![]() |
Ringkasan Khotbah : 12 Januari 2003
Nats: Yoh 15: 9-11 Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno |
Yoh 15:9-11 membicarakan 3 topik yang berkaitan antara satu dengan yang lain:
1) Kasih, yaitu membicarakan bagaimana kasih Allah turun pada Kristus, kasih Kristus turun pada umat, umat kepada Kristus dan kasih Kristus pada Bapa. Kasih yang terikat ini menjadi dasar untuk membentuk bagian lain, yaitu 2) Ketaatan, to keep the commandments, memegang dan melakukan perintah Tuhan. Barangsiapa menuruti perintahKu, Dia akan tinggal dalam kasihKu sama seperti Kristus taat pada Bapa dan hidup dalam kasih Bapa. Ketaatan menuruti perintah dikaitkan dengan cinta kasih menghasilkan 3) Sukacita. Kalau sudah ada kasih dalam diri kita dan ketaatan membentuk kita kemudian menjadi satu di dalamnya maka akan keluar hasil, yaitu sukacita penuh dari Kristus.
Di dunia, tiga bagian ini, secara tema, arti dari kata-kata tersebut dimengerti dengan jelas. Tetapi yang dunia pikir tahu, ternyata mereka tidak tahu. Kenapa? Karena dunia belum menyentuh esensi dari kata tersebut. Mereka memakai kata kasih, mempraktekkan kasih tapi yang dipraktekkan bukan kasih, cuma manipulasi istilah kasih. Begitu juga dengan arti kata taat dan sukacita. Mereka menjalankan tiga unsur ini tapi tidak berhubungan antara satu dengan yang lain. Mereka pikir sedang bersukacita, itu bukan sukacita sejati tetapi hanya rasa sukacita.
Dunia menggunakan terminology sama, tapi mempunyai content yang berbeda. Dunia postmodern suka bermain-main dengan bahasa, language game, mereka tidak tahu esensi dari arti dan istilah bahasa tersebut. Latarbelakang munculnya gerakan ini karena ketidakpuasan terhadap keadaan yang hopeless. Beberapa waktu lalu telah dibahas mengenai kasih yang sejati. Alangkah indahnya jika dunia mengerti arti kasih sejati tapi sayang, dunia tidak mengerti. Jadi ketika ada orang berkata,”I love you”. Maka jadi pertanyaan besar buat kita, What’s that? What do you mean by love? Apa artinya cinta? Dunia mengerti, Iove sama dengan like, cinta sama dengan suka. Padahal, cinta bukan suka dan suka bukan cinta, kalau keduanya digandeng maka akan terjadi kesalahan besar. Karena cinta akan jadi manipulatif, saya mencintai bukan karena saya mencintai tetapi karena ingin memakai, memanipulasi, mendapatkan seseorang maka digunakan istilah I love you. Cinta sejati bukan berorientasi pada keinginan diri, nafsu diri, ekspresi, emosi diri, semua yang dari diri, dan dilampiaskan pada orang lain. Orang lain menjadi obyek manipulasi dari orang yang mengatakan I love you. Kasih yang sejati seharusnya muncul dari sumber kasih, yaitu Tuhan Allah dan kasih sejati bukan sekedar bernuansa emosi, tetapi suatu person, pribadi maka di dalam iman kristen tidak pernah dikatakan Allah bersifat kasih tetapi dikatakan Allah adalah Kasih. Kasih bukan sekedar sifat atau emosi tertentu dari Allah, tetapi justru kasih itu adalah eksistensi diri Allah yang dinyatakan secara totalitas dan itu dinyatakan dengan pengorbanan Kristus di atas kayu salib, mati untuk kita.
Dunia di abad 21 memasuki kondisi yang sangat menakutkan, dunia semakin modern semakin canggih tapi orang yang semakin canggih justru semakin jahat. Sehingga ketika orang berupaya untuk ‘memakan’ sesamanya, digunakan teknik-teknik yang sangat canggih untuk menghancurkan orang lain maka di jaman sekarang ini terlalu banyak istilah yang bagus, yang indah namun dipakai untuk menghancurkan orang lain. Ketika anda mempercayakan diri pada obyek iman yang salah, maka bersiaplah engkau akan dihancurkan oleh dunia! Jangan menangis! Jangan kecewa! Salah satu aspek adalah karena kesalahan kita sendiri karena tidak bisa memilah kepada siapa kita mau mempercayakan diri!
Cinta kasih sejati, true love, hanya ada pada Yesus Kristus. Hanya kepada Dia kita berhak memberikan cinta kita. Hal ini sudah dibahas dan dapat dilihat pada Love, Obey & Joy (1) (ring. Khotbah 17 November 2002). Bagaimana supaya kita dapat hidup dalam kasih sekaligus taat pada Bapa?
1. Menuruti perintah Bapa.
Kasih harus dikaitkan dengan ketaatan. Hal ini sangat penting tapi sangat sulit dimengerti dan dijalankan oleh dunia. Dalam setiap aspek hidup kita, kita banyak dididik, dilatih dan ditekankan dengan istilah ketaatan, misal: di sekolah, di rumah, di kantor, dan sebagainya. Tapi ketaatan yang dunia mengerti dan yang Alkitab ajarkan sangat jauh berbeda.
Dunia mengerti ketaatan, tapi ketaatan yang dunia mengerti bukan ketaatan yang sesungguhnya tapi ‘keterpaksaan’. Hal ini disebabkan karena:
a) Ketaatan muncul karena adanya penguasaan, ketakutan. Kalau tidak taat, maka akan dihukum, dibunuh, ditangkap, dipenjarakan, mengalami kesusahan dsb. Apakah itu taat yang sesungguhnya? Itu bukan ketaatan, kita taat karena terpaksa, itu penindasan. Dalam mendidik anak, jangan memakai cara seperti itu, anak diajar taat pada orang tua karena ada hukuman yang menanti jika mereka tidak taat. Anak akan menumpuk kebencian pada orang tua. Maka tidaklah heran, ada kasus anak yang membunuh orang tua kandung akibat kebencian yang telah dipendam begitu lama. Akhirnya, ketaatan sinonim dengan kejahatan, hukuman, penindasan, kebencian dan pemberontakan. Satu hal yang dunia tidak tahu, yaitu ketaatan dihubungkan dengan cinta kasih.
b) Ketaatan muncul karena sudah dibeli. Kenapa saya taat? Karena sudah dibayar, karena sudah mendapat upah yang diinginkan, karena sudah dibeli oleh penguasa yang menuntut ketaatan. Lalu itukah yang dinamakan taat? Bukan! Jualan! Saya sedang jual ketaatan untuk dapat sesuatu yang saya perlu, yaitu upah, imbalan. Ketaatan seperti ini adalah ketaatan yang sangat kondisional, terbatas, ketaatan humanis, materialis karena ada iming-iming. Kita sedang jual diri kita untuk jadi budak orang yang membeli kita, tidak beda dengan seorang pelacur yang menjual dirinya untuk sesuatu yang orang lain suka. Ini bukan ketaatan tapi suatu bisnis, tawar menawar.
Manusia ketika mengalami tekanan, mereka menggunakan istilah taat. Ketaatan yang diajarkan dunia, suatu saat akan hilang, sirna, dan bersifat kondisional. Sejarah membuktikan, ketaatan akibat tekanan akan meledak menjadi perlawanan yang luar biasa! Michael Foucault, ‘orang gila’, homoseksual, tapi jadi dekan psikologi dan menjadi pimpinan tertinggi di universitas, Amerika. Dia ke Amerika bukan karena ada tawaran rektor tapi karena di Amerika ada perkumpulan gay paling besar di dunia. Akhirnya dia mati mengenaskan, AIDS. Buku-buku karangannya diterjemahkan ke berbagai bahasa dan banyak diminati oleh orang-orang dunia. Ironis, orang yang gila menulis buku tapi banyak orang mengagumi dan membeli bukunya. Apa yang terjadi? Pasti ada kesamaan antara penulis dengan pembaca. Michael Foucault mengajarkan, dunia penuh dengan kekuasaan dan semua kekuasaan adalah kejahatan, jadi mari kita lawan semua kekuasaan, mari kita menjadi orang yang anti otoritas karena semua otoritas adalah kejahatan! All power, all authority is evil. Semua orang setuju dengan pernyataan tersebut. Dengan kata lain, dia mau berkata,”Mari kita jadi penguasa.” Orang yang anti kekuasaan, tapi dia mau jadi penguasa dan tidak mau dikuasai. Dia tidak sadar, waktu teriak anti kekuasaan, dia sedang berkuasa dan waktu sedang berkuasa, dia jahat tetapi dia selalu menuduh orang lain yang berkuasa itu jahat. Dia tidak pernah melihat diri sendiri dimana kalau dia berkuasa, dia juga jahat.
Ketaatan selalu dikaitkan dengan kekuasaan, kebencian, pemberontakan. Hal itu sudah melekat di kepala kita, maka ketika mendengar kata taat, langsung dihubungkan dengan penguasa, dan melihat penguasa, langsung dihubungkan dengan kejahatan, ketidakpuasan, pemberontakan.
Orang yang taat karena dibeli, dibayar, maka suatu saat jika ada orang yang membayar lebih mahal maka dia akan pindah pada orang lain. Apa bedanya dengan dunia bisnis? Harga diri manusia menjadi rendah karena bukannya menjalankan ketaatan yang sejati tetapi menjadi jual beli diri. Moral, nilai hidup, harkat diri manusia turun sampai ke titik yang terendah, tidak beda dengan binatang. DI dunia yang semakin modern, manusia semakin kehilangan dirinya, kehilangan dignity-nya. Kenapa? Karena sudah terbiasa jual beli diri.
Sekarang banyak gereja yang rusak, tidak bisa menjalankan visi karena hamba Tuhannya sudah dibeli. Pada prinsipnya, jemaat tidak ikut membayar gaji hamba Tuhan, jemaat hanya bertanggung jawab memberikan persembahan sesuai dengan apa yang Tuhan sudah berikan dan jemaat harus memberikan persembahan buat Tuhan. Jemaat bertanggung jawab pada Tuhan bukan pada hamba Tuhan. Kemudian gereja mempunyai suatu tim dimana tim ini berpikir bagaimana menghargai seorang hamba Tuhan, hamba Tuhan dihargai bukan dari pribadinya. Orang yang diberi berkat besar maka dia pantas memberi banyak, berlebih. Orang yang diberi berkat sedikit maka dia pantas memberi kecil. Orang miskin yang memasukkan uang 2 peser ke dalam kotak, secara persentasi dia memberi lebih besar dibanding dengan orang kaya yang memasukkan 10% dari penghasilannya karena 2 peser yang masuk sama dengan 100%, sedangkan orang kaya memberi dalam jumlah besar tapi cuma 10% dari seluruh penghasilannya. Jadi, mana dan siapa yang memberi lebih banyak? Tentu, yang memberi 100% dari seluruh penghasilannya, yaitu si orang miskin. Komitmen anda di hadapan Tuhanlah yang dinilai. Tapi dunia tidak mau mengerti arti ketaatan sejati dan celakanya istilah ketaatan yang dimengerti oleh dunia, diimport, dimasukkan ke dalam gereja. Akibatnya, gereja tidak bisa lagi menyatakan ketaatan yang sesungguhnya. Biarlah saat kita boleh mengerti tentang arti dan makna ketaatan yang sejati, hal itu boleh membawa kita masuk ke dalam hubungan yang paling konsisten dan akan menghasilkan suatu sukacita besar, yang tidak bisa didapatkan oleh orang lain. Alkitab mengatakan, ”Kamu mau mendapatkan kasih? Jawabnya cuma satu, yaitu turuti perintahKu.”
2. Ketaatan membuat kita hidup dan tinggal dalam kasihNya.
Bahasa asli memegang, keep my commandments, yaitu memegang bukan cuma sekedar memegang tapi memegang erat dan ditaruh dalam hati dan itu menjadi bagian hidup kita. Jadi perintah Tuhan bukan hanya sekedar teori, yang kita mengerti, hafal, seperti ahli taurat, orang Parisi. LAI menerjemahkan dengan lebih implikatif, yaitu memakai istilah menuruti perintahKu. Menuruti perintah Tuhan sebagai suatu sikap, memegang erat lalu menjalankannya. Disinilah unsur ketaatan muncul. Bagaimana dengan ketaatan sejati? Tuhan menggambarkan ketaatan sejati :
a) dimulai dengan cinta Allah pada dunia ini, cinta Kristus terhadap kita yang membuat kita mempunyai unsur ketaatan. Tuhan tidak menuntut kita taat dahulu, bahkan Kristus mencintai kita, mati untuk kita ketika kita masih berdosa (Rom 5:8). Dunia kebalikannya, menuntut kita taat terlebih dulu baru kemudian ada imbalan. Serahkanlah dirimu, taat kepada Dia yang telah mencintaimu, yang telah berkorban begitu besar dengan mati untuk kita! Dia tidak akan mencelakakan kita! Kalau toh memang Dia mau mencelakakan kita, dibiarkan diam saja kita pasti akan mati sendiri. Relasi yang sangat wajar, kalau ada seseorang yang mencintai kita, dia menasihati kita demi untuk kebaikan kita lalu kita menurutinya. Bagaimana kalau ada orang yang licik, yang ingin menghancurkan kita, lalu memberi nasihat pada kita? Kira-kira kita mau menurut atau tidak? Anehnya, kita mau mengikuti, taat pada segala sesuatu yang mau menghancurkan kita, kepada dia kita mau taat. Tapi justru kepada orang yang mencintai kita, mengasihi kita yaitu Tuhan yang telah menyayangi kita, kita tidak mau taat. Aneh, kan? tapi nyata! Ketaatan sejati harus muncul dari cinta yang sejati, yaitu cinta Tuhan pada kita. Dia mencintai kita maka Dia berhak memberikan perintah pada kita.
b) dengan cintaNya yang begitu besar, membuat kita mendapat jaminan, kepastian, bahwa Dia akan turut serta pada apa yang dikatakanNya. Ini sangat penting dalam hidup kita. Kalau Dia sudah rela mati untuk kita, maka kalau Dia berkata,”Jalan! Aku akan beserta kamu!” Maka Dia pasti akan beserta dan kalau saya menjalankan perintah Tuhan maka Tuhan akan turut serta di dalamnya. Jikalau kita tidak pernah jalan, taat akan perintah Tuhan maka jangan salahkan Tuhan kalau anda hancur! Waktu kita taat maka engkau ada di dalam kasihKu. Kepada siapa kita mau taat? Dunia menawarkan hal yang menakutkan, salah satunya filsafat utilitarianisme, dicetuskan oleh John Stuart Mill. Salah satu tesisnya berisi :
- hidup di dunia cuma ada 2 pilihan, yaitu pleasure or pain, gain or lost, senang atau menderita, mendapat atau hilang. Tidak ada pilihan lain. Maka kalau begitu, kita harus ambil untung, hidup harus senang, tidak boleh rugi, tidak boleh susah atau kehilangan, maka:
- etika harus sejajar dengan pleasure dan untuk itu kita harus gain. Maka kita harus kejar pleasure, kalau gagal, maka:
- pain is your risk! Penderitaan, kerugian atau kehilangan, jangan salahkan siapa-siapa, itu resikomu!
Contoh: MLM (Multi Level Marketing), Alkitab mengkritik itu adalah prinsip dasar humanis, materialis, yang akan menghancurkan semua aspek hidup kita. Hari ini banyak orang mempermainkan perintah Tuhan, bukan kembali kepada Firman Tuhan tapi justru masuk dalam subjective interpretation terhadap perintah Tuhan. Bertobatlah! Jangan pernah percaya, jangan pernah berharap kepada dia yang tidak sungguh-sungguh mencintai, tidak pernah berkorban untuk kita. Bahkan, jangan mudah percaya dengan orang kristen sekalipun. Maaf, karena jaman sekarang, istilah kristen banyak dimanipulasi. Oleh karena itu orang Kristen harus membuktikan diri, yaitu dengan hidup dipenuhi oleh kasih sejati dimana kasih sejati itu membuat kita taat dan ketaatan yang sejati membuat kita beroleh sukacita yang sejati, yang berbeda dengan yang dunia tawarkan. Itulah kehidupan kristen yang indah. Amin.?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)