![]() |
Ringkasan Khotbah : 25 Mei 2003
Nats: Yoh. 15:17-19 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Kebutuhan manusia akan kasih, yakni kebutuhan untuk mengasihi dan dikasihi telah Tuhan tanam sejak awal manusia dicipta. Akan tetapi kasih yang sejati tersebut telah mengalami kerusakan sehingga dunia tidak mampu menjalankan kasih yang sejati tetapi malah memanipulasi pengertian kasih, pengertian kasih telah terdistorsi dan telah diselewengkan hingga mempunyai arah dan tujuan yang berbeda.
Puji Tuhan, karena kasih-Nya dalam Kristus, kita yang telah terpisah dari Allah telah didamaikan dengan-Nya, sehingga ada suatu kekuatan baru yang memampukan kita untuk dapat mengasihi seperti teladan Kristus. Allah adalah Kasih dan kita sebagai anak-Nya harus merefleksikannya, yaitu kita menjadi cermin yang memancarkan kasih Ilahi. Untuk dapat menjadi reflektor kasih Ilahi tersebut tidaklah mudah karena untuk mengubah paradigma dari format kasih dunia menuju format kasih Ilahi dibutuhkan keberanian dan suatu keyakinan bahwa hidup dalam cinta kasih Kristus jauh lebih baik dibandingkan apabila kita hidup dengan kasih yang dunia tawarkan. Bahkan ada pendapat yang mengatakan kalau kita tidak menjalankan cinta kasih dengan format dunia berarti kita belum menikmati surganya dunia. Benarkah demikian?
Hati-hati dengan sesuatu yang kelihatan manis seperti tetesan madu padahal ia pahit seperti empedu dan tajam seperti pedang bermata dua (Ams. 5:3-4). Itulah kasih dunia yang berakhir pada kematian yang kekal bahkan dunia menganggap mengasihi seperti Kristus sebagai suatu kerugian karena kasih-Nya pada manusia Dia berkorban nyawa tapi hanya berakhir pada kematian. Dunia tidak mengerti esensi yang sesungguhnya, justru dengan kematian-Nya, kita tidak akan mengalami kematian, kita akan dihidupkan dan melalui kematian-Nya Ia telah mengalahkan Iblis yang berkuasa atas maut (Ibr. 2:14-15).
Seperti telah kita ketahui, dunia hanya mencintai yang menjadi milik kepunyaannya, yang berada dalam lingkungannya serta cintanya hanya memikirkan untung dan rugi saja (Yoh. 15:19). Sedangkan kasih Kristus adalah kasih yang tanpa syarat, Ia mengasihi seluruh manusia berdosa yang telah menjadi musuh Allah. Kasih seperti inilah yang membedakan dan mempunyai keanggunan dan keagungan yang tidak dimiliki oleh dunia yang berdosa.
Karena dunia sudah jatuh dalam dosa maka dunia selalu berpikiran buruk, selalu mencurigai Tuhan dan semua perintah-Nya. Dunia menganggap semua perintah-Nya hanya membuat hidup manusia sulit dan Tuhan yang diuntungkan. Dunia harus segera bertobat! Dari sejak pertama, Adam dan Hawa hidup dalam cinta kasih Tuhan, hidup dalam terang Tuhan, hidup di bawah pimpinan Tuhan hingga datang Iblis mencobai Hawa, Iblis telah mengindoktrinasi Hawa dengan menanamkan konsep bahwa Tuhan itu jahat. Benarkah Tuhan itu jahat?
Tuhan telah memberikan semua pohon dalam taman untuk dimakan buahnya dengan bebas kecuali satu pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat yang tidak boleh dimakan. Bukankah ini perintah yang masuk akal dan menunjukkan kebaikan Tuhan? Tuhan tidak memerintahkan sebaliknya, yaitu hanya satu pohon yang boleh dimakan sedang pohon yang lain tidak boleh dimakan. Tapi sudah menjadi sifat manusia berdosa yang serakah hingga ia menginginkan satu pohon tersebut untuk dimakan dan bisa menjadi seperti Allah. Hati-hati dengan siasat Iblis yang selalu memutarbalikkan firman Tuhan! Jangan sampai kita terjebak masuk ke dalam perangkapnya.
Tuhan telah melimpahkan berkat-Nya pada kita tapi seringkali kita tidak mau menyadarinya dan tidak bersyukur; kita seringkali meremehkan berkat Tuhan tersebut. Ketika Tuhan ingin mendidik kita justru kita menerima hal tersebut sebagai pukulan dan ketika Dia sedang memahat kita justru aniaya yang kita rasa padahal perintah Tuhan agar kita mengasihi seorang akan yang lain adalah demi untuk kebaikan kita. Kebaikan yang seperti apa? Hal ini akan kita temui kalau kita mengerti the greatest of Christ’s love.
Allah adalah Kasih dan Tuhan ingin agar sifat yang menjadi natur Allah tersebut dimanifestasikan dalam kehidupan orang Kristen, yaitu dengan mengasihi seorang akan yang lain dengan kasih yang murni jadi meski dunia membenci, kita harus tetap mengasihi mereka. Lalu kenapa kita mengalami kesulitan saat mau mengasihi seorang akan yang lain?
1. Orang Kristen dikaburkan antara konsep kasih sejati yang Kristus ajarkan dengan kasih yang dunia ajarkan. Sehingga muncul pemikiran kalau kita sudah mengasihi dengan kasih dunia, kita sudah merasa cukup mengasihi padahal itu bukan kasih Tuhan sejati. Ironisnya, setelah kita mengasihi dengan kasih dunia dan kita mengalami dampak yang merugikan, kita marah pada Tuhan. Ingat, kasih yang dari dunia hanya menuju pada kehancuran dan kebinasaan kekal. Hati-hati konsep kasih dunia sekarang pun telah masuk dalam gereja dan hal ini kurang disadari oleh anak-anak Tuhan. Marilah kita belajar untuk mengasihi seperti teladan Kristus dan kemudian mengimplikasikannya pada orang lain sehingga semua orang akan tahu, bahwa kita adalah murid-Nya.
2. Kasih sejati merupakan manifestasi dari natur Allah dan hal inilah yang membedakan iman Kristen dengan agama maupun filsafat lain di dunia. Agama dan filsafat yang lain hanya mengerti bahwa Allah mempunyai sifat kasih padahal kasih merupakan natur Allah yang tidak dapat dilepaskan begitu saja. Hanya anak Tuhan yang sejati yang dapat mengerti akan hal ini sehingga ia dapat mengasihi dengan kualitas Ilahi yang Dia berikan. Dan hanya anak Tuhan yang sejati saja yang dapat menjalankan perintah baru yang Tuhan berikan, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi (Yoh. 13:34-35).
Kasih Sejati akan memberikan pada kita kekuatan baru untuk kita dapat mengasihi orang lain karena:
1. Cinta kasih sejati membuat kita mempunyai semangat untuk hidup dan berkarya di tengah dunia yang kacau.
Setiap kali berbicara tentang kasih dunia maka kita harus lebih berhati-hati karena kasih tersebut hanya membawa manusia pada kehancuran dan kebinasaan kekal. Seperti ungkapan dari DR. Stephen Tong apabila ada seseorang berkata, “I love crab” maka celakalah yang namanya crab atau kepiting tersebut karena itu berarti kematian bagi si kepiting dan kepuasan bagi mereka yang menikmati dengan lahapnya.
Itulah cinta menurut versi dunia, cinta yang bersifat egois, yang hanya cinta pada sesuatu yang menjadi milik kepunyaannya dan berujung pada kehancuran obyek yang dicintainya. Bagaimana dengan cinta kasih Ilahi? Cinta Ilahi berlawanan seratus delapan puluh derajat dengan cinta dunia. Cinta menurut versi dunia hanya membawa pada kematian maka cinta Ilahi membawa kehidupan dalam diri seseorang.
Seperti kisah kesaksian yang diceritakan kembali dimana kasih yang tulus seorang kakak pada adiknya, bisa membuat adiknya yang masih bayi yang berada dalam keadaan koma dan tidak mempunyai pengharapan untuk hidup lagi ternyata membuat si adik mempunyai perjuangan untuk hidup kembali. Puji Tuhan, sampai kini si adik semakin bertumbuh dan sehat. Itulah the power of love, kuasa kasih sejati yang memberikan semangat juang untuk hidup kembali.
Bahkan kuasa kasih sejati tersebut mendorong seorang gadis kecil di Jepang mempunyai semangat untuk memberitakan Injil dengan membagikan traktat di pinggir jalan. Dan ketika seseorang merobek traktat tersebut dengan kasarnya, dia langsung menangis. Karena merobek traktat berarti dia telah kehilangan kesempatan mendengarkan kabar baik, yakni kabar keselamatan yang berarti pula akan berakhir pada kebinasaan kekal.
Hendaklah kuasa kasih Kristus ini termanifestasi dalam hidup kita sehari-hari dan kita juga mau belajar mencintai mereka dengan cinta kasih Ilahi dengan demikian kita dapat menjadi saksi-Nya dan kita dapat memberikan semangat hidup bagi dunia yang kacau ini.
Sudahkah kita memancarkan kasih Ilahi itu? Dan apakah kasih Ilahi tersebut mendorong kita untuk mengasihi jiwa yang tersesat?
2. Cinta kasih sejati menjadi benih untuk kita melakukan kebajikan dan perbuatan baik.
Sehingga dengan demikian dunia dapat melihat dan merasakan buah dari cinta kasih yang murni. Kita dapat berbuah banyak bila kita berada dalam Kristus dan Kristus ada di dalam kita (Yoh. 15:5) dan Tuhan telah memilih dan menetapkan kita untuk pergi dan menghasilkan buah yang tetap (Yoh. 15:16). Kita dapat menghasilkan buah bila kita memiliki kasih sejati itu. Sudahkah kita menghasilkan buah yang merupakan bukti dan tanda kehidupan?
Jika hati dan pikiran kita dipenuhi oleh kasih sejati Kristus maka pasti segala tindakan yang akan kita lakukan di tengah-tengah dunia akan mencerminkan kasih yang bersifat kebenaran dan kebajikan. Di tengah dunia yang haus akan cinta kasih yang murni ini biarlah kita dipakai Tuhan sebagai benih yang memancarkan kasih Kristus, yaitu kasih akan kebenaran dan kasih akan kebajikan; kasih dengan standar moral tertinggi yang tidak dapat dibandingkan di agama maupun filsafat manapun.
Dunia tidak dapat menjalankan kasih tanpa menurunkan standart moral. Dunia hanya mengasihi tanpa peduli dengan akibat yang terjadi pada moral bangsa. Salah satu contohnya adalah ketika pemerintah mengijinkan para gepeng (gelandangan dan pengemis) masuk kota-kota besar; di tengah pro dan kontra antara kasih dan moral justru karena kasih pada mereka yang tertindas malah membuka benih kerusakan moral; menciptakan generasi pemalas dan hanya sebelah pihak yang diuntungkan, yaitu si penadah gepeng. Disinilah kekristenan harus memegang peranan dan bersuara keras, kita harus mengasihi dengan benar bukan mengasihani dengan kasih yang sembarangan; kita harus mengasihi dengan tanpa meniadakan kebajikan dan tanpa menurunkan standart moral.
Kasih sejati harus berdampak kebajikan, kasih sejati tidak akan berdampak pada kejahatan, kerusakan, atau kebinasaan dan kasih sejati tidak menurunkan standart moral tetapi kasih sejati justru harus berada di posisi atas dan menjadi standar moral tertinggi.
3. Cinta kasih sejati membuat kita mempunyai tujuan hidup yang jelas sehingga kita dapat merasakan kebahagiaan.
Tuhan mencipta manusia dengan tujuan to glorify Him and enjoyed Him. Lalu bagaimana kita dapat memuliakan Tuhan? Yaitu dengan menjadi reflektor kasih Allah sehingga sifat Allah yang adalah kasih dapat tercermin di tengah dunia yang haus akan kasih ini. Kalau kita telah merasakan kasih Allah, yaitu Ia telah memilih dan menetapkan kita untuk menjadi anak-Nya maka kita pun harus merefleksikan kasih tersebut sehingga dunia juga turut mengalami jamahan kasih Allah. Dan saat kita menjadi reflektor Allah tersebut, kita akan merasakan kebahagiaan yang dunia tidak dapat berikan.
Jadi, kebahagiaan dapat kita rasakan sekarang bukan nanti. Celaka apabila kebahagiaan menjadi tujuan akhir hidup kita karena itu berarti kita akan terus dan terus berharap kelak di kemudian hari nanti kita akan memperoleh kebahagiaan dan kita tidak menyadari kalau kebahagiaan sudah ada di depan mata.
Kebahagiaan adalah hasil dari kita merefleksikan cinta kasih Tuhan, yaitu saat kita menjalankan cinta kasih sejati. Maka tidaklah heran, meski Paulus di penjara dia menasihatkan pada kita untuk bersukacita senantiasa dalam Tuhan (Flp. 4:4).
Ingatlah saudara, jangan biarkan kebencian menerkam hidup anda tapi kejarlah kasih untuk memuliakan Tuhan Allahmu yang adalah kasih dan kita pasti akan memperoleh kebahagiaan dan merasa sukacita. Dan juga jangan mencurigai setiap perintah Tuhan karena kalau Tuhan memerintahkan kita untuk mengasihi, itu adalah demi untuk kebaikan kita, yaitu agar kita hidup bahagia. Sudahkah dan maukah kita berkomitmen untuk menjadi reflektor kasih Tuhan, mengasihi jiwa-jiwa yang tersesat, menyadarkan manusia akan dosa, dan membawa berita kebenaran? Amin.?
(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh Pengkhotbah)