Ringkasan Khotbah : 3 Agustus 2003

Perintah untuk Bersaksi

Nats: Yoh. 15:26-27

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Tanpa alasan yang jelas dunia membenci Kristus dan semua milik kepunyaanNya termasuk kita yang telah menjadi anakNya. Kebencian merupakan esensi dosa. Dunia membenci Kristus bukan karena Kristus melakukan kesalahan, Kristus berbuat dosa, dan bermoral rendah tetapi justru karena Kristus mempunyai standar moral yang tinggi, Kristus mengasihi manusia berdosa, Kristus menyatakan kebenaran, Kristus seorang hakim yang adil dan Ia melakukan mujizat; keagungan, kemuliaan, kebenaran dan keadilan yang memancar keluar  itulah yang menimbulkan kebencian dunia. Dunia membenci Kristus tanpa alasan (Yoh. 15:25).

Adalah wajar jikalau yang kita benci adalah seorang manusia yang kejam dan bermoral bejat. Namun, di saat dunia membenci justru Kristus memerintahkan anakNya untuk mengasihi, to love one another (Yoh. 15:17). Ajaran yang agung dan mulia ini sangat berlawanan dengan ajaran dunia. Dunia akan membenci orang yang membenci dan menyakitinya tetapi anak Tuhan justru semakin mengasihi meski mereka dianiaya dan disiksa karena kita tahu kita bukan dari dunia, melainkan kita telah dipilih Kristus dan kita sekarang telah menjadi milik kepunyaanNya. Ingatlah, dunia telah membenci Kristus terlebih dahulu. Iblis dengan segala daya dan upaya berusaha mematikan Kristus bahkan sampai detik ini ia selalu berusaha menjauhkan manusia dari Tuhan dengan cara yang paling halus sampai cara yang paling kasar, yaitu:  

Pertama, Iblis menggoda manusia dengan menawarkan alternatif manis lain, bahkan ia berani memutarbalikkan Firman, seperti yang dilakukannya pada Hawa. Di era globalisasi strategi marketing juga menerapkan sistem yang sama, yaitu dengan menawarkan berbagai jenis barang yang beraneka ragam, seperti supermarket dan yang sejenisnya yang menjamur saat ini. Hati-hati, banyak hal yang ditawarkan dunia tapi pilihlah sesuatu yang berguna dan sesuai dengan kebutuhan. Iblis dengan liciknya berusaha menjebak dan mempengaruhi manusia dengan tawaran dan janji-janji manisnya. Epistemologi Kristen mengajarkan agar kita mencari “sesuatu yang benar-benar benar” sebab di dunia  kita akan menjumpai tiga pilihan yang menyesatkan, yaitu 1) sesuatu yang tidak benar-benar benar, 2) sesuatu yang benar-benar tidak benar, dan 3) sesuatu yang tidak benar-benar tidak benar. Berarti di tengah dunia ini kemungkinan kita bisa salah semakin besar dan itu cara yang iblis pakai agar manusia menyeleweng dari kebenaran Tuhan yang benar benar. Dan anehnya manusia sangat menyadari hal itu tapi masih terus dilakukan. Manusia merasa sayang untuk melewatkan tawaran manis dan  sesuatu yang bersifat benar-benar benar terasa tidak menyenangkan bagi manusia berdosa.

Kedua, apabila tawaran manis tidak dapat membuat manusia tergoda maka iblis akan memakai cara yang lain, yaitu dengan tipuan. Iblis akan menjerumuskan manusia dengan berbagai macam hal yang nampak asli dan bagus dari luar. Iblis adalah bapanya penipu sehingga jika kita menjadi kawan sekerja iblis maka kita pasti akan menjadi seorang penipu ulung. Dunia menganggap kekalahan Kristus dari iblis karena Kristus terlalu jujur. Benarkah demikian? Dunia berpendapat, kemenangan dan kesuksesan akan kita peroleh dengan menipu dan berdusta. Berhati-hatilah, kebiasaan menipu dan berdusta akan membutakan manusia terhadap kebenaran bahkan seorang pendusta tidak akan mudah dipercaya lagi meski dia berkata jujur. Iblis selalu memutarbalikkan kebenaran Tuhan untuk menjauhkan  manusia dari Tuhan.

Ketiga, cara yang terakhir adalah dengan mengancam dan mengintimidasi anak-anak Tuhan. Pada hakekatnya, dunia membenci Kristus, benci kebenaran, dan benci pada anak Tuhan yang hidup dalam kasih. Puji Tuhan, saat anak-anak Tuhan mendapatkan tekanan, mengalami aniaya dan siksa justru mereka semakin mengasihi seperti yang Kristus ajarkan. Kebencian yang dikontraskan dengan cinta kasih bagaikan menumpuk bara api  di kepala sehingga keinginan iblis untuk membuat anak Tuhan sama dengan dunia tidak  tercapai justru dengan mengasihi perbedaan makin terlihat jelas.

Tuhan menginginkan agar orang Kristen menjadi saksiNya justru di saat kita berada pada situasi dan kondisi yang sedang bergolak; di saat kita menderita aniaya dan siksa orang akan melihat pancaran Ilahi dalam diri kita. Tuhan akan memberikan kekuatan dan penghiburan pada anak-anakNya, yaitu Roh Kebenaran (Yoh. 15:26) dan Dia akan selalu beserta kita sampai pada akhir jaman (Mat. 28:19-20). Pengalaman ini telah dialami oleh anak-anak Tuhan mulai sejak jaman Perjanjian Lama hingga jaman sekarang. Roh Kebenaran yang diutus dari Bapa itulah yang akan menyatakan kebenaran. Ayat ini seringkali dipakai untuk mengajarkan tentang doktrin Roh Kudus. Ingat, Tuhan Yesus mengajarkan tentang Roh Kudus hanya kepada murid-muridNya yang sejati dan bersifat eksklusif, yaitu setelah Yudas pergi.

Pekerjaan Roh Kudus dinyatakan secara nyata dalam diri Tuhan Yesus hanya dua kali. yaitu saat Dia dibaptis dan saat Dia berada di padang gurun. Dan sepanjang perjalanan hidupNya Ia tidak pernah mengajarkan tentang Roh Kudus hingga tiba saatnya Dia mengajar tentang Roh Kudus, yaitu hanya di Injil Yohanes pasal 14-16 itupun setelah Yudas diusir pergi.

Siapakah Roh Kudus? Kenapa Roh Kudus dikirim? dan apa pekerjaan Roh Kudus? Bagaimana sifatNya? Apa ekstensiNya? Bagaimana kriteria pengajaran Roh Kudus? Itu semua hanya diajarkan oleh Tuhan Yesus sebanyak tiga pasal di injil Yohanes.

Kita akan memahami tujuan Tuhan Yesus mengutus Roh Kudus turun ke dunia, yaitu:

1. Roh Kebenaran yang diutus Bapa akan bersaksi tentang Kristus.  Roh Kudus bukan bersaksi tentang diriNya sendiri tapi Roh Kudus akan bersaksi tentang Kristus. Justru di saat anak-anak Tuhan menderita karena aniaya siksa dan di saat banyak orang membenci dan melawan kebenaran disanalah Roh Kudus turun untuk menyatakan kebenaran. Alkitab menggunakan istilah the Spirit of Truth, Roh Kebenaran sejati yang esensial yakni Roh Allah sendiri yang memberitakan tentang Kristus. Jadi,  anak-anak Tuhan yang harus bersaksi tentang Kristus dan Roh Kudus yang akan memberikan kekuatan, kemampuan dan keberanian untuk kita dapat bersaksi. Apakah kita harus bersaksi? Jawabnya YA! Mengapa kita harus bersaksi? Kita harus bersaksi karena sejak semula kita telah bersama-sama dengan Kristus (Yoh. 15:27).

Kesaksian anak-anak Tuhan merupakan kesaksian empiris, yakni kita dapat bersaksi karena kita telah mengalami dan merasakan pengalaman bersama dengan Kristus. Akan tetapi selain kesaksian empiris kita juga menjumpai ada yang disebut dengan kesaksian ilmiah, yakni seorang saksi ahli yang diundang untuk menyatakan kebenaran ilmiah yang bersifat prinsip. Bersaksi yang dimaksud dalam Yoh. 15:26 merupakan kesaksian yang sifatnya ilmiah dan ahli yang menyatakan kebenaran yang benar-benar benar karena Dia adalah kebenaran esensial. Roh Kudus adalah Roh Allah, Roh Kebenaran. Sebagai kesimpulan, jika kita menjumpai Roh Kudus yang tidak menyatakan kebenaran tentang Kristus maka dia pastilah bukan Roh Kebenaran. Roh yang diutus Bapa, yaitu Roh Kebenaran kepada kita pasti memberitakan tentang kebenaran. Ingatlah, sebagai anak Tuhan jangan bersaksi seperti seorang salesman, yang hanya membicarakan sesuatu yang manis, enak dan menyenangkan saja sedangkan hal-hal yang buruk berusaha ditutup dengan rapat. Kesaksian seorang anak Tuhan haruslah kesaksian yang menyatakan kebenaran sejati, yaitu kita harus mewartakan tentang Kristus dan bagaimana seharusnya manusia berelasi dengan Kristus dengan benar.

Kesaksian seorang anak Tuhan tidak perlu menutupi kebenaran tapi justru menyatakan kebenaran dan ingat, bukan kita yang bersaksi terlebih dahulu tapi Roh Kudus sebagai sumber kebenaran yang akan bersaksi. Menjadi anak Tuhan, orang Kristen akan memperoleh hidup kekal tapi menjadi Kristen tidaklah mudah; kita harus berani bayar harga untuk taat padaNya karena melawan Tuhan berarti mati. Allah adalah Kasih, Dia mengampuni orang berdosa tapi Dia juga adalah Allah yang adil yang menyediakan neraka bagi mereka yang melawan Dia. Kristus datang untuk menyatakan bahwa setiap manusia di dunia tidak ada yang sempurna; setiap manusia telah berdosa dan harus dibinasakan akan tetapi Dia datang untuk manusia berdosa tersebut agar diselamatkan dari hukuman kekal.

Tuhan tak janji langit cerah, bunga terus harum dan Tuhan tidak menjanjikan kita tidak akan mengalami susah, cobaan, aniaya dan penderitaan. Namun, Dia janjikan hidup kuat, Dia akan selalu beserta saat kita mengalami ujian dan bahaya bila kita mau taat padaNya. Tuhan akan memberikan mahkota Kemuliaan pada kita yang berharga dalam kekekalan. Dia akan memberikan damai sejahtera. Hal inilah yang menjadi kekuatan dalam diri kita dan yang membedakan anak-anak Tuhan dengan dunia. Kita dapat bersaksi tentang kebenaran sejati bukan karena kepandaian dan kehebatan kita melainkan karena Roh Kudus yang memampukan kita.

2. Kebenaran sejati harus kita aplikasikan dalam hidup kita. Pengenalan kita akan Kristus seharusnya makin mengubahkan hidup kita untuk semakin serupa Dia. Bersaksi yang dimaksud dalam Yoh. 15:27 adalah kesaksian yang bersifat empiris karena kita dari semula telah bersama-sama dengan Kristus; kita hidup bersama Kristus dan hidup bergaul dengan Tuhan menjadi pengalaman riil kita. Seperti pengalaman kesaksian para martir yang menderita aniaya dan siksa justru pada saat mereka sedang menyatakan kebenaran. Puji Tuhan, meski menderita mereka tetap setia mengikut Tuhan bahkan mereka dapat mengucap syukur dan bersukacita senantiasa. Bagaimanakah dengan hidup kita? Sudahkah kita mengalami pengalaman indah bersama dengan Tuhan?

Hal yang sulit diterima logika manusia adalah kasih anak Tuhan yang begitu besar pada orang-orang yang telah menganiaya dirinya, anak-anak Tuhan semakin dianiaya justru semakin mengasihi. Namun setelah kita mengenal Kristus kita dapat mengerti apa yang mendorong seseorang sehingga ia dapat mengasihi orang yang telah menganiaya dirinya. Semua hanya karena anugerah Tuhan yang telah mengutus Roh Kudus sehingga dapat memampukan kita untuk mengasihi dan juga karena kita sendiri telah merasakan kasih Kristus yang begitu besar secara riil dalam hidup kita; Dia telah merelakan diriNya menjadi tebusan bagi kita. 

Kesaksian yang menceritakan pengalaman tentang bagaimana Tuhan beserta saat berada dalam penderitaan sangat menguatkan iman kita yang lemah. Sekalipun kita berada dalam kesulitan ingatlah bahwa Dia tidak pernah melupakan kita, Dia akan memberi kekuatan dan jalan keluar pada kita sehingga kita dapat menanggungnya dan Tuhan tidak akan mencobai kita melebihi kekuatan kita (I Kor. 10:13). Ironisnya saat ini kita sering menjumpai seseorang yang berada dalam penderitaan malahan melempar kesalahan itu pada Tuhan, mereka menganggap Tuhan yang membuat manusia menderita tapi saat manusia berada pada keadaan lancar malah melupakan Tuhan.

Pengalaman hidup bersama Kristus seharusnya menjadi kesukaan bagi kita, dan hendaklah semakin hari kita semakin serupa Kristus sehingga orang lain dapat melihat Kristus dalam hidup kita. Celakalah kalau kita lebih mirip dengan dunia daripada dengan Kristus. Bagaimana dengan anda lebih mirip Kristus atau lebih mirip dunia? Relasi kita dengan Tuhan akan mempengaruhi seluruh aspek dalam hidup kita baik perkataan, sikap dan tingkah laku kita.

Biarlah mulai saat ini kita mau bertekad untuk mewartakan kebenaran, mengaplikasikan kebenaran, dan mau bertumbuh ke arah Dia, untuk semakin serupa Kristus. Pembentukan kerohanian kita akan membuat kita mempunyai pengalaman indah bersama Kristus sehingga kita dapat mengajak orang lain untuk percaya Kristus. Amin. ?

 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah)