|
Ringkasan Khotbah : 5 Oktober 2003
Nats: Yoh. 16: 16-20 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Setiap agama pasti ada hari-hari besar keagamaan yang memperingati peristiwa-peristiwa bersejarah yang dialami pemimpin agama tersebut. Salah satu ciri penting yang tidak dapat dihilangkan dari agama yaitu adanya kemenangan akhir, final victory yang merupakan esensi dari agama tersebut. Agama haruslah mengandung unsur: 1) agama harus bisa menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapi manusia dalam perjalanan hidupnya, 2) agama harus mengandung esensi kemutlakan. Orang yang tidak mengerti esensi kemutlakan menunjukkan ia belum mengerti agama tersebut. Final victory atau kemenangan akhir merupakan penggenapan janji, yaitu penyelesaian masalah dari pemimpin agama tersebut. Seorang pemimpin agama harus mengalami kemenangan, yaitu naik ke surga atau mi’raj, asscension. Hal ini membuktikan ada pengharapan dari agama tersebut dan bukan agama yang mati.
Kematian Kristus diakui oleh banyak orang bahkan oleh mereka yang berada di luar kekristenan; kematian Kristus juga menjadi bahan sorakan bagi dunia. Berbeda dengan kematianNya yang tidak menimbulkan banyak perdebatan, kebangkitanNya justru seringkali menjadi polemik yang tidak pernah berakhir hingga sekarang dan kebangkitanNya menjadi kebencian dunia. Kenapa? Dunia menganggap kematian Kristus berarti kegagalan dan kehancuran dari iman Kristen. Puji Tuhan, Yesus bangkit pada hari ketiga dan Ia naik ke surga pergi kepada Bapa. Bagi agama lain pengertian “pergi” menjadi suatu kelegaan dimana ia telah menyelesaikan tugas selama di dunia tanpa memikirkan bagaimana nasib para pengikutnya yang ia tinggalkan di dunia. Berbeda dengan kenaikan Kristus, kenaikanNya justru demi untuk kebaikan kita, yaitu supaya kita dapat terus bersama Dia dengan cara yang berbeda dan lebih berguna. Ia yang telah naik ke sorga akan tetap hadir bersama kita dalam kemuliaan yang kita lihat dengan mata iman, yaitu Ia akan mengutus Roh Kudus turun.
Jika Roh Kudus tidak turun maka Allah yang berinkarnasi akan terjepit dalam ruang dan waktu. Kristus harus menjadi manusia merupakan syarat mutlak untuk Ia dapat menjadi tebusan bagi manusia berdosa. Menjadi manusia merupakan pengorbanan Kristus terbesar yang melampaui semua pikiran manusia. Sebagai gambaran, relakah anda dari derajat sosial yang tinggi turun menjadi seorang pengemis yang berderajat sosial rendah dan hidup tanpa uang sepeserpun, hidup hanya dari belas kasihan orang lain? Sebagian orang tidak akan mau melakukan hal itu karena turunnya strata sosial berarti mencoreng harga diri kita. Padahal itu hanyalah sebatas penurunan status sosial dimana dari orang yang berduit menjadi tidak berduit tapi tidak melecehkan status kita sebagai manusia, karena kita tetap menjadi seorang manusia.
Namun, bersediakah seorang manusia turun status dari seorang manusia menjadi seekor binatang meski cuma sehari? Tidak boleh berjalan di atas dua kaki tetapi harus berjalan dan berlaku seperti halnya binatang dan binatang seringkali diperlakukan dengan semena-mena. Pastilah tidak ada satu orangpun yang waras yang bersedia melakukan hal itu, bukan? Manusia turun menjadi binatang bukan turun secara kuantitas tapi secara kualitas. Manusia adalah ciptaan tertinggi kini turun menjadi seekor binatang merupakan penghinaan terbesar karena untuk melakukan hal itu kita harus megosongkan diri, menganggap diri bukan manusia barulah kita bisa menjadi seekor binatang. Selama kita sadar bahwa kita adalah seorang manusia maka tidak akan ada seorangpun yang mau dan mampu melakukannya.
Namun, Allah pemilik alam semesta turun menjadi manusia, Allah sang Pencipta turun menjadi ciptaan. Penurunan status ini melebihi turunnya status manusia menjadi seekor binatang. Kenapa? Karena manusia dan binatang sama-sama merupakan ciptaan dimana bedanya hanya manusia adalah ciptaan derajat tinggi sedang binatang merupakan ciptaan tapi dengan derajat rendah. Jauh berbeda dengan Allah yang adalah sang Pencipta alam semesta turun menjadi ciptaan; ada kesenjangan yang terlalu lebar.
Inkarnasi merupakan bukti cinta kasih Allah yang sangat besar; Allah telah mengosongkan diriNya dengan menjadi manusia yakni seorang bayi miskin, papah dan sangat terbatas. Demi menyelamatkan manusia berdosa, Dia rela menjadi manusia; Dia rela naik ke kayu salib untuk menjadi tebusan bagi manusia berdosa. Hal ini seharusnya makin membuat kita mencintai Tuhan lebih dari apapun di dunia.
Kristus mengetahui tidaklah baik jikalau Ia terus berada di bumi karena dengan demikian Ia akan terjepit ruang dan waktu. Kepergian Kristus bukan demi untuk kepentingan diri sendiri tapi demi kepentingan para murid, yaitu supaya Roh Kudus diutus untuk menginsafkan manusia akan dosa, kebenaran dan penghakiman. Manusia selalu menganggap diri lebih baik dan hebat, dia tidak menyadari keberadaan dirinya yang terbatas dan berdosa. Seperti kita ketahui, orang yang merasa diri bodoh tapi dia menyadari bahwa dia bodoh dan ingin berubah dengan belajar itu merupakan kunci untuk dia menjadi pandai. Orang bodoh tapi merasa diri pandai berarti tidak ada harapan lagi baginya untuk berubah. Hendaklah kita menjadi bijak sehingga kita dapat melihat segala sesuatu yang terjadi dengan lebih tenang dan kita lebih mengerti esensi hidup. Kesombongan inilah yang menjadikan manusia sulit untuk menyadari dosa, kebenaran dan penghakiman. Hanya kuasa Roh Kudus yang dapat mencerahkan pikiran manusia berdosa dan ia bertobat. Jadi, janganlah seorangpun diantara kita yang menyombongkan diri. Orang yang bersandar pada Tuhan akan dipimpin masuk dalam keutuhan kebenaran sejati.
Murid-murid kembali dibingungkan dengan perkataan Tuhan Yesus: ”Tinggal sesaat saja dan kamu tidak melihat Aku lagi dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku” (Yoh. 16:16). Padahal Kristus ingin menunjukkan sesuatu yang sebelumnya telah dinyatakan tetapi para murid tetap tidak mengerti. Kita yang hidup di jaman sekarang tentu sudah mengerti maksud perkataan Tuhan Yesus karena kita telah mengetahui keseluruhan maksud pernyataan Tuhan Yesus akan tetapi hal ini tidak berlaku untuk para murid di jaman itu. Sebenarnya perkataan Tuhan Yesus bukanlah hal yang sulit untuk dimengerti tapi karena tidak ada keterkaitan antara semua pengetahuan yang ada dalam diri murid dengan perkataan Yesus.
Tinggal sesaat saja dan kamu tidak akan melihat Aku lagi karena Yesus akan mati; dan tinggal sesaat saja pula dan kamu akan melihat Aku karena Yesus akan bangkit. Kalimat ini mau menceritakan tentang kematian dan kebangkitan Kristus. Murid-murid paling sedikit telah mendengar 4 kali tentang kematian dan kebangkitan Kristus akan tetapi murid-murid tetap tidak mau mengerti karena bagi murid-murid hal ini tidaklah masuk akal. Hal-hal yang membuat manusia sulit untuk mengerti Firman Tuhan adalah:
1. Logical Problem (Masalah Logika)
Manusia sulit untuk mengerti Firman karena manusia telah menetapkan kunci-kunci metodologi logika terlebih dahulu dalam pemikirannya. Kristus telah mengetahui bahwa Dia akan ke Yerusalem, menanggung penderitaan dari para tua-tua, mati dan bangkit pada hari ketiga akan tetapi secara logis, murid-murid tidak dapat menerima realita dari perkataan Tuhan Yesus sebab: Pertama, Mengapa Yesus tetap ingin pergi ke Yerusalem padahal Ia mengetahui bahwa Ia akan menderita sengsara, dianiaya dan mati dibunuh? Mengapa Yesus justru menantang bahaya dengan pergi ke Yerusalem? Hal inilah yang menjadi pertanyaan dan sukar untuk diterima akal. Kedua, Mengapa Yesus yang berkuasa bisa dihancurkan dengan begitu mudahnya? Bukankah angin ribut dan badai tunduk padaNya? Bukankah Ia dapat membangkitkan orang mati? Cara berpikir Tuhan Yesus yang melampaui logika ini sulit dimengerti manusia. Ketiga, Bagi para murid berita tentang Yesus yang akan mati tapi Ia akan bangkit kembali pada hari ketiga sukar diterima secara logis. Bagi mereka orang mati tidak mungkin bangkit padahal murid-murid telah melihat bagaimana Yesus membangkitkan Lazarus dari kubur. Seharusnya berita mengenai kebangkitan diriNya bukanlah hal yang baru dan bukanlah hal yang sulit diterima oleh akal manusia.
Ironisnya, para ahli Taurat dan orang-orang Yahudi justru mengetahui hal ini sehingga mereka memeteraikan kubur Yesus tapi sayang mereka tetap tidak mau percaya. Jangan mudah terjebak dengan situasi logika yang telah kita bentuk sendiri. Manusia seringkali menggunakan logikanya bukan logika Tuhan dalam mengambil keputusan. Bagi manusia mungkin mustahil tapi bagi Tuhan tiada hal yang mustahil. Logika manusia yang tidak logis dan logika Tuhan lebih logis.
Dalam mengambil keputusan manusia seringkali melihat segala sesuatu dari logika terlebih dahulu (misal: dana, SDM, dll) bukan dari kehendak Tuhan. Manusia lupa bahwa logika Tuhan melampaui logika manusia. Kita akan takjub melihat kuasa Tuhan saat mempertobatkan orang berdosa pada momen KKR kemarin. Secara logika, kita tidak mungkin bisa mengerjakan proyek KKR yang begitu besar tapi jikalau kita mau taat pimpinan Tuhan maka segala sesuatu yang secara logika kita anggap tidak mungkin tapi bagi Tuhan tidak ada sesuatu yang mustahil dan kita tidak egois saat kita bekerja dan menjadi berkat bagi banyak orang dan nama Tuhan dipermuliakan.
2. Experience Problem (Masalah Pengalaman)
Kita seringkali terkunci dan terjebak dengan mitos-mitos yang berkembang di masyarakat dan menjadikan pengalaman masa lalu sebagai ukuran/standart untuk melangkah atau mengambil keputusan. Bahkan pengalaman kegagalan/kesuksesan orang lain juga seringkali kita jadikan standart. Manusia tidak pernah menjumpai orang mati kemudian bangkit sehingga berdasarkan pengalaman tersebut orang sukar mengerti kematian sekaligus kebangkitan Tuhan Yesus karena tidak ada satupun pemimpin agama di dunia yang mempunyai pengalaman seperti itu. Yang menjadi pertanyaan justru kenapa kebangkitan Yesus harus diukur dari pengalaman kebangkitan pemimpin agama lain? Justru agama lain seharusnya menyadari kebenaran Kristus yang sejati.
Begitu juga kalau Tuhan mau memakai saudara untuk melayani maka gunakanlah kesempatan tersebut dengan sebaik-baiknya meski kadangkala kita merasa hal itu merupakan pengalaman pertama bagi kita dalam melayani. KKR Surabaya 2003 merupakan pengalaman kali pertama bagi panitia setelah kurang lebih selama 10 tahun tidak ada KKR akbar di Surabaya; kita dapat melihat kuasa dan cara Tuhan bekerja sungguh ajaib yang sukar dimengerti secara logika. Ingat, jangan sia-siakan anugerah Tuhan jikalau Ia memperkenankan kita untuk melayaniNya dan jangan terkunci dengan mitos-mitos atau pengalaman-pengalaman di masa lampau. Tuhan akan memimpin dan memampukan kita meski hal tersebut merupakan pengalaman baru bagi kita.
3. Volitional Problem (Masalah keinginan)
Ketidaktahuan murid-murid akan maksud perkataan Yesus dalam Yoh. 16:16 lebih disebabkan karena mereka tidak mau taat dan mereka sengaja tidak mencoba untuk mengerti dengan mengaitkan perkataan Yesus dengan apa yang pernah Yesus nubuatkan. Jangan pernah berpikir dengan pikiran manusia kita dapat mengerti kehendak Tuhan. Untuk mau mengerti kehendak Tuhan maka kunci pertama adalah menyangkal diri, yakni mematahkan keinginan kita dan masuk dalam keinginan Tuhan. Untuk mencapai hal tersebut bukanlah hal yang mudah karena kita telah terbiasa dengan apa yang menjadi keinginan kita sedang kita tidak mau tahu/peduli dengan apa yang menjadi keinginan Tuhan. Tuhan justru mengajarkan kita untuk berkata “TIDAK” pada apa yang menjadi keinginan kita dan berkata “YA” pada apa yang menjadi kehendak Tuhan.
Kalau kita dapat mengerti kebenaran Tuhan dan peka terhadap kehendak maka itu bukan karena kehebatan kita tetapi semua karena anugerah dan hendaklah kita taat untuk mau dipimpin Tuhan. Tanpa pimpinan Tuhan maka semua yang kita kerjakan akan sia-sia belaka. Sukacita yang dijanjikan dunia hanyalah sukacita semu. Dunia bersukacita dengan kematian Tuhan Yesus disalib tapi hal itu merupakan titik awal kehancuran dunia. Bayangkan, andai orang Yahudi dan para ahli taurat tahu mengenai kebangkitan Yesus dan akibatnya dimana banyak orang menjadi percaya dan mengikut Dia maka mereka pasti tidak akan pernah membunuh Yesus. Jadikanlah hidupmu berarti dan diperkenan Tuhan karena hidup hanya sekali dan setelah itu mati. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)