![]() |
Ringkasan Khotbah : 18 Mei 2003
Nats: Yoh. 15:17-19 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Relasi konsep tentang cinta dan benci dapat kita lihat pada ayat 17 yang berkaitan erat dengan ayat 18 dimana ayat 16 merupakan basis munculnya ayat 17. Adanya judul dalam Alkitab sangat memudahkan kita tapi di lain pihak menyulitkan kita untuk kita dapat mengerti ayat demi ayat secara kontekstualitas bahkan seringkali timbul kesalahpahaman dalam mengkontekskan ayat Alkitab. Beberapa minggu ini kita akan membicarakan kenapa Tuhan memberi perintah kasihilah seorang akan yang lain, love one another.
Sebelum kita merenungkan keterkaitan antara cinta dan benci, kita harus mempunyai kesadaran bahwa kalau Tuhan telah memilih dan menetapkan kita sehingga kita bukan lagi milik dunia tapi milik Kristus, itu bukan karena inisiatif dan kekuatan kita melainkan karena anugerah saja.
Perintah Tuhan agar kita pergi dan menghasilkan buah yang tetap (ay. 16) merupakan esensi, ciri dan prinsip yang membedakan umat Allah dari dunia. Tapi realita berbicara lain, justru dunia tidak melihat perbedaan antara orang Kristen dan orang dunia. Kekristenan hanya memberikan corak warna tersendiri tanpa ada ciri khusus yang membedakannya dengan dunia. Kalau orang dunia dapat mengerjakan atau bersikap seperti orang Kristen maka itu bukan beda. Umat pilihan Allah harus lebih berkualitas dibandingkan dengan dunia. Lalu kalau mau berbeda dimana letak perbedaannya?
Perbedaannya terletak pada perintah Tuhan, yaitu agar kita mengasihi seorang akan yang lain, love one another dimana cinta yang diajarkan Kristus berbeda dengan cinta menurut konsep dunia. Bagaimanakah kita dapat mengasihi orang lain bahkan mereka yang kita anggap sebagai musuh? Dimanakah letak titik pembedanya?
Pada saat kita menyadari bahwa kita adalah manusia berdosa yang seharusnya dimurkai Allah tapi oleh kasih karunia Tuhan telah mengangkat kita keluar dari jerat dosa maka disinilah letak titik pembeda yang memberi kekuatan pada kita sehingga kita dapat menjalankan perintahNya, yaitu mengasihi seorang akan yang lain bahkan kasih pada mereka yang kita anggap sebagai musuh. Kesadaran akan murka Allah ini membuat kita bersyukur atas kasih-Nya dalam Kristus sehingga kekristenan tidak dijalankan sebagai suatu tradisi bagi mereka yang sudah menjadi Kristen sejak turun temurun.
Pernyataan cinta Tuhan yang kita rasakan secara pribadi menjadi dasar untuk kita dapat mengasihi orang lain seperti Tuhan mengasihi kita sebab Allah telah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa (Rm. 5:8). Pengertian inilah yang membuat anak Tuhan sejati, orang yang telah dipilih dan ditetapkan Tuhan dapat menjalankan dan memahami Yoh 13:31–16:32 sebagai ajaran yang bersifat ekslusive, exclusive teaching of Christ dan mempunyai corak pemikiran tentang kasih yang berbeda dengan dunia.
Manusia seringkali meremehkan bahwa keselamatan hanya ada dalam Kristus Yesus saja; manusia merasa diri “baik” sehingga beranggapan keselamatan dapat diperoleh melalui perbuatan baik. Padahal semakin baik seseorang maka dia makin berdosa; berbuat baik untuk mendapat surga bukanlah perbuatan baik karena ada maksud terselubung dan dengan sengaja melawan perintah Tuhan.
Sebagai gambaran ilustrasi, apabila orang tua memberi perintah pada anaknya untuk melakukan sesuatu, misal menaruh pena di atas meja tapi si anak dengan sengaja melawan perintah tersebut, yaitu membuang pena dengan kasar di meja maka bagaimana perasaan orang tua tersebut? Apa yang harus dilakukan orang tua untuk mengajar anaknya? Orang tua yang baik harus memberikan hajaran pada anak yang kurang ajar tersebut sebagai akibat melawan otoritas orang tuanya. Secara ordo, orang tua lebih berotoritas dibanding anak dan anak harus tunduk pada orang tua. Allah Maha Kasih sekaligus Allah Maha Adil sehingga Dia mengasihi dan menyelamatkan orang berdosa sekaligus menghukum orang jahat yang sengaja melawan Dia. Allah yang adil tidak dapat mengasihi ketidakadilan sehingga Dia tidak akan membiarkan kejahatan semakin merajalela di muka bumi ini. Tuhan tidak berkenan dengan kefasikan dan kelaliman tapi dunia justru suka dengan perbuatan dosa ini karena otoritas Tuhan selalu berlawanan dengan otoritas iblis.
Sekarang kita melihat iblis seakan-akan dapat berbuat apapun dengan seenaknya tapi ingat, sampai suatu waktu tertentu Tuhan pasti akan jatuhkan murka-Nya karena posisi kejahatan selalu berada di bawah kebenaran maka kalau kebenaran sekarang belum bertindak dengan tuntas terhadap kejahatan, hal itu karena Sang Kebenaran masih ingin menyatakan cinta kasihnya supaya kejahatan dapat bertobat dan jika tetap tidak mau bertobat maka murka itu pasti akan tiba dan menghanguskan.
Mengapa Tuhan seakan-akan diam dengan membiarkan kejahatan merajalela di muka bumi ini? Para koruptor makin merajalela, pembunuhan, perampokan dan lain-lain. Hal ini disebabkan karena Tuhan ingin memberikan perbedaan ekstensi, yaitu God is Love. Ketika Allah adalah Kasih bukan berarti Allah kehilangan sifat adil tapi Allah adalah Kasih yang menyatakan kasih-Nya di dalam keadilan dan di dalam keadilan ada kasih.
Bagaimana menjalankan keadilan dan kasih secara bersama-sama? Bagaimana kasih yang diajarkan Kristus dan kasih yang diajarkan dunia? Umat Allah ketika mengasihi maka dia harus mengasihi seperti yang Kristus ajarkan dan mencontoh teladan Kristus tanpa meniadakan keadilan. Bagaimana dengan cara dunia mengasihi?
1. Dunia hanya mengasihi kamu sebagai milik kepunyaannya saja (Yoh. 15:19a); yakni hanya secara material karena ada unsur di balik itu, seperti kecantikannya, kekayaannya, kepandaiannya, dll bukan person-nya. Bagaimana dengan saudara, apakah kita hanya mengasihi sesuatu yang menjadi milik kita dan kita hanya serius dengan pekerjaan milik kita saja? Bukankah ketika kita mengerjakan pekerjaan apapun di dunia yang bukan milik kepunyaan kita, kita tidak akan melakukan seserius seperti ketika kita sedang mengerjakan pekerjaan yang menjadi milik kepunyaan kita? Celaka, apabila kita melayani bekerja buat Tuhan menggunakan konsep ini, yaitu kita dapat melakukan pekerjaan Tuhan tersebut secara sembarangan toh itu bukan milik kepunyaan kita melainkan milik kepunyaan Tuhan. Lalu apa bedanya kita dengan dunia?
Cinta kasih yang dunia ajarkan adalah cinta kasih yang bersifat egois; dunia hanya mencintai yang menjadi kepunyaannya saja sedangkan yang bukan milik kepunyaannya akan menjadi obyek kebencian, menjadi musuh dan perlu dibinasakan.
2. Dunia hanya mengasihi orang-orang yang berada dalam lingkungannya saja. Jangan kaget, apabila orang Kristen dicabut keluar dari dunia maka dia akan menjadi obyek kemarahan dunia dan menjadi obyek musuh dunia. Apakah kita mengalami hal ini, dibenci oleh dunia? Kalau kita tidak mengalaminya maka hal ini justru menjadi pertanyaan bagi kita, benarkah kita seorang Kristen yang sejati?
Cinta menjadi obyek egoisme diri yang mengembangkan nafsu yang posesif, yakni keinginan untuk memiliki, meraih sesuatu demi untuk diri sendiri. Lalu bagaimana dengan kekristenan? Apakah cara orang kristen sama dengan cara dunia mencintai?
3. Kasih dunia selalu berorientasi pada dunia. Kasih dunia sifatnya terbatas, yakni dunia hanya mengasihi sesuatu yang sifatnya menguntungkan dan yang berada dalam lingkungannya saja. Padahal dalam cinta tidak boleh ada kebencian, cinta seharusnya membuat dunia menjadi damai karena cinta dan benci adalah dua sifat yang berlawanan.
Abraham Maslow menyadari bahwa secara natur manusia butuh untuk mengasihi dan dikasihi karena tanpa kasih maka hidup manusia menjadi hampa.
Lalu bagaimana dengan kekristenan? Apakah cara orang Kristen mengasihi sama dengan cara dunia mengasihi? Kristus telah mengajarkan bahkan memberikan teladan bagi kita bagaimana seharusnya kita mengasihi dan Tuhan menunjukkan kualitas kasih yang berbeda dengan dunia, yaitu:
1. Tuhan mencintai orang yang tidak layak dicintai, yakni manusia berdosa yang seharusnya sudah menjadi musuh Allah. Kristus mengasihi dengan kasih yang murni, kasih yang tak menuntut balas, kasih agape. Kristus mencintai bukan karena obyeknya layak untuk dicintai melainkan Dia mencintai manusia yang sebelumnya adalah musuh Allah; Dia mengasihi kita ketika kita masih berdosa (Rm. 5:8). Hal inilah yang membuat kasih Kristus berkualitas tinggi dan dunia tidak dapat menyamainya.
Kasih Kristus akan manusia berdosa seharusnya mendorong kita untuk memberitakan injil pada mereka yang berdosa, yang bukan anak Tuhan, orang yang menyakiti hati Tuhan dengan memasang bom di rumah Tuhan dan mereka yang membakar Alkitab karena mereka adalah obyek kasih kita yang sesungguhnya. Bukankah Tuhan telah terlebih dahulu mengasihi kita, manusia berdosa yang tidak layak?
2. Tuhan mengasihi seluruh manusia di dunia tanpa terkecuali meski mereka tidak berada dalam ruang lingkup. Inilah bukti yang ditunjukkan oleh Kristus sendiri, yaitu perintah untuk kita pergi memberitakan kabar baik, berita keselamatan kepada seluruh bangsa di dunia bahkan sampai ke ujung bumi (Mat. 28:19; Kis. 1:8).
3. Tuhan mengasihi kita walaupun… (tanpa syarat) Kalau dunia mengasihi dengan kasih filia maka Kristus mengasihi dengan kasih agape walaupun obyek yang dikasihi-Nya membenci, menghina bahkan menyakiti-Nya, Dia tetap mencintai dengan tulus. Mudahkah mencintai seperti Kristus mencintai? Dapatkah kita mengasihi seperti yang Kristus ajarkan dan teladankan?
Jawabnya hanya dengan kekuatan dari Kristus, kita bisa mencintai dengan benar, mengasihi jiwa-jiwa yang tersesat. Marilah kita sama-sama berproses dan bertumbuh; kita mau dibentuk untuk mencapai kualitas kasih seperti Kristus sehingga dunia dapat melihat Kristus dalam diri kita, dunia dapat melihat perbedaan yang mencolok antara umat Allah dengan umat iblis. Mereka juga dapat merasakan kasih Allah yang ajaib saat mengangkat mereka dari jerat dosa.
Kasih Allah yang melampaui rasio tidak dapat dimengerti dunia; benarkah ada Allah yang mau mati untuk manusia? Tuhan sudah memilih dan menetapkan kita maka dunia pasti akan membenci kamu tapi justru saat dunia membenci itulah Tuhan memberi perintah sekaligus teladan untuk mengasihi seorang akan yang lain, to love one another (ay.17).
Ketika kita mengasihi Tuhan, Allahmu, dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi maka kita dapat mengasihi sesama manusia. Karena pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi (Mat. 22:37-39). Dan ini merupakan prinsip dari kerajaan Allah yang membedakan dari dunia.
Maukah kita bertekad di hadapan Tuhan? Sudahkah kita mengasihi orang-orang di sekitar kita dengan kasih seperti Kristus? Atau mereka menjadi obyek kebencian kita?
Pada saat dunia membenci kita hendaklah kita makin mencintai mereka yang tersesat, kita mau menjalankan perintah Tuhan untuk pergi dan menghasilkan buah yang sejati, yaitu to love one another dan kita dipakai menjadi saksi Kristus yang hidup. Kita mengasihi dengan cinta yang berbeda dengan dunia ajarkan. Maukah kita bertekad di hadapan Tuhan untuk mengasihi orang-orang di sekitar kita dengan kasih seperti Kristus dan tidak menjadikan mereka sebagai obyek kebencian. Amin.?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)