![]() |
Ringkasan Khotbah : 01 Juni 2003
Nats: Yoh. 15:17-19 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Hari ini kita akan merenungkan dan melihat bagaimana Tuhan mengasihi seluruh umat manusia dengan bagaimana dunia mengasihi yang hanya milik kepunyaannya saja dan membenci yang bukan milknya. Kita telah ditarik dari dunia dan dipilih Tuhan menjadi milik Tuhan maka dunia akan sangat marah dan membenci kita. Dua sumber yang dapat mengasihi kita, yaitu: pertama, Tuhan yang telah memilih, mencintai dan menyelamatkan kita, kedua, dunia yang juga bisa mencintai asalkan kita mau menjadi miliknya. Lalu siapa yang mencintai kita, who loves you? Siapakah subyek yang mencintai kita?
I. Dunia hanya mengasihi milik kepunyaannya saja.
Manusia merupakan makhluk hidup yang dicipta bernatur cinta dan dunia sangat menyadari hal ini. Abraham Maslow dengan teori psikologi humanistiknya mengemukakan manusia butuh untuk mencintai dan dicintai dan kalau manusia tidak dapat mengaplikasikan hal tersebut akibatnya manusia akan terganggu jiwanya, manusia bisa gila. Dan ada lima kebutuhan dasar hidup manusia yang harus dipenuhi yang dibagi berdasarkan tingkat yang paling rendah dimana salah satu kebutuhan tersebut tidak boleh dihilangkan, yaitu: (1) kebutuhan akan makanan dan minuman, kebutuhan fisik (2) kebutuhan akan rasa aman dan nyaman, (3) kebutuhan untuk mencintai dan dicintai, kebutuhan cinta kasih, (4) kebutuhan akan sesuatu yang indah, estetika, (5) kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri.
Psikologi humanistik hanya memikirkan kejiwaan manusia dan berpusat pada diri manusia, yaitu manusia adalah makhluk bernatur cinta sehingga manusia butuh untuk mencintai dan dicintai; kalau manusia bisa mencintai dan dia juga dicintai maka dia akan mempunyai jiwa yang sehat tetapi kalau manusia bisa mencintai tetapi tidak dicintai oleh seseorang maka jiwanya akan terganggu begitu juga bila manusia bisa mencintai tapi tidak diberi kesempatan untuk mencintai maka dalam jiwanya akan mengalami gangguan.
Manusia mulai belajar dan mencoba untuk mencintai tapi sayang, cinta yang dijalankan sudah terdistorsi, telah terjadi pergeseran nilai, arah dan tujuan. Banyak orang yang mendambakan cinta, yaitu manusia ingin mencintai dan dicintai tapi mereka justru hancur karena cinta bahkan demi cinta mereka saling bunuh dan tidak hanya sampai disitu mereka rela bunuh diri demi cinta. Istilah cinta yang begitu indah ternyata telah terdestruksi telah mengalami penghancuran dan pembinasaan yang drastis. Itulah akibatnya bila kita tidak mengerti arti cinta yang sejati, kita akan menjadi korban cinta.
Mana yang ada dan menjadi pemikiran kita, siapa yang mencintai kita dan siapa yang kita cintai? Bukankah kita lebih banyak memikirkan dan memprioritaskan siapa yang kita cintai? Tidak pernah terbersit sedikitpun dalam pikiran kita tentang siapa yang menjadi sumber yang mencintai kita bahkan kita tidak peduli akan hal ini.
Alkitab mengatakan, sebelum Tuhan memilih kita dari dunia ini maka dunia akan sangat mencintai kita tetapi setelah Tuhan memilih maka dunia akan berbalik membenci kita. Lalu siapakah yang dimaksud dengan dunia? Kalau saya berada di dunia, saya milik dunia dan saya dicintai oleh dunia maka kitalah yang dimaksud dengan dunia itu. Jadi, dunia adalah manusia berdosa yang telah diikat oleh penguasa dunia dan hidup menurut versi dunia dan hidup secara duniawi sehingga setiap orang yang bersikap, berpikir dan mempunyai cara yang sama dengan dunia maka dialah dunia itu. Maka tidaklah heran cara kita mengasihi pun sama seperti cara dan konsep kasih dunia.
Apa yang menjadi citra dari cinta dunia? Dunia hanya mencintai miliknya sehingga yang bukan dan yang tidak bisa menjadi miliknya akan dibenci oleh dunia. Itulah cinta dunia yang bersifat egois dan manipulatif, yaitu cinta yang hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Cinta membuat seseorang bersemangat untuk mendapatkan obyek yand dicintai-
nya bahkan dia rela menghadapi tantangan berat demi untuk mendapatkan obyek yang dicintai demi untuk kepentingan diri. Hubungan cinta yang demikian digambarkan dengan sangat indah dalam kisah cinta Sampek-Engtay; seiring dengan cinta yang indah bila cinta gagal maka hidup pun akan berakhir. Dengan demikian celakalah yang menjadi obyek cinta kita karena akan berakhir dengan kehancuran. Hati-hati bila dunia mengatakan ”I love You” apakah akan mengalami nasib yang sama seperti ungkapan DR. Stephen Tong, “I love crab?”, yaitu kepiting tersebut akan berakhir dengan kebinasaan.
Bila seseorang mengalami kegagalan dalam percintaan, maka ada dua kemungkinan yang timbul; pertama, destruktif, yaitu penghancuran diri sendiri, misal: bunuh diri, kedua, menghancurkan obyek yang dicintai dengan demikian orang lain tidak turut memiliki seperti nasibnya juga. Inilah cinta dunia, apakah orang Kristen akan mencintai seperti cara dunia? Apakah ini yang dinamakan cinta? Bukan! Itu adalah cinta yang egois, semua untuk diri sendiri. Alangkah indahnya bila cinta bersifat altruis, yaitu cinta yang selalu memikirkan yang terbaik bagi obyek yang dicintainya.
Cinta dijadikan ajang bisnis, yaitu saling mencintai harus saling menguntungkan; lebih banyak mana antara untung atau rugi kalau saya mencintai kamu; bila banyak merugi maka cinta harus segera berakhir. Cinta dunia selalu ada unsur menuntut, manipulasi dan bersifat egois. Dunia semakin lama semakin mengerikan, tidak hanya memanipulasi istilah cinta tapi juga memanipulasi setiap kata yang indah, seperti kata damai (syaloom) dipakai bila kita mau bertransaksi tapi tidak mau menghadapi kesulitan, misal: menyuap.
Marilah kita belajar mencintai seperti teladan Kristus yang telah rela menjadi korban tebusan manusia berdosa. Hanya Tuhan yang dapat memampukan kita untuk dapat mengasihi seorang akan yang lain dengan cinta sejati, cinta yang tidak pernah mengharapkan imbalan. Sebaliknya cinta dunia selalu mengharapkan imbalan, cinta dunia tidak pernah gratis, nothing for free.
Kalau kita tidak mempunyai dasar pengertian yang kokoh dan kuat maka perintah untuk saling mengasihi seorang akan yang lain seolah-olah sudah tidak berarti lagi. Karena manusia sudah merasa mencintai tapi perintah ini muncul justru untuk menyadarkan manusia akan kekeliruan yang telah dibuat; manusia telah salah mencintai, manusia bukan mencintai dengan cinta sejati tapi dengan cinta dunia. Berarti, ada dua sumber cinta dengan sifat, natur serta dampak yang berlawanan. Siapakah yang menjadi subyek yang mencintai kita? Who loves you?
II. Allah adalah Kasih menjadi sumber kasih dan telah mencintai manusia dengan rela menjadi korban tebusan bagi manusia berdosa.
Seperti telah dibicarakan, kasih dunia penuh tipu muslihat iblis seperti serigala berbulu domba yang siap menerkam dan bersifat immoral tapi anehnya hal ini tidak disadari oleh si pelaku maupun si penerima cinta. Cinta mempunyai arti, nilai dan tujuan berbeda, di dalamnya tidak berisi cinta yang murni tetapi penuh dengan kebencian dan sesuatu yang bersifat agung, seperti menjaga kesucian sampai hari pernikahan dilihat sebagai suatu keanehan sebaliknya hal yang tabu malah dianggap sebagai hal yang wajar.
Kita sebagai anak Tuhan melihat keadaan dunia yang kacau ini seharusnya makin mendorong kita untuk lebih berani menegakkan kebenaran dan siap hati untuk dibenci dunia karena kita bukan milik dunia dan bukan dari dunia. Dunia sudah berada di ambang kehancuran sehingga hal-hal yang agung dan hal yang bersifat kebenaran pun juga makin pudar bahkan sedikit demi sedikit mulai dihilangkan.
Cinta yang sejati harus bersifat altruis, yaitu memikirkan yang terbaik bagi obyek yang dicintainya; cinta sejati membawa obyek cintanya menuju kebaikan dan kebenaran serta menjaga kesucian obyek yang dicintainya. Kalau dunia mencintai, dunia akan menjerumuskan obyek cintanya menuju jurang kebinasaan. Akan tetapi, seseorang yang pernah merasakan cinta Tuhan seharusnya membuat anak Tuhan dapat mencintai seperti Kristus yang mengasihi jiwa-jiwa yang tersesat..
Melihat dunia yang kacau sekarang, terkadang timbul rasa pesimis akankah ada cinta yang sejati? Apakah masih ada anak-anak Tuhan yang menjaga kesucian hidup? Ada, meski dunia makin rusak Tuhan akan menjaga umat-Nya untuk hidup suci di tengah jaman yang bobrok ini. Tuhan kita Tuhan yang hidup, Ia mempunyai kuasa untuk menjaga umat-Nya dari kuasa Iblis yang terus berusaha ingin menjatuhkan manusia. Kita sebagai anak Tuhan, jangan pernah sekali pun berkompromi dengan dosa dan jangan merasa telah cukup “rohani” sehingga kita menganggap remeh kuasa Iblis dengan mencoba bermain-main dengannya. Iblis dengan akal liciknya akan membuat kita terjerat dalam kuasanya dan akhirnya kita tidak dapat keluar dari jeratnya. Dengan liciknya, iblis akan menuruti semua permintaan kita tapi hati-hati saat itu juga kita telah masuk dalam jeratnya; iblis tidak pernah memberi dengan cuma-cuma, ia selalu mengharap imbalan berupa apapun bahkan nyawa kita. Bagaimana dengan kasih Kristus?
Manusia berada di bawah kutuk sampai kesalahan kita ditebus melalui pengorbanan Kristus. Kita terpisah dari Allah sampai didamaikan melalui darah salib Kristus. Namun kasih-Nya telah menyingkirkan semua penyebab permusuhan dan mendamaikan kita dengan diri-Nya, Ia menghapuskan semua kejahatan kita melalui penyucian yang dikerjakan-Nya dalam kematian Kristus; sehingga kita yang sebelumnya najis, dapat datang ke hadapan-Nya sebagai orang yang telah dibenarkan dan disucikan. Tuhan tidak pernah mengharapkan imbalan atas semua pengorbanan yang telah dikerjakan-Nya.
Secara logika manusia, kita tidak akan mengerti cinta Tuhan yang besar, Dia mati, dianiaya, dihina dengan mati di salib demi untuk manusia berdosa yang harusnya dibinasakan. Biarlah cinta Tuhan ini boleh merubah hidup kita untuk makin mencintai jiwa-jiwa yang tersesat sehingga kita dapat menjadi alat-Nya di dunia ini. Dan juga hendaklah kita juga mencintai yang menjadi obyek cinta kita dengan memikirkan yang terbaik, yang suci, yang benar dan yang mulia baginya dan juga biarlah cinta kita dapat menghidupkan, memberi semangat hidup menghadapi segala tantangan dan biarlah cinta membawa obyek cinta kita pada hidup yang kekal.
Ketika kita mencintai seseorang apakah kita telah memikirkan sesuatu yang terbaik baginya? Ataukah kita hanya memikirkan apa yang terbaik dari sudut pandang kita? Lalu itukah yang dimaksud dengan cinta sejati? Bukan, cinta sejati adalah cinta seperti teladan Kristus yakni hanya memikirkan yang terbaik dari sudut pandang obyek cinta-Nya. Marilah kita belajar mencintai seorang akan yang lain dengan cinta yang altruis, yang hanya memikirkan yang terbaik baginya sehingga dunia yang haus cinta sejati dapat merasakan cinta sejati dan dengan demikian mereka akan tahu bahwa kita adalah murid-muridNya, yaitu jikalau kita saling mengasihi. Amin.?
(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah)