Ringkasan Khotbah : 20 April 2003

Pengharapan Paskah

Roma 8:31-39

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

 

Di abad 20 ketika perang dunia pertama dan kedua berakhir, muncullah aliran filsafat postmodernisme. Postmodernisme muncul untuk melawan aliran filsafat yang muncul sebelumnya, yaitu filsafat modernisme.

Gerakan modernisme mencetuskan bahwa hanya dengan kekuatan rasio, manusia dapat memikirkan, menelaah dan menyelesaikan segala sesuatunya. Pemikiran ini mengakar dan mencengkeram dengan kuat di manapun dan di kalangan manapun tanpa memandang status maupun intelektualitas.

Dunia pendidikan sangat menekankan pentingnya pemikiran yang menggunakan rasio. Sehingga ada slogan yang berbunyi “jangan pernah berkata tidak tahu tapi katakanlah belum tahu”.

Kaum modernis menegakkan kekuatan rasio dengan menggunakan sarana teknologi karena mereka beranggapan, teknologi dapat menyejahterakan hidup manusia dan manusia bisa menjadi penguasa seluruh alam semesta.

Seorang filsuf dari Perancis mencetuskan manusia tidak perlu percaya Tuhan; percaya Tuhan hanyalah ilusi belaka sebagai akibat karena kita belum dapat mengatasi segala sesuatunya. Sehingga kita punya berbagai macam allah, seperti allah petir, allah banjir, dsb. Namun, jika kita sudah dapat mengatasi segala sesuatu maka allah cukup satu saja, yaitu allah yang dapat memberikan jalan keluar ketika kita menghadapi masalah. Tidak hanya sampai disitu, manusia bisa maju lagi dan akhirnya kita sampai pada kondisi dimana kita tidak memerlukan Allah.

Pierre Teilhard Cardin membagi alam semesta dari tingkat terendah sampai tertinggi, yaitu litosfer, lapisan batu-batuan; hidrosfer, lapisan air; dan atmosfer daerah dimana manusia, binatang dan tumbuhan dapat hidup dan yang tertinggi, lapisan ionosfer, daerah rasio dimana rasio sebagai penguasa alam semesta. Kalau kita  sampai pada batas wilayah ini maka kita dapat menguasai segala sesuatu dan Tuhan tidak lagi mempunyai posisi sedikitpun dalam hidup kita.

Perkembangan pemikiran modernisme memuncak di abad 19 yang ditandai dengan  munculnya tokoh-tokoh modernisme dan perkembangan teknologi yang pesat. Namun, setelah perang berakhir, dari Viena Circle, Austria, manusia mulai berbalik arah dari modernisme menuju postmodernisme dengan salah tokohnya yang terkenal, Derrida.

Salah satu prinsip yang dicetuskan oleh kaum postmodern adalah dekonstruksi, yang berarti meruntuhkan bangunan. Paul Ricoeur menegakkan rekonstruksi tapi berbasis pada dekonstruksi. Kenapa dan ada apa di balik pemikiran tersebut?

Segala sesuatu yang terjadi sekarang tidak jauh berbeda dengan yang dialami oleh manusia pada abad lampau. Dengan bertambahnya usia, manusia semakin menyadari bahwa segala sesuatu yang dikerjakan sekarang ini menghasilkan apa dan untuk apa? Manusia makin berkembang, teknologi makin canggih tetapi justru membuat manusia makin berseteru, manusia hanya cinta diri sendiri dan membuat manusia sombong, merasa diri hebat dari apapun bahkan dari manusia lain.

Kecanggihan teknologi tidak membuat perang berhenti, ekonomi makin kacau, penyakit menyebar dimana-mana (virus SARS) hingga menyebabkan kematian. Akhirnya manusia merasa putus asa dan tidak mempunyai pengharapan yang sejati.

Surat Roma 8 menunjukkan iman Kristen bukanlah iman yang kosong dan bukan pula iman yang irrasional justru iman Kristen adalah iman yang melampaui rasio dan dapat menyelesaikan semua problematik rasio jika kita mau tunduk dalam kedaulatan Tuhan.

Kita lebih dari pada orang-orang yang menang (ay.37); justru pada saat orang lain menganggap kita kalah maka saat kita berhasil menundukkan diri pada Kristus, pada saat itulah kita menjadi pemenang.

Jangan pernah mengandalkan kekuatan diri sendiri karena kita akan kehilangan arah hidup dan hidup akan menjadi tidak bermakna tetapi serahkanlah dirimu pada Kristus yang telah bangkit dan hidup. Kebangkitan Kristus mengkaitkan sesuatu yang bersifat sementara dengan sesuatu yang bersifat kekal.

Kepada siapakah anda mempercayakan hidup anda? Berada di pihak manakah anda? Ingat, kalau kita berseberangan dengan Allah maka celakalah kita karena itu berarti kita berada di pihak iblis. Paulus menyadari akan hal ini, karena sebelumnya dia merasa membela “Tuhan”, sampai Kristus berkata, “Saulus, Saulus mengapakah engkau menganiaya Aku?” (Kis. 9:3) Perjumpaannya dengan Tuhan membalikkan arah hidup Paulus sehingga Paulus dapat berkata, ”Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalanku akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya.” (Flp. 3:8)

Bisakah kita mempunyai pemikiran seperti Paulus? Yang bukan hanya sekedar ucapan bibir belaka atau sekedar doktrin yang hanya kita mengerti di otak saja tapi biarlah hal itu kita jalankan dalam hidup kita.

Realita Kebangkitan Kristus menjadi momen tunggal yang tidak dapat digantikan oleh siapapun di dunia. Hanya Yesus, anak Allah yang telah berinkarnasi yang dapat mematahkan belenggu kematian dan dosa. Hal ini di luar dugaan iblis, dengan kematianNya, membuktikan kemenanganNya, yaitu Yesus bangkit pada hari ketiga.

Hitungan satu hari versi sekarang berbeda dengan yang Alkitab ajarkan. Kalau sekarang hitungan satu hari adalah dari gelap menuju gelap, dari jam 12 malam sampai jam 12 malam  tapi orang Yahudi  menghitung satu hari dimulai dari jam 6 sore (gelap) sampai 6 sore (terang), lewat jam 6 sore (gelap) sudah masuk hari kedua.

Realita bahwa Yesus telah bangkit tidak dapat diterima oleh imam-imam kepala dan orang-orang Yahudi sehingga mereka bersekongkol dengan para pembesar Romawi dengan membuat kesaksian palsu, yaitu mayat Yesus dicuri. Secara logika alasan ini sangat tidak masuk akal. Kubur yang telah disegel oleh pemerintah Roma harus dijaga ketat oleh seorang prajurit dengan nyawa sebagai taruhannya. Alasan tersebut juga tidak dapat diterima karena banyak orang melihat Yesus menampakkan diri setelah kebangkitannya, yaitu lebih dari 500 orang (I Kor 15:6).

Melalui kebangkitan Kristus kita dapat melihat beberapa hal:

1. The Hope to Live, pengharapan untuk hidup. Kristus telah mengalahkan kuasa kematian jadi kita dapat meletakkan pengharapan hidup kita padaNya. Setiap orang yang belum mengenal Kristus pasti ada perasaan takut saat menghadapi kematian. Ironis, manusia justru tidak takut ketika hidup di dunia sehingga hidup disia-siakan dengan percuma. Ingatlah, setiap sikap dan tindakan kita akan menjadi dasar untuk kita dihakimi. Dengan kesadaran ini, biarlah kita hidup dalam sikap yang takut dan gentar terhadap Tuhan (Flp. 2:12).

Di luar Kristus maka berarti seluruh usaha yang kita lakukan sifatnya hanya mengulur waktu untuk nantinya kita menghadap tahta pengadilan Tuhan. Jadi, di luar Kristus tidak ada pengharapan sejati yang akan kita dapatkan. Paulus sadar bahwa dalam Kristus ada pengharapan untuk hidup sehingga Paulus mempunyai paradigma baru, yaitu karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Flp. 1:21).

Hidup akan menjadi lebih indah dan lebih bermakna jika kita ada di dalam Kristus karena di dalam siapapun tidak ada keselamatan selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada satu nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehNya kita dapat diselamatkan (Kis. 4:12). Kuasa kebangkitan Kristus bukan ilusi tapi realita yang tidak bisa dipungkiri lagi.

2. The Hope to Love, pengharapan untuk mengasihi. Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? (ay. 31) Siapakah yang akan  memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? (ay.35). Situasi dan kondisi apa dan bagaimanakah yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus? Tidak ada! Situasi dan kondisi sulit tidak akan dapat memisahkan Kristus dari kita; Ia, yang tidak menyayangkan AnakNya sendiri, tetapi yang menyerahkanNya bagi kita semua (Rm. 8:32a) adalah bukti kasihNya.

Dunia semakin hari semakin kehilangan sumber kasih yang sejati, yaitu sumber kasih yang dari Kristus. Tuhan berinkarnasi, datang ke dalam dunia merupakan pernyataan kasih Bapa yang paling besar pada umat pilihanNya. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia sehingga Ia telah mengaruniakan anakNya yang tunggal...(Yoh.3:16). Kuasa penebusan dan kebangkitan Kristus adalah demi untuk menyelamatkan umat pilihanNya.

Dunia mencoba menawarkan cinta tapi cinta yang ditawarkan adalah cinta yang sudah tercemar dosa sehingga sifatnya manipulatif belaka. Ingatlah cinta yang sejati, yang kita refleksikan kepada Kristus tidak akan pernah bermusuhan dengan Kristus.

Kasih sejati  dalam persekutuan terjadi ketika semua unsur di dalamnya adalah orang-orang yang mencintai dan dicintai Tuhan. Jangan pernah berharap anda akan mendapatkan cinta sejati  dari dunia yang berdosa ini. Kasih sejati hanya ada dalam Kristus Tuhan.

3. The Hope to Laugh, pengharapan untuk (kita dapat) tersenyum.Di tengah situasi yang serba sulit, dunia semakin susah untuk tersenyum. Senyum manusia yang terpancar di wajah sudah tiada berarti lagi; yang ada hanya senyum kepalsuan. Beban hidup yang harus di pikul membuat senyum yang tersungging di wajah tidak sungguh-sungguh keluar dari hati. Maka wajarlah apabila seorang sastrawan mengatakan “dunia ini bagaikan sebuah panggung sandiwara dan masing-masing kita adalah pemainnya”.

Sukacita sejati hanya ada dalam Kristus. Hal ini sangat disadari Paulus sehingga di tengah situasi sulit, disiksa dan dianiaya dalam penjara pun dia dapat berkata,”Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan!” (Flp. 4:4). Bagaimana dengan kita? Adakah sukacita sejati dalam hidupmu? Sudahkah kita memancarkan senyum kita yang terindah di tengah dunia yang kalut ini? Tuhan ingin agar kita, anak-anakNya dapat menjadi kesaksian yang indah dengan senyum kita yang tulus sehingga kita dapat memberikan secercah pengharapan pada mereka yang letih lesu dan berbeban berat.

Ia, yang tidak menyayangkan anakNya sendiri,…bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? (Rm. 8:32). Dia sudah memberikan yang terbaik, yaitu anakNya sendiri dan ini bukan hanya sekedar teori.

Paskah mengingatkan kita akan cinta kasih Bapa yang begitu besar pada kita dan paskah bukan momen yang sekedar lewat begitu saja tapi hendaklah semangat paskah boleh merubah hidup kita agar makin serupa Dia. Dan di tengah dunia yang sudah kehilangan pengharapan sejati ini biarlah kita dipakai menjadi saksiNya.  Amin.?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)