Ringkasan Khotbah : 12 Oktober 2003

Sukacita Kebangkitan

Nats: Yoh. 16: 20-23

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Kalimat yang sifatnya paralel dan terbalik yang diungkapkan oleh Yesus dalam Yoh. 16:16 membingungkan para murid. Sebenarnya Yesus ingin mengingatkan kembali pada para murid akan kematian dan kebangkitan Kristus yang telah diungkapkanNya. Matius mencatat hal ini sedikitnya empat kali (16:21; 17:22-23; 20: 17-19; 26:2). Namun, para murid tetap tidak mengerti hal ini ditunjukkan dengan reaksi Petrus yang keras, ia menjauhkan Yesus dan menegor Dia (Mt. 16:22). Mereka menganggap perkataan Kristus tidak logis.

Kita telah memahami bahwa konsep logika kitalah yang menyebabkan kesulitan untuk mengerti Firman. Manusia memiliki logika atau akal budi sedang binatang tidak dan hal ini diakui oleh para filsuf penganut teori evolusi. Jadi, akal budi bukan produk evolusi lalu darimanakah akal budi ini berasal? Jawaban tersebut hanya ada dalam Firman Tuhan, kebenaran yang sejati. Penganut teori evolusi menggunakan akal budi (logic) yang telah rusak dalam mendidik manusia tapi seringkali pikiran mereka justru tidak dapat dimengerti akal (inlogic). Kita tidak menyadari kalau logika berpikir kita telah dirusak oleh logika dunia. Dan yang lebih celaka lagi manusia menggunakan logika yang telah rusak tersebut sebagai standar untuk menentukan kebenaran.

Petrus mengalami hal ini, perkataan Yesus yang adalah kebenaran sejati ditolaknya karena: 1) tidak sesuai dengan logikanya dan lebih celaka lagi, ia berpikir bahwa Yesus yang salah, 2) Petrus menggunakan logika teologis, yaitu Allah pasti menjauhkan Yesus dari hal-hal buruk seperti dianiaya, mati dan dibunuh karena Yesus adalah anak Allah. Seharusnya Petrus sadar bahwa justru karena Yesus anak Allah maka semua yang dikatakannya merupakan kebenaran.

Kata “sesaat” yang dimaksud Yesus menunjuk pada suatu peristiwa penting dan menjadi tonggak sejarah yaitu Kristus mati dan bangkit menebus dosa manusia. “Tinggal sesaat” lagi murid-murid akan mengalami suatu perubahan suasana, sikap, dan pengertian melalui kematian dan kebangkitan Kristus. Tuhan Yesus menggambarkan perubahan ini seperti seorang perempuan yang mengalami sakit saat ia melahirkan tetapi ia akan bersukacita karena seorang manusia telah lahir (Yoh. 16:21). Pengalaman yang dialami para murid bukanlah hal yang sederhana. Andaikan kita berada dan mengalami situasi  yang sama seperti yang dialami para murid maka kita pasti juga tidak mengerti apa yang menjadi maksud Tuhan dan keterkaitannya antara kematian dan kebangkitan Kristus.

Melihat kematian Kristus dengan mata kepala sendiri merupakan pengalaman yang sangat mengerikan dan membuat para murid kecewa, tidak ada lagi pengharapan. Petrus, Yohanes dan para murid yang lain telah meninggalkan pekerjaan mereka dan memilih untuk mengikut Kristus karena mereka melihat kuasa Kristus yang dapat membangkitkan orang mati dan melakukan banyak mujizat. Mereka berharap dapat memperoleh kebahagiaan dunia jika Kristus menjadi Raja dunia dan mereka akan duduk di sebelah kanan dan kiri Yesus. Bukankah hal ini juga kita jumpai sekarang dimana orang menggantungkan pengharapannya pada hal-hal yang bersifat duniawi, seperti kekayaan, kekuasaan, kepandaian, dan lain-lain. Mereka tidak menyadari bahwa hal-hal duniawi tersebut justru akan menjadi bumerang yang menghancurkan hidup mereka.

Tuhan Yesus tidak pernah memberitahukan cara kematianNya pada para murid karena Ia tahu pasti akan timbul kekecewaan. Salib merupakan lambang kutuk dan hina hanya orang yang melakukan tindak hukum yang berat saja yang dihukum demikian. Salib diletakkan di atas gunung dengan tujuan agar setiap orang yang lewat mencaci dan mengolok-oloknya. Darah yang menetes sedikit demi sedikit melalui kaki dan tangan yang dipaku menyebabkan kematian secara perlahan dan sangat menderita. Yesus mengetahui bahwa waktu bagiNya untuk mati hanya tinggal sesaat lagi dan pada saat itu para murid akan berdukacita tetapi tinggal sesaat saja pula para murid akan melihat Yesus lagi (Yoh. 16:16).

Tuhan mau menunjukkan tentang hal mengikut Dia, yaitu kita harus menyangkal diri dan memikul salib. Dunia selalu memikirkan keuntungan-keuntungan yang akan diperoleh bila mengikut Yesus. Janganlah kita mengulangi kesalahan yang sama seperti yang dilakukan para murid. Mereka telah menyaksikan Yesus yang berkuasa atas badai dan kematian, Yesus banyak melakukan mujizat tetapi dapat ditangkap tanpa melakukan perlawanan yang berarti padahal seharusnya dengan kuasaNya Ia mampu melawan. Bukankah para prajurit langsung jatuh tersungkur saat mau menangkap Yesus? Para murid sangat kecewa atas kejadian dan keadaan yang menimpa Yesus; mereka telah kehilangan pengharapan. Andaikan kita berada dan mengalami hal yang sama seperti yang dialami para murid pada waktu itu, kitapun pasti juga akan bersikap sama seperti mereka, bukan?

Dalam perjalanan iman kita Tuhan menguji dengan memperkenankan kita masuk dalam suatu lembah kekelaman, sampai sejauh manakah kita setia mengikut Tuhan dan apa motivasi kita mengikut Dia? Apakah karena ambisi diri, keinginan diri atau ada sesuatu yang kita cari demi egois kita? Benarkah kita beriman pada Kristus ataukah kita beriman pada diri sendiri dengan memanipulasi Kristus? Ingat, Iblis sedang menampi saat iman kita sedang diuji, karena itu tetaplah teguh, selalu bersandar dan peka pimpinan Tuhan. Konsep inilah yang ada pada konsep-konsep agama di dunia.

Agama dunia tidak percaya pada obyek kepercayaanya tapi percaya pada diri sendiri dan memanipulasi obyek kepercayaannya tersebut demi keuntungan diri. Seseorang yang mempunyai kepercayaan demikian mudah berpaling ke agama baru yang lebih menguntungkan. Kebenaran agama bukan hal yang mutlak lagi. Kekristenan justru mengajarkan berbeda dengan dunia; percaya Kristus sebagai Tuhan berarti menyerahkan seluruh hidup kita dalam pimpinanNya dan mau tunduk di bawah pimpinanNya.

“Tinggal sesaat lagi” bukanlah akhir dari segalanya akan tetapi menjadi titik awal dimana kita dapat menaruh pengharapan kita padaNya. Andaikata Kristus tidak bangkit maka seperti Paulus katakan kepada jemaat di Korintus maka seluruh kepercayaan kita menjadi sia-sia (IKor. 15:14). Lalu apa bedanya kekristenan dengan agama dunia? Puji Tuhan, Kristus bangkit seperti yang dikatakannya: “…tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku” (Yoh. 16:16b) dan saat itu anak-anak Tuhan akan bersukacita.

Tuhan akan menopang pada saat kita mengalami penderitaan jika kita mau bersandar padaNya. Dia ubahkan dukacita kita menjadi sukacita dan kita akan berkemenangan. Sebaliknya, sekarang dunia bersukacita atas dukacita yang dialami anak-anak Tuhan dan berakhir dengan kehancuran. Seperti obat yang bersalut gula-gula sementara terasa manis dan kemudian pahit itulah sukacita dunia hanya bersifat sementara sedang sukacita surgawi bersifat kekal.

Logika para murid yang belum diubahkan membuat mereka sukar untuk mempercayai realita kebangkitan Kristus malahan mereka menduga mayat Yesus telah dicuri dan Tomaspun ingin bukti (Yoh. 16:25). Kalau kita dapat menalar dengan logika yang tepat akan kematian dan kebangkitan Kristus maka kita akan memperoleh sukacita sejati. Yang dimaksud dengan sukacita sejati adalah:

1. Sukacita surgawi yang bersifat kekal.  

Dunia hanya memberikan sukacita semu, dan setelah itu kita mengalami dukacita kekal. Jangan berharap pada dunia dengan berpikir bahwa kesusahan yang kita alami sekarang hanya sementara dan berharap akan memperoleh kebahagiaan kelak. Ingat, dunia tidak akan pernah memberikan sukacita sejati sekarang maupun akan datang! Kenapa sukacita duniawi mudah berubah sedang sukacita surgawi tidak mudah berubah? Karena sukacita duniawi selalu terimpuls oleh hal-hal duniawi yang bersifat sementara; si pencetus sukacita itu sendiri dibatasi oleh ruang dan waktu.

Dunia selalu bersukacita dan mentertawakan kesusahan orang lain dan ironisnya, kesusahan mereka dijadikan sebagai bahan lelucon untuk menghibur orang lain yang disaksikan oleh orang di seluruh penjuru dunia melalui media elektronik. Apakah kita akan bersukacita jika kita sendiri dijadikan bahan tertawaan demi untuk menghibur orang lain? Mentertawakan penderitaan orang lain menunjukkan rendahnya moral manusia. Orang Kristen bersukacita karena Allah menyelamatkan jiwa dan bersifat kekal.

Apalah artinya sukacita jika seluruh hidup kita berakhir dengan kematian kekal? Sebaliknya dukacita kita sekarang tidaklah berarti dibanding dengan surga dan kemuliaan yang kita dapatkan dan bersifat kekal.

2. Sukacita yang bersifat agung dan mulia.

Kejatuhan manusia dalam dosa menyebabkan ia telah kehilangan kemuliaan Allah dan hal inilah yang membuat manusia hidup sengsara hingga detik ini. Maka wajarlah kalau manusia selalu mencari kemuliaan diri yang telah hilang tersebut tetapi tidak akan pernah didapat karena yang hilang adalah kemuliaan Allah. Orang yang mencari kemuliaan diri selalu “gila hormat” dan karena itu ia tidak akan pernah bersukacita; ia menjadi marah apabila ada orang lain yang tidak menghormatinya. Sukacita terbesar justru kita dapatkan saat kita ditebus dari dosa dan kita mendapatkan kembali kemuliaan Allah. Adalah lebih berharga jika Tuhan yang menghargai dan memuji kita kelak di surga.

Manusia hanya melihat apa yang nampak di depan maka wajarlah bila orang menghargai dan menghormati karena ia mendapatkan keuntungan atau ia diuntungkan. Jangan mengandalkan sukacita dari dunia yang menjanjikan kemuliaan padamu bila engkau menguntungkan tetapi kemudian engkau akan dihinakan setelah dunia tidak dapat meraup keuntungan daripadamu tetapi bersukacitalah sebab Allah memberikan kemuliaan kekal yang tidak dapat diambil oleh siapapun sehingga harkat dan martabat kita tidak tergantung oleh siapapun.   

3. Sukacita kebangkitan yang memperdamaikan manusia dengan Allah.

Dalam diri manusia ada kesadaran bahwa akhir dari kehidupan dunia adalah kematian dan kesengsaraan. Hanya kematian dan kebangkitan Kristus yang dapat memperdamaikan kita orang yang seharusnya dimurkai dengan Allah. Dua pertanyaan tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku dan tinggal sesaat saja kamu pula dan kamu akan melihat Aku? Dan: Aku pergi kepada Bapa? (Yoh. 16:17) oleh Calvin digabungkan menjadi satu sehingga ia kehilangan kekayaan pengertian. Tuhan Yesus justru memisahkannya dan Lenski juga melihat kekayaan dari pengertian Firman dari pertanyaan para murid jika pertanyaan tersebut dipisahkan. Pertanyaan pertama dijawab oleh Tuhan Yesus di ayat 20-23 sedang jawaban pertanyaan kedua ada di ayat 24-33.

Kembalinya Kristus kepada Bapa berdampak besar bagi anak-anak Tuhan, yaitu hubungan kita dengan Bapa yang telah rusak dipulihkan kembali. Ia memperkenankan kita menyebut Dia dengan sebutan Bapa. Kematian dan kebangkitan Kristus memperdamaikan kembali hubungan Bapa dan anak yang telah rusak. Orang selalu berusaha mencari cara untuk berdamai dengan Allah namun selalu gagal sebab yang turun adalah murka Allah terhadap manusia yang telah melawan Dia. Celakalah kita bila Allah tidak berkenan kita temui.

Sukacita sejati kita dapatkan hanya dalam  Kristus. Dunia memberikan sukacita yang sementara dan kemudian berakhir dengan kesengsaraan kekal sedang Kristus memberikan sukacita sejati yang bersifat kekal. Ingatlah, segala kesusahan yang kita alami kini di dunia hanyalah sementara dan jangan takut Tuhan akan menolong dan memimpin kita sehingga kita akan mendapat sukacita kekal. Sukacita manakah yang ingin kita dapatkan? Putuskanlah sekarang karena esok akan terlambat.  Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)