Ringkasan Khotbah : 19 Januari 2003

Yesus Gembala yang Baik

Nats: Yoh 10:1-18; 26-30

Pengkhotbah : Ev. Solomon Yo

 

Alkitab menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan secara unik, manusia sebagai domba dan Tuhan sebagai Sang Gembala.”Kami ini umat-Mu dan kawanan domba gembalaan-Mu (Mzm. 79:13); “Ketahuilah Tuhanlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya” (Mzm. 100:3); “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku” (Mzm. 23:1). Tuhan Yesus berkata, ”Akulah gembala yang baik. Gembala yang memberikan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yoh. 10:11).

 

I.   Mengapa kita digambarkan sebagai domba?

Mengapa manusia digambarkan sebagai domba, dan bukannya binatang lain, seperti harimau, singa, atau burung elang yang lebih kuat dan perkasa daripada domba? Apa ciri-ciri dari domba? Lemah, bodoh, dan agak keras kepala. Tampaknya gambaran mengenai domba yang bodoh itu tidak sesuai bagi manusia. Bukankah manusia makhluk yang paling cerdas? Manusia telah berhasil mendarat di bulan, dan mencapai berbagai kemajuan dalam bidang sains, teknologi, sosial, dan sebagainya. Mengapa kita digambarkan sebagai domba?

Saya bukanlah orang yang terlalu pintar, saya melakukan kebodohan-kebodohan. Lalu saya melihat orang lain yang lebih cerdas dari saya, mereka juga mempunyai kebodohan atau kepicikannya sendiri. Saya melihat orang-orang yang memiliki karunia yang luar biasa (jenius), seperti Oscar Wilde (Sastra), Nietzsche (filsuf), mereka mengalami kehancuran karena kebodohan mereka. Belum lagi, ada begitu banyak orang yang kurang cerdas dijerumuskan oleh pemimpin yang tidak baik. Sungguh ironis, manusia yang dicipta menurut gambar dan rupa Allah, mahkota ciptaan Allah yang melebihi semua ciptaan lain, oleh nabi Yesaya, dikatakan lebih bodoh dari lembu dan keledai: “Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya.” (Yes 1:3)

Gambaran domba yang dipakai dalam Alkitab adalah wahyu Allah, karena itu pasti ada kebenaran penting yang ingin Ia ungkapkan kepada kita. Apakah itu? Pertama, menegaskan mengenai kelemahan, kebodohan, kerentanan, dan ketidakberdayaan manusia. Manusia adalah makhluk yang mudah terjerumus dalam penipuan diri; ia seperti kabut yang sebentar saja sudah menguap dan lenyap; Kedua, menegaskan ketergantungan manusia kepada Tuhan, Gembala Ilahi manusia, satu-satunya yang dapat menuntun kita di jalan yang benar. Sebelum kita mengenal keberadaan diri kita yang miskin, hina dan celaka; dan pada saat yang sama mengenal Allah yang di dalam kasih dan kekudusan-Nya memperhatikan kita, maka tidak ada agama atau kerohanian yang sejati. Ketika berada dalam lingkungan dimana kita lebih menonjol dari rata-rata, kita merasa kita lebih pandai dari orang lain, padahal kita memiliki kebodohan kita sendiri dan ada banyak orang lain yang lebih hebat dari kita. Saat kita bertumbuh lebih rohani dari orang lain, kita menjadi sombong dan menjadi lebih berdosa dari orang lain. Inilah kita, manusia yang rentan dan tidak benar di hadapan Allah, dan mudah tersesat. Tepat sekali, jikalau kita digambarkan sebagai domba, yang bodoh, lemah, rentan, mudah tersesat, dan selalu dalam bahaya, sehingga kita memerlukan gembala yang baik untuk menuntun hidup kita. Inilah yang ditegaskan oleh Alkitab; hidup kita adalah berdasarkan anugrah Allah. Hanya oleh anugerah Allah, kita dapat hidup, diselamatkan, melakukan pekerjaan Allah.  

 

II. Apa arti gambaran Tuhan sebagai Gembala kita yang baik?

Kita sudah melihat gambaran manusia sebagai domba, lalu apa artinya Tuhan adalah gembala kita yang baik? Ketika Yesus menyebut diriNya sebagai gembala yang baik; Ia mengkontraskan dengan (1) pencuri dan perampok (10:1,8,10); (2) gembala upahan (10:12-13). Keduanya mempunyai ciri yang sama, yaitu hanya memikirkan keuntungan diri sendiri, tidak memperhatikan kesejahteraan domba-dombanya. Gambaran gembala tersebut ditujukan untuk para pemimpin yang ditetapkan Allah untuk menuntun umatNya, misalnya raja, imam, nabi, para tua-tua masyarakat baik dalam bidang politik maupun keagamaan. Tetapi mereka tidak memperhatikan umat Tuhan,  mereka justru memanfaatkan dan membiarkan domba-domba Allah tersesat (Yer. 23:1-2; Yeh. 34:1-6). Karena tidak menemukan ada gembala yang setia pada kawanan dombanya, maka Tuhan marah dan akan menghukum mereka; tetapi Tuhan akan memberikan memberikan gembala lain yang lebih baik, yaitu Ia sendiri yang akan menjadi gembala kita (Yer 23:3-4; Yeh 34:11-16) akan menghukum mereka; tetapi Tuhan akan memberikan memberikan gembala lain yang lebih baik, yaitu Ia sendiri yang akan menjadi gembala kita (Yer 23:3-4; Yeh 34:11-16).

Sekarang kita hidup dalam jaman dalam situasi dan kondisi ekonomi, politik, sosial  yang sulit. Kita membutuhkan pemimpin yang baik; dalam bidang pemerintahan, rohani maupun bidang-bidang lain. Tetapi ternyata para pemimpin kita lebih memperhatikan kesejahteraan mereka sendiri, dan mengabaikan kesulitan yang dihadapi oleh rakyat banyak. Demikian juga kita menyaksikan adanya hamba Tuhan yang tidak melayani dengan tulus, lebih memperhatikan keuntungan pribadi, apakah materi, nama dan kedudukan, daripada memperhatikan domba-domba Tuhan yang dipercayakan Gembala baik sangat sangat dibutuhkan oleh domba-domba. Kita sangat membutuhkan pemimpin bangsa yang mengasihi rakyat dan betul-betul berjuang bagi kesejahteraan seluruh rakyat. Kita membutuhkan rohaniwan-rohaniwan yaitu pemimpin pemimpin rohani yang betul-betul menggembalakan jiwa kita. Seorang pemimpin yang baik, ketika umat / rakyatnya dalam kesulitan, dia akan berusaha sekuat tenaga menolong mereka, membantu mereka mencari jalan keluar dari kesulitan mereka. Pemimpin demikian sangat langka.

Kalau kita diberi karunia lebih dari orang lain, itu tidak dimaksudkan untuk menghina orang lain? Semakin banyak karunia yang diberikan Tuhan, semakin besar tanggung jawab kita untuk menjadi berkat bagi orang lain, dan bukan kesempatan untuk memanipulasi orang lain. Karunia diberikan supaya kita dapat menjadi wakil Tuhan untuk memberkati domba-domba Tuhan. Apakah kita berada dalam pemerintahan, politik, ekonomi-bisnis, sosial-budaya, pendidikan, dan sebagainya. Inilah panggilan mandat budaya bagi setiap kita untuk mengelola kehidupan menjadi lebih baik sehingga mendatangkan sejahtera bagi banyak orang. Sudahkah kita melakukan hal ini? Ingat, saat kita mengerjakan apapun, lakukanlah  semuanya itu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia! Tuhan akan menghukum lebih berat para gembala, yaitu para pemimpin yang tidak setia. “AKU akan menghukum mereka, Aku akan menghentikan mereka, Aku akan mengirim binatang buas untuk menghancurkan mereka.”

Yesus berkata, ”Akulah gembala yang baik” (I am the good shepherds). Kata I am yang unik ini muncul sebanyak tujuh kali dalam Injil Yohanes. Arti kata ini memiliki latar belakangnya di dalam Keluaran 3:14, di mana Tuhan menyatakan diri-Nya sebagai “Aku adalah Aku (YHWH). Jadi dalam penegasan “Akulah gembala yang baik,” Yesus sedang menyatakan bahwa diri-Nya adalah Pribadi Ilahi. Dia adalah gembala ilahi yang dijanjikan itu (Yeh. 34:15-16). Pada masa di mana umat Allah hidup dalam kekacauan dan tanpa pengharapan, Yesus datang sebagai gembala yang baik. Kata ’baik’ yang dipakai bukan agathos yang mempunyai pengertian baik secara moral, tetapi kalos, yang mempunyai arti baik secara kualitasnya. Misalnya, kita tidak cukup hanya memiliki seorang dokter yang baik, karena siap untuk menolong kita, termasuk pengobatan secara cuma-cuma bagi yang tidak mampu, tapi juga seorang dokter yang baik, dalam arti berkualitas dalam bidangnya. Yesus adalah gembala yang baik, dalam arti Ia memiliki selain kasih kemurahan juga kualitas gembala yang baik untuk memimpin kita kepada kesejahteraan.

Kata gembala mempunyai arti: (1) kasih dan perhatian, merawat dengan  penuh kelembutan dan kesabaran. Inilah arti yang sudah kita kenal. (2) otoritas/kedaulatan. Inilah sebabnya gambaran gembala dipakai bagi para raja, pemimpin; mereka memiliki otoritas atau kedaulatan atas umat. Tuhan adalah gembala pemilik, bukan gembala upahan. Dia memiliki kedaulatan penuh atas kita karena Dialah yang memiliki kita, dan kata “memiliki” ini juga berarti kasih sayang. Seperti dalam setiap rasa memiliki yang positif. Misalnya rasa memiliki suatu perusahaan/persekutuan, berarti menyayanginya; hak orang rasa memiliki orangtua terhadap anak, berarti mengasihi dan memberikan perhatian. Demikian besar kasih-Nya kepada kita milik-Nya, sampai-sampai Ia memberikan nyawa-Nya bagi keselamatan kita. Gembala upahan ketika mengalami kesulitan, dia akan lari karena orientasi mereka adalah demi keuntungan mereka sendiri tetapi sebaliknya Yesus berkata,”Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam kelimpahan” (Yoh10:10b). Yesus memiliki kita dan mengasihi kita dengan kasih ilahi. 

 

III. Tindakan kasih seperti apa yang dilakukan oleh Gembala kita yang baik itu?

1. Ia memberikan nyawaNya bagi domba-dombaNya.

”Akulah gembala yang baik,…dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku”(Yoh 10:14-15). Seandainya sebagai gembala, suatu saat kita dihadapkan pada pilihan: melindungi domba tapi kita mati atau membiarkan domba mati. Mana yang lebih dipilih? Tentu manusia tidak layak mati bagi domba. Terutama jika gembala itu adalah anak kita, kita pasti berpesan,”Nak, kalau ada binatang buas, dan kamu sudah tidak sanggup menyelamatkan domba-domba; biarkanlah, karena yang penting kamu selamat.” Dan tidak akan berkata “Nak, kalau ada segerombolan  serigala yang memangsa domba-domba kamu harus menjaga domba-domba bila perlu kamu mati” Karena nyawa domba tidak sebanding dengan nyawa manusia. Begitu juga dengan harta benda yang kita miliki tidak sebanding dengan nyawa kita. Tapi kalau demi nyawa anak, kita pasti rela mati berkorban nyawa. Hal ini sangat lazim.

Terkadang ada juga gembala yang mati bagi domba, itu accident karena bukan tujuan gembala untuk mati bagi domba, tetapi Yesus datang dengan tujuan mati bagi domba. Kalau manusia saja, tidak layak mati bagi domba maka sangat tidak layak kalau Tuhan mau mati bagi manusia. Tapi Tuhan sudah melakukan hal yang tidak lazim, yaitu mau mati bagi domba. Hal ini justru untuk menyatakan anugrah yang tidak dapat kita mengerti. Kita yang tidak layak, berdosa, jahat tapi Dia rela datang, mati untuk kita. Dia sangat mengasihi, menghargai kita manusia. Adalah sifat manusia, yaitu mengasihi karena ada sesuatu yang diharapkan, karena dia berharga, tapi Tuhan justru mengasihi yang jelek, yang jahat untuk Dia ubah menjadi baik dan indah. Gembala mana yang dapat mengasihi kita dengan kasih yang begitu mulia? Hal ini tidak akan kita peroleh dari gembala upahan apalagi pencuri dan perampok. Manusia adalah “takers” (suka memanfaatkan orang lain demi keuntungannya sendiri), demikian kata Anthony Hopkins dalam film Instinct, sehingga ia lebih suka tinggal di tengah-tengah gorilla di tengah hutan. Hanya Tuhan pencipta yang mengasihi kita yang rela mengasihi kita dengan tulus.  

2. Ia mencari dan menyelamatkan yang hilang.

Yeremia 23:3-4,“…dan tidak hilang seekor pun.” Yehezkiel 34:16,“Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang,…” Dalam injil Lukas 15:1-7, melalui perumpamaan Yesus mengajarkan bahwa Dialah Allah yang datang untuk mencari domba yang hilang, walaupun hanya seekor saja, padahal ia masih punya sembilan puluh sembilan yang lain. Hal ini sangat mengherankan, apalah artinya seekor dibanding dengan sembilan puluh sembilan ekor? Demikianlah Tuhan melakukan hal yang tidak lazim. Satu domba yang tersesat, adalah gambaran dari manusia yang paling bandel, menyusahkan, dan tidak tahu diri. Ketika orang lain sudah mengabaikan, melupakan kita bahkan mengharapkan kematian kita,  tetapi Bapa kita yang di Sorga tetap mengasihi, mencari dan menyelamatkan kita, manusia tidak berguna yang tidak layak dicari, yang seharusnya dibuang, bahkan dengan membayar harga yang mahal. Sama halnya dengan orang tua, dia akan tetap mengasihi anaknya meski jahat sekalipun. Kasih Tuhan lebih besar daripada kasih orang tua pada anaknya; Dia mencari kita yang tidak layak untuk dicari, yang seharusnya dibuang; Dia rela datang, Dia rela menderita dan mati di kayu salib. Dia tidak menyerah terhadap kita, walaupun hati kita sekeras intan, Dia dengan kasih-Nya besar terus mencari kita dan akan mengubah kita dengan kasihNya. Inilah kebodohan salib, tetapi justru menyatakan kebesaran kasih dan anugrah Tuhan. 

3. Ia memberikan pemeliharaan yang sempurna dan sejahtera melimpah.

Siapa yang dapat menjamin hidup kita? Layakkah manusia dijadikan sandaran dan jaminan hidup kita? Tidak, karena manusia selalu berubah, makhluk yang rentan, yang dalam ketakutan mereka begitu mudah untuk mengorbankan orang lain; manusia bukanlah gembala yang baik bagi kita. Hanya Tuhan satu-satunya yang dapat memberikan jaminan kepada kita; Dia mengasihi kita, dan berkuasa mewujudkan kasih-Nya. Gembala yang baik menuntun, domba-dombanya masuk ke kandang dan membawa keluar ke padang rumput; hal ini melambangkan keamanan, kestabilan, kemakmuran, damai sejahtera dan hidup yang berkecukupan. Gembala membawa domba, mencari padang rumput, jauh dari rumah dan ia menjaganya dengan setia, dengan tongkat dan gadanya. Demikianlah Tuhan selalu menjaga kita, mataNya tidak pernah tertidur. Seperti ayah dan ibu yang selalu menjaga anak ketika demam tinggi, matanya selalu mengawasi, berjaga-jaga; kuatir karena demam yang tinggi akan mengancam nyawa si anak. Tuhan adalah gembala yang baik, Dia menjaga kita, menuntun kita, mengasihi jiwa kita,

4. Ia memberikan suatu hubungan kasih yang paling intim dan bahagia.

Dia mengenal kita dan kita mengenal Dia (10:14). Arti mengenal disini mempunyai arti mengenal dalam suatu hubungan yang intim. Misalnya, Dalam Kejadian 4:1, dikatakan Adam know Eve, mengenal dalam arti hubungan kasih yang intim, dan konteks di sini ialah hubungan kasih  suami istri. Dalam Roma 8:29. kata dipilih adalah foreknowledge, mengenal di sini ialah mengenal dengan kasih dan itu menjadi dasar pemilihan kita untuk menjadi anak-anak yang Ia selamatkan. Tuhan mengenal domba dan menyebut mereka dengan nama (Yoh 10:3). Hal ini menunjukkan suatu hubungan yang intim, yang penuh cinta kasih. Dia bukan sekedar mengenal tapi Dia tahu secara pribadi. Pemberian nama dalam Alkitab bukan sekadar yang membedakan dari yang lain, tetapi berkenaan ciri-ciri orang tersebut. Tuhan mengenal pribadi kita, Dia tahu segala penderitaanmu, kekuatiranmu, ketakutanmu, rencana-rencana yang kamu pikirkan. Dia tahu seluruh hidupmu lebih daripada engkau mengenal dirimu sendiri. Hubungan kita dengan Tuhan bukan seperti hubungan bisnis; asal percaya Tuhan maka kita telah dapat tiket ke surga. Hubungan kita dengan Tuhan seperti hubungan orang tua dan anak, dimana orang tua mengenal pribadi anak sejak dari kecil, ada ikatan kasih. Tetapi, hubungan antara orang tua-anak atau hubungan kekasih yang paling indah sekalipun tidak dapat disetarakan dengan hubungan antara Tuhan dengan manusia. Itu adalah hubungan yang paling indah diantara semua hubungan yang pernah kita temui bahkan antara hubungan suami dan istri sekalipun. Inilah yang akan membuat surga menjadi tempat penuh kebahagiaan karena hubungan indah dengan Tuhan. Surga bukan tempat seperti di dunia, yang penuh dengan kedagingan, ada bidadari, ada pesta, dan sebagainya. Dia mengenal kita dan kita mengenal suara gembala yang sejati.

Dunia dan manusia bisa berubah, tetapi Yesus tidak akan pernah berubah. Dia adalah gembala kita yang sejati, yang mengenal kita, yang tahu segala penderitaan kita, yang membimbing menuju ke air yang tenang, yang membaringkan kita di padang rumput yang hijau, yang memberi hidup sejahtera. Tuhan adalah gembalaku, cukup! Sudahkah anda memiliki Yesus gembala yang baik itu? Amin.?

 

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)