Ringkasan Khotbah : 4 Mei 2003

Allah Memilih Umat-Nya (4)

Yohanes 15: 15-16

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Dalam injil Yohanes 15 terdapat pengajaran doktrin yang sangat penting, yaitu doktrin predestinasi dan ironisnya manusia tidak menyukai doktrin ini. Karena doktrin predestinasi menuntut manusia untuk tunduk di bawah kedaulatan Tuhan, taat perintahNya dan menjalankan kehendakNya.

Tuhan telah memilih dan menetapkan kita supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap… (ay.16). Kalimat ini diucapkan oleh Kristus sendiri dan hal ini seharusnya membuat kita bersyukur atas anugerah Tuhan.

Manusia adalah satu-satunya makhluk yang dicipta Tuhan dengan akal budi sehingga manusia dapat berpikir, berencana, dan merancang masa depannya. Seorang manusia barulah dikatakan sebagai manusia sejati saat dia menjalankan hidupnya dengan penuh makna. Apabila manusia menjalankan hidupnya tanpa ada makna maka hidup akan menjadi tidak berarti lagi dan akhirnya manusia akan binasa. Hal ini sangat disadari oleh setiap manusia. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah seluruh makna hidup manusia tersebut dikaitkan kemana? Dan pada siapa?   

Manusia seringkali tidak mengerti akan arti esensi hidup dan ketika mereka disadarkan akan arti esensi hidup yang sesungguhnya, yakni hidup yang bermakna hanya ada dalam Tuhan; justru mereka menganggap hal ini sebagai suatu kebodohan. Hal ini banyak kita jumpai pada masyarakat Jepang. The Japanese People have lost everything and they shift to another religion because the true religion for them is money (artikel di majalah Times). Semua usaha, pemikiran, dan seluruh perjuangan hidup mereka hanya diabdikan pada uang semata sehingga seiring dengan hilangnya uang maka hidup mereka pun ikut berakhir pula. Mereka menganggap dengan bekerja keras akan membuat hidup menjadi sukses. Mereka telah gagal mengerti esensi hidup yang sesungguhnya.

Istilah agama yang dimaksud di atas adalah semua hal yang menjadi kepercayaan. Lalu apakah orang Kristen itu beragama Kristen, beriman Kristen? Apakah Kristus yang menjadi inti iman kita? Ingat, ketika iman Kristen sudah menjadi inti kepercayaan kita maka kita harus berkomitmen dan Kristus akan memimpin kita masuk dalam rencanaNya; disanalah kita akan mengerti arti makna hidup sesungguhnya.

Kalau sekarang kita dapat mengenal dan mengikut Kristus; kita menjadi umat yang dipilih Tuhan, itu bukan karena jasa kita tapi itu semua semata-mata hanya karena anugerah. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu,  supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap… (Yoh. 15:16a).

Tanpa anugerah Tuhan, kita tidak dapat mengerti inti iman yang sejati karena untuk mengerti hal itu diperlukan suatu pendobrakan paradigma yang besar; di tengah-tengah dunia yang berdosa, dimana manusia sudah menjadi humanis materialis, untuk mengubah paradigma seseorang tidaklah mudah.  

Dosa telah mencengkeram dunia dan sulit untuk melepaskannya sehingga manusia menjadi terikat dengan kuasa dosa. Sebagai contoh, seorang penjudi sangat mengerti dan tahu kalau perbuatan judi itu dosa tetapi mereka telah terikat dan sulit untuk melepaskannya. Mereka tidak mengerti esensi hidup sehingga mereka membuang setiap detik waktu yang dianugerahkan Tuhan dengan percuma. Bagaimana dengan hidup kita? Apakah yang kita kerjakan bernilai tinggi? Siapa yang menjadi penentu nilaimu? Ingat, kita tidak berhak menentukan nilai! Manusia berdosa tidak bisa dan tidak berhak untuk memilih karena manusia tidak mempunyai mempunyai kemampuan dan kapasitas memilih.

Untuk dapat mengerti doktrin predestinasi, kita harus mulai dengan asumsi imposibility; karena manusia yang terbatas, kita tidak akan dapat mengerti doktrin predestinasi. Manusia adalah makhluk berdosa dan telah dibelenggu dosa maka dia pasti melakukan perbuatan dosa sehingga dia tidak akan dapat melihat kebenaran. Oleh sebab itu, mustahil apabila manusia dapat memilih Tuhan; semua hanya karena anugerah kalau kita dapat menjadi umatNya.

Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu… (ay.16a). Kalimat auris tense ini, menunjukkan suatu penetapan yang bersifat kekal. Supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap… kalimat ini menyadarkan kita, yaitu ada suatu kehidupan yang baru dimulai. Sebab hidup kita sebelumnya telah dicengkeram maut dan Tuhan menyadarkan kita bahwa Tuhan telah memilih kita di antara berjuta-juta manusia untuk pergi menghasilkan buah yang tetap.

Dalam Alkitab, kata “buah”, fruit berasal dari kata καρπως, karphos, merupakan gambaran yang menunjukkan kondisi kita yang sebenarnya, yaitu kondisi positif dan negatif. Pertama, pohon yang mati berarti pohon tersebut tidak dapat bertumbuh dan menghasilkan buah. Setiap ranting padaKu yang tidak berbuah, dipotongNya… ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar (Yoh. 15:2,6). Kedua, pohon yang baik pasti menghasilkan buah yang baik pula; dari buahnya kita dapat melihat pohonnya. Kita berada pada kondisi yang mana? Apakah selama ini kita mengerjakan sesuatu yang bernilai tinggi? Jangan sampai kita mengerjakan sesuatu yang kita anggap bernilai tapi akhirnya dibuang lalu dibakar.

Bukankah hidup menjadi bermakna bila seluruh yang kita kerjakan ada hasilnya? Bayangkan, bila segala sesuatu yang kita kerjakan dengan perjuangan yang keras tapi tidak menghasilkan apa-apa maka pasti hidup yang kita jalani menjadi tidak bersemangat. Hati-hati dengan positif thinkers yang mengajarkan pada kita untuk selalu berpikir positif, yaitu segala sesuatu yang kita kerjakan sekarang pasti akan ada hasil di kemudian hari padahal itu semua hanya bohong belaka; keadaan yang sesungguhnya tidak ada hasil sama sekali.

Semua yang kita kerjakan di dunia apabila belum diberikan meaning dengan tepat maka semua yang kita kerjakan bernilai nol. Seperti kata Pengkotbah, “Segala sesuatu adalah sia-sia. Apakah gunanya manusia berusaha dengan dengan jerih payah di bawah matahari? (Pkh.1:2,3). Manusia seringkali terlambat menyadarinya,  saat menghadapi kematian mereka baru menyadari, yaitu manusia mati tidak dapat membawa apa-apa.

Hidup yang bermakna hanya ada dalam Tuhan, yaitu ketika Tuhan telah memilih dan menetapkan kita untuk pergi dan menghasilkan buah. Tuhan sudah memberikan potensi dengan possibility pada kita sehingga makna hidup menjadi real. Makna hidup yang real adalah ketika kita memikirkan kembali apa yang menjadi rencana Tuhan dan apa yang Tuhan ingin saya lakukan untuk menggenapkan rencanaNya? Buah apa dan buah yang bagaimanakah yang harus saya hasilkan? Ingat, buah tersebut haruslah bersifat kekal dan tetap.

Kehidupan orang-orang Kristen haruslah hidup yang penuh dengan buah, fruitfull. Alkitab menggambarkan pohon anggur supaya menghasilkan buah yang banyak maka setiap rantingnya harus dibersihkan (Yoh. 15:2). Jadi, sebatang pohon dikatakan berhasil apabila menghasilkan buah yang banyak baik secara kuantitas maupun kualitas dan kedua hal ini tidak boleh dipisahkan.  

Akulah pokok anggur yang benar dan BapaKulah pengusahanya dan kita, umat pilihanNya sebagai penghasil buah. Apakah hidup anda sudah menghasilkan buah yang sama dengan pohonnya? Ingat, waktu kita tidak banyak lagi; jadi, jangan buang waktumu dengan percuma karena Tuhan ingin setiap waktu yang kita lalui penuh dengan makna dan menghasilkan buah. Buah yang sesuai dengan standart Tuhan. Manusia kadang berpikir segala sesuatu yang dikerjakan sudah terbaik dan menghasilkan buah tapi manusia lupa bahwa standart ukuran yang menentukan baik atau tidaknya bukan diri kita sendiri melainkan Tuhan.

Manusia berdosa tidak berhak memberi nilai. Memang siapakah manusia sehingga layak menilai baik/buruknya pekerjaan kita? Hanya Tuhan yang berhak dan layak memberi dan yang menentukan nilai.

Kalau kita telah dipilih menjadi sahabat Allah, biarlah hal itu menjadikan kita berbeda dari dunia. Ketika kita mengerjakan pekerjaan Tuhan kita mengerjakannya dengan serius bahkan dua kali lebih baik atau lebih dari yang dunia kerjakan.

Siapakah kita sehingga Tuhan mau mati buat kita? Tuhan ingin supaya kita yang telah memperoleh anugerah keselamatan dapat menyatakan maksud dan tujuan Tuhan ketika Tuhan mencipta manusia pertama kali, yaitu how to be human being? Bagaimana menjadi manusia sejati?

Secara umum, buah menggambarkan :

1. Buah merupakan bukti hidup. Sebatang pohon yang mati pasti tidak berbuah begitu juga kalau kita berada di luar Kristus berarti kita belum memperoleh hidup kekal maka pastilah kita tidak bisa berbuah. Ketika buah itu keluar, hal itu membuktikan ada tanda kehidupan. 

Jadi kalau Tuhan berkata, ”Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak..” (Yoh. 15:5), hal itu merupakan syarat awal agar kita dapat berbuah maka Tuhan harus menyelamatkan kita terlebih dahulu. Tapi ingat, keselamatan bukanlah tujuan utama, keselamatan hanyalah sarana untuk kita dihidupkan kembali dan menghasilkan buah. Lalu bagaimana dengan anda? Apakah anda berada pada kondisi yang mati atau hidup? Ingat, anugerah Tuhan datang secara pribadi pada setiap kita. Orang lain tidak dapat menolong dan menyelamatkan kita dari hukuman kekal. Puji Tuhan, kalau kita dapat mendengar injil keselamatan dan anugerah keselamatan datang pada kita. Buah, membuktikan kita hidup; sudahkah anda menghasilkan buah-buah itu?

2. Buah menggambarkan kesamaan natur. Pohon mangga pasti keluar buah mangga tidak mungkin keluar buah dengan varian yang lain sehingga dari buahnyalah kita tahu pohonnya. Alkitab menggunakan istilah buah bukan produk karena produk bukan hasil dan bukan natur; produk bisa dihasilkan tanpa harus menyamakan natur. Contoh, mesin yang memproduksi sebuah sepatu, apakah itu berarti mesin harus sebuah sepatu? Tidak, bukan? Hasil produksi dengan pemroduksi bukanlah natur yang sama tapi kalau buah yang keluar harus dari natur yang sama, harus sama dengan pohonnya.

Gambaran ini mau menunjukkan bahwa dalam dunia pelayanan, yang menjadi point bukanlah hasil produksi pelayanan tapi buahnya. Banyak orang mencampuradukkan antara hasil buah dengan produksi pelayanan. Ingat, hasil produksi pelayanan tidak sama dengan buah. Seperti ketika saya memproduksi sebuah buku maka buku tersebut bukanlah buah. Akan tetapi kalau buku tersebut dibaca oleh orang dan menjadi berkat serta orang yang membacanya dapat bertumbuh dalam iman, yaitu menghasilkan buah maka itulah arti buah yang sesungguhnya.

Jangan biarkan hidup anda menghasilkan hal yang mati lalu anda puas dan menganggap itu sebagai buah. Tidak! Itu produk bukan buah yang sesuai natur, yaitu sesuai natu Kristus. Tuhan ingin kita menghasilkan buah yang berkualitas, sesuai dengan standart Tuhan. Jadi, dimanapun dan apapun profesi kita marilah kita menghasilkan buah yang dapat dilihat dan menjadi berkat bagi orang lain dan mereka dapat mengenal Kristus.

3. Buah merupakan potensi untuk ber-reproduksi.  Buah harus bisa menghidupkan dan menghasilkan buah lagi. Sebagai contoh, buah mangga ditanam maka akan menghasilkan pohon mangga dan seterusnya. Kalau kita mengerti hal ini maka sikap, perilaku kita dan cara berpikir kita akan berbeda dengan dunia. Produksi merupakan hasil dari sistem sedangkan buah bukan hasil dari sistem tapi buah adalah limpahan hidup. Dimanakah kita dapat menghasilkan buah? Dunia pendidikan merupakan sarana dimana kita dapat menanamkan iman Kristen sedini mungkin.

Di tengah situasi sulit, orang Kristen harus berani menyatakan identitasnya dan berani tampil beda. Hidup di dunia sangat singkat dan sementara oleh sebab itu jangan sia-siakan hidupmu; tapi isilah hidup ini dengan sesuatu yang bermakna.  Amin.?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)