![]() |
Ringkasan Khotbah : 26 Januari 2003
Nats: Ester 3: 13-15; 4: 1-14 Pengkhotbah : Pdt. Budi Setiawan |
Kitab Ester merupakan kitab yang unik. Para teolog beranggapan kitab Ester adalah kitab sekuler yang seharusnya tidak masuk dalam kanonisasi Alkitab. Hal ini disebabkan karena dalam kitab Ester, nama Allah (YHWH) tidak pernah diucapkan dan ditulis secara eksplisit, tidak ada hal-hal yang berkaitan dengan Ilahi. Tapi di sisi lain, kitab Ester ditulis dengan bahasa dan literatur sangat indah, ada pengajaran penting yang diwahyukan Tuhan. Kitab Ester ini menyatakan pemeliharaan dan pimpinan Tuhan yang ajaib dan luar biasa ketika bangsa Israel menghadapi tantangan, kesulitan dan pergumulan. Latar belakang kitab Ester, yaitu ditulis pada jaman pemerintahan raja Ahasyweros. Raja Ahasyweros adalah seorang raja yang hanya mempedulikan kekuasaan dan kehebatan dirinya, disamping itu ada Haman, pembesar tertinggi dan kepercayaan raja, yang karena dendam pribadi terhadap seorang Yahudi, membuat rencana untuk membinasakan semua orang Yahudi, umat pilihan Allah dimana bangsa Yahudi hanya sebagai second class citizen, minoritas.
Situasi dan kondisi di atas, kita jumpai dan alami masa sekarang ini. Pemerintah hanya peduli dengan kesejahteraan mereka sendiri dan mengabaikan kesulitan yang dihadapi oleh rakyat apalagi rakyat minoritas (salah satunya umat kristen). Dari kisah Ester ini, Tuhan mau mengajarkan bagaimana kita sebagai umat Tuhan yang minoritas, menjadi saksi Tuhan di tengah-tengah situasi sulit saat ini. Umat Kristen hendaklah tetap bersinar justru di tengah-tengah situasi sulit, menjadi saksi Kristus.
Kisah kepahlawanan iman Ester dan Mordekhai yang menjadi saksi di tengah-tengah bangsa yang tidak mengenal Tuhan sangat melegakan bagi umat Kristen sekarang. Ketika Haman mengeluarkan surat perintah untuk membinasakan bangsa Yahudi, bangsa yang mewakili umat Allah, apa yang terjadi dengan umat Tuhan dalam situasi menegangkan, menakutkan demikian? Apa yang dilakukan Mordekhai dan Ester untuk menyelamatkan bangsanya? Ester, anak dari saudara ayah Mordekhai dan yatim piatu sehingga diangkat sebagai anak oleh Mordekhai ( Est. 2:7). Bukan kebetulan, Tuhan turut bekerja; jikalau Ester berhasil masuk ke dalam istana Ahasyweros, raja kafir, raja yang tidak mengenal Allah dan Ester berhasil menjadi orang kedua dalam istana, menjadi ratu. Posisi Mordekhai di luar lingkungan istana sedangkan Ester di dalam lingkungan istana. Hingga muncul surat perintah untuk membinasakan orang Yahudi, maka Mordekhai berharap Ester dengan kedudukannya dapat menolong bangsa Yahudi. Mordekhai meminta agar Ester menghadap Raja Ahasyweros padahal pada jaman itu, menghadap Raja dengan inisiatif sendiri; tanpa ada perintah adalah hal yang sangat menakutkan karena itu berarti sama dengan menghantar nyawa. Ester mulai takut, kuatir akan keselamatan dirinya; Ester mulai lupa siapa dirinya yang sesungguhnya; Ester mulai lupa kalau dia bisa menjadi ratu, pasti Tuhan mempunyai maksud dan tujuan; Tuhan mempunyai rencana dan untuk menggenapkan rencanaNya, Tuhan memakai Ester. Ia mulai menikmati kedudukannya sebagai ratu, enjoy the goodness of life. Segala hal yang terbaik telah ia terima; makanan, pakaian, tempat tinggal dan sebagainya tetapi sesungguhnya dia lupa akan tugas dan panggilannya. Kerajaan Ahasyweros merupakan gambaran dunia saat ini dimana dunia dengan segala kekuatannya, kelicikannya mau mencoba membinasakan umat Allah yang minoritas. Ahasyweros dan Haman merupakan gambaran penguasa yang tidak peduli dengan nasib rakyat kecil. Tapi biarlah kita, umat Tuhan yang minoritas boleh bersaksi, menjadi garam dan terang dunia di jaman yang rusak dan kacau ini.
Dari kisah Ester di atas, dimana Ester dengan kedudukannya menikmati segala fasilitas sehingga membuat kita bepikir, kalau begitu orang Kristen tidak boleh menikmati hidup. Bukan! Justru Tuhan menciptakan manusia dengan tujuan to glorify God and enjoy Him forever. Bahkan saya percaya, orang kristen adalah orang yang paling menikmati hidup dalam dunia ini tetapi bukan kenikmatan seperti yang dialami Ester mengingat kedudukannya sebagai ratu. Ada tiga kelompok orang kristen yang dapat kita jumpai saat ini, yaitu:
(1) Kelompok orang kristen yang tetap rutin ke gereja, tetapi sudah kehilangan arti iman yang sejati. Mereka mempunyai pandangan yang sempit, yaitu gereja dan hari Minggu adalah suatu tempat, suatu waktu untuk membaca firman Tuhan dan beribadah. Di luar gereja dan hari Minggu maka tidak terkait antara iman kepercayaanku dan pekerjaanku, aktivitasku, dan lain sebagainya. Tidak ada perbedaan antara orang kristen dan orang yang non-kristen. Kalau hidup kita terpisah, antara iman percaya dengan hidup kita sehari-hari di dalam dunia ini, maka ini sangat berbahaya.
(2) Kelompok orang kristen yang ikut arus dunia, kenikmatan dunia, enjoy the goodness of life.
Ketika sukses dalam karir, pekerjaan, bisnis mulai melupakan Tuhan, meninggalkan Tuhan. Lupa bahwa kesuksesan yang didapat asalnya dari Tuhan.
(3) Kelompok orang kristen yang bergumul.
Bagaimana hidup yang bersaksi, berintegritas, memuliakan Tuhan dimanapun dia ditempatkan; baik dalam lingkungan pekerjaan, lingkungan sekolah, maupun dalam lingkungan keluarga dan lain sebagainya. Pergumulan untuk menjadi serupa Kristus ini adalah suatu proses yang tidak pernah berhenti. Tuhan mau membentuk kita ketika kita berjalan, bergumul bersama dengan Tuhan.
Tuhan menciptakan manusia dengan tujuan to glorify Him and enjoy Him forever, memuliakan Tuhan dan menikmati persekutuan dengan Tuhan selamanya. Dua hal ini tidak dapat dipisahkan; ketika kita memuliakan Tuhan maka pada saat yang sama kita menikmati hidup yang indah bersama Tuhan. Yesus berkata, “Aku akan menyertai engkau sampai pada akhir jaman.” (Mat 29:20b) Itulah hidup sukacita yang sesungguhnya. Kita boleh menikmati hidup bersama Kristus; berjalan bersama Kristus; merasakan pimpinan, penyertaan Tuhan adalah suatu anugrah besar. Ketika kita dalam kekelaman, lembah bahaya, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Yesus adalah gembala yang baik; gembala Ilahi. Tetapi di sisi lain Tuhan berkata,”Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.” (Luk 10:3) Seperti kita ketahui, seekor domba tidak akan datang mencari serigala, tapi serigala yang akan mengejar-ngejar domba; apalagi domba yang ditaruh di tengah-tengah serigala, sehingga ada kesulitan dan pergumulan berat yang harus dihadapi. Yesus berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Mat 16:24)
Inilah dua sisi yang harus kita mengerti, Tuhan sudah mengerjakan karyaNya didalam hidup kita tetapi di sisi yang lain, kita masih berproses agar makin serupa dengan Kristus. Paulus berkata, ”…dan telah mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbarui …” (Kol 3:10) Konsep already and not yet, Tuhan sudah menyucikan dan sekaligus Tuhan masih membentuk, memproses makin hari makin indah, makin memuliakan Tuhan. Konsep ini tidak boleh disalah mengerti karena jikalau kita menekankan hanya pada satu sisi maka hidup kita akan timpang.
Perkataan Mordekhai pada Ester membuatnya tergugah (Est. 4:13-14). Perkataan Mordekhai ini mirip dengan perkataan Kristus, ”Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya…” (Mat 16:25a) Pada Est. 4:14, menurut penafsiran kata “pihak lain” yang dimaksud adalah Allah (YHWH), pertolongan Ilahi; tidak ditulis secara eksplisit karena ada maksud dan tujuan tertentu ketika kitab ini ditulis. Pengajaran ini sangat penting dalam hidup kita; yang mempengaruhi konsep pelayanan kita, bagaimana kita mengikut Tuhan, bagaimana kita menjadi saksi di tengah-tengah dunia sekuler yang melawan Tuhan. Mordekhai beriman, meskipun tanpa bantuan Ester pasti ada “pihak lain” (Allah, YHWH) yang menolong; Tuhan pasti tidak akan diam, melihat umat-Nya hancur. Hal ini karena Mordekhai melihat di sepanjang sejarah bangsa Israel; Tuhan memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan, menuntun ketika dalam kesulitan. Mordekhai beriman pada masa yang lalu, jadi Tuhan pasti juga akan memimpin pada masa sekarang.
Ketika kita melayani, apakah muncul pikiran, kita melayani karena Tuhan membutuhkan kita? Salah! Justru ketika kita melayani kita akan merasa sukacita sejati di dalam Kristus; kita yang membutuhkanNYa. Kalau kita tidak melayani, kita tidak turut ambil bagian dalam pelayanan, dalam doa, persembahan; apakah itu berarti pekerjaan Tuhan akan digagalkan? Allah adalah Allah yang berdaulat, Allah adalah Allah yang berkuasa atas seluruh kehidupan manusia maka Tuhan pasti tidak akan tinggal diam. Pekerjaan Tuhan tidak pernah bergantung pada harta kita, kepandaian kita, kehidupan kita karena Dia yang menciptakan seluruh isi dunia, pemilik alam semesta, bahkan berkuasa atas kematian maka Dia kaya dari harta yang kita punya, lebih pandai. Jadi, kita sebenarnya tidak layak kalau mengatakan, ”Aku melayani karena Tuhan butuh.” Memang siapa kita? Orang berdosa yang seharusnya dibinasakan. Kalaupun tidak ada orang yang mau melayani, Tuhan bisa memakai batu-batu untuk memuji Tuhan, memuliakan Tuhan. Kita yang rugi bukan Tuhan yang rugi kalau kita tidak melayani.
Tuhan tidak pernah tertidur, Dia selalu menjaga, Dia selalu membimbing, ketika kita dalam kesulitan, tantangan, kekuatiran; Tuhan membentuk kita menjadi orang yang sungguh berkenan kepadaNya. Sama halnya dengan indian boy; untuk mencapai kedewasaan maka dia harus menjalani tes, yaitu dia harus tinggal selama sehari penuh dalam hutan gelap, tidak ada bintang dan bulan bersinar. Apakah dia bisa bertahan dalam keadaan demikian? Malam mulai larut, kegelapan semakin mencekam, mulai timbul rasa takut; dia bertahan, tidak berteriak demi supaya dia lulus ujian. Ketika hari semakin terang, dia melihat ayahnya menjagai, bersiaga penuh, tidak pernah tertidur; ternyata dia tidak sendiri. Hal ini rupanya tidak disadari oleh si indian kecil ini. Apakah kita juga seperti indian kecil ini; tidak menyadari kehadiranNya di saat kita dalam kesulitan? That history is not my story but His story, Allah yang memegang sejarah, mengendalikan sejarah, yang memimpin kehidupan kita. Berbeda dengan kaum eksistansialis yang hanya mementingkan kehidupan saat ini, tidak peduli masa lalu maupun masa yang akan datang. Pernyataan kaum eksistensialis ini dapat kita lihat pada kata-kata kuncinya; passion, moment, happiness, feeling. Suatu semangat yang mementingkan kekinian; tidak peduli masa lalu maupun masa yang akan datang; yang penting hari ini aku sukacita, bahagia. It’s feel good do it. Berbeda dengan kaum eksistensialis, maka kaum Yudaisme hanya mempedulikan masa lalu, sedang kaum futuris, hanya mempedulikan masa akan datang; hari ini bekerja keras, berinvestasi dengan harapan suatu saat nanti akan datang pengharapan, masa depan lebih baik.
Pada waktu Kristus mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kataNya, ”Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” (Luk. 22:16) Sebab setiap kali kamu makan roti ini…kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang (I Kor. 11:26). Kristus sudah mati di atas kayu salib, karya Kristus sudah dinyatakan dalam hidup kita pada masa lampau (past); dan sekarang kita masih terus berproses menuju kesempurnaan (present); tetapi kita juga harus memberitakan tentang kematian Tuhan, bersaksi terus sampai Ia datang (future). Tuhan yang memegang sejarah; past, present, future; hal ini seharusnya membuat kita semakin beriman. Allah selalu hadir, memimpin, memberkati seluruh hidup kita terutama disaat kita dalam masa krisis, kesulitan. Dengan caranya yang unik, ajaib, yang tidak dapat kita duga; Tuhan hadir tepat pada waktunya.
Dalam Est. 4:14, “…justru saat yang seperti ini…” memakai kata kairos (bhs. Yunani). Adalah anugrah jikalau kita boleh berespon akan panggilan Tuhan, mengerti apa yang Tuhan ingin kerjakan dalam hidup kita, membentuk hidup kita. Edith Schaeffer berkata, “We (American) produce thousand of schollar every year but not even one hero for the kingdom of God.” Kita menghasilkan ribuan sarjana, doktor (orang jenius) tapi tidak ada satupun seorang pahlawan bagi kerajaan Allah. Jaman sekarang gerejaTuhan bukan hanya berada pada tangan pendeta, penginjil tetapi juga pelayan-pelayan awam; yang mempunyai iman seperti Mordekhai. Karena iman Mordekhai, Ester menjadi diingatkan akan tugas dan panggilannya sebagai umat Allah. Pada jaman sekarang, biarlah kita boleh meneladani iman dari Mordekhai ini. Mungkin kita akan menjadi minoritas, tetapi hal itu tidak menyurutkan kita untuk dapat menjadi saksiNya. Apa yang kita lakukan, mungkin tidak berkenan di hadapan raja, penguasa tetapi ingat apapun yang kita lakukan biarlah itu semua kita kerjakan demi untuk kemuliaan Tuhan. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)