Ringkasan Khotbah : 11 Mei 2003

Allah Memilih UmatNya (5)

Nats: Yoh. 15:15-17

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Injil Yoh. 15:16 seringkali disalah mengerti dan hanya digunakan demi untuk memuaskan egoisme dan dengan ayat ini pula manusia berdosa memposisikan diri lebih tinggi dari Tuhan. Mereka mempunyai konsep kalau ayat ini merupakan janji Tuhan dan kita berhak menuntut janji tersebut padahal terjemahan asli (Yunani) berbunyi, “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buah itu menempel dengan tetap dan setia sehingga apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, Bapa boleh berkenan memberikannya kepadamu.”

 Kata “supaya” berasal dari bahasa Yunani “hina” yang similar dengan kata “sehingga”. Meskipun demikian masih bisa terjadi kesalahan dalam penafsiran. Sehingga apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu mempunyai pengertian Allah tidak hanya sekedar memberi tetapi kalimat itu mau menegaskan Dia berkenan memberi; jadi hanya yang sesuai dengan perkenanan Bapa di surga.

 Kata “supaya” pada ayat 16 seringkali ditafsir salah, yaitu:

1) kalimat yang berada di belakang “supaya” merujuk pada tujuan Tuhan kenapa memilih kita, yaitu membuat kita menghasilkan buah supaya apapun yang kita minta pada Bapa maka Bapa pasti akan memberikannya. Pemikiran ini muncul karena sikap egoisme manusia yang berdosa; yang hanya bisa meminta dan meminta demi untuk memuaskan diri. Padahal ay. 16 berorientasi dan berpusat pada Allah tapi manusia berdosa melihat dan mengorientasi- kan ayat tersebut ke diri sendiri; semua dari manusia, untuk manusia dan oleh manusia. Tuhan berbuat apapun adalah demi untuk kepentingan manusia semata dan hasil akhirnya untuk manusia; Tuhan hanya sebagai alat dan semua tindakan Allah hanya sebagai sarana. Konsep inilah yang mendasari teologi sukses dimana tujuan predestinasi telah diselewengkan.               

Ayat 16 penekanannya terletak pada perkenanan hati Tuhan; hanya permintaan yang berkenan di hati Tuhan yang akan dikabulkan. Lalu permintaan seperti apakah yang berkenan di hati Tuhan? Kalau hati dan pikiran kita menyatu pada Kristus maka perminta- an kita akan terkontrol, selektif dan tepat; kita semakin peka akan apa yang menjadi kehendak Tuhan dan Bapa semakin berkenan terhadap permintaan kita.  

Pengertian meminta dan perkenanan sangat berkaitan erat. Kalau kita meminta mesti diberi maka itu bukan meminta tapi menuntut; lalu posisi akan terbalik saya, pihak yang meminta menjadi lebih berotoritas dibanding Tuhan sebagai pihak pemberi. 

2) supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu dianggap sebagai suatu konklusi, hak bagi setiap orang yang sudah menjalankan perintah Tuhan. Kalimat ini bu- kan hukum sebab akibat dimana posisi kita berada lebih tinggi dari Tuhan, yaitu kalau saya sudah melayani Tuhan maka Tuhan harus menuruti semua permintaanku. Bukankah hal ini sering kita temui pada mereka yang sudah aktif melayani Tuhan selama bertahun-tahun, merasa diri sudah menghasilkan buah sehingga merasa diri punya hak untuk menuntut. Namun benarkah buah yang dihasilkan adalah buah yang sejati? Siapa yang berhak memberi penilaian tersebut?  

Ingat, aktif melayani tidak sama dengan menghasil- kan buah. Kalau Tuhan mengabulkan permintaan kita maka itu hanya efek yang bisa terjadi tapi juga tidak terjadi. Pada prinsipnya, efek tersebut harus membuat kita makin serupa Kristus. Disinilah pentingnya teologi Reformed menekankan pentingnya Kedaulatan Allah dimana manusia yang harus mencocokkan diri masuk dalam kehendak Allah dan perkenanan Tuhan.      

Kita akan mendalami pengertian pada Yoh. 15:16 dan kita akan menjumpai kebenaran  penting pada kata “meminta”, yaitu:  

1. Membuktikan kalau kebutuhan kita tak pernah tercukupkan.  

Manusia seharusnya memiliki kesadaran bahwa manusia tidak mampu mencukupkan diri sendiri, orang yang berada pada keadaan “melarat” dalam arti insufficient. Manusia tidak dapat mencukupkan kebutuhannya sendiri, self sufficient maka dibutuhkan pihak ketiga yang dapat memenuhi segala kebutuhan kita, yaitu Bapa di dalam Tuhan Yesus.  

Adalah anugerah kalau kita dapat menyadari akan keadaan kita yang insufficient. Tuhan ingin agar apa yang kau minta dalam namaKu, yaitu harus sesuai dengan perkenanan dan kehendak Tuhan dan pada saat yang sama kita berada dalam proses pembentukan Tuhan dimana kita dapat merasakan kuasa Tuhan yang bekerja, cara Tuhan yang ajaib ketika Dia membentuk kita untuk semakin serupa dengan Dia.  

Ingat, kalau kita dapat melakukan pekerjaan Tuhan dengan baik, itu bukan karena kepandaian atau kekuatan kita tapi semata-mata karena Tuhan yang memampukan. Hati-hati dengan pengajaran New Age Movement yang mengatakan manusia dapat melakukan apa saja dengan kekuatannya yang unlimited. Manusia tidak menyadari ada kuasa yang lebih besar yang memegang kendali hidup manusia, sampai Tuhan “mempermainkan” manusia dengan barang yang kecil (virus SARS). Hal ini membuktikan siapa lebih hebat Tuhan atau manusia?  

Biarlah kita semakin disadarkan bahwa setiap manusia membutuhkan Tuhan, semakin membuktikan bahwa manusia adalah makhluk yang lemah dan manusia butuh kekuatan dari Tuhan. Kita harus mempunyai sikap yang rendah hati; kalau kita dapat melewati hidup hari demi hari itu adalah karena anugerah. Dan hendaklah kita boleh menghasilkan buah yang tetap dan ingat, Tuhan yang memberikan kepada kita kekuatan untuk dapat menghasilkan buah karena Allah adalah Allah yang cukup dalam diriNya sendiri sedangkan manusia adalah makhluk yang papah, yang selalu bergantung pada Tuhan. 

2. Menggambarkan adanya suatu relasi yang intim antara si peminta dan si pemberi.  

Minta kepada kepada Bapa dalam nama Yesus, menyadarkan bahwa kita berada dalam keadaan yang insufficient dan kita harus mempunyai relasi kepada yang sufficient. Kita tahu dalam diri manusia terdapat sense of divinity, yaitu ada suatu perasaan, kekosongan dalam hati yang membutuhkan Tuhan, butuh sesuatu untuk dapat dijadikan sandaran hidup. Hal ini dicetuskan oleh Augustinus, bapak gereja dan ditegaskan pula oleh John Calvin dalam teologi Reformed. 

Manusia butuh Tuhan sehingga kalau kita tidak kembali pada pengertian yang benar maka celakalah kita. Kita akan mudah diombang-ambingkan dengan rupa-rupa pengajaran sesat, seperti pertanyaan ini yang seringkali kita jumpai, yaitu apakah Allah-nya orang Kristen sama dengan Allah di agama lain? Jawabannya tidak sama, karena Allah orang Kristen menyatakan diri-Nya secara tepat dan ini yang membuat Allah kita berbeda dengan Allah agama lain. Apakah setiap orang yang menyebut nama Allah selalu menunjuk pada oknum tunggal tertentu? Lalu apakah setiap orang yang bernama Sutjipto selalu menunjuk pada orang yang sama? Tidak, bukan?  

Setiap permintaan harus ditujukan kepada Bapa dalam nama Yesus karena Bapa sebagai sumber lalu prosedur memintanya dalam nama Yesus. Kenapa? Alkitab menegaskan, urutan ordo yang benar adalah Bapa, Anak, Roh Kudus dan otoritas tertinggi berada di tangan Bapa. Yesus tidak pernah melakukan apapun dari diriNya sendiri hanya yang Bapa perintah dan hanya yang menjadi kehendak Bapa itulah yang Yesus lakukan (Luk. 22:42).  

Relasi kita dengan Allah Tritunggal adalah gambaran relatif, dimana ketika kita minta sesuatu kita tahu pada Allah yang mana? Yaitu Allah dalam nama Yesus Kristus sebab Kristus sendiri yang mengajarkan kita dapat mengenal Bapa melalui Kristus yang telah berinkarnasi (Yoh. 8:19b). Saat kita berada jauh dari Kristus maka kita akan berada jauh dari Allah; kita tidak peka pada apa yang menjadi kehendak Allah. Maka setiap kita harus membangun relasi yang benar di dalam Tuhan, berakar kuat, bertumbuh dan berbuah. Jikalau relasi kita dengan Tuhan beres maka kita dapat melayani dengan penuh sukacita dan menghasilkan buah.   

3. Menunjukkan adanya suatu kerelaan (willingness) si pemberi.  

Kita punya suatu kesadaran, meminta bukan berarti menuntut tapi berdasarkan kerelaan si pemberi. Kalaupun tidak diberi maka kita tidak boleh menuntut apalagi marah; andai diberi maka kita wajib berterima kasih. Justru keadaan yang sering kita jumpai terbalik; ketika kita diberi kesehatan, makanan cukup kita lupa untuk berterima kasih dan menganggap hal itu sebagai suatu kewajaran tapi ketika kita sedang mengalami kesulitan maka kita langsung marah dan menuduh Tuhan jahat.  

Terjemahan injil Yoh. 15 dapat membuat kita salah pengertian. “… supaya apa yang kamu minta kepada Bapa” seharusnya ditulis “sehingga” atau “agar kiranya Bapa boleh berkenan memberikannya kepadamu” berasal dari bahasa Yunani dŌ humin, dŌ menyatakan bentuk penyerta yang mempunyai keterkaitan penyertaan sedangkan humin menunjuk pada orang yang menjadi inti pelaku. Hal ini seharusnya  menyadarkan kita, kalau Bapa berkenan memberi, itu adalah suatu anugerah karena kita sebenarnya tidak layak. Kalau Tuhan rela memberi maka  seharusnya membuat kita bersyukur.  

Melalui pengertian ini biarlah kita sadar, hal ini merupakan perkenanan Tuhan dan hak memberi ada dalam tangan Tuhan dan manusia hanya bisa minta. Kalau Tuhan beri maka kita wajib berterima kasih tapi andai Dia tidak memberi pun maka itu sudah menjadi hak Tuhan.  

Kesadaran inilah yang membuat umat Tuhan mempunyai semangat pelayanan dan selalu bersyukur atas anugerahNya, kita dapat merasakan Tuhan yang hidup, kita dapat merasakan pengalaman yang indah bersama Tuhan. Orang Kristen bukan tidak boleh meminta tapi cara minta harus berubah, mintalah supaya Allah berkenan memberikan bagaimana kita boleh dipakai menghasilkan buah yang tepat.   

Doktrin predestinasi bukanlah ajang untuk berdeba tapi doktrin predestinasi membuat kita bersyukur, Tuhan telah memilih kita di antara berjuta manusia di dunia untuk pergi dan menghasilkan buah dan kita semakin peka akan isi hati Tuhan, belajar berkenan padaNya dan ketika kita meminta pada Bapa berkenan memberi pada kita. Ini menjadi kaitan yang begitu indah. Predestinasi juga menyadarkan kita hidup dalam kedaulatan dan pemeliharaan Allah, berjalan bersama dengan Allah yang hidup. Amin.?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)