Ringkasan Khotbah : 29 Juni 2003

The Inner Worship

Nats: Yoh. 18:28

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Injil Yohanes membukakan fakta sejarah, cara Yesus mati menunjukkan adanya kecacatan dalam sistem pengadilan saat itu. Yesus terbukti tidak bersalah tapi dihukum mati dengan cara yang hina, yaitu dengan disalib. Ayat 28 adalah sebagian ayat yang mengungkapkan kisah yang terjadi dibalik penyaliban Tuhan Yesus. Apa yang terjadi di Golgota memperlihatkan kepada kita kelicikan dan kebusukan hati manusia, kebobrokan penguasa dunia serta kerusakan religiusitas manusia. Tapi salib memperlihatkan kepada kita keagungan kasih Allah, kesucian dan kekudusan Allah; salib Kristus telah mendamaikan kita dengan Allah; kita berada di bawah kutuk sampai kesalahan kita ditebus melalui pengorbanan Kristus.

Kematian Yesus melibatkan dua tokoh penting yang berotoritas pada zaman itu, Kayafas, pemimpin besar agama Yahudi dan Pilatus, penguasa pemerintah Romawi. Sejarah membuktikan melalui keputusan dua tokoh inilah Yesus mati disalib. Kayafas yang katanya “orang rohani” tidak mau menajiskan dirinya dengan memasuki Pretorium, yang dianggap rumah orang kafir karena mau makan Paskah, sehingga dia memerintahkan Yesus untuk masuk seorang diri. Mereka tidak menyadari pada saat yang sama mereka telah menjadi najis dengan mengajukan saksi-saksi palsu berdusta demi untuk menghukum Yesus yang tidak bersalah dan menolak Yesus sang Mesias sejati. Mereka bukanlah “orang beragama” tapi mereka hanya sekedar menjalankan ritual keagamaan. Ingat, peraturan-peraturan agama, amal dan perbuatan yang hanya nampak secara lahiriah tak dapat menghasilkan pengampunan. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata tetapi Tuhan melihat hati (I Sam 16:17b).

Matius mencatat saksi-saksi palsu yang diajukan mahkamah Agama tidak dapat menutupi fakta tentang kebangkitan Yesus; bahkan untuk menutupi fakta tersebut para imam kepala mengambil keputusan, menyuap para serdadu untuk memberitakan berita bohong; berita bahwa mayat Yesus dicuri oleh murid-muridNya. Cerita ini telah tersiar di antara orang Yahudi pada zaman itu sehingga Matius dapat menuliskan hal ini dan dapat kita ketahui sampai sekarang ini (Mat. 28:11-15). Apakah perbuatan licik tersebut yang dinamakan perbuatan orang “beragama”?

Melihat hal ini kita menyadari betapa penting kita menyadari akan esensi iman sejati. Iman yang didasarkan pada firman Allah. Iman bukan sekedar mengetahui bahwa Allah itu ada, tetapi terutama adalah mengetahui apa yang menjadi kehendakNya bagi kita. Iman muncul dari janji anugerah dalam Kristus. Karena itu iman Kristen yang sejati tidak dapat terpisah dari kasih Kristus di atas kayu salib.

Pengadilan agama tidak berhasil membawa Yesus naik ke atas salib sehingga para imam memakai kuasa pemerintah Romawi untuk membunuh Yesus. Mereka mencari segala cara demi untuk membunuh Yesus. Mengapa para penguasa agama, orang-orang yang dianggap “rohani” mempunyai keinginan yang begitu besar untuk membunuh Yesus? Jawabannya cuma satu, karena Yesuslah satu-satunya manusia yang berani berkata kebenaran dan menegur dengan sangat keras kemunafikan agama yang dijalankan para ahli taurat dan orang-orang Farisi yang sama seperti kuburan yang dilabur putih yang tampak bersih dari luar tapi di dalamnya penuh dengan berbagai kotoran (Mat. 23:27). 

Agama dipakai sebagai topeng untuk mengelabui mata sehingga orang akan melihat keindahannya dari luar. Kitab Suci mengajarkan agama sejati bukanlah ritual dan orang disebut “beragama” bukan ketika sedang menjalankan aturan-aturan agama tapi esensi iman sejati muncul karena kita melihat diri kita sebagai manusia berdosa tapi kasihNya menyelamatkan kita melalui salib Yesus dan kita mau mengasihi Allah sehingga kasih itu muncul dari dalam dan terpancar keluar. Bagaimana dengan kehidupan beragama kita? Apakah kita seperti para ahli taurat yang menjalankan ibadah agama sebagai ritual belaka?

Salib memperlihatkan kepada kita kebenaran yang kekal, yakni Allah mengasihi manusia berdosa. Kasih Allah inilah hendaknya yang mendorong kita semakin mengasihi Allah dan taat akan perintahNya sehingga kehidupan beragama kita menjadi kesaksian yang indah. Patut juga diingat bahwa dunia yang berdosa akan membenci kebenaran. Maka tidaklah heran apabila dunia ditegur akan dosa-dosanya, dunia menjadi marah. Hanya anugerah Tuhan dan kuasa Roh Kudus yang melembutkan hati manusia dan menyadarkan manusia akan dosa-dosanya sehingga manusia bertobat.

Saat agama telah kehilangan esensi keagamaannya maka agama akan menjadi alat yang mematikan; agama akan menjadi alat tunggangan yang dipakai demi untuk kepentingan diri sehingga kebenaran pun dilecehkan. Sebagian besar manusia umumnya ingin hidup sukses, terkenal, kaya raya dan berlimpah dengan kenikmatan sehingga demi untuk mendapatkan semua itu manusia berkompromi dengan dunia dan mengabaikan kebenaran. Manusia memakai topeng yang indah untuk menutupi kebusukan di dalamnya sehingga dari luar nampak bagus. Bahkan untuk menutupi kebusukannya, dunia menyamarkan dengan hal-hal yang berbau rohani. Seperti di tahun 1900-an merupakan hal yang tidak umum mengadakan kebaktian di hotel karena biaya operasional yang mahal. Belakangan diketahui hotel yang mengadakan kebaktian bukan karena rohani tapi demi untuk mendapat nama baik. Celakalah mereka yang telah memakai agama sebagai kedok untuk menutupi kebusukan yang ada di dalamnya.

Agama bukanlah yang nampak dari luar tapi agama timbul dari hati, yaitu keagamawian batiniah, inner religiousity. Iman timbul dan dibangun dari kemurnian hati sehingga kita akan melihat keindahan kerohanian, keindahan keagamawian yang terpancar keluar. Alkitab mengkontraskan antara Kristus dan Kayafas; keindahan rohani Kristus muncul dari dalam yang terpancar keluar sedangkan Kayafas keindahan rohaninya nampak dari luar bagus tapi di dalam hatinya penuh dengan kebusukan. Kayafas tidak mau menginjakkan kaki di rumah Pilatus yang dianggap kafir karena baginya hal itu akan membuat dirinya menjadi najis. Ia hanya peduli dengan sesuatu yang nampak luar dan tidak ada rasa takut najis di hati, pikiran dan hidupnya. Apakah Kayafas orang yang beragama? Jawabnya tidak. Lalu seperti apa dan bagaimanakah orang yang beragama itu?  

Kita akan mengetahui jawabnya setelah kita memahami pengertian agama yang sejati. Agama sejati adalah penyerahan hati secara total pada Tuhan dan membiarkan Roh Allah tinggal dalam hati kita untuk membentuk dan melakukan perubahan dalam cara hidup kita. Kita harus mengalami pertumbuhan dalam hal pengertian dan dalam hal kesucian. Kehidupan Kristen adalah suatu hidup dalam kebenaran dan berani berkorban demi kebenaran dinyatakan di muka bumi.

Hari ini kita menjumpai banyak orang yang mengaku “beragama” dan mereka beribadah karena mendapat keuntungan apabila ia merasa rugi maka ia akan beralih ke agama lain atau beralih ke tempat ibadah lain. Itu bukan agama sejati tapi agama duniawi, kenajisan batiniah yang nampak. Salib Kristus menyadarkan akan siapa diri kita yang sesungguhnya. Kita adalah manusia yang harus dihukum karena dosa-dosa kita. Namun, Dia tetap mengasihi dan kasih ini dinyatakan Kristus yang tubuhNya dipecahkan dan darahNya yang dicurahkan di atas salib. Dia telah menjadi teladan sebagai seorang yang beragama sejati yang disatukan dengan visi salib.

Kita akan melihat tokoh kedua, yaitu Pilatus. Kayafas tidak dapat menghukum Yesus melalui pengadilan agama sehingga ia membawa Yesus ke pengadilan pemerintah. Pilatus pun tidak mendapati satu kesalahan dalam diri Yesus. Para imam kepala dan orang-orang Yahudi menginginkan Yesus dijatuhi hukuman salib; dimana salib adalah lambang kutukan dan hinaan dan hanya seorang kriminal berat yang harusnya disalib. Pilatus sebagai seorang penguasa tertinggi yang berotoritas seharusnya dia berani mengambil keputusan dan berani menegakkan kebenaran tapi justru sebaliknya Pilatus takut dengan suara mayoritas. Pengadilan seharusnya menjadi tempat dimana kebenaran ditegakkan dan tempat orang yang bersalah dihukum. Tapi Pilatus malah meremehkan kebenaran dengan menanyakan kembali kepada Yesus dengan nada sinis dan skeptis karena setelah itu dia malahan pergi menemui orang banyak dan ia tidak mencari kebenaran itu (Yoh. 18:38). Pilatus merasa terancam dengan kedudukannya sehingga ia menentang kebenaran dengan sangat keras.

Pemikiran Pilatus ini diadopsi Michael Foucoult yang mengatakan righteousness is authority, authority is power, and power is evil. Dari pernyataan Foucoult ini dapatlah ditarik kesimpulan righteousness is evil. Pemikiran inilah yang mendorong anak-anak muda di Amerika membentuk komunitas yang mendukung gerakan kebebasan dan yang dikenal dengan sebutan woodstock live show yang menentang segala bentuk keteraturan, di bidang musik muncul aliran heavy metal, yakni aliran musik keras yang tidak bermelodi dan tidak berharmoni, bahkan dalam bertingkah laku pun mereka tidak mau diatur. Foucoult sama seperti Pilatus yang menganggap diri sebagai kebenaran.

Pilatus sebagai gubernur Roma mempunyai otoritas untuk menolong Yesus, tapi sayang pertolongannya hanya sampai sebatas dia tidak dirugikan. Pilatus menyerahkan keputusan di tangan mayoritas dengan mengeluarkan tokoh baru, yaitu Barabas. Pilatus lebih takut pada orang banyak yang menginginkan Yesus untuk disalib dan lebih memilih membebaskan Barabas; Pilatus takut posisinya akan hancur padahal keputusan seorang gubernur Roma sangat berotoritas dan sah secara hukum tapi Pilatus takut kehilangan kedudukannya sehingga keluar keputusan untuk menyalibkan Yesus. Setelah mengeluarkan keputusan tersebut Pilatus sukses, mendapat nama baik dan mendapat jabatan lebih tinggi? Ternyata tidak, bahkan sejarah membuktikan kebangkitan Yesus membuat kedudukan Pilatus menjadi goncang. Karena Pilatus terlibat persengkokolan dengan mahkamah agama Yahudi dan petinggi-petinggi pemerintah demi menutupi kebangkitan Yesus dimana berita kebangkitan Yesus sudah menjadi berita umum yang diketahui banyak orang yang dicatat oleh Matius (Mat. 28:11-15). 

Pilatus bermaksud mempertahankan posisi tapi kini dia malah kehilangan posisinya. “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Mat. 10:39). Berita salib, baik sekarang maupun di masa Paulus merupakan batu sentuhan bagi banyak orang dan kebodohan bagi orang lain, tapi membawa kedamaian bagi jiwa kepada berjuta-juta manusia. Biarlah berita salib dianggap kebodohan tapi berita salib itulah hikmat dan kebijaksanaan dan hendaklah kita selalu memandang salib sehingga menyadarkan kita akan siapa diri kita sebenarnya. Jika hanya untuk mendapat kenikmatan dunia, kita mengorbankan kebenaran apalah artinya malahan pada detik itu juga kita tidak akan mendapat kenikmatan tapi kesengsaraan.

Hanya pandangan pada salib itulah yang akan merelakan kita menyangkal diri untuk mengikut Dia. Salib kita tidak ada artinya dibandingkan dengan salibNya. Kalau kita dapat melihat dan mengerti betapa agung kasihNya, dan betapa hina dan berat penderitaan yang Ia tanggung untuk menyelamatkan kita manusia berdosa yang sebenarnya patut dihukum, maka kitapun sadar sesadar-sadarnya, bahwa salib itulah jalan keselamatan satu-satunya.

Dia yang adalah penguasa alam semesta telah mati di atas kayu salib untuk menghancurkan kuasa iblis. Salib Kristus memberikan kita kekuatan dan keberanian melangkah di dunia yang penuh dengan tantangan ini karena melalui kebangkitanNya kematian telah ditelan dalam kemenangan. Segala puji bagi Tuhan yang telah menjadi teladan bagi kita bagaimana menjadi seorang yang beragama sejati. Bagaimana dengan saudara sudahkah anda beragama sejati yang memancarkan keindahan sehingga menjadi kesaksian dan berkat bagi mereka yang masih berada di luar Kristus?  Amin.?

 

(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah)