![]() |
Ringkasan Khotbah : 30 Maret 2003
Nats: Roma 5: 6-8 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Dunia modern sulit menerima realita tentang kematian dan kebangkitan Kristus karena cara Kristus mati dan cara Kristus bangkit dianggap sangat tidak masuk akal dan tidak lazim. Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa… (I Kor. 1:18a). Benarkah berita tentang salib merupakan suatu kebodohan? Siapa sebenarnya yang bodoh? Manusia atau berita tentang salib? Manusia adalah makhluk yang sangat terbatas sehingga ketidakmampuan menangkap suatu esensi bisa membalikkan situasi; hal-hal yang dianggap bodoh justru dianggap sebagai suatu kepandaian dan sebaliknya.
Kematian Kristus merupakan karya Allah yang maha agung dan kematian Kristus ini waktunya telah ditentukan oleh Allah (ay. 6). Kematian Kristus mengandung suatu pengertian yang sangat dalam dan mempunyai nilai, value system yang agung, anggun, dan mahal harganya. Dunia modern tidak mengerti akan value system ini. Lalu bagaimana dengan kita sebagai umat Kristen, sudahkah kita mengerti akan value system seperti yang Kristus ajarkan?
Konsep perbandingan nilai, dinyatakan oleh Paulus di ayat 7, sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang benar-tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati. Apa yang menjadi konsep dasar sehingga membuat orang tidak rela mati untuk satu orang benar dan untuk orang baik orang rela mati? Bagaimana dengan Kristus, termasuk orang benar atau orang baikkah Dia?
Kita rela berkorban harta, waktu bahkan nyawa untuk sesuatu yang kita anggap bernilai tinggi tapi untuk sesuatu yang tidak bernilai, remeh, dan hina pasti kita tidak akan mau berkorban. Manusia adalah makhluk yang terbatas sehingga kemungkinan besar bisa salah dalam memutuskan sesuatu; yang kita anggap bernilai bahkan kita telah berkorban untuk hal itu tapi ternyata dalam kekekalan hal itu tidak bernilai. Bukankah itu berarti kita segala pengorbanan kita menjadi sia-sia ?
Ketika Kristus mati untuk kita, berapa nilainya sehingga value system dari pengorbanan Kristus itu begitu bernilai. Dimanakah letak perbedaan konsep nilai yang Kristus ajarkan dengan konsep nilai yang dunia ajarkan?
Konsep nilai yang diajarkan dunia diantaranya dicetuskan oleh tiga tokoh filsafat, yaitu : (1) G. E. Moore, menekankan segala sesuatu akan bernilai tinggi tergantung dari kualitas empirisnya, berdasarkan pelaksanaan pengalaman (2) Ralph B. Perry, menekankan segala sesuatu akan bernilai tinggi tergantung dari manfaat dan kegunaannya, konsep utilitarian (3) John Dewey, menekankan segala sesuatu akan bernilai tinggi tergantung dari situasi dan kondisi.
Dunia seringkali memakai konsep utilitarian, yaitu segala sesuatu yang berguna untuk diri akan semakin bernilai. Mana lebih mahal satu kg emas atau satu gallon air? Secara sepintas tentu emas lebih mahal dari air, tapi Perry menekankan itu tergantung dari kegunaannya. Kalau anda berada di tengah gurun, mana yang lebih dipilih? Dan mana yang lebih mahal? Tentu air yang lebih berguna yang akan dipilih dan akan menjadi lebih mahal dibanding dengan emas. Air menjadi lebih bernilai daripada emas.
Prinsip ekonomi mengajarkan barang yang semakin dibutuhkan maka harga makin naik. Dunia melihat konsep nilai hanya dari manfaat, tapi justru konsep nilai inilah yang seringkali membuat kita terpeleset kepada kehancuran karena kita tidak mengerti tentang konsep nilai yang sesungguhnya.
Nilai yang berdasarkan asas manfaat, merupakan cetusan dari sifat egoisme, relatifistik dan subyektif manusia. Itulah konsep nilai yang diajarkan dunia. Kita telah kehilangan pengertian konsep nilai yang sesungguhnya. Pada hakekatnya, dilihat dari philosophical understanding maka dunia harus melihat konsep nilai dari dua aspek, yaitu:
(1) aspek luar, nilai ekstrinsik. Sebagai contoh, ketika kita melakukan transaksi jual beli barang atau jasa; ada proses bargain. Barang atau jasa tersebut sangat kita butuhkan, maka kita pasti akan membelinya meski barang atau jasa tersebut mahal harganya.
(2) aspek dalam, nilai instrinsik. Standar nilai terletak pada obyek benda tersebut. Nilai emas tidak akan menjadi turun ketika kita lebih memilih air.
Dunia modern, sedang mempermainkan konsep nilai yang sesungguhnya dengan mengabaikan nilai asli, nilai instrinsik. Manusia telah kehilangan konsep nilai yang sesungguhnya, lost of value. Untuk hal-hal yang agung, kita tidak memberi nilai tinggi justru untuk hal-hal yang hina, kita rela mengorbankan apa saja bahkan diri sendiri pun dikorbankan. Inilah kebodohan yang ditunjukkan manusia dan lebih bodoh lagi manusia tidak menyadarinya.
Di dunia modern sekarang, manusia menilai segala sesuatunya hanya dari materi saja. Seringkali, kebaikan yang kita terima, bukanlah kebaikan murni tetapi pasti ada maksud tertentu di balik itu, ada udang di balik batu. Bahkan mereka berani berbohong demi untuk mendapatkan keuntungan pribadi yang sangat kecil; hal itu sama halnya dengan menjual harga diri kita.
Kenapa untuk orang benar orang tidak mau mati sedangkan untuk orang baik orang mau mati? Karena orang benar, secara instrinsik dia sudah baik dan di dalam dirinya dia sudah benar. Orang benar di tengah orang berdosa dianggap sebagai suatu ancaman yang menakutkan, menyakitkan, mengerikan dan orang benar di tengah dunia selalu mendapatkan tempat yang tidak baik. Untuk orang yang baik, orang lebih rela mati karena biasanya orang baik lebih mudah berelasi dengan siapapun sehingga kita akan mendapatkan manfaat dari orang baik tersebut, dia berguna bagiku.
Kenapa Kristus harus mati? Ayat 8 mengungkapkan Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. Manusia tidak mengerti nilai instrinsik yang sesungguhnya. Kalau Kristus harus mati hanya demi untuk membela kita, maka itu akan menjadikan manusia egois karena manusia sudah berdosa tapi ada Kristus yang mau menebus. Hal inilah yang membuat manusia tidak mengerti akan nilai instrinsik yang sesungguhnya.
Di tengah dunia modern, yang selalu mencari kepentingan, manfaat, dan keinginan bagi nafsu diri, Kristus membukakan kepada kita tentang arti nilai yang sesungguhnya.
1. Pengorbanan Kristus telah ditentukan oleh Allah dan dikerjakan dengan motivasi yang bersih. Pengorbanan Kristus bukan pengorbanan yang gratis atau yang hanya sekedar dijalankan saja. Tidak! Kristus sedang menggenapkan rencana Allah. Pengorbanan Kristus dikerjakan dengan motivasi yang bersih dan tidak ada keuntungan untuk diri sendiri. Inilah nilai tertinggi yang sesungguhnya. Perbuatan baik yang dilakukan di dunia, memegang prinsip nothing for free. Kita sebagai anak Allah biarlah kita mencontoh teladan Kristus, yaitu ketika kita berbuat baik, marilah kita berbuat baik for free with true motivation. Berbuat baik dengan hati dan motivasi yang bersih, dengan seluruh jiwa. Inilah konsep holiness, kesucian sejati yang diajarkan oleh Kristus sendiri.
2. Pengorbanan Kristus mempunyai nilai tertinggi, nilai yang agung. Allah pemilik alam semesta datang ke dunia bukan untuk mengerjakan sesuatu yang hina dan rendah. Banyak orang tidak mengerti ketika Tuhan Yesus mengusir setan dan memindahkannya ke sejumlah besar babi demi untuk menyelamatkan satu jiwa. Tuhan Yesus mempunyai konsep yang berbeda dengan dunia. Tuhan Yesus menderita dan rela mati demi untuk menebus jiwa manusia karena satu jiwa lebih bernilai dibanding dengan sejumlah besar babi. Dunia selalu mempunyai konsep yang berlawanan dengan Alkitab, khususnya tentang value system. Demi materi, orang dunia rela korbankan hidup tapi Tuhan justru mengajarkan sebaliknya, hidup lebih penting daripada materi. Ingat, kita lahir tidak membawa apapun, kita mati juga tidak akan membawa apapun. Janganlah kita memanipulasi manusia demi untuk kepentingan diri sendiri. Biarlah kita belajar lebih mengasihi dan menghargai sesama manusia lebih dari mengasihi materi dan biarlah kita juga menjadikan diri kita layak untuk dikasihi. Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa (ay. 8b), karena Dia tahu bahwa hidup kita lebih bernilai dibanding apapun di dunia.
3. Pengorbanan Kristus dikerjakan dengan cinta kasih yang sejati. Cinta sejati tidak bersifat menuntut dan mengharapkan imbalan. Ingat, jangan serahkan dirimu pada sembarang orang karena suatu saat nanti kita akan dimakan; kita hanya akan menjadi obyek manipulasi belaka. Hanya kepada orang yang mengasihi kita dengan cinta sejati kita berhak mempertaruhkan dan mempercayakan hidup kita. Lalu dilain pihak, seberapa jauhkah kita mencintai orang lain sehingga kita layak untuk dipercayai oleh orang lain? Kalau kita tidak dapat mengasihi dengan sungguh-sungguh, bolehkah kita menuntut orang lain untuk mengasihi kita? Kasih yang sejati tidak akan membalas ataupun mendendam meskipun kita disakiti. Biarlah kita mencontoh teladan Kristus dan menjadi terang di dunia yang kacau ini. Kristus mengasihi manusia berdosa; dan kasih itu dinyatakan dengan sacrifice. Manusia seringkali menyakiti hati Tuhan tapi Tuhan tetap mengasihi dan Dia akan menerima kita kembali bila kita bertobat. Pengorbanan Kristus menggambarkan kasih sejati.
Dunia modern pun mengakui, hukum dan standar etika tertinggi, golden rule adalah hukum kasih yang Kristus ajarkan. Cinta kasih yang sejati memiliki nilai instrinsik dan menjadi esensi tertinggi. Biarlah kasih sejati ini kita terapkan mulai dari kehidupan yang mendasar, yaitu kehidupan suami istri dan kasih sejati dijalankan dalam gereja Tuhan; menjadi konsep dari keutuhan dan kekuatan gereja dan hal ini boleh menjadi berkat bagi dunia dan nama Tuhan semakin dipermuliakan.
Kristus sudah mati untuk kita ketika kita masih berdosa, biarlah hal ini semakin mendorong kita untuk mengasih sesama dengan kasih sejati, rela berkorban demi sesama dan menjadikan diri kita layak untuk dikasihi orang lain. Dengan demikian kita menjadi berkat dan nama Tuhan semakin dimuliakan. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)