Ringkasan Khotbah : 27 April 2003

Kristus bagi Kita dan Kita bagi Kristus

Ibrani 5: 7-9

Pengkhotbah : Ev. Solomon Yo

 

Pendahuluan

Minggu lalu, kita baru saja memperingati Hari Jumat Agung dan merayakan Hari Paskah, minggu ini, kita akan kembali merenungkan tentang Pribadi Kristus, kasih pengorbanan-Nya dan teladan-Nya bagi kita.  Kita akan mendasarkan perenungan kita pada firman Tuhan dalam  Ibrani 5:7-10. Di sini kita akan mempelajari beberapa kebenaran penting:

I. Untuk menjadi Juruselamat kita, Anak Allah telah inkarnasi menjadi manusia sejati tanpa meninggalkan keallahan-Nya, sehingga terjadilah kesatuan dua natur dalam satu pribadi.

Karena manusia yang berdosa maka yang wajib memenuhi seluruh tuntutan kebenaran Allah dan menanggung hukuman dosa agar dia diselamatkan juga harus seorang manusia sejati. Namun karena manusia berdosa tidak mampu menyelamatkan dirinya dari murka Allah maka satu-satunya harapan keselamatan datang hanya dari Allah sendiri. Jadi karena Juruselamat harus sekaligus Allah dan manusia, maka dalam kasih-Nya Allah telah berkenan datang sebagai manusia sejati. Dialah Yesus Kristus tokoh historis, yang pernah dilahirkan oleh anak dara Maria dan menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus.

Tetapi ketika Anak Allah berinkarnasi menjadi manusia, tidak berarti Dia menanggalkan keallahan-Nya, dan untuk sementara menjadi bukan Allah. Tidak! Bahkan dalam masa inkarnasi-Nya Ia tetap adalah Allah kekal yang tidak berubah, yang menopang alam semesta dengan kuasa firman-Nya (Ibr. 1:3), hanya Dia tidak memamerkan kemuliaan-Nya atau menggunakan kuasa-Nya untuk mempermudah kehidupan-Nya. Ia telah memilih untuk menjalani kehidupan sebagai seorang hamba yang penuh kerendahan dan taat kepada Bapa, bahkan sampai mati di kayu salib (inilah arti Ia “mengosongkan” diri-Nya (Flp. 2:6-8). Ketika akan ditangkap di taman Getsemani, Yesus menolak bantuan Petrus dan menyatakan bahwa ada dua belas pasukan malaikat yang siap melepaskan-Nya (Mat. 26:52-53; bdk. Yoh.18:4-9). Walaupun penuh dengan kuasa keilahian, tetapi Yesus memberikan diri-Nya untuk menjalankan kehidupan sebagai hamba Allah yang taat kepada Allah.

Inkarnasi telah menjadikan Yesus Kristus Pribadi yang unik: Allah sejati dan manusia sejati; satu pribadi dengan dua natur, tanpa salah satu pun natur yang dikorbankan. Dengan demikian, segala sesuatu yang Yesus Kristus lakukan menjadi tindakan dari Pribadi “God-man”. Karena itu, ketika tubuh Yesus tergantung dan mati di kayu salib, keallahan-Nya tidak meninggalkan Dia, karena justru sebagai manusia Dia bisa mati, dan sebagai Allah Ia memiliki kuasa yang tak terbatas untuk menebuskan seluruh umat pilihan-Nya dari dosa mereka. Dengan demikian kita menegaskan bahwa Juruselamat kita bukanlah manusia biasa karena tidak ada manusia yang dapat menyelamatkan bahkan dirinya sendiri; Ia juga bukan Allah yang tetap tinggal di surga dan hanya mengucapkan kata-kata pengampunan. Tidak! Juruselamat kita adalah Allah sekaligus manusia, yang masuk ke dalam permasalahan kita (dosa, kematian, dan Iblis) dan menebus kita dari semua itu.

Ini merupakan misteri yang melampaui kemampuan otak kita yang terbatas untuk memahaminya, dan hati yang telah diterangi Roh Kudus tidak kesulitan untuk menerima hal ini. Karena pertanyaannya bukanlah apakah mungkin Allah menjadi manusia, dalam satu pribadi terdapat sekaligus yang tak terbatas dan terbatas; Ilahi sekaligus manusiawi? Jawabannya ialah YA!, karena tidak ada yang mustahil bagi Allah. Pertanyaan yang lebih tepat ialah: “apakah Allah memang telah bertindak demikian?” Inilah yang disaksikan oleh Alkitab, dan inilah yang diyakini setiap orang Kristen sejati. 

Berpegang pada ajaran Kristen ortodoks ini kita menolak Doketisme, ajaran yang menyangkal bahwa Allah telah datang sebagai manusia sejati; kita juga menolak Arianisme, yang menyangkal keallahan Yesus (kesalahan yang diulangi oleh saksi Yehovah); kita juga menolak ajaran Nestorius, yang memisahkan kedua natur Kristus sehingga Kristus seakan-akan terdiri dari dua pribadi: ilahi dan manusia, padahal yang benar ialah Kristus hanya terdiri dari satu pribadi dengan dua natur; kita juga menolak ajaran Euthyches

 

II. Selama inkarnasi-Nya di bumi ini, dapat kita katakan bahwa natur manusiawi-Nya berada di latar depan, sedangkan natur ilahi-Nya berada di latar belakang.

Sebagai Pribadi ilahi-manusiawi, dengan semua kuasa, kemuliaan, dan anugerah yang siap untuk Ia nyatakan, Yesus Kristus memilih menjalani kehidupan sebagai seorang manusia biasa, dengan semua keterbatasan manusiawi, yang dapat merasa haus, lapar, sedih, gentar, bahkan mengalami kematian. Dia tidak datang sebagai manusia mesin, dengan kemampuan istimewa dan berhati baja yang melaksanakan tugas berat apa pun tanpa merasakan penderitaan. Tidak!  Alkitab menunjukkan bahwa Ia mengalami kegentaran, Ia bergumul dalam doa di taman Getsemani “dengan ratap tangis dan keluhan,” bahkan dengan tetesan darah.

Ada dua pendekatan dalam mempelajari Kristologi: (1) “Kristologi dari atas” yang belajar mengenal Yesus Kristus berdasarkan wahyu Allah dalam Alkitab, bahwa Yesus adalah Allah yg berinkarnasi, yang permulaan-Nya sudah sejak purbakala, dsb.; kedua, “Kristologi dari bawah” yang berusaha mengenal Yesus Kristus berdasarkan pengamatan kehidupan manusiawi-Nya. Pendekatan Kristologi dari atas harus diutamakan, karena tanpa wahyu tidak mungkin kita dapat mengenal Yesus dengan benar berdasarkan rasio kita yang berdosa (sebagian besar yang mengabaikan pendekatan Kristologi dari atas adalah kaum liberal yang tidak mempercayai keilahian Yesus), namun kita harus berhati-hati terhadap kecenderungan negatif yang sering tidak disadari dari pendekatan ini, yaitu walaupun secara rumusan doktrinal kita mengakui dwinatur Kristus yang sekaligus bersifat ilahi dan manusiawi, namun praktisnya kita mengabaikan kemanusiaan Yesus ketika merenungkan mengenai Dia, akibatnya kita gagal memahami makna sepenuhnya dari inkarnasi Anak Allah. Kita menjadi kurang dapat menyelami kehidupan dan penderitaan Yesus karena anggapan bahwa kesulitan seberat apa pun yang Ia hadapi pasti dapat Ia atasi, karena Ia adalah Allah.

Tetapi bukan demikian halnya dengan inkarnasi. Walaupun Yesus dapat mengatasi semua pencobaan dan penderitaan dengan kemenangan, hal itu tidak berarti penderitaan yang Ia alami itu ringan; sebaliknya justru Ia mengalami penderitaan yang lebih berat dari semua orang lain. Ada dua alasan: Pertama, ketika menghadapi masalah, khususnya yang sangat berat, manusia cendrung lari dari masalah atau mengalihkan perhatian dari masalah berat yang ia hadapi. Yesus tidak pernah berbuat demikian, Ia bahkan menghadapi setiap masalah sampai tuntas. Ketika di atas kayu salib, orang mau memberi Dia minum anggur asam yang mengandung “obat bius” untuk mengurangi rasa sakitnya, begitu mencicipinya Ia menolaknya, karena Ia mau menghadapi semua penderitaan itu dengan kesadaran penuh dan mengalahkannya. Yesus mengalami pencobaan dan kuasa maut lebih berat dari siapa pun, dan Ia memenangkannya, sedangkan kita kalah, bahkan oleh pencobaan yang jauh lebih ringan. Kedua, Sang mahasuci yang berada dalam persekutuan kasih yang kekal dengan Bapa memiliki kepekaan lebih dari kita  semua sehingga ketika menghadapi akibat dosa dan hukuman yang harus Ia tanggung, semua itu menjadi lebih berat baginya. Yesus yang mahakuasa tahu apa artinya kesulitan hidup dan hidup yang dibatasi, Ia yang setia dan mahabaik tahu apa artinya dikhianati, Ia tahu apa artinya ketaatan kepada Bapa sampai mati.

Mengapa wawasan ini perlu dipulihkan? Karena kehidupan yang Ia jalani sebagai manusia merupakan unsur yang penting di dalam karya penebusanNya. Juruselamat kita bukanlah Allah tetap tinggal di sorga, tetapi Allah yang telah turun ke dunia dan berkarya bagi penebusan kita dalam seluruh kehidupan-Nya di dunia ini. Allah telah menjadi Adam kedua untuk menganulir kegagalan Adam pertama supaya kita diselamatkan. Kesempurnaan Kristus dalam memenuhi tuntutan Hukum Taurat merupakan kebenaran yang Ia capai untuk dikaruniakan kepada kita supaya kita dapat dibenarkan. Kehidupan Yesus Kristus yang tidak bercacat itulah yang menjadikan Dia layak menjadi domba paskah sekaligus Imam Besar Agung yang mempersembahkan korban penebusan yang berkenan kepada Allah. Seluruh kehidupan Yesus dari awal sampai akhir merupakan karya penyelamatan bagi kita.

 III. Dalam kehidupanNya sebagai manusia, Yesus Kristus telah mencapai kesempurnaan sehingga Ia dapat menjadi pokok keselamatan kita yang sempurna.

Dalam kehidupan-Nya sebagai manusia, Yesus tidak lahir langsung sempurna; Ia dilahirkan sebagai bayi lemah dan bergantung, mengalami proses pertumbuhan jasmani, sosial, mental dan rohani (Luk. 2:52). Ia bertumbuh melalui disiplin diri. Yesus menjalani kehidupannya dengan perjuangan, pergumulan, mengalami pencobaan, penderitaan, dan kematian. Ia harus mengalahkan semua itu untuk mencapai kesempurnaan, bagu dapat menjadi pokok keselamatan kita. Yesus datang untuk melakukan kehendak Allah meski untuk itu Ia harus melalui keringat, air mata dan darah. Itulah sebabnya selain memahami keilahian Yesus kita juga harus memahami juga kemanusiawian-Nya; Dalam Injil Yoh. 17:19 Yesus berkata, “Aku menguduskan diri-Nya bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran.” Mengapa Yesus yang tidak berdosa, perlu menguduskan diri-Nya? Ia menguduskan diri-Nya bukan bagi diri-Nya, tetapi bagi umat-Nya. Artinya, Ia memberikan/mengkhususkan diri-Nya untuk melakukan hanya kehendak Bapa demi menyelamatkan kita. Seluruh kehidupan Yesus adalah kehidupan yang diberikan kepada kita. Dan ini bukanlah suatu pemberian yang asal-asalan, yang setengah jadi, tetapi yang diperjuangkan melalui  usaha terbaik yang dilakukan dengan sepenuh hati dan cinta, yang menguras segenap kekuatan-Nya dan curahan darah-Nya. Kristus telah mengusahakan yang terbaik dari diri-Nya sampai mencapai kesempurnaan, untuk mempersembahkan diri-Nya kepada Allah bagi keselamatan kita … manusia berdosa ini.

Sudahkah kita memberikan yang terbaik bagi Dia? Seperti pujian yang berbunyi: ”Hanya ini Tuhan persembahanku, segenap hidupku, jiwa dan ragaku, s’bab tak ku miliki harta kekayaan yang cukup berarti tuk kupersembahkan…” Lagu ini bisa ditafsirkan: 1) karena sudah tidak ada hal lain yang lebih berarti lagi maka aku mempersembahkan yang terbaik kepada Tuhan, yaitu jiwa dan ragaku, atau 2) karena hartaku, talentaku tidak mau kuberikan maka aku persembahkan apa adanya, yaitu jiwa dan hidup yang tidak diolah. Hal yang kedua seringkali kita lakukan, bukan? Kita hanya memberikan seadanya saja. Coba bayangkan, kalau Allah melakukan hal yang sama pada kita, bagaimana nasib kita sekarang? Puji Tuhan, ketika manusia jatuh dalam dosa, Tuhan tidak menciptakan malaikat atau suatu makhluk lain, tetapi memberikan Anak-Nya yang tunggal bagi kita. Dalam dalam kehidupan-Nya sebagai manusia Yesus telah memberikan diriNya yang terbaik untuk keselamatan kita. Apa pun yang kita lakukan tidak akan dapat membalas kasih Tuhan yang begitu besar, bahkan jika kita mati berkali-kali pun tetap tidak dapat membalas cinta TUhan yang begitu ajaib.

 IV. Mereka yang telah dikuduskan oleh Kristus akan dikuatkan oleh anugerah Allah untuk mengikuti jejak Sang Juruselamat

Kita harus taat kepada Kristus sebagaimana Kristus taat pada Bapa; kita juga harus sempurna seperti Bapa di surga (Mat. 5:48), inilah tujuan kita diselamatkan (bukan supaya kita dapat diselamatkan). Walaupun kita tidak akan pernah mencapainya secara harafiah dalam dunia ini, tetapi jika anugerah Allah telah bekerja dalam diri kita, maka pasti ada dorongan yang kuat dalam diri kita untuk menapaki jalan salib apa pun kesulitan yang akan kita hadapi. Dengan mengandalkan kekuatan kita, kita tidak mungkin bisa menjadi sempurna. Hanya anugerah Tuhan yang dapat merubah kita untuk menjadi lebih baik.

Namun sangat disayangkan, banyak orang Kristen yang walaupun telah mengalami anugerah Tuhan, ingin mengasihi Tuhan, dan ingin memberikan yang terbaik kepada Tuhan, tetapi tidak pernah dapat mewujudkannya, semua itu menjadi sekadar keinginan belaka. Thomas A. Kempis dalam bukunya Imitation of Christ mengatakan, jika dalam satu tahun kita bisa mengatasi satu saja kelemahan kita maka hal itu akan menjadi kemajuan yang sangat berarti tapi bahkan untuk satu kelemahan pun kita tidak dapat mengatasi dari satu tahun ke tahun berikutnya. Semua ini disebabkan oleh kegagalan batin (kebiasaan hati=habits of the heart) yang belum teratasi. Itulah sebabnya kita perlu memandang pada teladan Yesus, yang telah mendisplin diri-Nya, menundukkan diri-Nya di bawah kehendak Allah dalam suatu ketaatan penuh melalui doa, pergumulan, perjuangan, tetesan darah, dan baru setelah itulah mencapai kesempurnaan-Nya, sehingga layak menjadi pokok keselamatan kita.

Semua keinginan suci tanpa disiplin diri hanya akan menjadi romatisisme religius yang kosong, sebelum seorang mendisiplin dirinya di bawah kehendak Allah yang berdaulat dan menyambut setiap disiplin Tuhan, sesulit apa pun itu, dapat dikatakan ia tidak akan berguna bagi Kerajaan Allah. Dan penderitaan dalam disiplin ilahi/rohani ini akan menolong kita belajar dan bertumbuh ke dalam “kesempurnaan” (keserupaan dengan Kristus – 2Kor. 3:18) yang dimaksudkan Allah bagi kita.  Amin.?