Ringkasan Khotbah : 6 April 2003

Allah Memilih UmatNya (3)

Nats: Yoh 15:15-16

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Tuhan telah memilih (to elect) dan menetapkan (to predestine) sehingga kita bisa menjadi anakNya itu bukan karena kemampuan atau kekuatan kita tapi semata-mata hanya karena anugerah, pemberian Allah (Ef. 2:8-10). Puji Tuhan, Dia telah memberikan pencerahan sehingga kita dapat mengerti natur, dignity sebagai manusia yang dicipta sesuai dengan gambar dan rupa Allah. Kalau bukan Tuhan yang bekerja, manusia tidak akan dapat mengerti. Karena selama ini hati kita telah mati, dibelenggu dan dirasuk setan, sehingga segala pikiran, keberadaan dan emosi kita dikuasai oleh iblis. Kembalinya manusia pada natur yang sesungguhnya adalah implikasi dari predestinasi.  

Doktrin predestinasi seringkali disalah mengerti (lihat ringkasan khotbah tgl. 23 Feb 2003), yaitu:

(1)    Predestinasi seolah-olah membolehkan kita untuk berbuat dosa dengan seenaknya.

       Karena Tuhan sudah menetapkan maka kita pasti masuk surga, keselamatan kita tidak dapat hilang. Konsep ini muncul karena sifat manusia yang egois, pelampiasan nafsu duniaiwi belaka, dan menunjukkan jiwa manusia yang berdosa.

 

(2) Predestinasi membuat manusia berpikir bahwa Tuhan tidak adil. Tuhan telah pilih saya   kenapa orang lain tidak? Konsep adil hanya sesuai dengan konsep dia sendiri. Orang Kristen kalau mengerti predestinasi hanya dikaitkan dengan keselamatan, jiwa mau mendapat keenakan surga maka itu akan menjadikan orang Kristen menjadi malas, tidak mau mengerjakan tugas sebagai sahabat Tuhan, yaitu supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu tetap (ay. 16b).

 

(3) Manusia berpikir jika kita telah dipilih maka sebagai umat pilihan, kita tidak akan menderita, tidak akan celaka, dan lain-lain. Justru tokoh-tokoh Alkitab membuktikan orang yang setia mengalami penderitaan, seperti Stefanus, Paulus, bahkan Tuhan Yesus, pemilik alam semesta pun menderita.  

Seharusnya kita tidak berhak tahu apa yang menjadi rencana dan kehendak Tuhan karena status kita hanya budak tapi Tuhan telah mengangkat kita menjadi sahabatNya sehingga kita dapat mengerti mengapa dan untuk apa Tuhan memilih aku? Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi menghasilkan buah dan buahmu itu tetap (ay. 16a).  

Manusia sulit mengakui Dia sebagai Tuhan, Lord of lords, Tuan segala tuan. Mengakui Tuhan sebagai Lord berarti:

 

(1) Kita mengakui diri kita adalah hamba dan hal ini sangat bertentangan dengan keinginan manusia yang ingin menjadi Tuan dan berotoritas. Manusia tidak mau mengakui oknum lain sebagai tuan karena itu berarti dia harus tunduk di bawah otoritas orang lain. Adalah suatu anugerah kalau manusia dapat menyadari bahwa dirinya sangat membutuhkan dan bergantung pada Tuhan, Lord of lords.

 

(2) Menunjukkan sifat manusia yang berdosa. Sebenarnya manusia sangat menyadari kalau dirinya berdosa apalagi jika dihubungkan dengan relasinya bersama Tuhan. Tetapi manusia seringkali menutup mata terhadap realita negatif yang ada; tidak peduli dengan keadaan sekitar, acuh tak acuh. Hal ini akan membuat kita terjerumus; kita akan kehilangan kepekaan. Manusia pasti mati, itulah kenyataan menunjukkan dunia berdosa.

 

Manusia lebih suka dibohongi; demi memuaskan egoisme diri, manusia lebih suka dipuji meskipun sifatnya bohong belaka daripada dikritik meskipun itu kebenaran dan bersifat membangun.

Doktrin predestinasi penting, karena Tuhan ingin menyatakan kembali bagaimana seharusnya kita hidup sebagai manusia sejati, yang sesuai dengan gambar dan rupa Allah. Manusia telah kehilangan natur aslinya, tidak sesuai dengan apa yang menjadi rencana dan kehendak Tuhan karena manusia sudah jatuh dan dicengkeram dosa. 

Alkitab ingin mengembalikan kita untuk kembali melihat kepada true reality.  Karena dengan begitu kita dapat kembali pada kondisi proprosional sehingga kita tahu apa yang menjadi kepositifan dan kenegatifan kita lalu bagaimana kita menganulir kenegatifan dan belajar bagaimana kita mengurangi aspek negatif kita dan mengembangkan kepositifan yang ada pada diri kita.  

Predestinasi bukan meniadakan konsep dosa tapi predestinasi justru membuka realita bahwa kita adalah manusia berdosa dan kita tidak punya kekuatan untuk memilih Tuhan. Setiap tindakan Allah pasti punya tujuan, purposefull, berbeda dengan manusia yang seringkali absent minded, tindakan yang dilakukan dibawah kesadaran. 

Kalau bukan Tuhan sendiri yang menyatakan diriNya, manusia tidak mungkin mengerti apa yang menjadi isi hati Tuhan karena sifat manusia sangat terbatas. Untuk mengerti isi hati orang lain saja kita mengalami kesulitan apalagi mau mengerti isi hati Tuhan, pencipta alam semesta. 

Aku tidak menyebut kamu lagi kita hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya (ay. 15a) tapi Tuhan telah mengangkat kita menjadi sahabatNya sehingga kita dapat mengerti segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku (ay. 15b). Hal ini seharusnya membuat kita bersyukur karena di antara berjuta-juta umat siapakah saya sehingga Tuhan telah memilih dan menetapkan kita? 

1. Tuhan mempunyai tujuan atas kita, yaitu supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap (ay. 16b).  

Manusia ketika mau menciptakan sesuatu (misal: pena) pasti punya tujuan dan hasil akhirnya digunakan untuk pencipta. Maka Tuhan mempunyai tujuan ketika mencipta manusia, yaitu to glorify Him and enjoyed Him. Sangatlah disayangkan, manusia yang telah dicipta menurut gambar dan rupa Allah; yang berarti punya potensi turunan, derivative potential, melawan penciptanya. Ironis sekaligus menakutkan!  

Tuhan Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan…tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kej. 2:16-17) 

Tuhan memberikan kepada manusia suatu kehendak bebas dan tidak menjadikan manusia seperti robot. Akan tetapi, manusia dengan akal budi, mind-nya berani melawan Tuhan dan tidak taat perintah.  

2. Tuhan memberikan nilai/makna pada ciptaanNya dan Tuhan menguji hasil kerja ciptaanNya. 

Ketika Tuhan mencipta manusia, Dia ingin kita hidup tidak hanya sekedar menjalankan hidup; karena jika demikian manusia tidak beda dengan binatang; tapi Tuhan ingin hidup kita penuh dengan makna. Siapa yang berhak menentukan makna hidup kita? Manusiakah? Kalau kita menyerahkan nilai hidup kita pada manusia maka celakalah kita. Manusia akan menentukan tujuan dan nilai hidup kita terlalu tinggi atau terlalu rendah. Sebagai contoh, banyak anak-anak usia sekolah mengalami depresi karena orang tua terlalu memaksakan keinginannya hanya demi menjaga harga diri orang tua. Kalau kemampuan kita tinggi tapi kita diberi kapasitas kecil maka kita akan menjadi malas. Harusnya kita menempatkan diri pada posisi yang tepat. 

Seorang manusia sejati jika tidak mempunyai makna hidup maka hidupnya akan menjadi tidak berarti dan sia-sia; lalu apa bedanya manusia dengan binatang? Hidup kita akan menjadi lebih bermakna jika kita tahu apa yang menjadi rencana dan tujuanNya; dan menggenapkan rencanaNya. Siapa yang berhak menentukan nilai/makna hidup kita? Allah atau manusia? 

Kalau diri sendiri yang menetapkan makna hidup lalu diri sendiri yang menjalankannya, apakah itu berarti hidup kita jadi lebih bermakna? Tidak! Karena siapa yang akan memberi penghargaan pada kita? Kita akan merasa puas dan memperoleh penghargaan dengan nilai tertinggi ketika Tuhan berkata: “Baik sekali perbuatanmu itu hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam hal kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” (Mat. 25:21)  

Apakah melakukan pekerjaan baik yang dimaksud dalam Ef. 2:10 hanya dalam hal rohani saja? Tidak! Tapi dalam berbagai bidang dan dalam berbagai profesi, yaitu supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap (ay. 16b). Buah yang bersifat kekal. 

Predestinasi jangan dipakai untuk mempermainkan Tuhan atau untuk memperdebatkan teologi Kristen. Predestinasi justru mengingatkan kita kembali akan apa arti dan makna hidupku. Hidup kita seharusnya menjadi lebih bermakna dibandingkan dengan orang-orang dunia yang tidak mengenal Tuhan. Kalau kita sama dengan orang dunia lalu apa implikasinya terhadap predestinasi, pemilihan Tuhan?  

Mulai sekarang, hendaknya kita mulai menggumulkan apa yang menjadi makna hidup yang telah ditetapkan Tuhan bagiku. Jangan sia-siakan hidupmu karena manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi (Ibr. 9:27).  

Jangan pernah berpikir untuk bereinkarnasi. Moralitas dunia semakin hari semakin merosot sehingga menurut teori reinkarnasi pertumbuhan manusia seharusnya semakin berkurang tapi justru sebaliknya pertumbuhan manusia di dunia semakin bertambah banyak. Atau adakah binatang yang bermoral sehingga dapat dilahirkan kembali menjadi manusia? Siapa yang berhak menilai suatu oknum bisa naik atau turun?  

Berpikirlah seolah-olah hari ini anda hidup untuk yang terakhir kali; seolah-olah tidak ada kereta yang akan lewat esok hari! Ingat, kalau Tuhan sudah memilih (to elect) dan menetapkan (to predestine) kita sehingga kita dapat menjadi sahabatNya berarti ada pekerjaan baik yang telah ditetapkan Tuhan untuk kita kerjakan. Siapakah saya? Mengapa saya? Dan mau kemana saya? Pertanyaan yang harus kita gumulkan sepanjang kita hidup mengikut Tuhan.  Amin.?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)