Ringkasan Khotbah : 6 Juli 2003

Dinamika Iman Yokhebed

Nats: Kel. 6:15-19; 2:1-11

Pengkhotbah : Ev. Thomy J. Matakupan

 

“Seorang pemimpin rohani akan terlihat dari seberapa banyak orang rohani yang mengikutinya” 

Catatan Alkitab mengenai diri Yokhebed sangatlah sedikit kita jumpai padahal dia adalah seorang yang berperan penting dalam hidup Musa, tokoh besar pemimpin umat Israel; Yokhebed telah mempertaruhkan dirinya sendiri dan juga hidup keluarganya. Pertaruhan ini bukanlah hal yang mudah karena pada masa itu Firaun mengeluarkan maklumat untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir dari keturunan Ibrani dengan tujuan untuk menghambat pertumbuhan orang Israel; Firaun memandang orang Israel yang bertambah banyak itu sebagai suatu bangsa yang kuat.

Perintah Firaun, yang biadab itu justru memiliki kesamaan dengan zaman sekarang. Di negara China Komunis sekarang ini, pasangan suami-istri hanya diijinkan mempunyai satu anak. Jika itu adalah laki-laki, maka ia dibiarkan hidup. Jika itu adalah bayi perempuan, seringkali dia dilenyapkan. Pada jaman Musa, bangsa Israel pun hanya diperbolehkan mempunyai anak perempuan saja. Maka dapatlah dibayangkan bagaimana ketakutan, kecemasan dan kegelisahan menyelimuti hati Amram dan Yokhebed ketika Musa dilahirkan. Bagaimana caranya untuk menyelamatkan bayi Musa sementara ada perintah semua bayi laki-laki yang lahir harus mati?

Karena iman sang bayi disembunyikan selama tiga bulan. Amram dan Yokhebed takut kepada Allah yang bertakhta di surga lebih daripada takut mereka pada raja. Itulah sebabnya mereka memutuskan untuk menyembunyikan bayi Musa tiga bulan lamanya. Pergumulan yang dialami Amram dan Yokhebed sangatlah berat, mereka harus berusaha sedemikian rupa agar tangis bayi ini tidak terdengar sampai ke telinga orang Mesir. Karena jika mereka tidak berhati-hati maka pasukan Firaun akan menangkap dan melemparkannya sebagai makanan buaya, atas perintah raja. Berita kelahiran yang harusnya disambut dengan sukacita diganti dengan kecemasan, ketakutan dan kegalauan. Pada keadaan yang menyedihkan itu, di antara dukacita dan keputusasaan, Yokhebed menemukan sebuah rencana. Yokhebed mencampur ter, sejenis substansi dari tepi sungai Nil dan menutup bagian pinggir peti pandan kecil tersebut agar kedap air.

Apa yang mendasari Yokhebed sehingga ia memutuskan untuk membuat peti pandan, menaruh bayi Musa didalamnya dan mengalirkannya ke sungai Nil? Bukankah ia telah berhasil menjaga bayi Musa selama tiga bulan tapi kini kenapa malah ia lepaskan begitu saja? Sebagian literatur menafsirkan tindakan Yokhebed ini justru menunjukkan kegagalan iman dan keputusasaan Yokhebed maka Yokhebed berpikir cara satu-satunya adalah membiarkan Musa berjalan menurut takdir yang telah ditentukan baginya, yaitu ia harus mati tapi andai Musa harus mati pun setidaknya dengan cara yang tidak menyakitkan seperti bila dilemparkan ke sungai untuk dijadikan makanan buaya.

Saat saya merenungkan bagian ini, hal ini justru merupakan turning point yang penting. Membuat peti pandan merupakan rencana yang sukar dimengerti oleh logika manusia tapi justru membuktikan bahwa ia beriman. Tak ada seorang ibu pun yang mau meninggalkan anaknya di sebuah sungai kalau ia tidak yakin bahwa Allah akan memeliharanya. Yokhebed menempatkan kakak perempuan bayi itu yang bernama Miriam, di tempat yang agak jauh untuk mengamat-amati dan memberi laporan apa yang terjadi. Anda tentu tidak akan menyuruh seorang gadis berusia sembilan tahun menanti di tepi sungai untuk melihat pembunuhan sadis terhadap seorang bayi jika Anda menganggap bahwa akan terjadi hal yang demikian. Kita hanya akan melakukan ini bila kita berharap Allah akan menyelamatkan anak itu. Inilah yang diharapkan oleh Yokhebed.

Dengan hati hancur, ia menempatkan keranjang kecil itu di antara alang-alang yang tumbuh di sepanjang tepian sungai. Walaupun lentur, alang-alang adalah tanaman yang cukup kokoh. Ia memposisikan keranjang itu tepat seperti yang diinginkannya. Di sini kita bertemu dengan seorang wanita dengan iman yang begitu besar kepada Tuhan. Namun, bukanlah iman yang bodoh. Sebaliknya, ia mengambil beberapa langkah untuk mengatur ren-cana yang cemerlang di dalam keadaan yang menyedihkan itu, dan menyerahkan hasil akhir-nya ke dalam kuasa Allah. Saya yakin bahwa ibu yang bijak ini telah memikirkan jikalau Musa di-adopsi oleh keluarga Ibrani yang lain maka statusnya akan sama; seluruh tentara Mesir akan mencari dan membunuh bayi laki-laki ini sedangkan kalau ia memberikan pada orang Mesir maka mereka pastilah akan sangat ketakutan karena mereka tidak berani menentang perintah Firaun yang dianggap sebagai Allah pada masa itu. Jadi, Yokhebed pastilah telah mengetahui sebelumnya apa yang menjadi kebiasaan Putri Firaun dan ia pasti telah melatih Miriam berulang kali; di mana Miriam akan berdiri, bagaimana ia harus bersikap, apa yang akan dikatakannya. Maka tidaklah heran Miriam dapat mengajukan jalan keluar bagi putri Firaun untuk mencari seorang inang pengasuh untuk menyusui bayi tersebut.

Disini diperlukan keberanian besar untuk melawan perintah Firaun tetapi diperlukan keberani-an yang lebih besar untuk membiarkan bayi kecil mengalir di atas sungai. Semua rencana sudah dibuat dengan rapi. Yokhebed menaruh bayi Musa di atas peti pandan dengan hati yang penuh dengan kegalauan yang diiringi dengan doa dan ia menyerahkan hasil akhir sepe-nuhnya berada di dalam tangan kemurahan Allah. Ia mempercayai Allah dengan sepenuh hati sehingga Roh Kudus menyertakannya dalam Ibrani 11:23 sebagai “Pahlawan Iman”. Apa yang Musa teguk dalam hidupnya, sangat mungkin ia serap dari ibunya. Dari tangan dingin Yokhe-bed lahir orang-orang yang mendukung kepemimpinan Musa, yaitu Harun dan Miriam. Nama Harun, Miriam dan Musa dicatat dalam Alkitab sebagai tokoh penting yang pernah muncul dalam sejarah Israel secara khusus.

Betapa sukacita hati Yokhebed mengetahui ia boleh mengasuh dan menyusui anak kandung-nya tersebut bahkan ia mendapatkan upah untuk hal ini maka kesempatan ini pun tidak disia-siakan Yokhebed. Tuhan telah menghadiahkannya iman yang melampaui harapannya yang mustahil. Diupah! Berapa banyak budak Ibrani yang dibayar untuk kerja paksa? Bagian terin-dah adalah ketika ia mendapatkan kembali bayi laki-lakinya ke dalam pelukannya dan meng-asuhnya seperti yang dikatakan pada ayat 9.

Ayat 10 memberi kesan bahwa ia menjaga anak itu lebih lama dari masa penyapihan, tiga atau empat tahun. Di dalam anugerah Allah dan di dalam rencanaNya, Musa mungkin dibiarkan untuk tinggal bersama keluarganya cukup lama untuk menegakkan akar kehidupan Ibraninya dan belajar tentang Allah Abraham Ishak dan Yakub. Yokhebed pasti menghargai setiap waktu yang singkat bersama Musa tersebut. Itu sebabnya ketika Musa bertemu dengan semak berduri yang tidak terbakar, Tuhan kembali mengenalkan diri-Nya pada Musa sebagai Allahnya Abraham, Ishak dan Yakub. Tuhan ingin mengingatkan Musa akan prinsip iman yang telah diajarkan Yokhebed di masa kecilnya karena mungkin saja Musa bisa lupa; Musa dididik selama 40 tahun di Mesir oleh seorang penyembah berhala pastilah ia diajarkan untuk melupakan semua kebudayaan Ibrani. Yokhebed harus menggunakan waktu itu dengan sebaik-baiknya, menanamkan dalam diri Musa akan asal usulnya.

Itulah sebabnya hari ini saya ingin menasihatkan pada kaum ibu untuk memperhatikan kehi-dupan dan pertumbuhan anak Anda yang begitu penting dan tidak akan Anda peroleh kembali. Jka Anda memang harus bekerja dan tidak ada pilihan lain, maka bekerjalah dengan porsi seminim mungkin dan gunakan waktu yang berharga bersama dengan anak Anda. Karena ada tertulis, didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu (Ams. 22:6).

Saat kita merenungkan kembali pengalaman iman dari Yokhebed maka dapatlah kita ambil suatu pelajaran:   

Pertama, Kita harus berani mengakui dengan jujur bukankah hidup beriman kita kerapkali menjadi alternatif yang kesekian bahkan alternatif tersebut kita abaikan? Hal ini kerapkali terjadi dalam hidup orang percaya karena mereka berpikir selama saya masih bisa mengatasi setiap permasalahan maka tidak perlu pengalaman beriman bersama Tuhan; Tuhan menjadi nomor dua, sehingga antara pengalaman iman dan upaya untuk menenangkan diri batasan-nya sangat tipis sekali.  Ingat, beriman bukan sekedar percaya, sekedar menenangkan diri atau sebuah refleksi dalam mekanisme pertahanan diri tapi beriman menunjukkan pada kita bahwa ada Allah yang mendengar, menjawab dan memelihara hidup kita yang melampaui semua pengalaman iman semu kita karena pengalaman iman semu itu hanya berdasar pada diri yang menjadi subyek. Dimanakah anda menempatkan Allah? Pada posisi yang keberapa dalam hidup kita? Bukankah hal ini kerapkali menjadi alternatif yang kesekian juga. Segala sesuatu yang dilakukan Yokhebed tidaklah dapat kita mengerti, bayangkan ibu mana yang tega mempertaruhkan nyawa anaknya?  Saya yakin, ketika putri Firaun mengambil bayi Musa menjadi tamparan hebat bagi Yokhebed, yaitu apakah selama tiga bulan ia dapat memelihara bayi Musa tidak cukup memberikan sebuah bukti Kasih Allah? Ini menjadi sebuah tantangan dalam hidup beriman Yokhebed karena ternyata ia punya batasan dalam iman percayanya yang membawa kerapuhan sehingga diperlukan tindakan besar sampai akhirnya ia dapat mengambil keputusan yang mungkin kita anggap gila. Puji Tuhan, Dia menghadiahkan iman pada Yokhebed yang melampaui harapannya yang mustahil. 

Kedua, Bukan suatu kebetulan apabila kita memiliki sebuah kesempatan dapat beriman pada Kristus begitu pula dengan Yokhebed bukanlah suatu kebetulan kalau Yokhebed dapat menikah dengan orang Lewi yang selalu terkait pada hal-hal yang berkenaan dengan Allah. Ini menjadi identitas anak Tuhan pada masa itu. Hari ini banyak kita jumpai anak-anak Tuhan yang menyembunyikan identitas diri kita yang sebenarnya padahal kita tahu bahwa kita menjadi anak Allah oleh karena anugerah pengadopsian yang dikaruniakan Allah kepada kita melalui Kristus Yesus sehingga kita mempunyai warisan jaminan seperti yang tertulis dalam Firman bagi hidup kita. Anak Tuhan yang tidak tahu akan hak dan tidak tahu harus kemana untuk mencari pertolongan saat kesulitan datang membuktikan bahwa dia miskin bergaul dengan Tuhan. Maka sekali lagi saya tekankan bukan hal yang kebetulan kalau saat ini kita tahu bahwa kita telah menjadi anak Allah, kita dapat berdoa dan menyebut Dia, Bapa, memohon pertolongan padaNya, dan juga kita mengetahui janji-janji Allah dalam Alkitab. Apakah kita mempunyai pengertian demikian?

Ketiga, Tanpa kita sadari hidup beriman kita akan memberikan contoh bagi orang lain untuk hidup dalam pengalaman yang sama. Yokhebed telah menularkan iman pada Musa dan Musa meski tertatih-tatih akhirnya ia masuk dalam pengalaman iman bersama Tuhan seperti yang pernah dialami ibunya. Yokhebed menjadi pertaruhan hidup mati dari Musa; satu orang kepada satu orang. Musa mempertaruhkan hidupnya untuk membawa keluar jutaan orang Israel keluar dari Mesir. Musa harus menanggung hidup jutaan orang Israel.   Hal ini dimulai dari pengalaman iman Yokhebed yang telah menyelamatkan satu anak kecil, sehingga Musa dapat menyelamatkan seluruh bangsa yang besar.

Seorang pemimpin rohani akan terlihat dari seberapa banyak orang rohani yang mengikutinya.

Peristiwa pertama dalam kehidupan Musa sebagai orang dewasa berakhir dengan kegagalan total. Musa merasa yakin sekali bahwa ia sedang melakukan kehendak Allah. Musa berharap akan membebaskan orang-orang Israel dari perbudakan. Ia mulai dengan membela salah seorang dari mereka karena diperlakukan secara tidak adil. Ia gagal, dan berakhir dengan melarikan diri dari Mesir sebagai buronan. Musa telah mendahului waktu Tuhan. Ironisnya, saat Tuhan memanggilnya untuk menjadi pemimpin atas bangsa Israel, Musa malah berdalih. Sadarkah ia bahwa ia seorang pembebas bagi orang Israel? Ya, hal inilah yang membuatnya berkecut hati saat bangsa Israel menolak dia sampai Tuhan menyadarkan Musa kembali akan tugas panggilannya. Bukankah saat ini kita selalu hidup dalam pergumulan untuk mengerti kehendak Allah? Ingatlah justru pada saat itulah kita akan hidup dan mengalami pengalaman iman indah bersama-Nya.

Marilah kita belajar peka terhadap waktu dan rencana-Nya sehingga kita akan masuk dalam pengalaman iman bersama Tuhan dan andai saat ini Anda sedang ragu-ragu mintalah pada Tuhan agar kita dapat melihat cahaya kemuliaan dan senyum kemurahan Ilahi. Maukah Anda mengakui di hadapanNya bahwa pengalaman iman kita rapuh dan miskin dan meminta padaNya agar kita dapat masuk dalam pengalaman yang indah bersama Dia? Dan kalaupun sekarang kita merasa kita teguh dalam iman hendaklah kita juga selalu memohon padaNya agar kiranya Tuhan terus menerus menjagai dan menopang kita. Kalau saat kita merasa kuat, itu karena ada Tuhan yang menopang. Ingat, di saat kita merasa diri kuat maka kita telah berada di pintu ambang kejatuhan.  Amin.?

 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah)