![]() |
Ringkasan Khotbah : 9 Februari 2003
Nats: Yoh 15: 12-15 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Dalam injil Yohanes 15:9-11 telah kita pahami hubungan antara kasih, ketaatan dan sukacita yang sejati dimana ketiga hal ini saling berkaitan erat. Sama seperti kasih Bapa kepada Kristus demikianlah Kristus mengasihi umat-Nya; kasih Kristus yang kita rasakan tersebut membuat kita taat melakukan perintahNya; dan ketaatan kepada Kristus itu mendatangkan sukacita dalam diri kita. Sukacita timbul dari dalam hati dan memancar keluar, sukacita bukan dipicu dari luar. Sebelum Tuhan Yesus pergi meninggalkan dunia, Yesus membangun konsep murid-muridNya terlebih dahulu supaya mereka mempunyai dasar yang kuat dalam menghadapi kehidupan di dunia yang penuh dengan tipu daya. Ironisnya, ayat 12-15 sering disalah mengerti sehingga saat mau menjalankan firman selalu terbentur dengan konsep dunia. Kebenaran Firman ketika diberitakan itu adalah momen kairos yang menuntut komitmen kita untuk memililih antara taat pada Firman atau tidak taat. Pilihan ini akan menentukan langkah hidup kita selanjutnya. Suatu anugrah kalau murid-murid sejati ini mendapat berita tentang relasi dari ketiga hal ini.
Ayat 12-15 membawa kita pada situasi yang riil dimana dunia ingin mencoba mencari rahasia kehidupan, tapi dengan konsep yang salah. Dunia melihatnya dengan cara induktif, yaitu munculnya suatu teori dan kesimpulan yang diambil dari hasil pengamatan diri sendiri, close system. Dunia yang sudah berdosa dipakai menjadi cerminan, standart kehidupan manusia. Lalu siapa yang berhak memberikan standart dan menjadi standart kehidupan? Manusia yang sudah jatuh dalam dosakah? Bukan! Bahkan para filsuf pun mempunyai pendapat yang berbeda tentang siapakah diri manusia yang sesungguhnya. Konsep filsuf yang mana yang harus diikuti? Akhirnya, yang menurut diri sendiri benar maka itu yang dijadikan patokan; diri yang berdosa, total depravity dipakai sebagai standart, cermin bagi dunia. Manusia mulai menyadari bahwa diri sendiri dan manusia lain tidak dapat dipakai sebagai patokan; manusia mau kembali pada rencana dan tujuan awal penciptaan maka Firman Tuhan mengajarkan manusia harus kembali pada Kristus, satu-satunya kebenaran. Kembali kepada Kristus berarti taat melakukan perintahNya maka kita akan tinggal dalam kasihNya dan kita akan beroleh sukacita sejati ketiga hal ini digabung muncul perintah kasihilah sesamamu manusia. Jadi, hanya Firman Tuhan yang dapat menjadi standart, kebenaran mutlak.
Hanya anugerah kalau manusia dapat menyadari dan mengakui dosa-dosanya. Kesusahan hidup yang dihadapi, baik internal maupun eksternal seringkali membelenggu hidup manusia, dan akhirnya membuat manusia sulit berhubungan dengan orang lain; tidak ada cinta kasih yang sejati. Selalu was-was, curiga dengan kebaikan orang lain. Tanpa cinta Tuhan, kita tidak akan dapat mengasihi orang lain yang ada hanya memanipulasi orang. Cinta kasih Tuhan yang telah kita rasakan hendaklah membuat kita mempunyai emosi yang benar, yang tidak lepas dari akal budi yaitu emosi, perasaan kita sejalan dengan emosi Tuhan; peka kehendak Tuhan pada kita, mengerti apa yang menjadi kesedihan Tuhan, mengerti apa yang menjadi kesusahan Tuhan. God is love dan karena Tuhan telah mengasihi kita terlebih dahulu maka Tuhan memberikan perintah, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu (ay.12). Lalu bagaimana kita dapat mengasihi sesama dengan kasih yang sejati; tanpa timbul rasa curiga?
Dunia menawarkan konsep either or, dimana manusia dilatih untuk berpikir secara logika, otak dilatih secara linier;manusia dihadapkan pada pilihan ini atau itu. Hal inilah yang membuat manusia sulit berhubungan dengan sesama; manusia selalu memperhitungkan untung dan rugi. Kekristenan justru mengajarkan konsep paradoks, yaitu konsep already and not yet, sudah dan belum. Konsep paradoks ini juga kita jumpai pada injil Yohanes, dimana Tuhan menyebut kita sahabat dan hamba. Kata sahabat pada Yoh. 15:14 dimaksudkan untukmemberikan pada kita suatu gambaran kondisi dan status kta yang asli. ”Aku tidak menyebut kamu lagi hamba…” (ay.15a) berarti apa status kita sebenarnya? Hamba atau sahabat? Jawabnya adalah hamba! Jadi, kalau Tuhan menyebut kita hamba maka itu adalah hal yang wajar; suatu anugerah besar kalau Tuhan tidak menyebut kita hamba tapi sahabat. Sehingga kita mempunyai relasi yang indah dan dekat dengan Tuhan. Ini adalah bagian yang paling penting karena menyangkut hubungan relasi seseorang dengan sesama termasuk relasi kita dengan Allah sebagai relasi standart. Kalau kita mengasihi Tuhan maka kita mau menuruti perintahNya, yaitu mengasihi sesama manusia dengan kasih yang seperti Tuhan telah buktikan; memberikan nyawaNya untuk sahabat-sahabatNya (ay.13). Seringkali ketika kita berelasi dengan sesama timbul pikiran apakah kita akan jadi korban? Sehingga sebelum kita yang jadi korban maka lebih baik mengorbankan orang lain. Pikiran ini membuat kita ketika berelasi, tidak ingin ada hubungan dengan ikatan yang lebih intim, yaitu sebagai seorang sahabat; tapi hanya sebatas teman biasa. Lalu teman itu apa? Teman yang seperti apa?
Sudah menjadi sifat manusia berdosa, dimana manusia seringkali memutarbalikkan dan menggunakan suatu istilah hanya menurut konsep dan pengertian mereka sendiri. Seperti halnya istilah teman; kalau kita disakiti, kalau kita dirugikan apakah kita masih bisa menganggap orang yang telah menyakiti dan merugikan kita tersebut sebagai seorang teman? Masih maukah kita berteman dengan dia? Pasti tidak, bukan? Jadi, kalau begitu apa pengertian teman? Maka teman menurutku adalah orang yang baik terhadap aku, yang tidak menyakiti aku dan yang menguntungkan aku. Sehingga kalau dia itu memerintah kita agar menuruti perintahnya maka timbul pikiran bargain, tawar menawar, yaitu kita mau menuruti kalau kita merasa untung. Alkitab menggambarkan suatu relasi yang unik, yaitu ketika kita berelasi dalam cinta kasih maka slave and friend, budak dan sahabat harus berjalan seiring. Jika hubungan kita dengan Tuhan beres maka hubungan kita dengan sesama pasti akan beres. Kasih sebagai dasar hubungan antara manusia dengan Tuhan maka hubungan manusia dengan sesama pun harus didasarkan atas kasih juga. Tapi manusia menyelewengkan pengertian kasih sejati. Kasih sejati menjadikan kita mau melayani sesama seperti kita melayani Tuhan, tapi dunia memutarbalikkan, yaitu mau melayani sesama kalau itu menguntungkan, membandingkan antara orang yang satu dengan orang lain sehingga hal ini akan merusak relasi interpersonal. Iblis dengan liciknya merusak hubungan antar manusia sehingga membuat manusia kehilangan rasa saling percaya dan akhirnya membuat manusia semakin jauh dari Tuhan.
Kasih Kristus pada Bapa membuat Kristus taat menjalankan perintah BapaNya dan kasih Kristus ini diturunkan kepada murid-muridNya, yaitu perintah untuk saling mengasihi sesama. Bagaimana kasih dimengerti sebagai konsep hamba dan sahabat sekaligus? Untuk memahami hal tersebut, maka kita harus memahami pengertian budak dan sahabat terlebih dahulu.
Apa dan siapa yang dimaksud dengan budak?
(1) Seorang budak ketika menjalankan tugasnya, itu karena diperintah; tidak ada kerelaan sejati, no willingness. Kalau kita merelasikan konsep ini sebagai hubungan antara kita dengan Tuhan maka kita pasti akan tertekan. Kita akan merasakan Tuhan sebagai seorang diktator yang siap menghukum kalau kita tidak menjalankan perintah.
(2) Seorang budak ketika menjalankan tugasnya, hanya melihat sebatas tugas belaka dan hanya terkait dengan dirinya sendiri; tidak punya pengertian yang benar, no understanding. Sehingga hal ini pun akan membuat dia tertekan. Ketika bekerja, kita seharusnya melihat pekerjaan kita tersebut bukan dalam lingkup sempit; yang terkait dengan diri sendiri melainkan kita harus melihat pekerjaan kita sebagai ketotalitasan yang berhubungan dengan seluruh aspek hidup orang lain. Seorang budak, cuma tahu tugas tetapi Tuhan tidak menyebut kita budak tetapi sahabat agar kita dapat melihat pekerjaan Tuhan sebagai ketotalitasan.
(3) Seorang budak ketika menjalankan tugasnya tidak ada perasaan cinta kasih, no love. Menjalankan perintah tanpa ada perasaan. Kalau begitu, apa bedanya manusia dengan robot? Hati-hati jika perasaan kita sudah mati, itu berarti ada masalah dengan kejiwaan kita!
Kita sangat senang ketika Tuhan menyebut kita sebagai seorang sahabat (ay.15) tetapi di lain pihak kita tidak mau menuruti perintah Kristus (ay.14). Kalau Yesus menyebut kita sebagai sahabat, itu suatu anugerah tetapi manusia justru ‘besar kepala’ dan cenderung kurang ajar. Kita harus mempunyai sikap yang benar jikalau Tuhan mau menyebut kita sebagai sahabat, yaitu:
1. Kesadaran kalau kita bisa disebut sebagai sahabat, itu adalah suatu anugerah besar. Kita tidak layak kalau kita yang berdosa ini disebut sahabat karena sebenarnya kita adalah seorang hamba, budak. Konsep anugerah ini kalau tidak kita sadari maka kita akan selalu menuntut hak; hak sebagai sahabat Tuhan. Ingat, dalam melayani pekerjaan Tuhan, kita jangan selalu menuntut hak! Justru, anugerah kalau kita bisa berbagian dalam pekerjaan Tuhan. Kita adalah budak, maka mati pun kita layak. Kalau mau riil, hak kita sebenarnya adalah mati karena kita sudah berdosa. Kesadaran ini seharusnya menjadikan kita lebih mengasihi Kristus lebih dari apapun. Bukan hak yang kita tuntut tetapi komitmen. Kalau kita hanya mengerti dalam konsep teman, maka kita akan ekstrim dan selalu menuntut hak.
2. Kesadaran kalau kita bisa disebut sebagai sahabat, berarti ada visi Tuhan yang harus kita kerjakan. Ketika kita mempunyai seorang sahabat maka itu berarti posisi kita adalah sejajar. Paulus juga menyebut Kristus adalah sahabat tetapi Paulus menyadari posisinya di hadapan Tuhan sehingga hal itu tidak menjadikan Paulus kurang ajar dan sombong. Justru, Paulus merasakan sebagai suatu anugerah. Teman tidak selalu sejajar. Perhatikan ayat 14 kalau mau menjadi sahabat Kristus maka kita harus menuruti perintahNya terlebih dahulu. Kalau kita sudah berpikir bahwa sahabat sebagai suatu kesejajaran maka kita akan kehilangan visi. Kita akan bargain dengan Tuhan; keinginan Tuhan disesuaikan dengan keinginan kita. Kalau sesuai dengan kehendak kita maka kita mau menjalankannya tetapi sebaliknya kalau tidak pas denag kehendak kita maka kita tidak akan mau menjalankannya. Visi dan misi Tuhan, kehendak Tuhan dan kehendakku adalah dua hal yang dijalankan bersama-sama dimana kehendak Tuhan menjadi yang utama. Akibatnya, kita tidak pernah tahu apa menjadi yang kehendak Tuhan justru kehendak kita menjadi lebih dominan. Biarlah ini menjadi pergumulan kita ketika kita melangkah dalam hidup ini, biarlah kita boleh mengerti kehendak Tuhan atas hidup kita. Adalah anugrah kalau Tuhan menyebut kita sahabat dan melibatkan kita dalam visi dan misi Tuhan. Ikut Tuhan menjadi suatu kunci bagaimana kita taat. Ingat, kita sedang melayani Tuhan, bukan pribadi, bukan gereja! Kita sedang menggenapkan visi Tuhan dalam dunia.
3. Kesadaran kalau kita bisa disebut sebagai sahabat, maka kita harus mempunyai jiwa dan semangat berjuang demi untuk pekerjaan Tuhan. Kalau kita hanya menganggap sebagai sekedar teman, maka kita akan kehilangan konsep tentang jiwa dan semangat perjuangan yang sejati. Saat kita menggenapkan pekerjaan Tuhan; saat itu kesulitan dan tantangan datang, maka tantangan dan kesulitan tersebut tidak membuat kita menjadi undur justru sebaliknya kita akan bergumul, berjuang demi pekerjaan Tuhan tapi begitu kita dapat melewati segala kesulitan dan kondisi mulai stabil maka kita akan lupa, kita akan cenderung tidak ada semangat berjuang. Ketika kita mulai enjoy, dinamika spirit kita hilang. Banyak hal kita tidak mampu kerjakan sendiri, tapi biarlah kita rendah hati di hadapan Tuhan; karena tanpa pertolongan Tuhan kita tidak mampu berjalan sendiri.
Jangan menyebut nama Yesus dengan sembarangan, tanpa pengertian benar! Ingat, posisi kita sebenarnya adalah budak. Ketika kita menyebut Yesus dengan sebutan Bapa dan Tuhan, hal itu bukan berarti Dia jauh dari kita tapi hendaklah itu membuat kita sadar akan anugerah Tuhan; yang menyebut kita sebagai sahabat. Relasi ini muncul karena ada kasih sejati yang indah. Kristus mengasihi BapaNya sehingga Dia taat menjalankan perintah BapaNya dan kasih Kristus kepada manusia yang mendorong Dia rela untuk mati di salib, menyelamatkan kita manusia berdosa; menyebut kita sahabat. Kita sudah merasakan kasih Kristus yang besar maka kita juga harus taat melakukan perintahNya, yaitu kasihilah sesamamu manusia. Di dunia yang berdosa ini, biarlah kita mengasihi dengan kasih sejati seperti kasih Kristus kepada umatNya sehingga dunia akan melihat Kristus melalui diri kita. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu (Mat. 22:37) menjadi dasar untuk mengasihi sesama. Mengasihi sesama merupakan tugas dan panggilan kita sebagai anak Tuhan yang mengasihi Tuhan dengan sungguh-sungguh. Dengan demikian dunia akan melihat kita sebagai anak Tuhan yang sejati. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)