Ringkasan Khotbah : 09 Maret 2003

Dinamika Iman Daud : Pengenalan Via Pengampunan

Nats: Mazmur 32

Pengkhotbah : Ev. Thomy J. Matakupan

 

Dosaku kuberitahukan kepadaMu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan, aku berkata, “Aku akan mengaku kepada Tuhan pelanggaran-pelanggaranku, dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku.” 

Mazmur ini merupakan nyanyian pengajaran yang berisi semacam petunjuk kepada orang percaya agar mereka tidak terjatuh kepada kebodohan yang sama; bagaimana keadaan hidup jika menyimpan dosa di dalam diri dan bagaimana keadaan hidup jika datang kepada Tuhan dan mendapatkan pengampunanNya. 

Daud seakan ingin memberitahukan kepada kita pengenalan dia akan Tuhan justru melalui peristiwa pelanggaran yang dia lakukan. Berkali-kali ia mencoba menutupi pelanggarannya dengan berbagai upaya sampai nabi Natan datang kepadanya dan menghardiknya dengan keras, baru ia menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan yang besar terhadap Tuhan.  

Mazmur ini ditulis Daud setelah ia mendapatkan pengalaman pengampunan dari Tuhan sehingga ia dapat membedakan bagaimana keadaan hidup sebelum dan sesudah ia mengaku dosanya.  

Sebelum ia mengaku, ia merasa tangan Tuhan menekan siang dan malam pada sikap keras kepala dan sikap tidak mau tunduk. Tidak mengherankan jika ia terus menerus mengeluh sepanjang harinya. Setelah ia mengaku akan dosa-dosanya, ia menemukan ada sukacita penerimaan pengampunan dari Tuhan yang tidak terkatakan. Semua pengalaman ini membawanya melihat dan mengenal Allah di dalam kemurahan hati Allah ( berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi, Maz. 32:1), kebaikan Allah ( … yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan, ay.2 ), Allah yang tidak berkompromi (siang malam tanganMu menekan aku dengan berat, ay.4a), kesabaran Allah (selagi Engkau dapat ditemui, ay. 6), dan sebagainya. 

Bagian Alkitab ini memberitahukan kepada kita tentang pengalaman pengenalan kepada Tuhan melalui pengalaman kejatuhan ke dalam dosa. Ini adalah ide yang sulit diterima namun tidak berarti salah. Jika demikian, apakah berarti membuka peluang orang berbuat dan menyimpan dosa? Karena dalam keadaan seperti ini ia dapat mengenal Tuhan juga? Di sini kita perlu berhenti sejenak dan mencoba memikirkan secara prinsip Alkitab. Mari kita melihat beberapa contoh lain yang akan memberikan penjelasan yang lebih tuntas. 

Jika kita membagi umat tebusan menjadi dua bagian, ide ini akan menjadi lebih jelas.

(1)  Mereka yang mempunyai pengalaman diampuni dosanya setelah melakukan pelanggaran yang sangat besar.

(2)  Mereka yang diampuni dosanya meski tidak melakukan pelanggaran. 

Untuk contoh pertama, misalnya Petrus. Alkitab mengatakan ia melakukan dosa yang besar sekali. Ia menyangkal Kristus sebanyak tiga kali dan bahkan bersumpah tidak mengenalnya. Betapa kemudian ia mengalami kehidupan yang sulit sekali seakan tidak dapat memaafkan diri sendiri. Ia mau menebus kesalahan itu seakan sudah tidak ada kesempatan lagi. Tuhan yang ia khianati sudah mati, sudah dikubur dan tertutuplah semua kemungkinan untuk datang padaNya dan mengharap belas kasih serta pengampunan dariNya. Tidak ada harapan dan yang ada - pikirnya - tinggallah lembaran hitam di dalam hidupnya. Ia telah mengkhianati Yesus yang dikasihiNya. Ia telah menyangkalnya dengan begitu saja. Seandainya waktu dapat terulang, maka ia berharap ia tidak akan melakukan kebodohan yang sama. Namun semua sudah terlambat.  

Semua sudah selesai. Keramaian orang yang mengolok-olok berjalan membawa Yesus menuju salib telah bubar. Suasana sudah mulai berangsur kembali kepada kehidupan normal.  Kemarahan para ahli Taurat seakan mulai berangsur turun oleh karena orang yang menjadi terget operasi telah dihukum mati. Mungkin sekali Petrus hanya tinggal pasrah dan menunggu hukuman Allah. Ia hanya bisa menunggu dan berharap ada kesempatan kedua. Ia hanya dapat berharap.  

Alkitab kemudian memberitahu kepada kita bagaimana Yesus setelah kebangkitan datang kepada Petrus, berbicara secara khusus padanya. Dari setiap pertanyaan yang diajukan Yesus padanya seakan membongkar semua isi dari hatinya, membongkar semua manipulasi cintanya pada Yesus. Petrus pada akhirnya mengatakan, “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Petrus  mau memberitahu Yesus bahwa ia hanya dapat mengasihi Tuhan dengan taraf kasih yang sangat terbatas. “Kalau Tuhan mau menghukum aku karena aku tidak dapat mengasihi Tuhan seperti yang Tuhan mau …kalau Tuhan mau menghukum aku karena kesalahan yang aku lakukan … silahkan Tuhan!” Petrus sangat ketakutan sekali karena ia tahu, ia sedang berhadapan dengan siapa.  

Jawaban Tuhan sungguh di luar dugaannya. Tuhan bukan saja mengampuni dia, bahkan Ia mengatakan, “Ikutlah Aku.”  Apakah ia tidak salah mendengar? Apakah ia tidak salah mengira? Sama sekali tidak! Petrus mendapatkan pengalaman pengampunan yang sangat dramatis sekali. Ya ia di ampuni … dosa-dosanya tidak diingat Tuhan lagi. Tidak mengherankan jika ia kemudian menjadi murid yang sangat giat sekali bagi Tuhan. 

Bagaimana dengan contoh kedua? Mungkin Yohanes adalah orang yang cocok. Ia tidak seradikal Petrus. Ia tidak menyangkal Tuhan. Ia bahkan orang yang sampai pada waktu akhir Yesus di atas kayu salib. Ia disebut sebagai orang yang sangat dekat dengan Yesus dan mendapatkan julukan, orang yang pernah merebahkan kepalanya pada Yesus. Meski demikian ia juga termasuk orang yang mendapatkan pengampunan Allah karena dosa-dosanya. Kedua contoh ini sangat kontras, namun memberikan pengertian yang sangat mendalam tentang pengenalan akan Allah melalui pengampunan dosa.  

Hal yang perlu diingat adalah bukan masalah membuat dosa yang besar seperti Petrus atau tidak seperti Yohanes yang kemudian membawa kepada pengalaman mendapatkan pengampunan yang radikal atau tidak. Yang penting adalah mengetahui bahwa kita semua adalah orang yang berdosa. Kita dilahirkan di dalam dosa dan mempunyai kecenderungan terus menerus berbuat dosa. Inilah natur kehidupan kita di luar Kristus.

Allah mengajarkan kepada kita natur dari dosa kita dan juga sikap yang mungkin kita ambil ketika berhadapan dengan fakta tersebut. Mazmur 32 ini memberitahukan kepada kita juga paling tidak ada dua sikap yang diambil seseorang pada waktu ia berbuat dosa dan ini diwakili oleh pengalaman Daud.

A. Orang berdosa merasa dapat lari dari hadapan hadirat Allah; bahwa mereka dapat menghindar dari penghukuman Allah.

Daud telah jatuh ke dalam dosa perzinahan dan pembunuhan. Ia mungkin menggunakan cara yang menganggap kejadian itu tidak pernah ada. Ia masuk ke dalam kesehariannya sebagai raja dan menjalankan pemerintahan sebagaimana layaknya seorang raja. Ia bahkan mungkin sekali masuk ke dalam rumah Tuhan dan menjalankan peribadatan. Meski demikian ia tidak menemukan tempat persembunyian yang dapat meneduhkan hatinya. Daud sebenarnya tahu dosa apa yang telah ia lakukan, namun ia mencoba untuk berdiam diri.  

Justru tindakan ini membawanya melihat dan mengenal Allah. Bahwa Allah tidak pernah dapat terkecoh oleh Daud. Ia mengatakan bahwa selama berdiam diri, ia menjadi lesu.  

Bahwa siang-malam tangan Tuhan menekan dengan keras. Sumsumnya menjadi kering seperti oleh terik matahari. Gambaran metafora akan panasnya murka Tuhan padanya seperti hardikan nabi Natan, “Kamulah orangnya.” Tuhan membawa Daud sampai ke sudut sehingga ia tidak dapat berkilah lagi kecuali datang dan menyerah. Sungguh sebuah pelarian yang sangat melelahkan dan menghancurkan diri sendiri. 

Ada banyak model jurus “pelarian” lain yang mungkin dilakukan oleh seseorang, misalnya saja menggunakan cara :   

1. Ini bukan salahku.”

Dalih yang digunakan adalah pribadi yang di miliki memang demikian dan tidak akan mungkin dapat berubah. Inti dibalik ini sebenarnya sedang menyalahkan Tuhan. “Mengapa Tuhan memberikan kepribadian semacam ini kepadaku.”

2. “Ini kesalahan orang lain.”

Misalnya dengan menyalahkan latar belakang keluarga. “Ayah saya seorang yang sangat temperamentan, Ibu saya seorang yang tidak peduli terhadap keluarga … Saya dibesarkan di lingkungan semacam ini sehingga membentuk pola hidup sedemikian. Tolong jangan salahkan saya.”

3. “Setan memaksa aku melakukannya.”

    Perhatikan, Alkitab memberitahu bahwa setan tidak pernah dan tidak dapat memaksa seseorang melakukan dosa. Karena itu ia hanya dapat menghasut, menipu (band. Yoh 8:33). Setiap orang tetap harus bertanggung jawab secara pribadi kepada Allah untuk dosa yang dilakukannya.

4. “Tuhan…Engkau yang salah!”

     Ini adalah langkah terakhir mencoba menghindar dari semua tanggung jawab kepada Tuhan dengan cara melemparkan kesalahan dan tanggung jawab pada Allah. 

Semua cara pelarian ini tidak akan membawa seseorang masuk ke dalam kehidupan penuh sejahtera sebelum datang dan mengakui semua dosa kepada Tuhan. 

B. Orang yang mengaku dosanya menerima anugerah Allah.

Sebuah kejujuran, keterbukaan, kesediaan muncul dari dalam diri orang semacam ini. Ia mengenal Allah bahwa Allah adalah Allah yang penuh dengan keadilan yang tidak pernah akan mau terus membiarkan umat tebusan berada di dalam dosa. Bahwa Allah penuh kasih yang ingin mencurahkan kasih yang tidak terkira walaupun kita telah melanggar hukumNya; bahwa Allah adaah Allah yang penuh dengan kesabaran mau menuntun dan membawa orang berdosa kepada pertobatan. Daud datang kepada pengakuan yang jujur … “dosaku kuberitahukan … kesalahanku tidak kusembunyikan … aku akan mengaku kepada Tuhan segala pelanggaranku. 

Allah dengan cintaNya yang besar mengerjakan semua ini dan memungkinkan orang percaya, umat tebusan mengalami pengalaman mendapatkan pengampunan dariNya. 

Pada waktu Kristus di salib, di sana Ia menanggung semua beban dosa kita. Ia menanggung murka kepanasan Allah supaya Ia dapat memberikan pengampunan penuh kepada orang berdosa seperti kita.  

Salib Kristus di satu sisi adalah tempat di mana setiap orang berdosa dibongkar segala keangkuhannya, tempat dimana semua hati yang keras dilembutkan, tempat di mana semua sikap pemberontakkan ditaklukkan.  Sementara di lain sisi menjadi tempat di mana tangan Allah yang penuh kasih terbuka dan terus memberikan undangan untuk datang, tempat di mana tersedia kehangatan cinta Tuhan yang kerap tidak terpahami, tempat di mana ada belaian kasih dan penerimaan penuh. 

Alkitab mengatakan, “Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita oleh karena Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa.” (Rm 5:8). Maukah kita datang kepadaNya dan menerima pengampunanNya? Amin.?

 (Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)