|
Ringkasan Khotbah : 27 Juli 2003
Nats: Hakim-hakim 6-8 Pengkhotbah : Ev. Thomy J. Matakupan |
Hukum Taurat yang pertama berbunyi “jangan ada padamu allah lain di hadapanKu”, karena Allah kita adalah Allah yang cemburu (Hak. 20:3-5). Namun, bangsa Israel kembali berbuat dosa dengan menyembah allah dari bangsa Amori. Tuhan mengutus Gideon untuk memberikan peringatan keras pada mereka. Akan tetapi Gideon bereaksi negatif terhadap panggilan Tuhan tersebut, ia ingin melihat bukti berupa mujizat yang bersifat supranatural dan spektakuler. Permintaan Gideon ini dilatarbelakangi oleh kondisi bangsa Israel yang dicengkeram rasa takut kepada orang Midian maka tidaklah heran apabila mereka membuat tempat persembunyian, yakni gua-gua dan kubu-kubu (Hak. 6:2) dan ketika Tuhan memanggil Gideon didapati ia sedang bersembunyi dalam tempat pengirikan gandum (Hak. 6:11).
Gideon dan sebagian besar bangsa Israel mulai meragukan pemeliharaan Allah dan berkesimpulan bahwa Tuhan tidak menyertai bangsa Israel lagi karena Tuhan membiarkan orang Midian menyiksa dan menyengsarakan bangsa Israel. Mereka tidak dapat menerima kenyataan kalau Allah yang telah membebaskan Israel keluar dari Mesir ternyata Allah yang telah melepaskan umatNya dari mulut singa yang satu menuju ke mulut singa yang lain. Benarkah Allah tidak menyertai bangsa Israel? Tidak, Alkitab mencatat pada Hak. 6:7-8 Tuhan telah mengutus seorang nabi untuk memberi peringatan pada bangsa Israel yang menyembah berhala tetapi bangsa Israel adalah bangsa yang tegar tengkuk. Maka kali ini Tuhan ingin agar bangsa Israel berjuang di dalam rohaninya sendiri dan mendapati keadaan rohaninya yang porak poranda sebagai akibat mereka telah mempermainkan Allah.Ingat, seseorang yang hidup berkenan di hadapan Allah, ia akan berada dalam jalur berkat Tuhan sebaliknya seseorang yang hidup di jalan sesat dan meninggalkan Allah, ia akan berada dan hidup dalam jalur kutuk.
Ironis, umat Israel telah mengalami langsung mujizat dan pemeliharaan Tuhan yang berkelanjutan, menerima hukum Taurat ketika Musa memimpin keluar dari tanah Mesir, tapi ternyata mereka mudah sekali beralih pada allah yang dapat dilihat dengan mata, allah yang berwujud dan dapat memberikan “pengharapan”. Bukankah hal ini juga terjadi dalam hidup kita dimana kita mudah sekali terkecoh ketika allah-allah lain datang menawarkan sesuatu yang indah pada kita dan banyak pula kita jumpai orang yang beralih pada allah-allah tersebut. Anak-anak Tuhan mungkin tidak akan menyembah berhala berbentuk patung atau benda-benda lain seperti yang dilakukan oleh kepercayaan primitif tapi ternyata di dunia modern pun kita masih sering menjumpainya.
Seorang teolog Indonesia, Verkuyl berpendapat bahwa seseorang yang telah memberikan tempat Allah kepada yang lain dan memperlakukannya sama seperti kepada Allah berarti dia telah melakukan penyembahan berhala. Hati-hati dengan segala cara iblis selalu berusaha agar manusia jatuh dalam dosa, ia selalu menawarkan sesuatu yang kelihatan indah dan ironisnya, manusia tidak menyadari bahwa semua itu hanyalah bersifat sementara dan semu. Terkadang Tuhan mengijinkan hal itu kita alami agar manusia menyadari kekeliruan yang telah dibuatnya dan bertobat seperti halnya Tuhan pakai bangsa Midian menjadi hakim atas umat Israel karena melanggar hukum pertama dari hukum Taurat. Lalu mengapa Tuhan memilih Gideon dan menyebutnya sebagai pahlawan yang gagah berani? (Hak. 6:12) Apakah Tuhan tidak salah menilai Gideon dengan memanggil dia sebagai seorang pahlawan yang gagah berani justru saat dia berada dalam tempat persembunyian?
Hal inilah yang membuat Gideon bereaksi negatif dan meragukan panggilan Tuhan sehingga dalam pergumulan imannya Gideon meminta bukti:
Pertama, Tuhan harus menunjukkan cara yang lain dari biasanya atas korban persem-bahan yang ia berikan sebagai bukti bahwa Tuhan berkenan atas persembahan tersebut. Tuhan mengabulkan permintaan Gideon tersebut. Malaikat Tuhan mengulurkan tongkatNya; dengan ujungnya disinggungnya daging dan roti itu dan timbul api dari batu itu dan memakan habis daging dan roti persembahan itu (Hak. 6:21). Malaikat TUHAN (dari bahasa asli YHWH) yang dimaksud di Hak. 6:11 menurut penafsiran menunjuk pada oknum kedua Allah Tritunggal, yaitu Kristus yang datang pada masa pra inkarnasi karena di Alkitab nama YHWH tidak pernah disebut bersamaan dengan nama ciptaan lain untuk menunjukkan sebuah ciptaan; dan YHWH hanya menunjuk pada diri Allah sendiri yang Maha Suci. Tanda persembahan yang diminta Gideon ini membuktikan dia membutuhkan konfirmasi panggilan Tuhan terhadapnya.
Kedua, Tuhan melembutkan hati Yoas sehingga Gideon mempunyai keberanian menceritakan pengalamannya bertemu dengan Tuhan pada ayahnya. Hal inilah yang menyebabkan ia dapat merobohkan mezbah Baal milk ayahnya dengan mudah. Yoas tidak menjadi marah malahan dia membiarkan Baal berjuang membela dirinya sendiri (Hak. 6:32-33). Robohnya Baal juga menjadi tanda pertobatan sejati bangsa Israel. Ini juga menjadi tuntutan bagi setiap anak Tuhan, yaitu apabila ingin menikmati berkatNya maka robohkanlah semua berhala di hati kita dan singkirkan semua hal yang tidak berkenan di hati Tuhan.
Ketiga, guntingan bulu domba basah oleh embun tetapi tanah di sekitarnya kering. Namun tanda yang dibuat Tuhan tersebut tidak cukup buat Gideon sehingga dia meminta tanda yang lain yaitu guntingan bulu domba yang kering sedang tanah di sekitarnya basah oleh embun. Tuhan mengabulkan semua tanda yang diminta Gideon karena Tuhan ingin menguatkan iman Gideon yang rapuh. Gideon membutuhkan mujizat yang bersifat supranatural dan spektakuler untuk meneguhkan panggilan yang ada pada dirinya; untuk menolong dia melihat Allah yang Maha Besar.
Keempat, Tuhan memerintahkan Gideon untuk mengurangi jumlah pasukan dari 32.000 orang menjadi 300 orang. Gideon membutuhkan topangan untuk menumbuhkan imannya; Gideon merasa tidak layak dipakai Tuhan karena ia berasal dari kaum yang paling kecil diantara suku Manasye dan paling bungsu dalam keluarga. Tuhan bekerja dengan heran. Tuhan memerintahkan untuk mengurangi jumlah pasukannya dengan cara yang tidak lazim, yaitu dari cara minumnya. Jumlah pasukan yang tidak memadai membuat Gideon takut dan gentar, sehingga Tuhan menunjukkan tanda kemenangan melalui tanda yang kelima.
Kelima, Tuhan memberikan penglihatan akan kemenangan yang diperoleh Gideon melalui mimpi seorang Midian (Hak. 7:13-15). Cara Tuhan memimpin Gideon berperang melawan Midian pun tidak lazim, yaitu hanya dengan meniup sangkakala sambil memecahkan buyung di tangan mereka (Hak. 7:19). Rencana dan jalan Tuhan terkadang sukar dimengerti oleh logika manusia sehingga manusia seringkali mempertanyakan setiap kehendakNya dalam hidup kita seperti yang dialami Gideon. Bahkan kita telah banyak mendengar Firman melalui radio, televisi, persekutuan-persekutuan doa, dsb tapi sudahkah kita dengan rendah hati taat melakukan FirmanNya atau Firman hanya sekedar menjadi pemuas logika kita? Biarlah kita dengan rendah hati mengaku di hadapan Tuhan akan iman kita yang rapuh meski seringkali kita telah merasakan pengalaman iman bersama Dia dan memohon kiranya Tuhan menguatkan iman kita.
Dinamika iman Gideon menunjukkan sebuah catatan-catatan yang menjadi sebuah kenyataan yang mungkin terjadi dalam hidup kita masing-masing. Kita akan mempelajari beberapa hal yang menjadi prinsip, yaitu:
1. Setiap hal yang tidak menyenangkan yang terjadi dalam hidup kita mungkin memang Tuhan ijinkan sebagai akibat kesalahan yang harus kita tanggung. Kita telah menggeser tempat Allah dalam hidup kita sehingga kita harus menanggung akibatnya dan ingat, pasti tidak ada berkat Tuhan dalam rumah tangga kita. Seperti kesaksian sebuah keluarga Kristen dimana Tuhan hanya mengaruniakan seorang anak saja karena setiap anak yang lahir berikut pasti meninggal. Setelah diteliti ternyata hal itu merupakan persyaratan yang harus dipenuhi sebagai perjanjian dengan iblis. Ingat, setan tidak pernah memberi dengan cuma-cuma, ia selalu menuntut balas jadi jangan pernah bermain-main dengan iblis tapi Tuhan tidak pernah menuntut balas atas pengorbanan yang Dia berikan. Setan selalu menuntut nyawa atas pemberiannya; iblis mencontoh pola Kristus yang memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi manusia. Sejarah terus berulang bahkan di dunia modern pun masih banyak kita dapati penyembahan berhala seperti pada jaman Perjanjian Lama.
2. Kita mudah tertarik pada janji-janji manis dari allah-allah lain, yaitu allah yang dapat dilihat secara nyata. Bayangkan, andai Tuhan menjawab semua doa kita dalam waktu singkat, maka kita akan mempunyai pengalaman doa yang menarik. Keinginan Gideon akan sesuatu yang spektakuler dari Tuhan menjadi cerminan bagi kita; manusia lebih suka pada sesuatu yang bersifat spektakuler. Dan manusia langsung berkesimpulan bahwa di balik semua kejadian spektakuler tersebut pasti ada Allah yang bekerja seperti pengakuan Nikodemus. Orang yang hidup di jaman Perjanjian Lama berpendapat jika ada mujizat berarti Allah menyertai sehingga mereka menuntut Tuhan agar memberikan tanda untuk setiap permohonan mereka. Sekarang pun Tuhan sudah memberikan tanda pada anak-anakNya melalui FirmanNya yang tertulis. Jadi, jangan mencobai Tuhan dengan meminta tanda-tanda spektakuler dari Tuhan. Tanda hanya diberikan pada orang-orang tertentu, yaitu kepada mereka yang lemah iman karena Tuhan ingin meneguhkan imannya. Hal inilah yang terjadi pada diri Gideon dimana Tuhan memperkenankan Gideon mengalami mujizat Tuhan sehingga Gideon mempunyai keberanian menjalankan misi Allah, yaitu mengembalikan umat Israel pada kebenaran Firman dan menyembah Allah.
3. Kesadaran bahwa kita selalu membutuhkan topangan iman dari Tuhan untuk menguatkan dan memampukan kita melakukan kehendakNya. Ingatlah, tidak selamanya kita mengalami kemenangan rohani di setiap pergumulan hidup kita bahkan tokoh iman dalam Alkitab pun pernah melakukan kesalahan. Seperti halnya Musa yang tidak Tuhan ijinkan masuk dalam tanah perjanjian begitu juga dengan Daud, Elia, Yunus dsb. Mereka pernah mengalami kemenangan rohani dan pengalaman indah bersama Tuhan. Namun kita menjumpai dalam perjalanan imannya mereka gagal dalam iman, seperti Gideon di akhir hidupnya melakukan kesalahan yang sama, yaitu menyembah efod yang terbuat dari emas. Ini menjadi catatan hitam sejarah iman bagi Gideon yang menjadi jerat bagi dirinya sendiri dan seluruh umat Israel. Mengenaskan. Bagaimana dengan akhir hidup kita? Kalau bukan Tuhan menopang kita terus menerus jangan pernah berpikir kita akan kuat berdiri hingga saat ini. Semua karena anugerah Tuhan yang memberikan kekuatan pada kita, tiang iman yang menopang seluruh hidup kita. Jadikanlah Kristus sebagai Tuhan yang mengatur seluruh hidup kita. Kiranya kisah Gideon menolong kita melihat realita iman kita dan kita berani belajar terbuka dan menyadari kondisi iman kita sehingga kita dapat berseru memohon pertolongan dari Tuhan. ?
(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah)