Ringkasan Khotbah : 31 Agustus 2003

Insaf akan Dosa

Nats: Yoh. 16: 8-9

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Berkat yang kita peroleh melalui kenaikan Kristus ke sorga adalah demi supaya kita dapat terus bersama Dia dalam suatu cara yang lebih berguna daripada kehadiranNya selama di dunia. KenaikanNya ke sorga menunjukkan kemuliaan dan kuasaNya secara penuh. Ia yang telah naik ke sorga akan tetap hadir bersama kita dalam kemuliaan yang kita lihat dengan mata iman. Roh yang diutus akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman (ay. 8). Hari ini kita akan merenungkan misi Roh Kudus yang pertama yaitu menginsafkan manusia akan dosa (ay.9). 

Kitab Suci mengajarkan bahwa Allah Bapa yang merancangkan keselamatan, Kristus Allah yang berinkarnasi menjadi tebusan dosa agar kita dapat menerima berkat keselamatan dan Roh Kudus mengerjakan karya keselamatan dan memeteraikannya dalam hati dan memimpin kita dalam ketaatan pada kebenaran Allah. Kasih Allah dinyatakan dengan memberikan anakNya yang tunggal untuk mati menebus kita (Yoh. 3:16). Karena kasihNya Ia telah menyingkirkan semua penyebab permusuhan  dan mendamaikan kita dengan diriNya. Kristus melepaskan kita dari hukuman Allah yang adil, melepaskan kita dari belenggu dosa dan cengkeraman Iblis. Ia menempatkan diriNya di bawah kutuk yang mestinya jatuh ke atas kita melalui kematianNya di salib, Dia menjadi tebusan yang sempurna. Dia  yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah (2Kor. 15:21). 

Dosa membuat seseorang sulit untuk percaya kepada Kristus, manusia selalu mengadakan perlawanan dengan Allah dan menganggap hal-hal yang bersifat ilahi sebagai suatu kebodohan. Itulah sebabnya kita memerlukan tuntunan Roh Kudus untuk menerangi akal budi kita, menguatkan dan meneguhkan hati kita dengan kuasaNya. Roh Kudus akan membawa manusia memandang kepada Kristus dan  menyadarkan manusia akan relasi yang benar pada Kristus, Roh Kudus bekerja dalam diri setiap orang percaya menanamkan iman dan memeteraikan janji-janji Allah dalam hati kita.  

Iman sukar dimengerti akal pikiran manusia sebab iman adalah masalah hati. Maka wajar bila orang melihat pelayanan Yesus hanya sebatas mengajar, memberitakan kabar kesukaan, menyembuhkan penyakit dan mengusir setan padahal misi utama Yesus bukan hanya di empat aspek tersebut melainkan Yesus datang untuk menggenapkan rencana Bapa, yaitu menjadi korban tebusan manusia. Dunia tidak memahami misi ini tapi dunia mengakui kualitas Yesus mengajar tidaklah sama dengan manusia biasa mengajar. Pengajaran Kristus mengandung konsep finalitas yang berbeda dengan pemikiran manusia bahkan orang Yahudi yang menentang pengajaran Kristus pun mengakui kualitas pengajaran Kristus. Dunia berdosa yang materialis dan humanis menolak dan menentang ajaran Kristus. Kalimat Tuhan Yesus yang berbunyi “Berbahagialah, hai kamu yang miskin… tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya… (Luk. 6:20-26) sangatlah dibenci dunia pada umumnya.  

Konsep yang Kristus ajarkan terbalik dengan konsep dunia yang telah tertanam dalam diri manusia. Percaya Kristus tidaklah semudah mengucapkannya karena dalam diri  manusia ada suatu perlawanan yang membentengi dan menghalanginya. Dunia menyadari Kristus datang membawa kebenaran sejati. Ketika kita melihat pembalasan Allah terhadap orang-orang jahat sebenarnya dalam hati kita muncul rasa takut dan gentar pada Allah namun iblis telah mencengkeram hidup manusia dan kita sulit melepaskan diri dari ikatan nafsu duniawi sehingga manusia membentengi dirinya dengan bersikap skeptis, acuh dengan semua ajaranNya. Iblis telah membelenggu manusia sedemikian rupa membuat manusia tidak bisa lepas dari jeratan iblis.

Ingat, iblis bekerja merasuki jiwa manusia dan menjauhkan kita dari kebenaran sejati sebaliknya Roh Kudus memurnikan dan memimpin kita dalam ketaatan pada kebenaran Allah dan Ia akan berdukacita bila orang menolak pimpinanNya. Seseorang yang dirasuk iblis akan kehilangan kesadaran, ia tidak berkuasa atas dirinya dan ia tidak akan dapat melawan kuasa iblis. Hanya kuasa Yesus yang dapat mematahkan belenggu kuasa iblis. Tuhan Yesus membawa manusia ke dalam pengertian dan makna hidup sejati.  Dunia mengakui hal ini dengan menyebut Dia sebagai Guru yang Agung.  

Salah satu keunikan pengajaran Yesus yang dicatat Alkitab adalah Yesus mengajar dengan perumpamaan. Celakanya, kini banyak orang bahkan anak Tuhan menganggap perumpamaan Yesus memang dimaksudkan untuk disesuaikan dengan kapasitas berpikir manusia sehingga orang lebih mudah untuk mengerti. Kesimpulan yang salah! Yesus mengajar dengan perumpamaan karena kepada kita diberi karunia, grace untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar mereka tidak mendengar dan tidak mengerti (Mat. 13:10-13). Itulah sebabnya kenapa tidak semua orang dapat mengerti pengajaran Kristus. Hanya mereka yang diberikan anugerah Roh Kuduslah yang dapat mengerti rahasia ini dan hal ini hanya Kristus buka dan cerahkan kepada anak-anakNya.  

 Makin berdosa seseorang maka ia akan semakin melawan dan semakin memberontak pada Allah sehingga sulit untuk kembali pada kristus. Hal ini menunjukkan tiga aspek dari dosa, yaitu: 

1. Dosa menyebabkan penolakan terhadap kebenaran.

Sudah menjadi sifat manusia berdosa selalu melawan kebenaran sejati. Celakalah orang yang menganggap dirinya sebagai kebenaran karena akan berakhir dengan kehancuran. Kebenaran sejati tidak akan pernah tergoyahkan ataupun dihancurkan.

Sangatlah disayangkan hari ini kita menjumpai anak-anak Tuhan takut memberitakan kebenaran sejati. Seperti kita ketahui dengan berlakunya UU Sisdiknas di dunia pendidikan  anak-anak Tuhan tidak mempunyai keberanian mewartakan kebenaran sejati. Anak Tuhan seharusnya dengan tegas menyatakan bahwa standar kebenaran hanya ada dalam Kristus dan pendidikan Kristen harus dimulai dengan pertobatan. 

Pertobatan pada intinya adalah berbaliknya seluruh hati kepada Allah dan dengan rendah hati kita mengakui dosa kita dan dengan rela hati menaati hukum Allah. Dengan demikian pertobatan menghasilkan manusia baru, yaitu pemulihan kembali gambar Allah yang telah rusak di dalam diri kita dimana pemulihan ini berproses di seumur hidup kita. Jangan pernah berpikir kehebatan manusia dapat membawa kita pada hidup kekal. Tidak! Justru banyak orang hebat dan pandai menjadi atheis karena otak mereka diisi dengan kebenaran palsu dan merasa diri paling benar.  

Suatu anugerah bila Roh Kudus menginsafkan kita akan kesalahan. Paulus mengakui semua kehebatan, kepandaian dan kesuksesannya sebagai sampah karena pengenalannya akan Kristus Yesus (Flp. 3:7-9). Tuhan beranugerah menyelamatkan Paulus dan hal inilah yang mendorong Paulus berdoa supaya manusia sadar akan kesalahan yang diperbuatnya dengan menganggap diri benar, mereka giat untuk Allah tapi tanpa pengertian yang benar (Rm. 10:13).  Hendaklah kita juga mau bertekad untuk mau dipakai Tuhan menjadi alatNya dan memberitakan kebenaran seperti kerinduan Paulus.  

2. Dosa membangun semangat egoisme dan kesombongan dalam diri manusia.

Bukan hal yang mudah bagi manusia untuk mau mengakui segala kelemahan yang ada pada dirinya dan juga mengakui kesalahan yang telah diperbuatnya. Adalah wajar bila manusia mempunyai kelemahan dan melakukan kesalahan tapi semuanya itu bukannya “tidak” dapat diatasi melainkan “belum” dapat diatasi dengan harapan suatu hari kelak kita dapat meraih semua keinginan kita. Kita menolak konsep yang ditanamkan oleh gerakan positive thinking ini. Ironisnya, pemikiran ini berkembang sangat pesat karena sesuai dengan nafsu duniawi manusia berdosa. Waspadalah dengan akal licik iblis dan jangan mudah tergoda dengan semua janjinya. 

Kesombongan membuat manusia tidak mau mengakui kelemahan dan dosa-dosanya. Manusia akan bereaksi negatif bila ditegur dosanya karena menegur dosa sama dengan melecehkan martabat. Jadi, bukan karena kehebatan kita kalau kita dapat insaf akan dosa, semua karena anugerah Tuhan. Saya menyadari akan hal ini dan saya bersyukur Dia berkenan menyelamatkan hidup saya mengingat latar belakang pendidikan keluarga saya. Pendidikan keluarga mengharuskan saya untuk berpikir secara rasional dan selalu berpikir positif. Keluarga menekankan prinsip jangan pernah menyerah dengan keadaan hidup, hidup penuh dengan perjuangan jadi, semua yang menjadi keinginan dan cita-cita kami harus diperjuangkan dan harus berhasil. Demikianlah konsep yang ditanamkan oleh keluarga kami. Konsep ini cukup baik tapi hati-hati jika berlebihan akan mencelakakan hidup kita karena kita akan selalu  terobsesi padahal tidak semua cita-cita dapat kita raih bila Tuhan tidak berkenan, bukan?  

Puji Tuhan, Dia hancurkan kesombongan yang ada pada diri saya hingga saya menyadari bahwa manusia makhluk yang rapuh Tuhanlah yang berkuasa atas hidup manusia. Jangan pernah berpikir segala kepandaian, kekayaan dan kekuasaan dapat menyelamatkan kita. Ingat, semua itu hanya bersifat sementara, Tuhanlah yang berkuasa atas semuanya. Iblis selalu menggoda dan mengiming-imingi kita dengan sesuatu yang yang indah tapi berakhir dengan kehancuran.  

3. Dosa dapat diselesaikan dengan cara dunia.

Jangan tertipu dengan gerakan new age yang mengajarkan manusia tidak berdosa hanya manusia memiliki kelemahan dan cara menyelesaikannya hanya dengan bermeditasi. Bayangkan, bila kita berada di posisi tersebut maka dengan sengaja kita menyakiti dia dan sebagai penebus kesalahan kita melakukan meditasi apakah orang disakiti tersebut dapat menerima perlakuan tersebut dengan ikhlas? Kesalahan dapat diampuni akan tetapi akibat dari kesalahan yang diperbuatnya tetap ada dan dia harus menanggungnya.  

Kesombonganlah yang membuat manusia merasa dapat menyelesaikan dosa dan mengabaikan keadilan Tuhan. Alkitab menegaskan dosa hanya dapat diselesaikan melalui perdamaian dengan Kristus. Tuhan setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita tapi Dia juga adil sehingga Ia juga menuntut keadilan dari setiap dosa yang telah kita perbuat. Manusia menyadari hukuman yang akan diterima akibat dosa dan hal ini menjadi kegentaran dan ketakutan dalam diri manusia. Jadi hanya anugerah bila kita dipanggilNya, bila kita disadarkan akan dosa dan bertobat. Maka jangan keraskan hati bila Roh Kudus berbicara, memperingatkan dan menegur dosa kita tetapi hendaklah biarkan dirimu bertobat dan kembali pada kebenaran sejati. Biarlah kita dipakai Tuhan untuk menjadi berkat menyadarkan dunia akan dosa dan kembali pada Tuhan. Amin.?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)