![]() |
Ringkasan Khotbah : 23 Maret 2003
Nats: Bil. 13-14 Pengkhotbah : Ev. Solomon Yo |
Pendahuluan
Kitab Bilangan menunjukkan kepada kita betapa tragisnya kehidupan generasi umat Israel yang keluar dari Mesir itu. Di bawah pimpinan Musa, mereka telah menyaksikan betapa luar biasanya kuasa Tuhan yang membawa mereka keluar dari perbudakan Mesir, dan pemeliharaan-Nya yang ajaib: manna, oasis di tengah gurun, tiang awan dan tiang api, dan janji untuk memimpin mereka masuk ke tanah Kanaan. Tetapi oleh dosa mereka, mereka tidak diizinkan masuk ke Kanaan; mereka harus mati di padang gurun, mereka menjadi lost generation. Ada banyak pelajaran berharga dari bagian ini bagi kita:
I. Manusia adalah makhluk moral-religius yang selalu membuat keputusan etis-religius.
Sebagai ciptaan dalam gambar Allah, manusia adalah makhluk moral-religius yang setiap keputusan dan tindakannya sarat dengan nilai moral dan agama. Berdasarkan apa yang ia perbuat, ia akan dinilai sebagai orang yang baik dan mulia atau jahat dan hina. Keputusan hidup inilah yang menghasilkan tokoh-tokoh agung seperti Ibu Teresa dan Hudson Taylor atau monster jahat seperti Hitler yang menjadi kengerian bagi umat manusia. Bagaimana kita menjalankan hidup kita, inilah hal yang membedakan kita dari binatang.
Umat Israel yang keluar dari Mesir ini memiliki begitu banyak karunia rohani yang tidak dimiliki orang lain (mengalami langsung mujizat dan pemeliharaan Tuhan yang berkelanjutan, menerima hukum Taurat, dsb), tetapi semua itu ternyata tidak menjamin mereka diberkati dan berbahagia; karena meresponsnya secara salah: bersikap jahat dan tidak pantas, maka mereka harus dijatuhi hukuman. Orang yang dilahirkan dengan segala keberuntungan (latar belakang keluarga, keleluasan, dan kesempatan) tidak memiliki jaminan akan lebih bahagia dan mulia dibandingkan mereka yang kurang beruntung (miskin, orangtua yang buruk, banyak hambatan, dsb). Bagaimana mereka menyikapi hidup mereka, itulah yang menentukan kualitas hidup mereka, menjadi orang yang mulia dan berbahagia atau orang yang jahat dan hina.
Sikap tidak beriman sepuluh pengintai itu telah menyebabkan seluruh umat memberontak kepada Allah; hidup mereka telah menjadi laknat. Inilah kehidupan yang patut disesali dan dihindari. Kita tidak mau hidup seperti ini, bukan? Seluruh umat yang memberontak kepada Allah itu bukan korban pasif dari sepuluh pengintai. Karena mereka sendiri memiliki sikap hati yang jahat. Lihat respons mereka yang begitu tidak masuk akal dalam Bilangan 14:1-4, mereka tidak percaya Tuhan akan membawa mereka mewarisi tanah perjanjian; mereka menuduh Tuhan akan membinasakan mereka semua; mereka memilih untuk kembali ke dalam kekafiran di Mesir, mengabaikan penyataan Tuhan dan perjanjian dengan-Nya. Walaupun telah menerima segala berkat rohani yang begitu luar biasa, mereka telah menghukum diri mereka dengan respons yang jahat. mereka menjadi generasi yang jahat dan tidak diperkenan oleh Tuhan.
Ingatlah selalu: kita adalah makhluk moral-religius. Setiap sikap dan keputusan kita adalah tindakan etis-religius yang akan menentukan nasib kita selama-lamanya. Bagaimana kita bersikap saat dalam kesulitan, ketika menghadapi pencobaan, bagaimana kita menjalani hidup kita, bagaimana kita memperlakukan orang lain, dan sebagainya, semua ini akan menentukan siapa kita dan bagaimana nasib kekal kita. Pertanyaannya: bisakah kita hidup benar dan kudus di tengah dunia yang telah menjadi seperti kota Sodom dan Gomora ini?
II. Sikap dan perbuatan kita sangat menentukan masa depan kita dan menjadi dasar kita untuk dihakimi.
Akibat pemberontakan mereka, umat Israel itu dimurkai Allah. Walaupun diampuni setelah doa syafaat Musa, namun mereka tidak lagi diizinkan masuk ke Kanaan. Selama empat puluh tahun mereka akan mengembara di padang gurun sampai seluruh generasi pemberontak itu mati; seluruh anggota keluarga mereka juga ikut merasakan akibat penghukuman itu; hanya anak-anak mereka yang mereka katakan akan menjadi tawanan itulah yang masuk dan mewarisi tanah Kanaan.
Setiap dosa pasti mendatangkan penghukuman. Dosa merupakan (1) permusuhan dan pemberontakan terhadap Allah; dan (2) bersifat merusak diri. Ketika penghukuman Allah dijatuhkan itu adalah ungkapan (1) kasih Allah; dan (2) tidak berkenannya Allah. Dosa bagaikan pembusukan organ tubuh kita akibat suatu kesalahan, dan jika dibiarkan, proses pembusukan itu akan menyebabkan kebinasaan total diri kita. Penghukuman Tuhan terhadap dosa adalah tindakan kasih-Nya untuk memotong dan menghentikan jalur pembusukan itu, sehingga tidak semakin merusak kita; tujuannya adalah untuk menyelamatkan; tetapi jika proses itu ditolak, maka kebinasaan total itu pun terjadi.
Apa pelajaran bagi kita? Allah mempunyai tujuan yang mulia dalam hidup kita, dan Ia ingin memimpin kita masuk dalam rencana-Nya. Sepanjang perjalanan itu, kita juga akan menghadapi berbagai kesulitan dan hambatan. Jika kita merespons secara salah, seperti orang Israel itu, hidup kita juga akan hanyut dalam kegagalan dan kesia-siaan. Sangat disayangkan, sebagian besar orang kristen menyikapi hidup mereka secara salah; dalam kesulitan, mereka menjadi kecewa kepada Tuhan, bersikap dingin kepada-Nya, bersungut-sungut, atau mogok rohani (tidak baca Alkitab, tidak berdoa, meninggalkan ibadah bersama di gereja). Sebagian terhilang, sebagian walaupun akhirnya kembali ke gereja, tetapi telah kehilangan vitalitas hidup Kristen mereka. Walaupun menerima berkat dari Allah, tetapi tidak diperkenan oleh Allah, hidup mereka mengecewakan dan tanpa makna.
Hati-hatilah dengan setiap perbuatan, sikap dan perkataan kita; semua itu akan menjadi dasar kita dihakimi. Setiap perbuatan bodoh kita hanya akan mendatangkan bencana atas diri kita. Inilah susahnya menjadi manusia: kita tidak boleh bersikap dan bertindak sembarangan, karena semua itu akan dihakimi oleh Tuhan. Dengan kesadaran ini, biarlah kita hidup dalam sikap yang takut dan gentar terhadap Tuhan (FLp. 2:12).
Bukan tantangan dari luar yang akan menghancurkan hidup kita, Tuhan pasti akan menolong kita mengatasi semua kesulitan itu. Justru tantangan dari dalam, yaitu sifat dosa dan kebebalan dalam diri kita itulah yang membuat kita sulit untuk hidup kudus, dan diperkenan oleh Tuhan. Itulah sebabnya kita perlu bergantung sepenuhnya pada anugerah dan pimpinan Tuhan dalam menjalankan kehidupan kita ini sehingga dapat masuk dalam rencana-Nya.
III. Kehidupan yang kita jalani dan keputusan yang kita buat dan tindakan yang kita lakukan itu sangat dipengaruhi oleh kualitas kerohanian kita.
Generasi Israel ini melakukan kesalahan fatal akibat kegagalan rohani mereka. Hati mereka bebal dan jahat, sehingga semua penyataan mengenai karakter dan rencana Allah yang baik bagi mereka tidak membuat mereka mempercayakan seluruh hidup dan masa depan mereka dalam tangan-Nya. Akibatnya mereka bertindak bodoh, bersungut-sungut dan memberontak kepada Tuhan, untuk mendatangkan penghukuman atas diri mereka.
Kerohanian adalah hal yang sangat penting. Kegagalan rohani hampir dapat dipastikan akan mengakibatkan kegagalan untuk hidup secara benar di hadapan Allah dan manusia. Kita semua tahu pentingnya kerohanian, sehingga ketika memilih anggota pengurus, dan teman hidup, kita sangat memperhatikan kualitas kerohaniannya. Kita tahu dalam diri orang yang tidak baik rohaninya terdapat self-defeating principle, yaitu kecenderungan dari dalam dirinya untuk melakukan hal buruk yang mencelakakan dirinya sendiri, dan orang-orang di sekitarnya.
Lalu apa yang dimaksud dengan kerohanian ini? Ini bukan sekadar rajin ke gereja, aktif dalam pelayanan, memberi persembahan, rajin mengikuti kebangkitan kebangunan rohani. Semua ini tidak menjamin kerohanian seseorang menjadi baik. Setiap hari bangsa Israel menikmati KKR, setiap hari mereka melihat mujizat Tuhan; mereka menerima Hukum Taurat dalam suatu pengalaman yang luar biasa; mereka merasakan kehadiran Tuhan, mereka disertai tiang awan dan tiang api; diberikan manna dari langit dan air dari batu, tetapi semua itu tidak membuat mereka menjadi rohani; sebaliknya justru berdosa kepada Tuhan.
Kerohanian sejati hanya diperoleh orang yang sungguh-sungguh mengalami kuasa Injil yang memperbarui atau apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus sebagai pengalaman dilahirkan kembali. Tanpa pengalaman ini, tidak akan ada kerohanian sejati, karena seluruh sistem nilai, makna dan tujuan hidup kita masih dalam kerusakan. Banyak orang Kristen yang aktif dalam kegiatan rohani, tetapi belum mengalami pembaruan rohani yang mendasar ini, sehingga mereka belum menjadi manusia baru yang memiliki makna, nilai, dan tujuan hidup yang baru di dalam Tuhan. Tidak heran kehidupan mereka tidak ada kuasa rohani. Hanya seorang yang memiliki kerohanian sejati saja yang mampu untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah. Tanpa kuasa rohani, meski seseorang sudah sadar bahwa hanya hidup yang benar akan memberi kebahagiaan, tetapi ia tidak mampu untuk mewujudkan hidup yang benar dan mulia itu. Hanya Tuhan Yesus yang mampu memberikan kuasa rohani yang memperbaharui tersebut.
Salah satu tanda kerohanian sejati ialah memiliki karakter yang baik atau buah Roh Kudus. Orang bisa tampak sangat rohani (karena giat melakukan aktivitas rohani atau memiliki prilaku lahiriah yang baik), tetapi jika tanpa karakter yang baik, itu hanyalah kerohanian yang palsu. Sebaliknya, seorang yang memiliki karakter yang baik jika tanpa kerohanian sejati; ia hanya akan menjadi seorang humanis yang mengerikan. Jadi, memiliki kerohanian sejati dan karakter yang baik adalah dua hal yang tidak boleh dipisahkan.
Kerohanian dan karakter yang sejati itu bertumbuh melalui suatu disiplin rohani yang tekun. Ketika suatu dosa yang fatal dan menghancurkan dilakukan, kerusakannya itu bukan baru terjadi saat itu. Ia telah berdosa dan rusak, melalui suatu proses yang lama, ketika ia selalu mengabaikan pengajaran firman, mendengarkan firman dan tidak melakukannya dalam hidupnya, ketika terus menerus menolak untuk diperbaharui. Tetapi baru pada suatu kejadian tertentu kerusakannya itu menjadi nyata di mata dunia. Ketika Tuhan memberi penghukuman yang drastis kepada umat Israel, mereka telah demikian rusak.dan jahat, karena kesempatan demi kesempatan untuk bertobat telah mereka abaikan. Disiplin rohani yang kita lakukan dalam keheningan: saat kita mempelajari Alkitab, berdoa, berpuasa, kemajuan rohani yang kita capai dengan tertatih-tatih dan pelan itu, kemenangan kecil atas pencobaan, semua itulah yang akan menjadi penentu kemenangan rohani kita.
Kerohanian sejati melalui suatu proses disiplin rohani yang stabil, dan bukannya pengalaman yang mengebu-gebu seperti inilah yang dipercayai oleh John Calvin. Dia dikatakan telah mencapai kemenangan publik yang luar biasa (ia telah memberi pengaruh terbesar terhadap peradaban Barat (dan dunia), dalam bidang politik, ekonomi, hukum, pendidikan, dsb.) karena ia terlebih dahulu mencapai kemenangan pribadi; ia telah belajar untuk memerintah dirinya sendiri, sebelumnya ia dapat menjadi orang yang berguna bagi dunia.
IV. Keputusan untuk hidup dalam ketaatan dan kebenaran akan menghadapi banyak tantangan, tetapi itulah jalan menuju kemuliaan.
Melihat tantangan yang sama, musuh yang sama, tetapi Yosua dan Kaleb merespons secara berbeda, karena mereka memiliki jiwa yang berbeda dari sepuluh pengintai itu:
1. Mereka peka terhadap penyataan Allah dan berpegang pada janji Tuhan. Mereka melihat kuasa Allah yang ajaib; iman mereka ditegakkan, dan sejak itu, mereka tidak dapat digentarkan oleh apapun, karena bersandar pada Tuhan. Ada orang ketika dalam kesulitan ditolong oleh Tuhan, tetapi begitu kesulitan berlalu, mereka mulai melupakan Tuhan; itu adalah kebodohan orang yang akan dibinasakan. Biarlah kita melatih kepekaan rohani kita
2. Mereka hidup dalam penyataan Allah; mereka hidup sebagai manusia yang sadar untuk hidup di dalam jalan Tuhan. Mereka tidak membiarkan diri mereka menjadi bebal. Mereka memegang erat-erat janji Tuhan, bersandar pada kasih dan kuasa Tuhan. Itulah yang menguatkan mereka untuk hidup dengan berkemenangan.
3. Mereka adalah orang yang takut akan Tuhan. Mereka tidak berani memberontak kepada Tuhan, mereka tahu apa akibatnya jika Tuhan murka kepada mereka. Mereka telah bertekad untuk taat kepada Tuhan dalam keadaan apa pun juga, karena tahu bahwa kesulitan apa pun yang mereka hadapi itu akan bisa diatasi jika Tuhan menyertai.
4. Mereka mendapatkan kekuatan dalam Tuhan untuk berpegang pada kebenaran. Dua orang dikelilingi oleh ratusan ribu orang yang siap merajam mereka, akan menjadi keadaan yang membuat orang untuk berkompromi, tetapi kedua orang ini memiliki keberanian untuk menegaskan kebenaran, karena bersama Tuhan, mereka berani untuk menjadi minoritas, dihimpit, diancam. Dan sejarah membuktikan merekalah yang benar dan menang.
Dalam kehidupan kita ada apa yang saya sebut “moment of significant,” yaitu momen-momen yang menentukan dalam hidup kita; di mana jika kita membuat keputusan dan melakukan tindakan yang salah maka hancurlah seluruh hidup kita, tapi jika kita bertindak benar, maka kita akan dibawa ke dalam kemuliaan. Ketika orang lain menuju kepada kehancuran dan penghukuman, biarlah kita tetap berpegang kuat pada Tuhan, takut pada Tuhan, karena memiliki jiwa yang lain seperti yang dimiliki oleh Kaleb dan Yosua. Amin.?
(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)