![]() |
Ringkasan Khotbah : 13 April 2003
Nats: Ams. 1:1-5 Pengkhotbah : Ev. Thomy J. Matakupan |
Pada waktu orang Kristen menjalani hidupnya maka pikiran yang sering muncul adalah “Bagaimanakah saya mencari dan mengetahui pimpinan Tuhan dalam hidupku? Dan pada waktu kita memahami hal ini maka kita akan berhadapan dengan berbagai macam kesulitan. Karena ternyata dinamika pimpinan Tuhan sangat kompleks adanya.
Sehingga muncul nasehat: pertama, pertimbangkan apa yang Alkitab katakan, kedua, kita akan merasa damai sejahtera dan ketiga, lihat lingkungan kalau memang kehendak Tuhan maka Tuhan pasti akan membuka jalan. Ini yang disebut dengan prinsip “Pintu Terbuka dan Pintu Tertutup”. Kalau Tuhan berkenan Tuhan akan buka pintu kalau Tuhan tidak berkenan maka Tuhan akan tutup pintu.
Dalam seluruh aspek hidup kita, umumnya kita hanya melihat bagian luarnya saja padahal pimpinan Tuhan melampaui semua aspek. Karena ada pengalaman iman yang tidak dapat dilihat secara kasat mata; tidak bisa dijelaskan dengan logika atau hal-hal yang bersifat fisik dan tidak harus menggunakan standart pintu terbuka dan pintu tertutup.
Ketika Tuhan memimpin, Tuhan ingin masuk dalam kehidupan pengalaman iman kita dan Tuhan ingin agar kita hidup didalam kebenaran Firman. Pengalaman ini merupakan pengalaman yang kompleks karena banyak orang Kristen tidak melihat esensi dari divine guidance itu sendiri sehingga melihat pimpinan Tuhan hanya dari hal-hal yang bersifat praktis saja, misalnya kita berdoa supaya Tuhan memberi tanda yang dapat kita lihat dan mengerti. Hal itu tidaklah salah dan Tuhan bisa melakukannya.
Kitab Amsal menegaskan setiap orang percaya harus sungguh-sungguh membutuhkan pimpinan Tuhan dan hal ini menjadi pergumulan hidup kita setiap saat dan menjadi central point yang menjiwai seluruh hidup kita. Dalam kitab Amsal, banyak nasihat-nasihat tentang mencari pimpinan Tuhan dan kadang-kadang diperbandingkan dengan orang yang tidak berpengalaman atau orang bebal yang kerap kali jatuh pada kesalahan yang sama.
Kita sangat membutuhkan pimpinan Tuhan karena:
1. Manusia adalah makhluk yang rapuh, mudah berubah, mudah tergoncang dan tidak berpengalaman.
Ketika orang muda mulai menapaki hidup, orang tersebut dapat dikatakan orang yang belum berpengalaman. Orang tua pun bukanlah orang yang berpengalaman. Orang muda memang belum punya pengalaman di depan (yang telah dilewati orang tua) akan tetapi orang tua juga belum punya pengalaman untuk melewati masa di depannya. Itulah sebab kita terus mencari-cari dan bertanya-tanya apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidupku. Manusia seringkali menilai hidup berdasarkan standart “sepatutnya dan selayaknya”. Maka sudah sepatutnya dan selayaknya apabila orang tua menginginkan anaknya belajar di sekolah yang terbaik dengan harapan masa depannya akan cerah.
Standart “sepatutnya dan selayaknya” tidak dapat kita samakan dengan pimpinan Tuhan karena pimpinan Tuhan sangat berbeda dan unik, sifatnya out of mind, beyond understanding. Manusia adalah makhluk yang rapuh dan tidak berpengalaman bahkan sejak Adam dan Hawa. Mereka tahu konsekuensi kalau makan buah maka akan mati tapi mereka merasa sudah mempunyai pengalaman sebelumnya, mereka makan buah dalam taman tapi tidak mati. Sampai setan datang menawarkan suatu pengalaman baru dan menarik, yaitu mata mereka akan terbuka dan akan menjadi seperti Allah tahu tentang hal yang baik dan yang jahat. Apakah itu berarti mereka tidak mengerti akan natur pimpinan Tuhan? Padahal, Adam dan Hawa pernah menafsirkan dan menjalankannya dengan tepat apa yang menjadi kehendak Tuhan.
Kejadian 1:31 mencatat, “Allah melihat segala yang dijadikanNya itu, sungguh amat baik.” Berarti mereka hidup sesuai dengan apa yang Tuhan mau sampai pada waktu tertentu mereka mencoba menafsirkan sendiri berdasarkan standart dan kriteria sepatutnya dan selayaknya. Akhirnya mereka terjerumus dan mereka harus menanggung konsekuensi diusir dan putus hubungan dengan Tuhan.
2. Natur manusia yang berdosa.
Kitab Amsal menegaskan, setiap tindakan yang muncul secara natural dilakukan karena suatu kebodohan dan bertentangan dengan kehendak Tuhan (Ams 3:5-7). Natur manusia yang berdosa membuat manusia cenderung lari dari Tuhan dan melihat kehendak Tuhan sebagai suatu halangan dan ancaman sehingga manusia tidak dapat mengekspresikan diri sedemikian rupa. Tidak terkecuali dengan umat tebusan karena umat tebusan pun adalah manusia yang memiliki natur dosa sehingga dapat jatuh dalam dosa. Banyak orang percaya kerap kali jatuh dalam kesalahan yang sama dan kita masih mempunyai habit yang tidak dapat kita tinggalkan. Lalu kita mencoba menghibur diri dengan berkata, “Roh memang penurut tapi daging lemah jadi mohon Tuhan maklum.”
3. Dosa dan kuasanya merupakan sebuah kekuatan yang membawa dan menarik manusia untuk terus menerus berada jauh dari Tuhan.
Setan akan terus menawarkan alternatif-alternatif pengalaman menarik yang belum pernah dialami manusia dan pengalaman itu selalu bertentangan dengan kehendak Tuhan sifatnya menjerumuskan. Setelah nasi menjadi bubur manusia baru menyadari kesalahannya. Dosa selalu muncul dalam tawaran yang menarik bahkan lebih indah dari hal-hal yang bersifat rohani. Sudahkah kita berdoa minta pimpinan Tuhan dalam hidup kita? Pengalaman hidup dalam pimpinan Tuhan merupakan pengalaman iman yang sukar diukur standartnya, kecuali kita mencoba memahami natur pimpinan Tuhan, yaitu:
a. Pimpinan Tuhan menggunakan sarana wisdom, bijaksana.
J. I. Packer dalam bukunya Knowing God menegaskan Guidance dan Wisdom merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Pada Ams. 1:2, kata ‘mengetahui’ dan ‘mengerti’ dalam bahasa Ibrani berarti ‘diantara’ dan dikaitkan dengan perbedaan antara benar dan salah sedangkan pada ayat 4, kata ‘memberikan kecerdasan’ berarti tentang ‘pengambilan keputusan’, decision making dan dikaitkan dengan nasihat yang bijaksana.
Adakah pertimbangan benar/salah, baik/tidak, kehendak Tuhan/kehendakku muncul di setiap pergumulan kita saat kita mau memahami pimpinan Tuhan? Ketika kita berada dalam situasi membedakan benar/salah, kehendak Tuhan/kehendakku, posisi kita berada di tengah-tengah dan kita harus membuat keputusan. Keputusan ini harus berdasar pada nasehat yang bijaksana, wise councel, yaitu seseorang yang datang dan mengetahui akibat yang terjadi. Misal, orang tua akan melarang anaknya bermain api karena tahu akibat yang akan terjadi.
Bijaksana Ilahi bisa datang melalui siapa saja untuk menasehati kita! Biarlah kita memperhatikan dengan seksama, gaze, apa yang Tuhan mau, hal-hal detail, wise councel yang muncul.“Bukankah hikmat berseru-seru,…di persimpangan jalan-jalan…di samping pintu-pintu gerbang…(untuk memberikan) pengertian kepada orang yang tidak berpengalaman” (Ams. 8).
b. Bijaksana dan pimpinan Tuhan harus didasarkan pada wahyu Ilahi.
Wahyu Tuhan harus menempati tempat utama saat kita mau memahami pimpinan Tuhan. Sehingga banyak orang Kristen berharap mengalami pengalaman yang spektakuler. Semua pengalaman spektakuler tersebut tidaklah salah tapi harus dkembalikan pada wahyu Tuhan baik ada maupun tidak ada pengalaman spektakuler sekalipun.
Jikalau ada orang Kristen yang ingin mengerti pimpinan Tuhan tapi mengabaikan wahyu Tuhan itu berarti dia ingin masuk dalam pengalaman rohani sejati tapi sekaligus menghina wahyu Tuhan. Divine Revelation dapat kita lihat dari 3 aspek: pertama, perintah Tuhan bersifat mutlak, spesifik, dan tidak bisa ditawar-tawar, Ams. 13:13 kedua, perintah Tuhan bersifat prinsip dan umum, Ams. 14:23; 15:1; 24:27 ketiga, perintah Tuhan bersifat pola, yaitu berkaitan dengan aspek hidup yang menjadi pergumulan kita setiap harinya.
Melalui Firman, manusia mengenal sikap dan karakter Allah dan kita diminta untuk serupa dengan Allah. Allah adalah Kasih maka kita harus hidup sama seperti Allah.
Kesejatian pengalaman kita masuk mengerti dan hidup dalam pimpinan Tuhan sangat bergantung pada bagaimana penilaian kita terhadap isi Alkitab. Bukankah seringkali kita berkata melalui doa kita supaya hanya kehendak Tuhan saja yang jadi tapi kalau kita mau mengakui dengan jujur benarkah tidak ada secuil pun kehendakku yang kita sembunyikan? Karena kalau ada 1 % saja kehendak kita, maka itu berarti kita ingin ikut menentukan apa yang menjadi kehendak Tuhan dalm diri kita.
c. Pimpinan Tuhan dapat dimengerti melalui nasehat orang lain yang mau bersungguh-sungguh bergumul bersama dengan kita.
Nasehat yang bijaksana tidak akan pernah bertentangan dengan Firman Tuhan, Ams. 12:15; Ams. 13:10. Sudahkah kita menjadi penasehat yang baik dan turut bergumul bersama dengan mereka yang ingin memahami pimpinan Tuhan dalam hidupnya?
d. Pimpinan Tuhan selalu menuntut adanya kepercayaan dan komitmen.
Dalam pergumulan mengerti pimpinan Tuhan pertanyaan yang kerapkali muncul: Tuhan, apa yang harus aku lakukan supaya aku tahu kehendakMu dalam hidupku? Kalau kita mempercayakan hidup kita sepenuhnya pada Tuhan maka seharusnya Tuhan menjadi obyek iman kita dan harus ber komitmen. Komitmen merupakan salah satu tanda kedewasaan rohani. Tetapi umumnya kita takut mengambil komitmen karena hal itu berarti ada harga yang harus kita bayar, takut kalau Tuhan akan mengambil segala sesuatu yang menjadi kesukaan kita. Karena kalau Tuhan pimpin, sepertinya Tuhan membawa kita masuk ke tempat yang penuh dengan kerikil dan semak belukar sehingga membuat kita tergores meskipun hal tersebut tidak mematikan tapi hal itu sangat menganggu diri kita sehingga timbul rasa curiga dan kita cenderung bersikap negatif terhadap Tuhan.
e. Pimpinan Tuhan selalu berkaitan dengan masalah karakter.
Karakter yang dimaksud adalah kondisi moral, Ams. 30:18-20. Orang yang meminta pimpinan Tuhan, ketika bertemu dengan realita bagaimana Tuhan menyatakan kehendakNya maka orang yang percaya Tuhan akan mengembangkan pola hidup yang Godly, saleh, takut akan Tuhan. Orang yang dipimpin Tuhan akan menghasilkan buah dan kita akan diubahkan semakin hari semakin serupa Kristus. Sebaliknya orang tidak peduli dengan pimpinan Tuhan maka hidupnya semakin hari akan semakin rusak, semakin jauh dari Tuhan, Ams. 30:20.
Mari kita belajar untuk jujur dan terbuka di hadapan Tuhan apakah kita telah siap hati dibentuk oleh Tuhan? Tuhan akan menyatakan kehendakNya dan Tuhan juga menuntut perubahan hidup dari orang-orang yang mau dipimpin olehNya.
Ingat, kita juga harus bersabar karena kita tidak tahu kapan waktuNya. Daud membutuhkan waktu selama 22 tahun untuk menjadi raja menggantikan Saul dari sejak Samuel mengurapinya. Bangsa Israel membutuhan waktu selama 43 tahun untuk masuk tanah Kanaan.
Biarlah ketika kita mau mengerti pimpinan Tuhan, bukan dengan ukuran dan standart “sepatutnya dan selayaknya” tapi biarlah kita mengerti sesuai dengan rencanaNya, sesuai dengan cara dan waktu Tuhan. Kita tidak tahu berapa lama Tuhan akan menggenapinya tapi selama masa penantian tersebut biarlak kita isi dengan pengalaman-pengalaman yang indah bersama dengan Tuhan. Akan ada banyak mutiara-mutiara iman yang muncul dan sangat berharga. Amin.?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)