![]() |
Ringkasan Khotbah : 02 Maret 2003
Nats: Yoh 15:15-16 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Predestinasi seringkali menjadi konflik dan wacana perdebatan dari berbagai macam arus teologi yang tidak pernah berhenti bahkan tidak terselesaikan mulai sejak jaman Agustinus sampai hari ini. Predestinasi berarti sudah ditetapkan sebelumnya, yaitu sejak dari kekekalan dan digenapkan di dalam diri seseorang, khususnya menyangkut keselamatan. Di dalam teologi kekristenan muncul dua arus yang bertentangan; ada yang setuju dan ada yang tidak setuju dengan prinsip Allah yang memilih dan memanggil. Perdebatan predestinasi seringkali bukan terletak pada esensi doktrin predestinasi itu sendiri, tapi pada presuposisi dan pendekatannya. Jika pendekatan kita salah maka kemungkinan besar seluruh pemikiran dan cara kita memandang pun bisa salah. Maka tidaklah heran, dalam teologi kristen muncul pemikiran yang salah, yaitu (1) Allah tidak adil karena hanya sebagian orang yang dipilih (2) manusia dapat berbuat dosa semaunya karena hal itu tidak akan mempengaruhi keselamatan.
Menurut B. B. Warfield, predestinasi tidak lepas dari kedaulatan Allah dan manusia harus menyadari dan menempatkan diri pada posisi yang benar, yaitu sebagai hamba dan Tuhan sebagai tuan, pemilik alam semesta sehingga segala sesuatunya tidak dilihat dari kacamata manusia tapi dari kacamata Tuhan; Tuhan yang berinisiatif untuk memilih dan Tuhan berhak memilih. Problemnya, manusia tidak rela kalau dia ditetapkan, tunduk di bawah kedaulatan Allah, manusia ingin turut ambil bagian dalam menetapkan dan mengambil keputusan dalam segala aspek kehidupan. Padahal kalau kita perhatikan, banyak hal didalam hidup kita bukan kita yang menetapkan karena itu semua diluar kemampuan kita, dapatkah kita memilih keluarga, tempat dan kondisi ketika kita mau dilahirkan? Hal ini semakin membuktikan bahwa manusia memang sangat terbatas.
Kalau Tuhan sudah memilih kita, janganlah kita menjadi sombong. Itu bukan hasil usaha kita tapi karena kasih karunia (Ef. 2:8). God has a plan, yaitu supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap (Yoh.15:16) dan melakukan pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah sebelumnya (Ef. 2:10).
Doctrine of Predestination, Lorainne Boettner, menegaskan untuk memahami predestinasi, we should start God has a plan dimana didalamnya menunjukkan kedaulatan Allah. Paham liberal, tidak percaya Allah yang berencana dan mengatur semua aspek hidup kita karena yang punya rencana dan aturan adalah manusia. Kenapa muncul pandangan seperti itu? Hal ini disebabkan karena (1) Kedaulatan Allah sulit diterima manusia karena manusia mau diri yang berdaulat, yang menentukan; manusia tidak mau taat. Kalau Allah yang menentukan maka posisi manusia menjadi sub ordinat, lebih rendah dari Allah. (2) Konsep purpose, konsep tentang maksud itu sendiri mengandung konflik karena tanpa sadar manusia punya tujuan dan manusia tidak suka kalau Tuhan yang punya tujuan karena tujuan manusia dan tujuan Tuhan kemungkinan besar berbeda dan berbenturan.
Tuhan telah memilih dan mengangkat kita dari hamba dosa menjadi hamba kebenaran kemudian Tuhan angkat lagi menjadi sahabatNya sehingga kita dapat mengerti apa yang menjadi tujuan dan rencana Tuhan di dunia dan menjadikan kita punya semangat dan dengan segenap hati mengerjakan pekerjaanNya (lihat Yoh. 15:16; Ef. 2:8-10).
Rencana Tuhan membuat kita mengerti dan memahami hal-hal berikut ini, yaitu:
1. Rencana Allah menggambarkan sifat Allah yang teratur.
Adalah wajar jikalau manusia ketika mengerjakan sesuatu, hasilnya berantakan. Tuhan kita bukan Tuhan yang sembarangan, Tuhan kita adalah Tuhan yang tertib dan teratur sehingga Ia ingin segala sesuatunya juga berjalan tertib dan teratur sehingga dalam hal beribadah dan melayani pun harus tertib dan teratur. Keteraturan menunjukkan segala sesuatunya tidak dikerjakan dengan sembarangan melainkan dengan suatu keseriusan dan kesungguhan hati.
2. Rencana Allah membuat kita mengerti bahwa dalam setiap pekerjaan Allah pasti ada titik akhir yang ingin dicapai.
Allah kita adalah Allah yang berencana dan setiap rencanaNya dikerjakan dengan sangat tepat menuju kepada kejelasan tujuan dan maksud Tuhan. Tuhan mencipta manusia ada tujuan dan maksud yang ingin digenapi, yaitu untuk memuliakan Dia.
3. Rencana Allah menggambarkan sifat Allah yang efisien dan efektif.
Tuhan mencipta seluruh alam semesta beserta isinya dikerjakan dengan sangat efisien dan efektif, dimana setiap bagian dikerjakan dengan tepat. Berbeda dengan manusia yang seringkali ketika mengerjakan sesuatu selalu ditunda-tunda karena memegang prinsip toh masih ada hari esok. Coba bayangkan, kalau Tuhan mencipta manusia pada hari pertama, maka manusia pasti mati; karena situasi dunia masih kacau balau, tidak ada waktu, tidak ada makanan. Puji Tuhan, Allah kita Allah yang tertib dan teratur dan juga punya kejelasan maksud dan tujuan penciptaan sehingga Tuhan sediakan taman Eden. Hal ini menunjukkan, Tuhan telah memilih kita didalam kekekalan dan Tuhan sudah persiapkan pekerjaan baik untuk kita garap.
4. Rencana Allah menggambarkan sifat Allah yang konsisten dan berintegritas.
Tuhan tidak pernah berubah dan tidak pernah memutarbalikkan fakta dalam setiap perkataanNya. Coba bayangkan, kalau Allah kita tidak konsisten; hari ini Allah berkata, ”Percaya Yesus maka engkau akan selamat” tapi besok Allah berkata,”Percaya Yesus maka engkau tidak akan selamat.” Bagaimana nasib kita? Masih dapatkah kita percaya? Puji Tuhan, Allah kita, Allah yang konsisten bahkan sejak dari Kejadian sampai Wahyu Tuhan menepati janjiNya.
Salah satu aspek yang menyulitkan dalam doktrin predestinasi, yaitu kita salah dalam mengerti rencana Allah atau rencana saya. Manusia beranggapan, doktrin predestinasi adalah Tuhan memilih, supaya saya diselamatkan. Idenya hanya soal selamat atau tidak selamat (human purpose). Manusia tidak mengerti tujuan kenapa Tuhan memilih? Kalau Tuhan memilih supaya selamat maka hal ini akan menimbulkan rasa iri karena kalau saya dipilih lalu kenapa saudara dan kerabat saya tidak dipilih? Padahal, tujuan dan maksud pemilihan adalah supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap (Yoh. 15:16) dan untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup didalamnya (Ef. 2:10)
Predestinasi berbicara tentang God has a plan not man has a plan. John Calvin, mempertegas kerangka doktrin predestinasi harus diletakkan pada bagaimana kita seharusnya mengerti bahwa kita sebenarnya adalah seorang hamba sehingga kita punya kerinduan untuk mau mengerti apa rencana Tuhan di dalam hidup kita. Marilah kita lepaskan semangat egoisme kita dimana kita hanya sekedar mencari keselamatan untuk diri kita sendiri. Biarlah mulai hari ini, kita selalu bergumul, mengerti apa yang menjadi tujuan dan maksud Tuhan memilih kita.
Kalau kita mengerti tujuan dan maksud Tuhan memilih kita maka seharusnya :
1. Hati yang penuh dengan ucapan syukur atas kasih karunia Tuhan.
Tuhan sudah memilih kita di antara berjuta-juta manusia. Siapakah kita sehingga Tuhan pakai kita untuk turut ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan yang begitu agung? Banyak orang lain yang lebih hebat dari kita tapi kenapa Tuhan mau pakai kita? Biarlah hal itu menyadarkan kita bahwa itu semua bukan karena kehebatan kita tapi karena anugerah. Cara Tuhan bekerja dengan cara manusia bekerja sangat berlawanan. Kalau kita kerja di dunia, kita melakukan jasa terlebih dahulu, setelah itu kita mendapat upah. Berbeda dengan Tuhan; Tuhan membayar kita terlebih dahulu, yaitu dengan darahNya setelah itu kita disuruh bekerja melakukan pekerjaan baik yang Tuhan sudah persiapkan.
Apa yang akan kita lakukan jika kita diberi upah Rp. 1milyar/bulan lalu kita disuruh bekerja ngepel ruangan 10 x 10 m. Kalau kita masih punya hati nurani maka kita pasti akan bingung memikirkan cara yang terbaik untuk mengepel ruangan tersebut yang equal dengan Rp. 1 milyar, bukan? dan kita pasti akan mengerjakannya dengan kesungguhan hati. Tuhan membayar kita bukan dengan emas dan perak tapi dengan harga yang sangat mahal, yaitu dengan nyawaNya. Sudahkah kita melakukan pekerjaan Tuhan dengan penuh ucapan syukur dan kesungguhan hati?
2. Membuat hidup kita mempunyai arah dan tujuan yang jelas.
Setiap saat dalam hidup kita hendaklah kita selalu bergumul, mencari dan mengerti apa yang menjadi rencana Tuhan di dunia dan Tuhan mau pakai kita untuk menggenapkan rencanaNya. Dunia semakin hari semakin tidak menentu tapi biarlah kita sebagai anak Tuhan tidak ikut arus dunia. Tuhan sudah berinisiatif memilih kita dan Tuhan pasti punya rencana yang sudah dipersiapkanNya sejak dari kekekalan untuk umat pilihanNya.
Jika kita berjalan dalam rencanaNya, maka itu yang terbaik bagi kita; membuat hidup kita lebih dinamis karena kita berada dalam pimpinanNya. Jika kita berjalan keluar dari rencana Allah dapat dipastikan hidup kita akan hancur. Mana lebih bahagia, hidup dengan tahu jelas pimpinan Tuhan atau hidup di luar rencanaNya?
3. Membuat kita mempunyai konsep nilai yang tertinggi dalam hidup kita.
Kita akan bersemangat dan bermotivasi kalau sesuatu yang kita kerjakan bernilai tinggi, bukan? Jangan malu jika engkau menjadi pekerja Tuhan di tengah dunia! Justru, pekerjaan Tuhan adalah suatu pekerjaan agung yang bernilai tinggi dibandingkan dengan pekerjaan dunia yang tidak berarti apa-apa. Kita menjadi bernilai karena Tuhan yang telah memilih.
Tuhan pilih kita bukan karena kehebatan kita; di dunia banyak orang yang lebih hebat dari kita tapi satu hal Tuhan tidak pilih mereka, justru Tuhan pilih engkau dan saya. Kenapa? Tuhan punya rencana, maksud dan tujuan dan Dia mau pakai kita untuk menggarap pekerjaan Tuhan. Ingat, jangan meletakkan nilai kita pada hal-hal yang tidak perlu. Jangan gantungkan nilai hidupmu pada opini orang lain.
Predestinasi harusnya membuat kita lebih bersyukur, karena Tuhan telah pilih kita manusia yang tidak bernilai untuk melakukan pekerjaan Tuhan yang bernilai. Tuhan memakai kita yang jelek, yang lemah, dan yang bodoh ini sehingga di tanganNya, sang Master kita menjadi luar biasa.
Predestinasi seharusnya tidak menjadi ajang perdebatan tapi predestinasi adalah pengajaran yang mengharuskan kita untuk lebih setia, lebih bersyukur, tunduk menjalankan kehendakNya. Di tengah-tengah dunia yang kacau ini, kalau Tuhan telah memilih kita, berarti Tuhan punya rencana agung yang ingin digenapkan dalam diri setiap kita. Hal ini seharusnya membuat kita bertanya apa yang harus kuperbuat bagiMu, Tuhan? Amin.?
(Ringkasan Khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)