|
Ringkasan Khotbah : 22 Juni 2003
Nats: Kis. 1:4; 2:4, 36-38 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Pendahuluan
Dua minggu lalu, kita baru saja memperingati hari Pentakosta dan kita telah merenungkan implikasi dari turunnya kuasa Roh Kudus di hari Pentakosta, the Power of Pentecost. Kuasa Roh Kudus memberikan keberanian kepada para murid untuk memberitakan tentang Yesus yang telah disalibkan dan bangkit itu sebagai Kristus dan Tuhan dan pada hari itu gereja pertama kali berdiri. Hari ini kita akan merenungkan kembali implikasi kuasa Roh Kudus yang memberikan kepada kita:
1. Kuasa untuk menjadi saksi Kristus, yaitu memberitakan kabar keselamatan mulai dari Yerusalem, Samaria, Yudea dan sampai ke ujung bumi.
Roh Kudus turun berupa lidah-lidah api hanya terjadi di Yerusalem (Kis. 2:4), Samaria dan Yudea (Kis. 10:44) dan kota Efesus yang mewakili ujung bumi (Kis. 19:6). Dan setelah di empat lokasi tersebut Roh Kudus yang berupa lidah-lidah api tidak pernah turun lagi. Jadi, hari ini jangan mengharapkan tanda tersebut akan turun lagi karena lidah api hanya turun di hari Pentakosta pada jaman itu. Karena kuasa Roh Kuduslah, Petrus yang hanya seorang nelayan mempunyai keberanian berargumentasi di hadapan Mahkamah Agama dan dari mulutnya keluar pernyataan yang bersifat hakekat, yaitu ”Keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehNya kita dapat diselamatkan” (Kis. 4:12).
Roh Kuduslah yang mengajarkan kita tentang keselamatan dan melalui Roh Kuduslah anak-anak Tuhan mempunyai keberanian memberitakan Injil. Tapi sungguh ironis, saat ini banyak kita jumpai gereja-gereja Tuhan yang menutup pintu ketika datang ancaman dan banyak anak-anak Tuhan yang mulai menyangkali imannya saat kesulitan dan malapetaka datang menimpa. Padahal, melalui kesulitan dan penderitaan Tuhan mengerjakan perkara yang mulia dan membentuk kita makin serupa Dia; saat itulah kita merasa dekat dengan-Nya dan kita dapat merasakan kasih-Nya; kesulitan justru tidak menjadi batu sandungan tapi jadi batu loncatan.
Puji Tuhan, Roh Kudus telah memakai hamba-hambaNya menjadi saksiNya, sehingga melalui pengalaman iman mereka bersama Tuhan kita pun dapat bertumbuh dalam iman. Kiranya kasih Kristus yang pernah kita rasakan mendorong kita untuk semakin mengasihi jiwa-jiwa yang tersesat dengan membawa mereka pada Kristus sang Juruselamat dunia. Dan jangan takut dengan tantangan besar yang akan menghadang kita, Tuhan pasti akan memberikan kekuatan sehingga kita dapat melaluinya dan kita akan beroleh kemenangan; Tuhan akan ubahkan pengalaman suram menjadi pengalaman indah bersama Dia.
2. Kuasa untuk mendidik dan memberikan pengajaran yang membawa pada kebenaran.
Melalui Roh Kudus kita dapat mengenal Allah dan kita mendapatkan iman; melalu Roh Kudus kita memperoleh hikmat sorgawi. Dan Roh Kuduslah yang mengajar dan mendidik kita dalam kebenaran. Hanya kuasa Roh Kuduslah yang dapat mengubah paradigma dasar para murid tentang siapa Mesias sejati itu, yaitu Yesus yang mati disalib dan bangkit, Dialah sang Mesias sejati.
Berita tentang Yesus sebagai Kristus dan Tuhan merupakan berita baru bagi orang Yahudi. Mesias yang diharapkan orang Yahudi adalah seseorang yang berotoritas dan yang datang dengan kekuatan militer, yang dapat melepaskan mereka dari penjajahan Romawi. Konsep inilah yang ada di kepala para murid sehingga wajarlah kalau mereka ingin mendapatkan kedudukan di sebelah kanan atau kiri Tuhan Yesus jika Dia datang sebagai Mesias. Namun, kini mereka berhadapan dengan fakta yang lain, yaitu Yesus yang mati disalib, Dialah Mesias sejati yang membebaskan manusia dari belenggu dosa.
Manusia hidup pasti ingin mencari kebahagiaan sehingga pikiran mereka telah dirasuk oleh sesuatu yang sifatnya materialis humanis. Maka tidaklah heran, teori Robert T. Kiyosaki, salah satu tokoh humanis materialis begitu diagungkan oleh manusia berdosa. Bahkan cara hidup manusia kini sangat materialis dan humanis. Hanya anugerah Tuhan kalau manusia dapat mengubah paradigma dasar hidup mereka seperti halnya Petrus yang Tuhan ubahkan sehingga dia berani mewartakan Yesus sang Mesias sejati. Hanya karunia Roh Kuduslah sehingga Petrus mempunyai keberanian untuk bernubuat tentang Kristus.
Karunia Roh Kudus hanya diberikan kepada orang yang sudah bertobat dan ingat, karunia Roh Kudus diberikan kepada anak Tuhan bukan untuk kepentingan diri sendiri tapi untuk pelayanan dan demi pekerjaan Tuhan digenapkan di dunia. Jadi, kalau Tuhan memanggil kita untuk turut ambil bagian dalam pekerjaanNya maka Tuhan pasti akan memberikan kemampuan dan kepandaian pada kita. Tuhan tidak akan pernah membiarkan kita menggarap pekerjaan Tuhan dengan sembarangan. Setiap talenta yang Tuhan beri pastilah yang terbaik yang sesuai dengan kapasitas kita. Satu talenta setara dengan enam ribu dinar dimana satu dinar merupakan upah sehari kerja sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mau bekerja karena Tuhan hanya memberi kita satu talenta. Betapa jahatnya manusia telah menuduh Tuhan tidak adil karena talenta yang diterima lebih sedikit dibandingkan yang lain. Ingatlah, setiap talenta yang kita terima harus dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan!
Setiap manusia yang lahir telah menerima anugerah umum; Tuhan telah berikan bakat dan kemampuan pada manusia sejak lahir, seperti kepandaian bermain musik, dsb. Tapi ada modal lain yang hanya diberikan pada anak Tuhan yang tidak dimiliki orang lain, yakni karunia Roh Kudus dan karunia ini diberikan kepada masing-masing orang berbeda dan sifatnya saling melengkapi demi untuk pembangunan tubuh Kristus. Para murid telah menerima karunia Roh Kudus, yaitu mereka dapat bernubuat, the spokesman of God, mereka menjadi wakil Allah untuk memberitakan berita dari Allah, mereka dapat menyembuhkan, membuat mukjizat dan lain-lain. Namun hari ini “nubuat” seringkali disalah mengerti, mereka yang bernubuat justru bukan memberitakan berita dari Allah, yakni berita kebenaran; mereka justru memakai nama Allah untuk memberitakan berita yang menyesatkan, mereka membuat mukjizat bukan demi untuk kemuliaanNya tapi mereka menggunakan kuasa Iblis untuk membuat mukjizat dan demi untuk kepentingan diri sendiri.
Waspadalah terhadap rupa-rupa pengajaran sesat dan nabi palsu yang akan muncul dan menyesatkan banyak orang. Alkitab mengajarkan kuasa Roh Kudus akan menguduskan (II Tes. 2:13; I Pet. 1:2; Rm. 1:4) dan menghidupkan kita dengan kuasa-Nya, Roh Kudus juga mengubahkan dan membongkar paradigma dasar dan filsafat hidup kita yang selama ini sangat duniawi.
Hari ini kita menjumpai banyak orang Kristen yang masih berpikiran duniawi. Ingat, kita bukan dari dunia sehingga saat kita memproklamasikan diri sebagai orang Kristen maka mulai detik itu juga kita telah mengadakan permusuhan dengan dunia dan dunia akan membenci umat pilihan-Nya (Yoh. 15:19). Kuasa Roh Kudus akan memberikan pada kita kekuatan sehingga saat kesulitan, pencobaan dan penderitaan datang kita tidak merasa takut dan gentar. Karena Roh Kudus telah mengubahkan paradigma berpikir kita sehingga kita menyadari siapa dan apa tujuan Tuhan memilih dan menetapkan kita menjadi umat pilihan-Nya. Sebab Kristus telah mengalahkan dunia, maka kita umat pilihan-Nya juga akan mengalahkan dunia dan kita akan mengerti rahasia rohani yang diungkapkan Rasul Paulus, segala sesuatu dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Flp. 4:13).
Alkitab mencatat setelah Roh Kudus memenuhi seseorang, maka bukan berarti para murid tidak mengalami kesulitan, ancaman, marabahaya. Puji Tuhan, Tuhan menjanjikan kekuatan dan Ia akan menghibur kita saat kita mengalami kesulitan dan penderitaan. Melalui pengalaman suram inilah Tuhan ubahkan menjadi pengalaman indah bersama Dia, kita mengalami pembentukan rohani dan pertumbuhan iman. Yang menjadi pertanyaan adalah hari ini kita menjumpai orang yang mengaku dipenuhi Roh Kudus tapi mereka justru tidak ada kuasa untuk mendidik dalam kebenaran, the power of edification.
Ironis, sekarang Roh Kudus digambarkan sebagai Roh yang hedonis, Roh yang dapat memberikan hidup berkelimpahan, Roh yang dapat menyembuhkan dan lain-lain. Hati-hati dan waspadalah itu bukan Roh Kudus tapi Roh iblis. Roh Kudus akan membawa orang kembali ke dalam kebenaran, mendidik dan mengajar orang untuk hidup dalam kebenaran. Roh yang sejati akan membawa kita pada kerajaan Allah dan kebenaran-Nya sehingga yang lainnya akan ditambahkan padamu. Hidup dalam Roh Kudus dengan kuasa pendidikan dan pengajaran membuat kita takut akan Tuhan.
Sebaliknya iblis mengajarkan anak menjadi materialis humanis dan hanya menuju pada kebinasaan. Hal ini diungkapkan Robert T. Kiyosaki, yaitu yang menganggap remeh pendidikan sekolah karena yang paling penting adalah bagaimana cara menjadi kaya. Bahkan mereka berani memakai tokoh Alkitab seperti Abraham yang kaya untuk dijadikan contoh. Dunia hanya ingin kenikmatan saja dan tidak mau menanggung segala kesulitan. Bukankah orang-orang kaya dalam Alkitab seperti Abraham dan Ayub juga mengalami penderitaan? Lalu bagaimanakah cara mendidik yang benar?
Mengajar dan mendidik yang benar adalah dengan membawa mereka masuk ke dalam kerajaan Allah dan kebenaran-Nya dan melakukan kehendak Allah. Hanya kuasa Roh Kudus yang dapat mengubahkan paradigma dasar dan pola berpikir manusia. Roh Kudus bukanlah Roh yang merasuk tapi Roh yang memimpin manusia menuju pada kebenaran. Jikalau manusia menyerahkan hidupnya untuk dipimpin secara total oleh Roh Kudus maka Roh Kuduspun akan memimpin dan sebaliknya jika manusia tidak memperkenankan diri untuk dipimpin maka Roh Kuduspun tidak akan memimpin manusia. Bagaimana dengan kita? Maukah hidup kita dipimpin oleh Roh Kudus?
Kiranya the power of edification merombak dan memimpin hidup kita dalam kebenaran dan menjadi saksiNya. Kita telah menjadi anak Tuhan selama bertahun-tahun tapi sudahkah kita membiarkan Roh Kudus memimpin hidup kita masuk dalam kebenaran-Nya? Amin.?
(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah)