebenaran di balik peristiwa yang terjadi pada suatu waktu tertentu, 2) kita dapat mengetahui asal mula terjadinya suatu kejadian atau kondisi hingga terjadi seperti yang kita terima saat ini. Sebagai contoh, kejadian yang terjadi di Indonesia tidak dapat kita lepaskan dari peristiwa sebelumnya, 3) apabila ada seseorang yang berprestasi maka kita juga ikut merasa bangga, 4) agar kita tidak mengulangi kesalahan seperti yang dilakukan sebelumnya dan berharap hasil atau cita-cita yang kita lakukan lebih baik dari sebelumnya.

Heigel menegaskan bahwa manusia perlu belajar satu hal dari sejarah, yaitu manusia tidak mau belajar dari sejarah karena sesungguhnya sejarah dari manusia hanyalah kumpulan dan pengulangan dari kesalahan yang sama. Jika kita intropeksi diri maka kita mendapati kesalahan-kesalahan tersebut merupakan kesalahan yang sama yang terjadi dalam diri orang lain bahkan kita sendiri pernah melakukannya akan tetapi kita melupakannya. Kita seringkali jatuh dalam lubang yang sama. Oleh sebab itu silsilah dalam Alkitab memang Tuhan ijinkan untuk ditulis agar kita dapat memahami kebenaran sejati.

Dari keturunan Kain muncul orang-orang berbakat yang membangun kota dunia (dari bhs. Latin civitas terrena) dan mengembangkan berbagai macam teknologi dan seni. Dan mereka melakukan hal tersebut demi untuk kemuliaan diri sendiri. Keturunan Set melahirkan orang-orang yang hidup takut akan Tuhan dan orang mulai memanggil nama Tuhan (ay. 26). Keturunan Set membangun kota Allah (dari bhs. Latin civitas Dei) demi untuk kemuliaan namaNya. Kedua masyarakat ini hidup di dunia yang sama, saling berinteraksi dan saling mempengaruhi. Kota dunia berusaha menduniakan kota surga sedang kota surga berusaha untuk memberikan pengaruhnya supaya kota dunia kembali pada Tuhan.

Hendaklah kita berhati-hati dan waspada karena kita berada dan hidup di kota dunia dimana dunia selalu berusaha mempengaruhi kita. Kita bukan dari dunia sama seperti Kristus yang juga tidak berasal dari dunia dan Tuhan yang mengutus kita ke dalam dunia untuk menjadi saksiNya (Yoh. 17:14-18). Latar belakang Kain dan seluruh keturunannya membangun kota dunia yang megah adalah: pertama, demi untuk kemuliaan diri sendiri dan kedua, demi untuk keuntungan diri sendiri, yaitu terkenal dan kaya. Dalam bukunya yang berjudul The Postmodern Condition A Report of Knowledge, Jean Francois Lyotard berpendapat bahwa teknologi dan ilmu pengetahuan berkembang bukan karena kegunaan teknologi itu sendiri akan tetapi lebih disebabkan oleh keberhasilan orang tersebut dalam meyakinkan si penanam modal akan keuntungan yang diperolehnya. Justru science yang benar dan baik diabaikan karena tidak berhasil meyakinkan si penanam modal.

Keberhasilan Lamekh mengembangkan peternakan, kesenian dan berbagai macam barang dari tembaga dan besi membuatnya menjadi sombong. Hal ini dibuktikan dengan sikap Lamekh yang telah membunuh orang yang yang telah melukainya sampai tujuh puluh kali lipat artinya sampai pada keturunannya (ay. 24). 

Dunia modern pun menegakkan kekuasaan bukan dengan cinta kasih tetapi dengan kekuatan yang mengarah pada kekerasan. Saat ini kita menjumpai banyak penguasa menggunakan kekerasan dan teror demi untuk mempertahankan kekuasaannya. Manusia yang tidak percaya Tuhan akan kehilangan pengharapan ketika menghadapi situasi kekacauan yang terjadi saat ini. Seorang filsuf, Jean Baudrilard mengungkapkan ketika menghadapi situasi dan kondisi demikian maka orang berusaha menghibur diri dan menutupi segala hal yang menjadi ketakutan dan kekuatiran dalam dirinya dengan memanipulasi situasi yang kacau tersebut sehingga menjadi situasi yang menghibur dan kita dapat melepaskan beban hidup kita. Situasi demikian biasa disebut hyper reality. Yang menjadi pertanyaan benarkah segala beban hidup kita dapat hilang dan tidak akan kembali lagi?  

Orang melepaskan segala masalah hanya pada hal-hal yang bersifat duniawi belaka. Maka tidaklah heran jikalau diskotik, narkoba, dll menjadi tempat pelarian bagi seseorang yang berbeban berat. Kehidupan nyata merupakan beban bagi orang dunia sehingga orang akan merasa lega bila dapat melepas beban tersebut meski hanya sesaat. Ketika film Jurassic Park berakhir, bukan berakhir dengan dinosauras yang tertinggal di pulau namun berakhir dengan kaleng-kaleng minuman kosong, bungkus-bungkus snack yang masih harus dibereskan. Kalimat sindiran ini sebenarnya ditujukan untuk kita, manusia hanya akan merasakan kelegaan dan kegembiraan. Hanya sesaat manusia melupakan masalah hidupnya akan tetapi setelah kesenangan berakhir maka permasalahan tidak berakhir akan tetapi kita masih harus menyelesaikannya.  Hati-hati dengan semangat konsumerisme yang hedonis ditawarkan dunia demi untuk menyenangkan manusia. Ingat, sukacita yang ditawarkan dunia hanyalah sementara.

Orang Kristen harus mempunyai prinsip dan cara hidup seperti keturunan Set yang menyebut nama Tuhan dalam segala aspek hidup mereka. Tuhan harus menjadi yang utama dalam hidup kita. Alkitab mencatat segala ilmu pengetahuan dan teknologi dikembangkan di jaman n Kain sedang pada jaman Set Alkitab tidak menyebutkan perkembangan teknologi. Alkitab hanya mencatat pada jaman Set orang mulai menyebut nama Tuhan. Apakah hal ini berarti sebagai anak Tuhan kita tidak dapat mengembangkan kebudayaan ataukah karena anak Tuhan yang hanyalah seorang musafir di dunia maka tidak perlu mengembangkan kebudayaan? Kenyataan menunjukkan hal yang pertama lebih tepat.

Tuhan memberikan tugas mandat budaya pada manusia akan tetapi setelah manusia jatuh dalam dosa maka bukan berarti tugas mengembangkan budaya ditiadakan. Bukan! Dosa justru membuat manusia harus berusaha dengan keras untuk mengembangkannya. Orang Kristen seharusnya mengembangkan kebudayaan lebih dibanding dunia karena kita mengetahui kebenaran sejati. Orang Kristen harus berprestasi lebih baik dibanding orang dunia; dalam segala hal kita harus lebih baik dari dunia.

Hati-hati dengan dunia dan segala godaannya, janganlah kita merasa diri kuat dalam iman sehingga kita mencoba bermain-main dengan dunia. Ingat, manusia lebih mudah terpengaruh oleh hal-hal yang buruk dibanding hal-hal yang baik. Bukankah jalan ke neraka lebih lebar daripada jalan ke surga? Kenapa kita sebagai orang Kristen tidak memotong seluruh semak yang menghalangi jalan menuju surga? Tanpa sadar kita tidak memberikan kesaksian hidup yang baik di saat dunia membutuhkannya. Bagaimana dengan kehidupan saudara? Sudahkah anda memberikan kesaksian yang hidup di tengah-tengah dunia ini? Kita seringkali mempersalahkan Tuhan atas kejadian buruk yang menimpa kita padahal kesulitan dimaksudkan bukan menjadi batu sandungan tapi menjadi batu loncatan bagi kita. Ada tiga hal yang perlu kita ingat, yaitu:

1. Kita dipanggil untuk menjadi saksi  bagi dunia.  Ketika kita gagal menjadi saksi maka dunia akan kehilangan pengharapan, hope of the world menjadi sia-sia. Adalah tugas setiap anak Tuhan untuk menjadi saksiNya yaitu mewartakan kebenaran sejati (Mat. 28:19-20) di dunia yang kacau ini. Sungguh ironis, sebagai anak Tuhan sejati yang tahu akan kebenaran tetapi kita justru takut untuk mewartakan kebenaran; kita takut untuk melangkah dan menghadapi kesulitan di dunia. Manusia sukar untuk memahami pimpinan dan kehendak Tuhan, manusia lebih percaya akan realita.

2. Kita tidak berani mengakui identitas kita sebagai anak Tuhan dan malahan kita menjadi serupa seperti dunia. Dunia menganggap kesalahan sebagai suatu kebenaran dan mengembangkan teori dari kesalahan tersebut dan akhirnya malah berkembang menjadi kesalahan yang fatal. Betapa celakanya kita jika kita tahu kebenaran sejati tapi kita tidak menjadi saksi dan mewartakan kebenaran tersebut tetapi malahan kita menjadi serupa dengan dunia dan mengulangi kesalahan yang sama seperti yang dunia lakukan. Tuhan telah mengaruniakan kepada kita pengertian akan kebenaran memahami Firman dan tugas kita untuk mengembangkannya sehingga apapun yang kita kerjakan di seluruh aspek hidup kita hanya untuk kemuliaan namaNya. Jangan takut dan kuatir karena Roh Kudus akan menolong dan memampukan kita.

3. Kalau kita gagal bersaksi pada dunia maka dunia yang akan berbalik bersaksi dan mempengaruhi anak Tuhan. Dunia selalu berusaha menjauhkan manusia dari Tuhan dan dunia tidak akan pernah bersahabat dengan kita; dunia membenci anak-anakNya. Realita menunjukkan bahwa anak Tuhan dan anak dunia tidak hidup di dunia yang berbeda melainkan hidup dalam satu dunia dan saling mempengaruhi. Alvin Platinga menegaskan kita harus berani menyatakan diri sebagai anak Tuhan dan menjadikan Tuhan sebagai yang terutama di setiap aspek hidup kita. Kita tidak perlu merasa rendah diri jika dunia menertawakan kita karena dunia tidak mengerti kalau sebenarnya dia justru menertawakan kebodohannya sendiri. Jangan takut dan kuatir akan tetapi serahkanlah hidupmu untuk dipakai menjadi alatNya. Segala sesuatu yang kita kerjakan di dunia akan menjadi berharga jika Tuhan berkenan.

John Bunyan dalam bukunya Pilgrim Progress menggambarkan hidup seorang Kristen yang setiawan bagaikan seorang musafir yang berjalan melewati gemerlapnya dunia yang sengaja didirikan oleh Beelzebul untuk menggoda si Kristen. Hanya iman, kesaksian hidup dan memberitakan Injil menjadi syarat mutlak untuk si Kristen dapat keluar dari jeratan iblis. Puji Tuhan, dengan pimpinan dan penyertaan Tuhan si Kristen dapat keluar dari jerat iblis dan mempengaruhi dunia untuk percaya pada Tuhan. Bukankah sekarang kita berada dan hidup di situasi dan kondisi yang seperti demikian? Dunia selalu mengiming-imingi anak Tuhan dengan menawarkan segala bentuk sukacita yang bersifat semu. Hanya iman kepada Tuhan Yesus, kesaksian hidup yang benar dan memberitakan Injil Kebenaran maka kita dapat keluar dari jeratan Iblis.  Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)