Ringkasan Khotbah : 16 Maret 2003

Kasih yang Dipulihkan

Nats: Yoh. 21:1-3; 10-19

Pengkhotbah : Pdt. Budy Setiawan

 

"Tuhan berbisik kepada kita ketika kita sedang sukses, Tuhan berkata-kata pada kita ketika hidup kita biasa saja tetapi Tuhan berteriak di telinga kita ketika kita sedang mengalami penderitaan dan kesulitan”

Melalui Rasul Petrus kita dapat melihat bagaimana cara Tuhan membentuk pola pikirnya, hatinya dan seluruh sikapnya dalam melayani Tuhan, bagaimana dan apa arti yang sesungguhnya dalam mengikut Tuhan, bagaimana seharusnya melayani dan menyenangkan hati Tuhan.  

Injil Yohanes 21 memberitahukan bagaimana cara Tuhan memulihkan Petrus yang kecewa terhadap Yesus, memulihkan hidupnya yang kacau. Petrus kembali pada kehidupannya yang lama, yaitu menjadi seorang penjala ikan. Ketika Tuhan memanggil Petrus untuk menjadi muridNya, Petrus telah mengambil suatu keputusan yang besar. Petrus telah meninggalkan keluarga dan pekerjaannya demi untuk mengikut Tuhan. Lalu sekarang mengapa Petrus kembali kepada kehidupannya yang lama?

Ada 2 hal yang mengguncangkan iman Petrus, yaitu: 

1. Pengakuan Petrus yang dicatat dalam Mat. 16:13-28 dimana Tuhan Yesus bertanya kepada murid-muridnya, ”Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Dan Petrus dengan penuh percaya diri menjawab, ”Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Tuhan memuji Petrus dan bahkan mengatakan, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaatKu...(ay.18). Tapi sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-muridNya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga (ay.21). Hal tersebut sangat mengguncangkan hati Petrus karena ketika Petrus bermaksud hendak melindungi Yesus (ay.22), Yesus justru menegur dengan keras, ”Enyahlah Iblis…sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” 

Belum lama Petrus dipuji oleh karena pengakuannya yang menyatakan Kristus adalah Mesias tapi beberapa saat kemudian Tuhan menegur Petrus dengan keras bahkan mengatai Petrus dengan “iblis”.  

Bagi Petrus dan orang Yahudi khususnya, Mesias harus datang dengan kekuatan militer, kekuatan politik yang dapat membebaskan mereka dari penjajahan romawi bukan Mesias yang mati disalib. Mereka tidak menyadari satu hal, yaitu kebebasan yang Kristus tawarkan berbeda dengan yang dunia tawarkan. Kebebasan itu justru harus melewati salib yang dianggap sebagai suatu kebodohan oleh banyak orang. 

Sebab pemberitaan tentang Salib adalah kebodohan… dan …untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan (I Kor. 1:18,23). Sehingga mereka berpikir, bagaimana mungkin Yesus adalah seorang Mesias, seorang yang diutus Tuhan untuk membebaskan mereka dari perbudakan? Keselamatan melalui kekalahan, maka betapa bodohnya kalau orang mempercayai hal itu. Maka tidaklah heran jika banyak orang yang mengolok-olok Tuhan Yesus ketika Tuhan Yesus berada di atas kayu salib. “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diriNya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! (Mat. 27:42).  

Kematian Kristus bagi banyak orang mungkin adalah kematian yang sangat hina karena Kristus mati dengan cara disalib dimana salib pada jaman itu sebagai lambang kutukan. Jadi, bagaimana mungkin Mesias yang diakui Petrus mati dengan cara demikian? Hal inilah yang sangat mengoncangkan iman Petrus. 

2. Ketika Yesus dan murid-muridNya berada di Bukit Zaitun (Mat. 26:30-35). Maka berkatalah Yesus kepada mereka: ”Malam ini kamu semua akan terguncang imanmu…dan kawanan domba itu akan tercerai berai.” Petrus menjawabNya: ”Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.”  Yesus berkata kepadanya:”…sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.”  

Sesungguhnya Petrus tidak hanya sekedar berbicara karena hal ini dibuktikan dengan perbuatannya, yaitu ketika Yesus di tangkap untuk diadili, Petrus bermaksud membela guruNya dengan memotong telinga salah seorang tentara Romawi. Petrus berani mengambil resiko karena dia tidak hanya berhadapan dengan satu tentara melainkan seluruh tentara kerajaan Romawi. Perbuatan Petrus tersebut tidak dipuji oleh guruNya tetapi justru Yesus menghardiknya dengan keras, ”Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya…atau kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada BapaKu, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku?” (ay. 52-53). 

Kedua hal inilah yang membuat Petrus kecewa dan akhirnya dia menyangkali Yesus. 

 Injil Yohanes memberitahukan kita, bagaimana cara Tuhan membentuk Petrus. Petrus lelah secara rohani dan fisik; dia dan murid-murid yang lain kemudian pergi menangkap ikan. Puji Tuhan, setelah semalam-malaman mereka tidak menangkap seekor ikan pun.  

Penderitaan  dan kesulitan yang kita alami seharusnya justru membuat kita makin dekat Tuhan dan bergantung pada Tuhan. Tuhan berbisik kepada kita ketika hidup kita sedang sukses, Tuhan berkata-kata pada kita ketika hidup kita biasa saja tetapi Tuhan berteriak di telinga kita ketika kita sedang mengalami penderitaan dan kesulitan. Penderitaan dan kesulitan yang kita alami itu adalah sarana bagi Tuhan untuk membuat hidup kita makin dekat dengan Tuhan. 

Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti (Yoh. 21:9).  Tuhan telah menyiapkan makan pagi untuk mereka. Tuhan tidak berhenti sampai di situ, Dia masuk pada esensi, ”Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?”(ay. 15). Tuhan datang ke dalam dunia tidak hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan kita, membuat hidup kita lebih enak di dunia. Tidak! Tuhan datang untuk membentuk hidup kita supaya menjadi lebih sempurna, Tuhan membentuk hati. Ketika Tuhan membentuk kita, kita akan mengalami banyak kesulitan dan pergumulan tapi justru di situlah panggilan umat Kristen; Tuhan ingin membentuk kita makin indah; dari satu kemuliaan ke kemuliaan yang lebih besar.  

Josh MacDowell mengilustrasikan hal ini dengan sebuah rumah yang rusak, atap yang bocor, pintu dan jendela yang rusak. Tuhan datang memperbaiki yang rusak tersebut. Kita pasti akan merasa senang, bukan? Tetapi, tidak hanya bagian luar saja, Tuhan mulai masuk pada bagian  dalam. Membongkar seluruh ruangan yang tersembunyi, kita mulai terusik karena kita sudah cukup puas dengan rumah mungil tapi Tuhan sedang mengerjakan istana dalam hidup kita.  

Tuhan Yesus membentuk kita sampai tuntas sehingga menjadi sempurna sama seperti Bapa di surga. Itulah panggilan umat Kristen yang sesungguhnya. Tuhan membentuk kita melalui semua peristiwa yang terjadi dalam hidup kita, baik suka maupun duka. Kesulitan yang kita hadapi justru semakin  membukakan hati kita di hadapan Tuhan, makin mengerti apa yang menjadi rencanaNya dalam hidup kita dan membuat kita makin bertumbuh dalam kebenaran dan pengenalan kita terhadap Tuhan. 

Ralph dan Alice tahu dengan jelas apa yang menjadi rencana Tuhan melalui penderitaan yang Tuhan ijinkan untuk mereka alami. Di tengah-tengah penderitaan yang mereka alami, mereka tidak mengeluh sedikitpun atau membuat mereka jauh dari Tuhan tapi mereka justru melihat Kuasa Tuhan yang besar dan ada pengharapan di dalam Kristus. Hal itu menjadi berkat yang luar biasa bagi banyak orang hingga saat ini lewat Love Never Fails (VCD).  

Tuhan Yesus bertanya sebanyak tiga kali pada Petrus seperti halnya Petrus yang telah menyangkal sebanyak tiga kali pula. Tuhan bermaksud memulihkan Petrus, yaitu:

Pertama, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?”(ay. 15). Pertanyaan tersebut langsung tertuju pada apa yang menjadi prioritas hidup Petrus,  what’s most priority in his life? Hal ini dimaksudkan agar supaya Petrus sadar apa yang terpenting dalam hidupnya. Bukan masalah pekerjaan, lingkungan atau harta kita yang tidak baik, yang membuat kita berdosa. Tidak! Itu semua hal yang baik tapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah dari semua yang kita miliki apa yang menjadi prioritas dalam hidup kita?  

Kedua, ”Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” (ay.16). Berbeda dengan yang pertama, pada pertanyaan yang kedua ini, Tuhan Yesus sudah menghilangkan perbandingan. Tuhan Yesus lebih fokus, yaitu apakah Petrus mengasihi Yesus sebagaimana adanya Yesus? Mengasihi bukan menurut konsep Petrus sendiri. Apakah Petrus mengasihi Yesus sebagai Mesias yang harus mati di atas kayu salib? Tuhan Yesus membongkar pola pikir Petrus sampai ke akar-akarnya. 

Ketiga, ”Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” (ay. 17). Petrus seakan-akan telanjang di hadapan Tuhan; Dia tahu apa yang ada dalam pikiran dan hati Petrus. Dan Petrus dengan konsisten menjawab, ”Tuhan, engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” (ay. 17b) Maka sedih hati Petrus karena Tuhan  bertanya untuk ketiga kalinya. Petrus telah menyangkal dan Petrus menyesali akan hal tersebut. Petrus berani dengan jujur mengakuinya dan dia telah memperbaharui komitmennya dengan pernyataan yang menyatakan bahwa dia sungguh mengasihi Tuhan. 

Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing (I Kor 13:1). Apakah kita mengasihi Tuhan lebih dari segala hal? 

Tuhan sedang membentuk hidup Petrus yang paling mendasar. Biarlah hal ini juga menyadarkan kepada setiap kita kalau Tuhan telah terlebih dahulu mengasihi kita dengan mengorbankan nyawaNya untuk kita, hal itu membuktikan anugerah dan kasih Tuhan yang besar pada kita, manusia berdosa. Tuhan sudah membayar lebih dahulu dengan harga yang mahal dan Tuhan ingin kita bekerja, melayani, dan memberikan seluruh hidup bagi Tuhan.  

Kalau kita sekarang telah diselamatkan, ingat, ada sebuah nyawa yang harus dikorbankan untuk itu. Seperti halnya pengalaman yang dialami oleh The Old Edy, seorang veteran perang vietnam. Ia mempunyai suatu kebiasaan yang aneh, setiap Jumat sore dia selalu pergi ke tengah laut dan melemparkan seember udang kepada burung sea gull sambil mengucapkan terima kasih. Ternyata kebiasaan aneh ini dilatarbelakangi ketika ia bersama dengan beberapa temannya menjalankan misi perang ke Vietnam, pesawat yang ditumpanginya terjatuh di tengah lautan. Ia bersama teman-temannya terapung-apung selama berhari-hari, tidak ada makanan sedikitpun dan hanya minum dari air hujan. Hingga suatu ketika, selesai mengadakan persekutuan doa, tiba-tiba ada seekor burung sea gull hinggap di kepalanya. Dengan burung itu mereka dapat memakainya sebagai umpan untuk memancing ikan, ikan yang didapat di pakai lagi untuk memancing lagi. Sampai akhirnya datang pertolongan dan mereka diselamatkan.  

Sudahkah kita menyadari, kalau Tuhan sudah mati bagi kita; Dia menebus kita dengan darahNya di atas kayu salib; hendaklah hal itu menjadi pondasi dasar sehingga kita dapat menjalani hidup dengan selalu bersyukur pada Tuhan, kita dapat menjalani hidup dengan mengasihi Tuhan, dan hidup yang memuliakan Tuhan, dimana seluruh hidup kita hanya untuk menggenapkan rencanaNya dan pekerjaan Tuhan di muka bumi ini. Amin. ?

 (Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)