Ringkasan Khotbah : 19 Oktober 2003

Dua Pesan Terakhir Yusuf

Nats: Kej. 50:22-26; Kel. 13:19; Ibr. 11:22

Pengkhotbah : Ev. Hendry Ongkowidjojo

 

Hari ini kita akan merenungkan dua pesan Yusuf menjelang ajalnya. Pertama, memberitakan bahwa Tuhan akan membawa bangsa Israel keluar dari Mesir menuju tanah perjanjian. Kedua, untuk membawa serta tulang-tulang Yusuf keluar dari tanah Mesir menuju tanah Kanaan, yaitu tanah yang dijanjikan Tuhan (Kej. 50: 24,25).

Mengapa Yusuf berpesan bahwa Allah akan memperhatikan kamu dan Allah akan membawa kamu keluar dari Mesir? Bukankah hal ini mengindikasikan bangsa Israel di tanah Mesir dalam keadaan sulit dan terjepit sehingga untuk keluar dari Mesir diperlukan campur tangan Allah? Hal ini berlawanan dengan kondisi Israel yang makmur dan hidup berkelimpahan sampai saat menjelang ajalnya; mereka mempunyai tanah sebagai hak milik dan kebutuhan pangan mereka tercukupi.

Hari ini kita yang mendengarkan pesan tersebut tentulah dapat memahaminya dan mengingatkan kita akan peristiwa keluarnya bangsa Israel dari tanah Mesir (Kel. 1:8-13). Bangsa Israel mengalami penindasan dan penganiayaan; mereka diharuskan membangun kota-kota perbekalan, yakni Pitom dan Rameses. Mereka tidak diijinkan keluar dari tanah Mesir oleh Firaun. Maka kalau kita melihat situasi ini, benarlah perkataan Yusuf bahwa dibutuhkan Allah untuk membawa mereka keluar dari Mesir dan melepaskan mereka dari segala penderitaan. Namun bangsa Israel tidak memahami hal ini karena pesan Yusuf dengan peristiwa keluarnya bangsa Israel dari Mesir mempunyai rentang waktu sekitar 400 tahun. Orang-orang Israel bertambah banyak jumlahnya dan mereka tidak mengenal Yusuf begitu juga Firaun dan keturunannya juga tidak mengenal Yusuf.

Perkataan Yusuf bagi orang Israel sangat aneh dan tidak dapat diterima secara logis karena pada masa pemerintahan Yusuf sampai menjelang ajalnya kondisi Israel sangatlah makmur dan tidak berkekurangan bahkan mereka mempunyai tanah yang menjadi hak milik di tempat yang terbaik di negeri itu, di tanah Rameses (Kej. 47:11-12). Yusuf telah berjasa bagi bangsa Mesir, ia telah menyelamatkan orang Mesir dari ancaman kelaparan. Itulah sebabnya kedatangan Yakub dan seluruh bangsa Israel disambut baik oleh orang Mesir dan mereka sangat menghormati dan menghargai bangsa Israel. Lalu mengapa dalam kondisi baik dimana segala kebutuhan mereka tercukupi Yusuf mengeluarkan pernyataan yang tidak sesuai dengan realita? Mengapa bangsa Israel memerlukan Allah untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir?

Yusuf mengeluarkan permintaan demikian bukan berarti ia mendapatkan penglihatan atau wahyu baru yang dapat melihat kondisi bangsa Israel 400 tahun mendatang dimana akan muncul Firaun yang tidak mengenal dia dan menindas bangsa Israel. Kalau kita membaca Alkitab secara runtut maka kita akan memahami kenapa Yusuf bisa mengutarakan kalimat yang berlawanan dengan kondisi bangsa Israel pada saat itu. Bukan karena ia mendapatkan wahyu baru tetapi karena ia mengingat dan mempercayai wahyu yang diberikan kepada kakek buyutnya, Abraham. Allah telah berfirman bahwa keturunan Abraham, yakni bangsa Israel akan dibuang sebagai orang asing, bangsa Israel akan dianiaya dan ditindas selama 400 tahun tetapi Allah memimpin mereka keluar dengan membawa harta benda yang banyak (Kej. 15:12-16). Allah telah memberikan peringatan sekaligus janji pada bangsa Israel.

Karena iman Yusuf dapat memberitakan tentang keluarnya orang-orang Israel dan memberi pesan tentang tulang belulangnya (ibr. 11:22) meskipun Yusuf melihat bahwa semuanya baik tetapi ia senantiasa mengingat dan percaya Firman Allah pada Abraham tersebut. Bayangkan, andai kita yang mendapat pesan dari Yusuf tentu kita juga akan berpikir kalau Firman Tuhan tersebut salah. Bagaimana mungkin orang Israel akan dibuang sebagai orang asing tetapi pada saat yang sama orang Mesir memberikan pada orang Israel tanah terbaik sebagai hak milik. Firman Tuhan sangat bertentangan dengan realita namun Yusuf tetap beriman dan mempercayai Tuhan, ia melihat melampaui realita yang ada. Bagaimana dengan kita lebih percaya Firman ataukah realita? Tuhan mengutus kita seperti anak domba ke tengah-tengah serigala (Luk. 10:13) tetapi kita mendapati realita tidaklah demikian. Kita akan bertanya-tanya apakah Tuhan tidak terlalu melebih-lebihkannya? Begitu juga dengan perkataan Tuhan Yesus bahwa dunia akan membenci kamu dan kamu akan dianiaya karena namaKu (Yoh. 15:19-20) namun hari ini kita tidak menjumpai atau merasakan aniaya ataupun kebencian dunia. Kalaupun sekarang kita mengalami kesulitan dan tantangan baik dalam studi maupun pekerjaan namun toh kita tidak merasa seperti berada di tengah-tengah serigala. Jadi, sebagai kesimpulan Firman Tuhan tidaklah relevan dan akhirnya kita mulai meragukan firmanNya.

Orang Israel pun bersikap sama seperti itu, mereka sebenarnya tahu akan Firman Tuhan pada Abraham bahwa mereka akan menjadi orang asing dalam suatu negeri dan mereka akan diperbudak dan dianiaya. Namun, realitanya orang Israel justru dihormati, mereka memiliki tanah terbaik sebagai hak milik di negeri itu. Orang Israel mulai melihat keadaan di sekeliling mereka baik maka mereka pun mulai tidak mengindahkan peringatan Tuhan dan mereka lebih percaya realita hingga Tuhan menggenapi firmanNya, yaitu mereka mengalami penganiayaan dan ditindas, mereka tidak siap dan iman mereka mulai goyah.

Pada waktu kondisi baik, mereka menolak peringatan Tuhan tetapi ketika kondisi buruk pun mereka juga tidak bisa lagi percaya janji Tuhan pada Abraham, yaitu mereka akan keluar dengan membawa harta benda yang banyak; Tuhan akan menggerakkan orang Mesir untuk memberikan hartanya pada orang Israel (Kel. 12:31-36). Akan tetapi orang Israel meminta emas dan perak pada orang Mesir bukan karena mereka mengingat janji Tuhan tetapi karena Musa yang menyuruh mereka; Musa mengingat janji Tuhan (Kel. 12:35). Bangsa Israel tidak mengingat dan mengindahkan peringatan Tuhan dan juga janji Tuhan. Mengapa kita dalam kondisi terpuruk dan kehilangan kita sulit untuk percaya janji Tuhan? Di satu sisi kita menyadari bahwa kita harus beriman namun di sisi yang lain kita sulit percaya janjiNya. Dari pesan terakhir Yusuf ini kita dapat belajar dua hal:

Pertama, Manusia lebih percaya pada realita dan logika dan sebaliknya manusia tidak lagi menghargai dan menghormati Firman Tuhan. Bangsa Israel pada saat jatuh dan tertindas mereka  sukar untuk percaya dan bersandar pada Tuhan karena pada saat berkelimpahan dan dihormati mereka tidak menghargai peringatan Tuhan. Bagaimana dengan hidup kita? Apakah kita juga seperti orang Israel tersebut yang tidak mengindahkan Firman Tuhan di saat kita hidup berkelimpahan dan di saat kita berada dalam kesulitan? Kita sudah melatih dan membiasakan diri kita sedemikian rupa untuk tidak lagi mengindahkan Firman di saat langit cerah maka wajarlah di saat kondisi kita sulit pun kita sudah terbiasa mengindahkan dan melupakan janji Tuhan. Kita tidak pernah belajar bersandar dan menghargai peringatan-peringatanNya sehingga pada saat terpurukpun kita sulit percaya janji Tuhan dan menganggap logika kita yang benar, situasi dan kondisi yang ada sekarang yang lebih relevan.

Kita sulit percaya Firman Tuhan yang mengatakan bahwa kita diutus seperti domba di tengah-tengah serigala karena realita yang ada tidaklah demikian. Dan kita juga sulit untuk percaya bahwa setiap hajaran yang Tuhan berikan adalah demi untuk kebaikan kita (Ibr. 12:10). Dengan demikian yang menjadi penentu kebenaran Firman bukannya Tuhan melainkan manusia, baik dan buruknya situasi dan kondisi kita. Yusuf melihat segala kondisi baik tetapi ia tetap mengingat peringatan Tuhan dan dalam kondisi buruk ia ingat janji Tuhan. Yusuf berpegang teguh pada kebenaran karena ia tahu Firman Tuhan tidak pernah salah. Hendaklah kita belajar dari pengalaman iman Yusuf yang selalu percaya peringatan Tuhan ketika langit berawan dan cerah dan selalu berharap janji-janjiNya ketika kita lagit gelap.

Kedua, Permintaan ini menunjukkan hati Yusuf selalu berada di tanah Kanaan, tanah perjanjian meskipun Mesir telah memberikannya segala kekayaan dan kesuksesan. Seperi halnya Yusuf, Yakub juga berpesan untuk menguburkan tulang-tulangnya di sisi nenek moyangnya, di tanah Kanaan (Kej. 49:29). Kalau kita membandingkan antara Yakub dan Yusuf dari sudut manusia maka permintaan Yusuf lebih mengherankan dari permintaan Yakub. Kita dapat memahami permintaan Yakub karena Yakub lama tinggal di Kanaan dan hanya sekitar 17 tahun tinggal di Mesir maka tidaklah heran bila ia minta dikuburkan di Kanaan daripada di Mesir. Berbeda dengan Yusuf yang tinggal selama 93 tahun sejak ia dibuang ke Mesir di usia 17 tahun (Kej. 37:2). Yusuf mendapatkan semua hal yang baik di Mesir, seperti kesuksesan, keluarga dan semua mimpinya pun tergenapi di Mesir. Maka dapatlah dikatakan Yusuf sebagai tuan rumah dan orang Israel yang lain hanyalah tamu. Di antara semua tokoh Alkitab hanya Yakub dan Yusuf yang berpesan untuk menguburkan tulang-tulangnya di Kanaan. Yusuf menyadari bahwa Mesir bukanlah rumah mereka; orang Israel hanyalah seorang “musafir”. Yusuf tetap beriman pada janji Tuhan akan tanah perjanjian meski realita menunjukkan tanah Kanaan tidak dapat menghasilkan apa-apa. Bukankah Yakub dan seluruh bangsa Israel pergi ke Mesir karena ancaman kelaparan? Yusuf tidak tahu akan menjadi seperti apakah Kanaan kelak, Yusuf juga tidak tahu bahwa Kanaan akan menjadi lebih mulia, namun Yusuf tetap berpegang pada janji Tuhan, yakni semua hal yang dari berasal Tuhan pasti indah.

Tuhan janjikan tanah yang mulia di surga kelak. Kita tidak tahu seperti apakah surga namun kita beriman surga pasti lebih indah dari dunia. Alkitab tidak memberitahukan pada kita penjelasan yang detail tentang surga sehingga saat kita berada pada situasi dan kondisi yang baik kita serasa seperti di surga. Bangsa Israel lupa akan tanah Kanaan, tanah perjanjian saat berada di Mesir yang berlimpah susu dan madu; mereka lupa bahwa status mereka hanyalah seorang pendatang. Saat inipun kita hanya bisa mereka-reka surga dan celakanya kita tidak lagi menginginkan surga karena kita sudah merasakan indahnya surga di dunia.

Kita diperhadapkan pada dua pilihan, yaitu surga atau neraka dan kita lebih memilih surga daripada neraka. Andaikata anda disuruh memilih antara surga atau kehidupan yang diberkati di bumi manakah yang lebih anda pilih? Sebenarnya kita merindukan surga ketika kehidupan di dunia seperti neraka, bukan? Kita ingin surga ketika kita mengalami kesusahan dan penderitaan di dunia karena kita tahu di surga tidak ada air mata. Dalam hal-hal yang negatif surga lebih unggul tetapi pernahkah kita berpikir bahwa kita akan mendapatkan sukacita yang penuh di surga nanti dibandingkan sukacita yang kita dapatkan di dunia sekarang? Ironisnya, orang lebih memilih sukacita semu di bumi yang lebih nyata daripada sukacita kekal di surga yang kita tidak tahu seperti apa dan bagaimana bentuknya. Kita takut semua kebahagiaan di dunia tidak kita dapati di surga nanti.

Percayalah surga yang Tuhan sediakan pasti lebih indah dari dunia. Kita tahu ada kejutan indah dari Tuhan yang menanti kita. Jangan lupa kita hanyalah seorang tamu di dunia ini dan segala sesuatu yang Tuhan berikan pada kita bukan menjadi hak milik tapi pinjaman dari Tuhan dan Dia berhak mengambilnya dari kita. Karena itu bersyukurlah senantiasa atas semua hal baik yang Tuhan berikan tetapi jangan ikatkan dirimu pada hal-hal yang bersifat keduniawian. Biarlah kita senantiasa mengarahkan hati dan pikiran kita pada surga meski kaki tetap berada di bumi. Puji Tuhan, kita mempunyai pengharapan dalam Tuhan dan hendaklah kita senantiasa menantikannya dengan tekun.  Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)