Ringkasan Khotbah : 17 Agustus 2003

Faith and Suffer

Nats: Yoh. 15:26-16:4b

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Perintah baru Tuhan Yesus supaya kita saling mengasihi dengan kasih sejati yang sama seperti kasih Kristus dalam injil Yoh. 13:34 dimaksudkan untuk mempersiapkan setiap anak Tuhan terhadap tantangan yang akan dihadapinya. Kristus mengetahui dengan pasti bahwa dunia sangat membenci setiap orang Kristen dan iblis dengan segala cara akan berusaha menghancurkan anak-anak Tuhan. Mengetahui hal ini Kristus tidak menganjurkan agar kita anak-anak-Nya lari, bersembunyi dan menyangkali iman ketika dalam kesulitan tetapi Dia justru memerintahkan untuk kita bersaksi, mewartakan kebenaran sejati di tengah-tengah dunia yang bengkok ini. Jangan takut karena Kristus mengutus Roh Kudus dari Bapa untuk memampukan kita untuk menjadi saksi-Nya dan Ia akan memberikan kekuatan dan penghiburan saat kita berada dalam penderitaan.

Ingat, Tuhan menuntut setiap kita yang kepadanya telah diberikan Roh Kudus, yaitu Roh Kebenaran untuk menjadi saksi kebenaran yang sejati dan kebenaran sejati itu hanya ada di dalam Kristus Yesus. Menjadi saksi-Nya tidaklah mudah hendaklah kita bersiap akan segala kesulitan dan penderitaan yang menanti di hadapan kita dan semuanya ini telah Kristus katakan  supaya kita tidak menjadi kecewa dan menolak Kristus (Yoh. 16:1). Hal ini ditegaskan Kristus kepada murid-murid sebelum Ia naik ke sorga karena Ia tahu bahaya yang akan dihadapi para murid saat Ia pergi dan tidak bersama-sama lagi bahkan saat Kristus mengajar dan melayani bersama para murid telah banyak ancaman bahaya. Kenapa Kristus memberikan konsep supaya kita tidak menjadi kecewa dan akhirnya menolak Kristus?

Secara logis seseorang yang menyatakan “iman”, umumnya obyek imannya merupakan manifestasi dari keinginan nafsunya yang merupakan cerminan dari manusia berdosa; “iman” tersebut tidak didasarkan pada Firman Allah. Padahal makna sesungguhnya dari percaya bukanlah ketaatan secara buta terhadap peraturan gereja melainkan mengenal Allah sebagai Bapa yang penuh kemurahan melalui pendamaian yang telah Ia kerjakan di dalam Kristus. Manusia seringkali memikirkan “allah” dan mencipta “allah” demi untuk keuntungan diri. Mereka berkesimpulan salah bahwa semua yang kita dapat berasal dari Allah. Benarkah dari Allah? Lalu siapakah allah yang sesungguhnya? Manusia berdosa menginginkan mempunyai “allah” yang kasih yang mengabulkan semua permintaan dan yang tidak peduli terhadap segala kejahatan yang merajalela di muka bumi. Benarkah demikian? Lalu seharusnya seperti apakah kepercayaan itu?

Seorang sosiolog berpendapat seseorang tidak boleh menyimpulkan terlebih dahulu bahwa dirinya punya suatu kepercayaan atau tidak punya kepercayaan tetapi bertanyalah padanya kepercayaan/religiusitas seperti apakah yang ia miliki. Kenapa? Karena di dunia ini tidak ada satu manusia pun yang tidak mempunyai kepercayaan bahkan seorang atheis memiliki kepercayaan, yaitu ia percaya bahwa Tuhan itu tidak ada.  Seseorang yang beriman pada obyek tertentu akan mempengaruhi seluruh aspek hidupnya, baik cara berpikirnya maupun tindakannya. Iman seperti ini bukanlah iman Kristen sejati melainkan ilusi iman.

Tuhan bukanlah suatu realitas yang nyata sehingga manusia seringkali jatuh dalam penyembahan berhala seperti di jaman PL dimana orang mengimajinasikan Allah dalam bentuk riil yang sesuai dengan keinginannya. Orang mencipta Tuhan yang maha kasih berarti ia harus selalu tersenyum, Tuhan maha pemurah identik dengan kekayaan dan kemakmuran sehingga ia harus berperut buncit selain itu Ia maha bijaksana identik dengan seorang tua dan berambut putih. Jadi, allah haruslah yang sesuai dengan keinginan dan konsep manusia lalu siapakah allah? Apakah Ia sebagai pribadi atau Allah sebenarnya sebagai refleksi dari pemikiran manusia?

Seorang filsuf menyimpulkan God is created by man according to image of man, Allah dicipta menurut gambar dan rupa manusia karena “allah” adalah refleksi dari pemikiran manusia. Kita menolak kesimpulan tersebut yang menganggap Allah bukanlah suatu pribadi yang berdaulat dimana manusia harus taat mutlak pada-Nya. Manusia tidak mau dan tidak suka ketaatan yang mutlak terhadap kedaulatan Allah tersebut. Manusia ingin saat ia ber“iman”, bereligiusitas haruslah yang dapat memuaskan keinginannya dan sesuai dengan konsep manusia. Konsep manusia berdosa tentang iman dan agama bukanlah berdasar pada Firman Allah sehingga pernyataan bahwa ia ber”agama” maka “iman” yang dipercaya bukanlah iman yang sejati; agama menjadi pelarian diri dari Allah yang sejati.

Maka tidaklah heran bila hari ini kita menjumpai berbagai jenis aliran kepercayaan dan mendapati seseorang yang berganti-ganti agama dengan mudahnya seperti seberganti baju apabila dirasa tidak cocok maka orang akan terus mencari sampai ditemukan yang cocok begitu seterusnya. Konsep iman yang seperti inilah yang menyebabkan bangsa Israel berulang kali jatuh dalam dosa penyembahan berhala. Mereka mempunyai konsep yang salah tentang Allah yang sejati, mereka tidak taat pada Allah tetapi mereka justru menciptakan “allah” menurut konsep mereka.

Sampai detik inipun kesombongan orang Yahudi belum juga luntur. Mereka menganggap diri sebagai umat pilihan sehingga mereka merasa diri paling pandai, paling bertalenta, bangsa paling kuat dan berderajat tinggi diantara bangsa-bangsa lain di dunia. Bahkan dalam doa pun mereka menunjukkan kesombongan, yaitu mereka bersyukur terlahir sebagai orang Yahudi dan bukan orang kafir (sebutan bagi orang yang bukan Yahudi). Orang Yahudi merindukan kekuasaan dan kejayaan seperti di jaman Daud dan Salomo, dan hal ini masih menjadi impian mereka sampai hari ini untuk menjadi pemimpin besar atas segala bangsa di dunia. Mereka juga masih mengharapkan kedatangan Mesias sebagai penguasa kerajaan dunia. Konsep mesias yang seperti inilah yang meracuni pikiran Yohanes dan Yakobus. Melalui ibunya mereka menginginkan kedudukan tinggi, yaitu di sebelah kanan dan kiri Yesus kalau Kristus sang Mesias mendirikan kerajaan di muka bumi suatu hari kelak, Yesus menjadi Raja atas segala Raja. Kristus tahu apa yang menjadi pemikiran dan konsep para murid yang juga termasuk dalam golongan orang Yahudi. Itulah sebabnya Kristus mempersiapkan para murid dan mengubah paradigma mereka yang salah melalui pengajaran yang terakhir sebelum ia naik ke atas salib.

Kristus mengkontraskan kerajaan-Nya dengan kerajaan dunia. Kerajaan Kristus merupakan kerajaan rohani yang bersifat kekal dan mempunyai kekuasaan yang besar yang mencakup seluruh dunia. Dan hal ini terbukti hingga detik ini, bukankah kita melihat kerajaan Kristus yaitu gereja-Nya ada di seluruh penjuru dunia? Sedangkan kerajaan dunia hanyalah bersifat sementara jika dunia berakhir maka kerajaannya pun akan ikut lenyap karena hanya bersifat materi dan keduniawian. Kerajaan rohani yang didirikan Kristus akan dimusuhi kerajaan duniawi dan kita yang menjadi pengikut Kristus juga akan dibenci oleh dunia. Jangan kaget karena Kristus telah terlebih dahulu menderita (Yoh. 15:8). Ironisnya orang yang menganiaya anak Tuhan akan merasa diri telah berjasa di hadapan Tuhan (Yoh. 16:2).

Kristus menginginkan agar para murid menafsir ulang segala sesuatu yang terjadi sepanjang mereka mengikut Kristus sehingga mereka tidak salah motivasi dalam mengikut Kristus. Di zaman modern ini muncul ajaran yang salah dari gerakan neopantekostalisme atau yang lebih dikenal dengan gerakan kharismatik, yaitu mengikut Kristus tidak akan ada kesusahan dan penderitaan dengan perkataan lain hidup kita akan sukses karena berkat Tuhan melimpah. Apabila seorang anak Tuhan tidak mengalami dan tidak mendapat berkat Tuhan yang limpah tersebut berarti orang tersebut telah berdosa. Ajaran ini kini dikembangkan di abad 20 dan dikenal dengan teologi Sukses. Wajarlah bila ajaran ini banyak pengikutnya karena mereka merasa cocok dan sesuai dengan keinginan nafsunya.

Ada perbedaan paradigma yang drastis antara gerakan pentakolisme kuno dengan gerakan pentakostalisme modern. Pada gerakan pentakostalisme kuno ada suatu kesadaran bahwa sebagai anak Tuhan pasti hidup dalam penderitaan sehingga mereka selalu bertekun dalam doa dan persekutuan memohon kekuatan dari Tuhan dan menyadari diri sebagai manusia berdosa. Sebaliknya hal ini dihilangkan oleh gerakan neopentakostalisme.

Sebagai kesimpulan, agama dan iman yang akan kita ajarkan haruslah yang cocok dan sesuai dengan keinginan manusia. Kalau begitu apa bedanya dengan teori marketing yang dikembangkan dunia bisnis? Kitab Injil menunjukkan apa yang disebut “iman” sejati. Ada banyak bagian Kitab Suci yang kabur artinya bagi kita, sampai kebangkitan Kristus dan turunnya Roh Kudus kita baru mencapai pencerahan yang lebih penuh sehingga kita mengerti dan memahami:

1. Dunia penuh dengan kebencian.

Kebencian ini muncul di semua aspek kehidupan manusia termasuk aspek religiusitas. Banyak orang merasa berbuat benar dan mengatasnamakan agama atas semua kejahatan yang dilakukannya, seperti peledakan-peledakan bom yang telah mengorbankan ribuan nyawa. Mereka merasa telah berbuat bakti bagi Allah seperti yang telah dinubuatkan Kristus dalam Yoh. 16:2. Kebencian menjadi citra dunia yang telah jatuh dalam dosa. Ekspresi kebencian tersebut terpancar keluar. Bagaimanakah dengan kehidupan saudara? Apakah anda hidup dengan penuh kebencian ataukah hidup penuh kasih? Siapakah yang menjadi standar “iman” kita?

Kristus mengkontraskan antara pengikut Kristus dengan pengikut dunia. Mengikut Kristus berarti kita harus bersiap akan penderitaan dan penganiayaan yang akan kita hadapi di dunia tetapi ingatlah, penderitaan tersebut hanyalah bersifat sementara sebab kita akan memperoleh sukacita kekal di sorga nanti. Mengikut dunia berarti kita akan mendapatkan sukacita yang bersifat sementara dan berakhir dengan penderitaan kekal di neraka. Kristus tidak menginginkan setiap orang yang mengikut Dia hidup menderita tetapi Ia justru mau menunjukkan realita yang akan dihadapi murid-murid-Nya sehingga mereka tidak menjadi kecewa dan menolak Kristus.

Jangan menutupi realita dan memberikan janji-janji manis saat kita bersaksi memberitakan kebenaran sejati. Andai mereka membenci dan menganiaya karena kita membawa kebenaran maka ingatlah  Kristus telah terlebih dahulu dianiaya dan pembalasan bukanlah menjadi hak kita (Rm. 12:19). Penderitaan yang kita alami janganlah menggoyahkan iman Kristen kita justru menjadi timbul pertanyaan kalau kita tidak mengalami penderitaan berarti kita menjadi pengikut siapa? Ingatlah, Tuhan tidak janji langit selalu biru, hari depan cerah, dan Dia juga tidak janji kita tidak akan mengalami susah dan cobaan tapi Dia janji akan memberikan kekuatan, penghiburan dan Dia akan beserta saat kita menghadapi kesulitan, ujian dan bahaya. Dan akhirnya iman kita akan menang atas segala kesulitan.

2. Cara berpikir terbalik, up side down thinking.

Kita harus mengubah pola berpikir kita yang salah. Sebab manusia seringkali merasa diri benar dilihat dari sudut pandangnya sendiri. Yang dimaksud dengan berpikir terbalik atau up side down thinking adalah berpikir bukan dari sudut pandang manusia tapi kita harus kembali pada sumber kebenaran sejati yang menjadi standar acuan yang bersifat obyektif, yaitu Kristus satu-satunya jalan dan kebenaran dan hidup (Yoh. 14:6). Di hari penghakiman terakhir Kristuslah yang akan mengadili manusia karena standar mutlak ada di tangan-Nya dan hal ini dipercayai oleh agama Yahudi dan Islam. Maka janganlah kaget dan heran bila komunikasi antara orang Kristen dan dunia tidak nyambung karena selalu melihat dari dua perspektip yang berlawanan.

Hati-hati dunia seringkali memutarbalikkan realita tentang kebenaran dan di saat kita menyadarinya sudah terlambat bagi kita untuk kembali pada ajaran yang benar karena kita telah masuk dibelenggu oleh iblis. Iman yang sejati akan memperkokoh keyakinan kita bahwa Allah adalah Bapa yang baik sehingga kita dapat berpegang erat pada pengharapan keselamatan dari-Nya. Dengan iman yang semakin bertumbuh kita bisa memandang Allah, kita semakin mengenal Dia dan hendaklah kita semakin dipakai Tuhan menjadi saksi-Nya karena pengenalan kita yang benar akan Dia. Amin.?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)