Ringkasan Khotbah : 28 September 2003

Roh Kebenaran

Nats: Yoh. 16: 12-15

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Signifikansi kedatangan Roh Kudus untuk mengingatkan manusia akan dosa, kebenaran dan penghakiman. Tugas utama ini hanya dapat dikerjakan oleh Roh Kudus, Roh Penghibur. Namun, kita menolak konsep dunia yang salah tentang istilah penghibur, yang berpendapat bahwa dihibur berarti kita akan mengalami sukacita, kita akan ketawa-ketawa, menyanyi-nyanyi sambil berjingkrak-jingkrak bahkan orang ingin meniru Daud menari sambil telanjang. Itu bukanlah pekerjaan Roh Penghibur melainkan pekerjaan Roh Setan.  

Firman Tuhan mengatakan kalau Penghibur itu datang, Ia akan menginsafkan manusia akan dosa, kebenaran dan penghakiman dan membawa kita pada kebahagiaan yang sejati. Mengapa demikian? Pengajaran Kristus yang bersifat eklusif ini sukar untuk dimengerti oleh karena konsep berpikir dunia berbeda dengan konsep berpikir Kristus dan juga karena masih banyak hal yang belum Kristus cerahkan sebab kita belum dapat menanggungnya (ay. 12). Manusia mengharapkan memperoleh sukacita dan penghiburan seperti yang dunia beri akan tetapi sukacita sejati justru kita peroleh ketika Penghibur itu yang adalah Roh Kebenaran mencerahkan pikiran dan hati  dan memimpin seluruh hidup kita ke dalam seluruh kebenaran sejati (ay. 13).  

Pembentukan rohani menuju pada kesempurnaan seperti Kristus seharusnya menjadi kerinduan setiap orang percaya. Namun pengaruh filsafat dan semangat eksistensialisme yang berkembang di abad 21 ini membuat orang Kristen tidak berani menyatakan diri sebagai anak Tuhan. Jangan mudah terpengaruh bila orang menyuruh kita untuk meninggalkan segala sesuatu yang diajarkan oleh kaum fundamentalis; percaya Kristus satu-satunya Juruselamat dan Alkitab adalah Firman Tuhan. Kita  menolak ajaran abad 17, pada masa pencerahan atau aufklarung yang dikembangkan oleh kaum liberal dimana manusia harus meninggalkan Allah karena dalam dirinya sendiri manusia mempunyai self determination, yaitu kemampuan untuk menentukan dan menetapkan diri sendiri; manusia mempunyai harkat, martabat dan otorisasi sehingga muncul kesimpulan manusia tidak membutuhkan Tuhan. 

Jean Paul Sartre menekankan manusia harus menegakkan “diri” dan menyatakan “diri” karena “diri” itulah yang menjadi inti begitu juga dengan Abraham Maslow berpendapat manusia perlu mengaktualisasikan “diri” dan “diri” haruslah menjadi pusat otorisasi. Pendapat mereka ditentang oleh Agustinus dan John Calvin yang menyatakan bahwa “diri” bukanlah otorisasi tertinggi melainkan Allah sebagai pemegang otorisasi tertinggi dan Dia adalah satu-satunya sumber kebenaran maka manusia harus kembali pada Allah yang sejati. Pertentangan antara kedaulatan Allah dan otonomi manusia telah dimulai sejak kejatuhan manusia dalam dosa dan tidak pernah berhenti hingga saat ini.  

Ingat, kesombongan merupakan awal dari kehancuran. Kita harus menundukkan diri dan mengakui dengan rendah hati di hadapan Tuhan bahwa kita adalah manusia lemah; kita perlu kuasa Roh Kudus mencerahkan pikiran kita untuk dapat mengerti kebenaran Firman Tuhan. Jangan pernah terbersit sedikitpun dalam pikiran kita bahwa Alkitab itu bukanlah Firman Allah. Celakalah orang yang mengandalkan kepandaian dirinya dalam menafsirkan Firman. Sangatlah mengejutkan seseorang dapat lulus dengan predikat cum laude dari sekolah teologi di Jakarta dengan tesisnya yang berjudul Yesus Bukan Allah Menurut Injil Yohanes.  

Dasar argumentasi tesis tersebut terletak pada kata “Logos” (Yoh. 1:1) yang digubah Heraklitos, filsuf Yunani. Heraklitos memegang prinsip philosophy of becoming yang berarti kebenaran yang tidak pernah benar; kebenaran seperti bunga api yang selalu berproses dan berubah bentuk. Jika kita memandang Allah dari konsep pikiran manusia sebagai pemegang otoritas maka tidaklah heran bila ia sampai pada kesimpulan Yesus bukanlah Anak Allah.

Konsep “Logos” yang diidekan Heraklitos berlawanan dengan konsep “Logos” dalam injil Yohanes. Manusia yang ingin menegakkan diri sendiri pastilah berakhir dengan kehancuran tragis seperti yang dialami Nietzsche. Hal ini semakin membuktikan Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup. Roh Kudus akan memimpin kita masuk ke dalam seluruh kebenaran dan manusia harus mempunyai:   

1. Kesadaran mutlak bahwa manusia adalah manusia yang berdosa dan manusia butuh untuk diinsafkan akan kebenaran dan akan adanya penghakiman.

 Hal ini seharusnya membuat manusia sadar bahwa dia bukanlah kebenaran sehingga dia tidak berhak menetapkan diri sebagai penentu segala sesuatu, self determination. Kita menolak ajaran dari para filsuf Yunani yang menekankan konsep homo men sura, man as the measure of all thing, yakni manusia sebagai penentu segala sesuatu. Suatu kefatalan apabila orang menganggap diri sebagai penentu kebenaran karena: pertama, manusia adalah makhluk terbatas; manusia tidak tahu akan apa yang terjadi di hari esok dan hal itu seharusnya membuat kita semakin rendah hati, kedua, adanya perbedaan dan keunikan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya menyebabkan adanya perbedaan pendapat. Hal ini semakin membuktikan bahwa manusia bukan penentu kebenaran, ketiga, manusia dapat dan seringkali melakukan kesalahan.  

 

2. Kebenaran harus memimpin manusia dan manusia harus tunduk mutlak pada kebenaran.

Roh Kudus pribadi ketiga Allah Tritunggal sehingga Ia yang adalah Allah mempunyai hak untuk mengatur diriNya sendiri begitu juga dengan Kristus pribadi kedua Allah Tritunggal. Namun kita melihat teladan yang indah dalam diri Allah Tritunggal; Kristus taat pada kehendak Bapa dan Roh Kudus taat pada perintah Kristus. Ordo tertinggi berada di tangan Bapa. Getsemani merupakan bukti ketaatan Kristus pada Bapa. Puji Tuhan, Kristus taat melakukan kehendak Bapa dengan membiarkan diriNya menjadi tebusan dosa bagi kita manusia berdosa. Ketiganya merupakan Allah yang Esa dan mempunyai kedudukan yang setara, tidak ada yang lebih rendah ataupun yang lebih tinggi tetapi dalam menjalankan otorisasi Bapa menjadi pemegang otoritas tertinggi.  

Hendaklah kita dengan rendah hati memohon ampunan Tuhan jikalau selama ini kita telah melenceng dari jalan Tuhan. Biarlah kita dengan rela hati taat dipimpin Tuhan menuju kebenaran. Ingatlah pimpinan Tuhan tidak akan pernah salah dan segala kesulitan yang kita alami justru tidak menjadi batu sandungan tapi Tuhan jadikan sebagai batu loncatan dan Tuhan memang ijinkan kesulitan terjadi demi untuk kebaikan kita; kita dapat merasakan tangan Tuhan bekerja dan melihat pimpinan Tuhan yang ajaib. Ironis, manusia justru tidak mau dipimpin Tuhan dan menganggap diri sebagai kebenaran.  

Di jaman modern manusia ingin menjadi “allah”, manusia ingin menguasai segala sesuatu tetapi tidak mau dikuasai seperti halnya  J. J. Rouessau dalam bukunya Social Contract berpendapat bahwa manusia tidak boleh tunduk pada apapun dan siapapun juga. Hal inilah yang menjadi pencetus demokrasi dimana massa (kelompok yang berjumlah banyak) menjadi penentu kebenaran. Maka tidaklah heran hari ini kita menjumpai kelompok yang paling banyak mempunyai hak bersuara dan mengatur segala sesuatu. “Self” membentuk diri menjadi komunitas.  

Apabila kelompok massa telah kehilangan hak bersuara maka orang akan berbalik pada ajaran meditasi yang dicetuskan oleh gerakan New Age, yaitu Allah ada di dalam kita dan kita adalah Allah. Bukankah keinginan menjadi “allah” telah ada sejak manusia pertama? Mulai Adam dan Hawa hingga detik ini manusia masih terus berharap dapat menjadi seperti Allah. Celakanya manusia tidak pernah menjadi seperti “allah” malahan menjadi seperti iblis. Inilah perbedaan kualitas manusia yang ditunjukkan Kristus; sebagai Pribadi Ilahi-manusiawi, dengan semua kuasa, kemuliaan, dan anugerah yang siap Ia nyatakan, Kristus memberikan diriNya untuk menjalankan kehidupan sebagai hamba Allah yang taat kepada Allah. Ketaatan merupakan hal yang sulit dijalankan karena manusia ingin menjadi pemegang kekuasaan. Jikalau kita menyerahkan hidup kita  dipimpinNya maka biarlah dalam melangkah kita menguji diri  apakah yang menjadi keinginan kita merupakan kehendak Tuhan atau kehendak pribadi?  

3. Roh Kudus akan memberitakan kepada kita tentang hal-hal yang akan datang.

Tentang hal-hal yang akan datang seringkali disalah mengerti dan dimanipulasi orang demi untuk keuntungan diri. Manusia sangat menyukai dan ingin mengetahui mengenai hal-hal yang berhubungan dengan dirinya di masa depan. Ingat, yang dimaksud tentang hal-hal yang akan datang (Yoh. 16:13b) bukan seperti ahli nujum pada umumnya. Roh Kudus memimpin kita masuk dalam keutuhan kebenaran, The Fullness of Truth, yaitu tentang kebangkitan dan kematian Kristus merupakan inti dari seluruh berita Injil. Menurut penafsiran John Calvin, Roh Kudus akan memberitakan tentang hal-hal yang akan datang karena: 1) Seluruh Alkitab belum selesai ditulis sehingga butuh Roh Kudus untuk mewahyukan kebenaran 2) Totalitas keseluruhan Firman haruslah dimengerti oleh setiap orang percaya dan hal itu masih menjadi kesulitan (ay. 12) sehingga hanya Roh Kudus yang dapat mencerahkan.  

Manusia begitu antusias untuk mengetahui masa yang akan datang. Manusia berharap dapat mengubah dan mengatur masa akan datang demi untuk keuntungan diri sendiri. Ingat, hal-hal akan datang yang akan diberitakan Roh Kudus adalah hal-hal kebenaran yang bersifat holistik bukan konteks permainan futurologi seperti jaman sekarang ini. Roh Kudus tidak memimpin kita pada fragmental condition. Hanya Alkitab, Firman Tuhan yang diwahyukan yang memaparkan kebenaran sejati, yakni bagaimana dunia dijadikan dimana tidak ada seorang pun yang tahu, bagaimana dunia berproses dan bagaimana dunia berakhir. Hanya Tuhan Sang Pemilik Sejarah yang mengetahui keseluruhan kebenaran.  

4. Roh Kudus tidak akan memuliakan diriNya sendiri tetapi Ia akan memuliakan Kristus.

Roh Kudus yang sejati tidak akan berpusat dan berorientasi pada diriNya sendiri tetapi Dia akan mempermuliakan Kristus, membawa kita semakin mengenal Kristus, menyembah Kristus dan memampukan kita untuk taat pada Kristus. Roh Kudus tidak akan menentang dan melawan Kristus. Jadi, jikalau kita menjumpai orang yang mengaku dirinya ada Roh Kudus tapi melawan Yesus maka pasti itu bukan Roh Kudus tapi Roh Iblis. Setiap orang yang beriman dan percaya Kristus disebut sebagai orang Kristen dan harus bersaksi bagiNya. Kristus satu-satunya jalan, dan kebenaran, dan hidup maka hidup kita pasti jadi lebih bermakna dan berarti. Sudahkah kita mempermuliakan Kristus dalam hidup kita? Siapakah kita sehingga layak menerima segala pujian dan dipermuliakan? Hanya Kristus yang layak menerima segala pujian dan hormat dan Roh Kudus akan memimpin kita masuk dalam kebenaran. Amin. ?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)