Ringkasan Khotbah : 2 Februari 2003

Love, Obey & Joy (3)

Nats: Yoh 15: 9-11

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Exclusive teaching of Christ (Yoh. 13:32-17) ditujukan hanya untuk murid Kristus yang sejati. Yesus mengajar setelah Yudas pergi (Yoh.13:31). Karena pada bagian ini mengandung banyak rahasia, kekayaan dan kelimpahan yang dunia sukar untuk mengerti; hanya anugerah kalau kita dapat mengerti. Salah satunya adalah pengertian dunia tentang love, obey and joy sangat berbeda dengan yang Tuhan ajarkan. Dunia tahu perlunya cinta kasih tetapi pada hakekatnya dunia tidak tahu dan mengerti arti kasih yang sejati. Sekarang, manusia telah kehilangan cinta kasih tapi manusia sangat membutuhkan kasih dan jika kebutuhan akan kasih ini tidak terpenuhi maka  manusia bisa gila. Konsep atheistic ini dicetuskan dan sangat dimengerti oleh Abraham Maslow. Akibatnya, dunia mempraktekkan kasih menurut konsep dan pengertian mereka sendiri; kasih yang dipraktekkan hanya sebagai pelampiasan nafsu belaka, hanya ekspresi dari semangat humanistik, keegoisan manusia; itulah sifat manusia berdosa. Kasih seringkali di-redefinisi, dimanipulasi, diidentifikasi dengan pengertian berbeda; sesuai dengan konsep mereka sendiri yang dilepaskan dari sumber kasih, yaitu Tuhan Allah. Kasih yang sejati adalah seperti kasih Kristus kepada umat-Nya, hanya umat-Nya bukan kepada setiap manusia dan itu merupakan manifestasi dari Bapa, dimana Dia adalah kasih, yaitu sumber dan diriNya kasih. Lalu, bagaimana kita dapat menikmati dan mendapatkan kasih sejati? Yaitu dengan menuruti perintah Bapa maka kita akan tinggal dalam kasihNya (ay.10). Kita harus masuk dalam kasih Kristus dan mempunyai relasi dengan Kristus terlebih dahulu maka kita dapat menikmati kasih sejati itu. Karena di luar Kristus, berarti kita lepas dari sumber kasih maka kita tidak akan dapat menikmati kasih.

Kalimat menuruti perintahKu (ay.10) menjadi kalimat yang sangat dibenci oleh manusia; kebalikan dari kalimat cinta kasih yang sangat ‘diagungkan’ manusia. Hal ini disebabkan karena obedience yang dimengerti manusia bukan ketaatan yang sejati tapi ketaatan menurut konsep dunia, yaitu ketaatan yang bersifat penindasan.  Sehingga Michael Foucoult mencetuskan, orang yang punya kekuasaan pasti jahat, oleh karena itu kekuasaan harus ditiadakan; berarti tidak boleh ada otoritas, tidak boleh ada kebenaran. Dunia menanggapi positif konsep tersebut, yaitu dengan melawan segala bentuk otoritas, mereka tidak mau percaya adanya otoritas, kebenaran. Betulkah dia seorang yang anti otoritas? Mereka sebenarnya bukan anti otoritas, tapi anti di-otoritas, anti dikuasai.  Mereka tidak mau dikuasai, mereka hanya mau menguasai. Menguasai apa dan siapa? Menguasai seluruh bidang; sosial, politik termasuk manusia. Seperti halnya seorang pimpinan, selalu menuntut bawahannya untuk tunduk menuruti semua perintah tapi di pihak lain dia tidak akan mau tunduk pada apapun dan siapapun. Kalaupun mau tunduk itu karena terpaksa, diancam, atau karena di beli (lihat ring.khotbah 19 Jan 2003). Itu bukan ketaatan sejati. Ketaatan sejati justru bukan karena keterpaksaan tetapi karena suatu kerinduan untuk menjalankan perintah Bapa (ay.10b).  Hal ini dapat kita lihat pada ke-Tritunggal-an Allah dimana Anak tunduk mutlak pada perintah Bapa yang adalah sumber kebenaran, Anak tidak berbuat apa-apa dari diriNya sendiri; dan Roh Kudus tunduk mutlak pada perintah Anak. Hubungan ketiga oknum Tritunggal ini adalah hubungan yang vertikal, dengan urutan ordo tertinggi berada di tangan Bapa. Kebenaran antara Bapa, Anak dan Roh Kudus tidak akan pernah bertentangan. Mungkin terjadi kehendak yang berbeda antara Bapa dan Anak, seperti ketika di taman Getsemani, Yesus berdoa, ”Ya BapaKu, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaKu…”(Mat 26:39). Anak punya kemauan yang berbeda dengan Bapa tetapi pada saat seperti itu ketaatan tetap menjadi prinsip utama. “…janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Ini kunci ketaatan sejati yang membuat seluruhnya menjadi sinkron, yaitu kembali kepada kebenaran yang sejati. Hubungan relasi antara Bapa, Anak dan Roh Kudus sering disalahtafsirkan oleh dunia bahkan dunia mencoba untuk mengerti tapi dengan pengertian yang salah kaprah; hanya anugerah kalau kita dapat mengerti ketaatan yang seperti  Allah Tritunggal tunjukkan. Ketaatan yang dilakukan bukan karena pemaksaan, pembelian; tapi kita taat karena kita tahu pada siapa kita taat, yaitu kepada Kristus, sumber  ketaatan. Jadi, sama seperti Anak taat menuruti perintah Bapa, Kristus juga ingin agar kita taat pada perintahNya sehingga kita akan tinggal dalam kasihNya. Sukacita yang dimaksud bukan sukacita semu seperti yang dunia tawarkan tapi sukacita sejati karena Tuhan  tidak ingin kita hidup tersiksa dan akhirnya hancur dalam dunia ini. Dunia sangat mengerti dan memahami kebutuhan manusia yang ingin hidup bahagia, hidup penuh sukacita. Ironisnya, manusia tidak mengerti bagaimana cara mendapatkan sukacita itu. Manusia mau sukacita, mau senang, mau bahagia tapi manusia tidak mengerti apa arti bahagia yang sesungguhnya. Bahkan filsafat Cina mengidentikkan bahagia, sukacita tersebut dengan uang. Untuk hidup maka manusia perlu uang bahkan mau mati pun perlu uang, jadi marilah kita mencari uang sebanyak-banyaknya agar bahagia! Tapi betulkah dengan mempunyai emas, uang, materi, harta hidup kita akan bahagia? Tidak! Nisbitt sangat mengerti akan hal ini, justru manusia jika mengejar harta, dia akan terjepit dengan situasi ketegangan yang luar biasa, sehingga untuk keluar dari ketegangan tersebut maka solusinya adalah dengan melakukan hubungan seks bebas. Ketika dunia menyadari bahwa kekayaan bukanlah segala-galanya, dunia tidak dapat memberikan solusi yang terbaik; malah justru jatuh dari lubang yang satu ke lubang yang lainnya. Dunia mengidentikan kekayaan dengan kebahagiaan tapi Alkitab justru mengatakan, ”Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat. 5:3) dan “Lebih muda seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk dalam kerajaan Allah.” (Mrk. 10:25) Karena makin kaya seseorang, maka: (1) dia harus berani membayar harga dan harga yang dibayar sangat mahal. Ayub, orang kaya dan taat pada Tuhan; karena Ayub kaya maka iblis ingin mencobai dia. Berbeda jikalau seandainya Ayub orang yang miskin tapi taat pada Tuhan, iblis akan berpikir dua kali untuk mau menggodanya bahkan dapat dipastikan iblis tidak akan mau mencobainya. Ayub sadar akan hal ini dan Ayub berani membayar harga, dia siap untuk miskin; Ayub tahu harta yang dimilikinya berasal dari Tuhan. Ingat, kalau kita tidak menyadari akan hal ini maka hal itu akan menjadi bumerang! Orang kaya akan sulit menerima kenyataan kalau dia menjadi miskin. Akibatnya, dia bisa menjadi gila, jiwanya terganggu, dan lain-lain. (2) ada resiko yang harus ditanggung karena kekayaannya. Sebagian besar orang kaya (yang tidak punya pengertian yang benar tentang arti kaya yang sejati) tidak dapat hidup dengan tenang, selalu khawatir, was-was. Karena itu menyangkut dengan keselamatan dirinya, keluarga dan kesejahteraan hidup orang banyak. Jikalau salah mengambil keputusan maka nasib seluruh karyawan dan keluarganya akan terancam. Orang kaya seringkali juga ‘dimanfaatkan’ oleh pejabat, yaitu dengan meminta upeti.

Kalau begitu omong kosong kalau kita berpikir bahwa sukacita bisa didapat dengan kekayaan, sukacita  bisa didapat kalau kita punya emas segunung, sukacita  bisa didapat kalau kita punya deposito di bank. Karena justru itu semua membuat kita  celaka! Hati-hati dengan tipu muslihat dunia yang mengiming-iming karena satu kali kita terjebak maka kita pasti akan sulit untuk keluar!

Seperti halnya jika seseorang sudah masuk dalam pengalaman yang tidak menyenangkan, lalu dia menyadari kesalahannya dan dia bisa lepas maka itu sangat bagus; tetapi kebanyakan orang setelah mengalami peristiwa yang menyedihkan, mengecewakan tidak dapat menerima kenyataan; orang lebih suka berandai-andai, berangan-angan dengan kembali ke masa lalu, berharap bisa mengulang masa lalu. Hati-hati, dengan cara iblis yang mengikat kita sedemikian rupa dengan kekayaan, uang, materi; kita jadi terikat, tergantung dengan harta! Sebagai perbandingan dapat kita lihat pada seseorang yang sudah terbiasa hidup dengan gaji 1 juta rupiah per bulan  kemudian naik menjadi 10 juta rupiah; dengan seseorang yang telah terbiasa hidup dengan gaji 100 juta per bulan dan tiba-tiba turun menjadi 10 juta rupiah, mana yang merasa lebih susah, stress? Pasti orang yang kedua, bukan? Jikalau kita mengidentikkan sukacita dengan harta maka itu sama dengan mimpi, mengejar halusinasi yang tida nyata. Manusia akan terus dan terus mengejar harta tanpa henti dengan harapan suatu saat nanti akan datang kebahagiaan. Padahal sukacita yang Tuhan berikan itu telah dinyatakan sekarang bukan suatu saat nanti! Untuk memperoleh sukacita, dunia memberikan solusi yang berbeda dengan yang Alkitab berikan. Dunia hanya menawarkan sukacita yang semu! Hal ini dapat kita jumpai pada dunia entertainment, dimana hiburan-hiburan yang ditawarkan sangat menarik sehingga membuat kita merasa terhibur, ada sukacita, tapi benarkah demikian? Apakah sukacita tersebut  bersifat kekal? Tidak! Itu semua sukacita semu dan sifatnya sementara; dalam hati yang terdalam masih terdapat kekosongan, yang tidak dapat diisi oleh hiburan-hiburan yang dunia entertainment tawarkan. Manusia terus mencari dan mencari hal-hal yang dapat membuat hidup penuh sukacita bahkan untuk memperoleh sukacita tersebut rela mempertaruhkan nyawa! Dunia mengerti akan hal ini, dimana manusia berani menanggung resiko sehingga dibuatlah permainan-permainan yang sifatnya menghibur sekaligus menegangkan. Permainan yang semakin menegangkan dan beresiko, semakin disukai. Gejala apakah gerangan? Pasti ada sesuatu yang salah dengan kejiwaan manusia. Hidup manusia seolah-olah dipertaruhkan untuk hal-hal yang tidak berguna.

Pandangan Alkitab sangat berbeda jauh dengan yang dunia ajarkan. Dunia menggambarkan sukacita diperoleh karena adanya pengaruh stimulan-stimulan dari luar tapi firman Tuhan mengajarkan sukacita sejati seharusnya muncul dari dalam diri, yaitu hasil dari ketaatan kita pada Tuhan dimana ketaatan itu muncul karena kasih kita kepada Kristus. Kita akan bersukacita, merasakan sukacita sejati apabila:

1. Doing  the right thing, Saat kita melakukan kehendak Tuhan, itulah saat dimana kita masuk dalam cinta kasih Tuhan, dan pada saat itu kita boleh bersukacita karena kita boleh turut ambil bagian dalam pekerjaan dan rencana Tuhan. Kita dapat melakukan hal baik dan benar yang Tuhan inginkan. Adalah sukacita besar jika kita dapat melakukan kehendak Tuhan dan Tuhan memuji dan berkenan atas perbuatan dan pekerjaan yang telah kita lakukan. Sukacita yang bagaimana yang dapat kita peroleh dari dunia yang penuh dosa dan terbatas ini? Dunia hanya menawarkan sukacita yang sementara, sukacita semu. Sekali lagi saya tekankan, sukacita sejati akan kita peroleh ketika kita taat melakukan semua pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Tuhan (Ef. 2:10) dan Tuhan berkenan atas perbuatan kita. Paulus menyadari akan hal ini sehingga ketika ia diikat dan dimasukkan ke dalam penjara yang gelap, Paulus tidak berkeluh kesah tetapi Paulus justru memuji Tuhan. Orang dunia jika menghadapi keadaan demikian pasti akan marah, mengamuk, tetapi Paulus justru mengatakan, ”Bersukacitalah kamu di dalam Tuhan.” (Fil. 3:1) Bagi Paulus, memberitakan injil adalah suatu sukacita besar karena dia melakukan hal baik dan benar meski untuk itu dia dipenjarakan. Inilah sukacita sejati. Dunia tidak akan dapat mengerti dan menerima konsep ini karena konsep yang dunia ajarkan berbeda dengan yang Alkitab ajarkan.

2. Doing the precious thing, Saat kita melakukan sesuatu yang bernilai, yang mulia maka saat itulah kita akan bersukacita. Kalau kita dapat dipakai untuk melakukan suatu pekerjaan yang mulia, yang bernilai tinggi maka itu adalah suatu sukacita besar karena kita boleh turut ambil bagian di dalamnya. Saat kita melakukan pekerjaan mulia  pasti tidak mudah; kita akan mengalami berbagai kesulitan, tapi kesulitan tersebut tidaklah identik dengan kepedihan, dan dengan kepedihan tersebut bukan berarti tidak ada sukacita sejati. Kalau orang dipenjara karena melakukan suatu perbuatan jahat maka sangatlah wajar kalau dia merasa malu dan hina. Berbeda dengan Paulus yang dipenjara bukan karena membunuh, mencuri, berzinah tapi karena Paulus melakukan pekerjaan Tuhan yang mulia, yaitu memberitakan injil, kabar keselamatan, kabar bahagia. Kita tidak akan merasakan sukacita yang sejati apabila kita mengerjakan sesuatu yang hanya sekedar pelampiasan nafsu egoisme kita belaka.

3. Doing the work of God, Saat kita accomplishing, menggenapkan rencana Allah itu adalah saat yang paling membahagiakan. Ingat, tantangan dan kesulitan yang menimpa kita jangan membuat kita undur, tetapi justru melalui tantangan dan kesulitan tersebut membuat kita semakin yakin bahwa Tuhan mau bekerja di dalam kita dan Tuhan mau pakai kita. Paulus giat memberitakan injil, kabar keselamatan; Paulus tahu pasti bahwa itu semua adalah pekerjaan baik yang sudah Tuhan persiapkan dan rencanakan bagi dirinya sehingga ketika menghadapi tantangan berat, Paulus tidak takut. Paulus semakin jelas akan pimpinan Tuhan, ketika Paulus ingin memberitakan injil di Asia kecil; Roh Kudus tidak memperbolehkannya tapi justru Roh Kudus memimpin Paulus untuk masuk ke Makedonia. Begitu masuk Filipi, kota pertama yang diinjak Paulus, dia langsung di penjara. Orang dunia ketika mengalami hal seperti itu pasti kecewa dan putus asa; bayangkan baru mau mulai kerja saat itu juga langsung masuk penjara! Ingat, Tuhan pasti tidak akan tinggal diam saat anakNya menghadapi kesulitan, justru Tuhan ingin agar kita dapat merasakan pimpinan, penyertaan Tuhan yang luar biasa. Adalah suatu sukacita besar kalau kita dapat merasakan pimpinan Tuhan yang luar biasa ketika kita menghadapi kesulitan dan kita berhasil keluar dari kesulitan tersebut; karena kita tahu Tuhan punya rencana yang indah dibalik semua itu, yaitu menggenapkan rencanaNya. Sehingga dapatkah kita berkata seperti Paulus berkata, ”Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskankan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang injil kasih karunia Allah.” (Kis. 20:24)

Sukacita sejati itu waktunya sekarang bukan nanti! Di luar Tuhan tidak ada sukacita sejati! Ketika kita berada bersama-sama dengan Allah maka kita telah berada dalam naungan kasihNya. Hidup akan menjadi sangat indah, penuh sukacita kalau kita berada dalam naungan kasihNya. Ketaatan sejati, kasih sejati dan sukacita yang sejati sangat berkaitan erat dan merupakan satu keutuhan yang tidak dapat dipisahkan. Sangat berbeda dengan yang dunia tawarkan; dunia hanya menawarkan sukacita semu! Dimanakah sekarang kita mau hidup? Di luar Tuhan atau di dalam Tuhan? Dimanakah posisi kita? Pilihan berada di tangan kita dan tidak ada keterpaksaan. Amin. ?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)