Ringkasan Khotbah : 26 Oktober 2003

Diperdamaikan dengan Allah

Nats: Yoh. 16: 23-28

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Roh Kudus diutus untuk menginsafkan manusia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; dan Roh Kudus hanya berkata-kata seperti yang Tuhan Yesus perintahkan. Jadi, kalau kita dapat mengerti kebenaran, sadar akan dosa dan penghakiman maka semua itu bukan karena usaha kita tapi Roh Kudus yang mencerahkan pikiran kita. Kristus mengajarkan hal ini secara eksklusif yakni hanya kepada sebelas murid setelah Yudas diusir pergi (Yoh. 13:31-16:33); Roh Kudus hanya ada dalam diri murid yang sejati sehingga ia dapat sadar akan dosa, kebenaran dan penghakiman. Yudas bukanlah seorang murid sejati meski ia telah mengikut Yesus selama bertahun-tahun. Yudas tetap bersikeras dan melawan Tuhan ketika Tuhan Yesus menyadarkannya.

Tuhan yang berinisiatif memerintahkan Roh Kudus untuk bekerja sehingga manusia dapat mengenal Tuhan. Bukan karena kepandaian kita kalau kita dapat memahami perkataan Tuhan Yesus di Yoh. 16:16 tentang sesaat tidak bisa melihat dan sesaat kemudian bisa melihat dan tentang kepergianNya kepada Bapa. Calvin menggabungkan kedua pertanyaan murid-murid Yesus tersebut dimana menyatakan tentang kematian Kristus, kebangkitan Kristus dan kenaikan Kristus ke surga membuktikan kemenangan dan kesempurnaan Kristus atas belenggu dosa dan hal ini tidak kita jumpai di tokoh agama manapun di dunia.

Dunia hanya mengerti bahwa tugas Yesus cuma meliputi empat hal yaitu, mengajar, menyembuhkan penyakit, mengusir setan dan memberitakan injil. Dunia hanya mengerti sebatas fenomena saja sedang hal yang paling esensial hanya diberitakan dan dimengerti oleh murid sejati. Misi utama kedatangan Yesus, anak Allah ke dunia tidak hanya sebatas empat hal tersebut akan tetapi Ia datang untuk menebus dosa manusia, menghancurkan belenggu dosa melalui kematian dan kebangkitanNya. Semua manusia telah berdosa jadi, di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan (Kis. 4:12).

Kemenangan Kristus atas maut telah menuntaskan karya penebusanNya. Dia datang dari Bapa  masuk ke dunia ini dan kembali kepada Bapa. Kedua pertanyaan yang dilontarkan para murid di Yoh. 16:17 dijawab secara terpisah oleh Yesus. Pertanyaan pertama para murid yang menanyakan arti tinggal sesaat melihat dan tinggal sesaat tidak melihat dijawab oleh Yesus di ayat 19-22 dan pertanyaan kedua dijawab oleh Yesus di ayat 23-28. Pernyataan Yesus, “Aku kembali kepada Bapa“ mempunyai arti yang sangat penting tapi yang menjadi pertanyaan apakah murid-murid pada saat itu memahaminya sebagai kematian Kristus? Bukankah pengertian konsep “kembali pada Bapa“ dalam konsep Yudaisme sudah mulai redup?

Pengertian tentang Allah yang Maha Besar sebagai Bapa sudah muncul di Perjanjian Lama. Orang Yahudi mempunyai hubungan yang unik dengan Allah yang seharusnya dimengerti secara paradoks. Di satu pihak mereka memandang Allah sebagai sesuatu kekuatan yang maha dahsyat dan hal ini sangat menakutkan bagi mereka karena bertemu Allah berarti kematian bagi mereka. Alkitab menggambarkannya dengan kematian bagi mereka yang memandang sinar kemuliaanNya. Itulah sebabnya dalam Perjanjian Lama jika dikatakan Allah melawat umatNya maka orang Israel tidak akan merasa senang tapi ketakutan dan kegentaran. Namun di satu pihak mereka memandang Allah sebagai Allah yang penuh cinta kasih. Hari ini dunia modern hanya menyukai sifat Allah yang Kasih dan membenci sifat Allah yang Adil; kita selalu menuntut janjiNya tapi tidak mau taat perintahNya.

Kita tidak boleh melepaskan konsep Allah yang Adil yang membenci dosa dengan Allah yang kasih yang memperkenankan kita menyebutnya Bapa. Hubungan antara Bapa dengan anak-anakNya digambarkan sangat indah; Bapa mengasihi anakNya seperti biji mataNya. Allah transenden dan juga imanen; Dia berada jauh di surga mulia namun Dia juga dekat di hati kita, Yesus hanya sejauh doa.

Bangsa Israel telah merasakan kasih Tuhan yang memelihara dan memimpin mereka keluar dari Mesir menuju Kanaan. Akibatnya konsep Allah yang maha Dahsyat mulai hilang dan digantikan dengan konsep Allah yang Maha Kasih. Orang Israel merasa Allah senantiasa mengasihi mereka dengan mengabulkan setiap permintaan mereka akibatnya bangsa Israel selalu menuntut supaya Allah mengabulkan setiap permintaan mereka akan tetapi di lain pihak mereka tidak menjaga kekudusan hidup, mereka menyembah berhala seperti Baal, Asytoret, dll. Bangsa Israel berpikir mempunyai Allah banyak berarti mendapatkan keuntungan berlipat ganda dan mereka juga mulai berzinah dengan bangsa kafir. Allah bukanlah Allah yang mudah dipermainkan, Ia menghukum bangsa Israel dengan membuangnya ke Babel.

Pembuangan bangsa Israel ke Babel merupakan titik baliknya bangsa Israel pada Tuhan sehingga mereka tidak berani lagi bermain-main dengan Tuhan. Akibatnya mereka membuat peraturan yang sangat ketat dan dijadikan Taurat yang tidak boleh dilanggar. Mereka takut kalau Tuhan akan marah dan membuang mereka lagi ke Babel. Bangsa Israel tidak mempunyai konsep paradoks tentang sifat Allah sehingga mereka jatuh dari ekstrim, Allah yang Kasih ke ekstrim lain, yaitu Allah yang Adil. Konsep Allah yang imanen jadi hilang. Hari ini kekristenan juga terbagi dua kelompok, yaitu: 1) kelompok yang ketat menjalankan hukum Taurat karena takut pada Allah yang Adil, dan 2) kelompok yang menafsirkan Alkitab dengan sembarangan, mereka mempermainkan Allah karena Allah yang Kasih pasti akan mengampuni.

Mintalah kepada Bapa (ay. 24) bila dimengerti oleh mereka yang tidak mengenal Kristus maka ayat tersebut akan disalah mengerti dan digunakan demi untuk kepentingan diri sendiri. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengajarkan hal ini secara eksklusif yakni hanya kepada sebelas murid sejati. Di dunia modern ini hendaklah kita waspada bila orang dunia menawarkan sesuatu yang kelihatan manis pada kita karena di balik kebaikannya pasti ada maksud tertentu yang menguntungkannya. “Mintalah kepada Bapa” mempunyai pengertian:

1. Kristus telah memperdamaikan kembali hubungan manusia dengan Allah.

Sukacita terbesar hanya ada dalam Yesus Kristus yang telah memperdamaikan, reconsiliation kita dengan Bapa sehingga hubungan kita yang terputus dipersatukan kembali. Perdamaian dengan Allah memberikan kekuatan dan pengharapan bagi kita anak-anakNya untuk menjalani hidup di dunia.

Yesus mati, Yesus bangkit dan Yesus menebus manusia berdosa. Apakah manusia hanya puas ketika manusia telah ditebus dosanya dan ia telah mendapatkan hidup kekal sehingga murka Allah tidak menghukumnya di neraka? Tidak! Kalau kita hanya mengerti karya penebusan yang dilakukan Yesus hanya demi untuk kita mendapat surga maka celakalah kita yang hanya mementingkan diri sendiri. Misi Kristus datang ke dunia bukan hanya memindahkan orang dari neraka ke surga. Ingat, surga tidak sama dengan dunia jangan pernah berpikir bahwa surga sebagai suatu tempat dimana di dalamnya segala sesuatunya terbuat dari emas. Itu pikiran manusia yang materialistis. Kepuasan kita adalah kita taat menjalankan kehendak Bapa dan di surga nanti Tuhan mengatakan,”Engkau hambaKu yang setia”.

Manusia adalah satu-satunya makhluk di dunia yang Tuhan berkenan menghampiri dan bergaul dengannya. Tuhan telah memberikan “nafas” pada manusia yang memungkinkan manusia dapat berhubungan dengan Allah. Sejak kejatuhan manusia dalam dosa hubungan indah antara manusia dengan Tuhan di taman Eden menjadi rusak. Manusia seharusnya menjadi obyek murka Allah tapi puji Tuhan, Kristus telah memperdamaikan kembali hubungan kita dengan Allah Bapa sehingga penuhlah sukacita kita.

2. Kita harus peka terhadap kehendak Tuhan dan taat menjalankan kehendakNya.

Orang yang telah dipenuhi Roh Kudus maka ketika ditawarkan untuk mintalah apa saja kepada Bapa maka pastilah ia akan memikirkan yang terbaik yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Ia tidak akan meminta sesuatu yang mengandung dosa. Maka kalau kita perhatikan, tidak ada satupun di antara para murid yang berani meminta ketika Tuhan Yesus memperbolehkan mereka untuk meminta padahal sebelumnya mereka berebut kekuasaan, mereka ingin duduk di sebelah kanan atau kiri Yesus.

Kenapa kita tidak berani meminta pada Tuhan kekuatan untuk memberitakan Injil? Kita lebih berani meminta hal-hal yang bersifat duniawi yang memuaskan egois kita. Kita tidak berani meminta sesuatu yang sesuai kehendak Tuhan karena kita takut kehendakNya tidak sama dengan kehendak kita dan kehendakNya tidak menguntungkan bagi kita. Jika kita meminta yang sesuai dengan kehendakNya maka Dia berjanji Dia akan mengabulkan setiap permintaan kita (Yoh.16:24).

Sebagian besar anak Tuhan takut meminta kekuatan untuk mengabarkan Injil atau lebih tepatnya mereka takut dipakai untuk menjadi alat Tuhan. Ingat, Allah tidak memanggil semua orang di dunia untuk menjadi umatNya jadi berbahagialah kita yang telah dipilih dan dapat memanggil Dia dengan Bapa.

3. Allah sangat mengasihi anak-anakNya.

Di dunia ini tidak ada kasih yang terbesar, yang terindah, dan yang terdalam selain kasih Tuhan. Dunia hanya mengasihi mereka yang menjadi milik kepunyaanNya saja (Yoh. 15:19). Dunia selalu mengharapkan imbalan dari obyek yang dikasihinya akan tetapi kasih Kristus adalah kasih yang tidak pernah menuntut balas. Tuhan mengasihi manusia terlebih dahulu, Dia yang berinisiatif menyelamatkan manusia.

Adalah hal yang indah kalau kita dapat merasakan dan mengalami kasih Bapa yang mencintai kita. Bahkan Abraham Maslow berpendapat bahwa orang yang kehilangan cinta maka hidupnya akan menjadi gila. Namun, sangatlah disayangkan kini orang mencari cinta di dunia, kasih yang diberikan dunia hanyalah kasih yang semu belaka. Jangan biarkan hidupmu diombang-ambingkan oleh dunia tapi hendaklah hidup kita selalu berpaut dengan Allah Bapa yang mengasihi kita yang rela memberikan anakNya menjadi tebusan untuk kita. Tuhan Yesus akan mengasihi setiap orang yang memegang dan melakukan perintahNya (Yoh. 14:21) sehingga kita dapat menikmati kasihNya. Hendaklah hidup kita diubah dan diperdamaikan dengan Bapa di surga sehingga kita punya keberanian menjalankan hidup di dunia.  Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)