Ringkasan Khotbah : 5 Januari 2003

Iman, Pengharapan & Kasih

Nats: Roma 8: 31-32

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Memasuki tahun 2003  banyak komentator, media massa, meramalkan 2003 adalah tahun yang paling menakutkan khususnya bagi Indonesia. Hal ini dapat dilihat dengan banyaknya beban yang ditanggungkan pada rakyat, akibat korupsi yang merajalela, kenaikan BBM, listrik diikuti dengan naiknya harga kebutuhan pokok yang semakin menambah beban rakyat, khususnya golongan menengah ke bawah. Keadaan demikian jika tidak terkendali akan sangat berbahaya,  manusia akan bertindak skeptis, ‘nothing to lose’, yaitu suatu kondisi dimana orang akan berpikir, demi untuk mempertahankan hidup, melakukan perbuatan baik atau jahat sama-sama beresiko jadi lebih baik melakukan yang jahat. Manusia  akan bertindak masa bodoh, cuek, pasif dalam menghadapi realita yang ada. Selama diri merasa aman, tidak terganggu, maka dia tidak peduli dengan penderitaan orang lain di sekitarnya. Bagaimana iman Kristen menanggapi hal ini? Kekristenan mengajarkan dan memberi kekuatan pada kita bagaimana menghadapi realita yang ada, bukan menghindarinya.

Dalam kitab Roma pasal 8 terdapat konklusi sekaligus solusi bagi mereka yang sudah diselamatkan. Roma 1-11 membicarakan tentang manusia berdosa, tidak berpengharapan, manusia yang seharusnya dimurkai Tuhan, tapi diselamatkan semata-mata hanya karena anugerah, bukan atas dasar jasa manusia,sola gracia, dan manusia hidup berdasarkan firman dan iman, sola scriptura, sola fide.  Apa yang dimaksud dengan anugerah? Anugerah adalah sesuatu yang kita terima yang semestinya tidak layak kita terima. Ketika anugerah diberikan, dibutuhkan dan harus ada suatu motivasi yang besar, yaitu cinta kasih. Tanpa cinta kasih maka anugerah yang diberikan sifatnya hanya pura-pura saja. Ketika seseorang mengalami sesuatu perlakuan yang sangat buruk lalu ditolong dengan sepenuh hati, tanpa mengharap imbalan, berarti ia mendapatkan anugerah besar maka orang tersebut dapat menjadi jaminan, menjadi sandaran yang dapat kita percaya. Dalam dunia ini, siapa orang yang layak kita percaya, yang dapat kita jadikan sebagai sandaran hidup? Tuhan membukakan melalui Paulus dalam Roma 8, yaitu :

1. Konsep anugerah yang benar. Konsep agama di dunia mengajarkan konsep bargain, mau hidup bargain, mau selamat bargain, Tuhan hanya sebagai simbol belaka. Bagaimana caranya supaya saya dapat diselamatkan? Bagaimana caranya supaya hidup bisa dibereskan? Maka caranya adalah dengan  tawar menawar, kalau saya berbuat sesuatu, apa yang saya dapatkan? Alkitab mengajarkan bahwa  kita hidup bukan berdasarkan upah atau hadiah belaka tapi semata-mata berdasarkan anugerah, karena di dalam anugerah ada suatu konsep yang mengikat tiga bagian yang sangat penting, yaitu iman kepercayaan kita, pengharapan akan kepastian dan kasih yang mengikat semuanya dan yang paling besar diantara ketiganya adalah kasih. Paulus mengatakan, start with the grace of God, mulailah dengan konsep anugerah. Reformed menekankan dua hal yang mendasar, yaitu anugerah Allah dan kedaulatan Allah dimana semua itu dipastikan dan diikat dengan tanggung jawab oleh Tuhan Allah.

2. Anugerah yang sejati didalamnya harus mengandung kasih yang sejati. Anugerah yang sejati kalau tidak ada kasih yang sejati bukanlah anugerah, hal ini dapat dibuktikan dengan dapatkah kita mengasihi musuh yang telah mencelakai, menghancurkan hidup kita? Kalau kita bisa mengasihi musuh, maka apapun akan menjadi gampang, karena hal mengasihi musuh adalah yang paling susah, berat dan tidak mungkin dapat dilakukan, tapi kita dapat melampauinya.

Roma pasal 6 dan 7 membuktikan bagaimana Allah beranugerah kepada kita, hingga Roma 8 Paulus menyatakan dalam hidup di dunia ini kita punya pilihan. Mau menjadi budak siapa? Mau bersandar pada siapa? Mau berharap pada siapa? Siapa yang layak kita percaya? Diri sendiri? Memang seberapa pantas dan hebatkah kita? Orang lain? Memang siapa dia? Kondisi? Memang kondisi tidak akan berubah? Dunia sekarang, mengalami gejala yang menakutkan yaitu gejala anxiety. Ini bukan keadaan takut biasa tapi suatu keadaan dimana kecemasan, kegelisahan, kekhawatiran sudah begitu mencengkeram dan mengakar dengan kuat dan manusia tidak bisa berbuat apa-apa sehingga dalam menghadapi keadaan, situasi apapun manusia selalu dibayangi dengan kecemasan, kekhawatiran yang berlebihan. Manusia merasa lebih aman jika mempunyai uang milyaran di bank tapi ketika uang itu mulai menyusut, maka mulai timbul rasa cemas, gelisah dan khawatir. Uang tidak bisa menghindarkan kita akan realita kesusahan dan penderitaan yang kita hadapi. Maka tidaklah heran banyak orang menderita penyakit akibat kecemasan yang mencengkeram bahkan bisa menimbulkan kematian.

Manusia dicipta Tuhan berbeda dengan binatang. Dengan akal budi menjadikan manusia selalu mempunyai rencana akan masa depannya, akan tetapi masa depan yang bagaimana? Suram! Tidak ada seorangpun yang tahu, sehingga hal itu membuat hidup semakin berat. Tetapi syukur kepada Allah, yang memberi kekuatan kepada kita, dengan anugrahNya yang besar, Dia memberikan jaminan iman kepada kita, sehingga kita tidak  merasa takut akan hari esok. Percayalah dan bersandarlah padaNya! Hanya Dia satu-satunya  yang layak kita percaya, Dia tidak akan mengkhianati, bahkan memanipulasi kita. Di dunia ini tidak ada apapun yang dapat kita percaya, kondisi, uang, orang tua, suami, istri, anak, teman bahkan diri sendiri sekalipun karena suatu saat semua itu dapat berubah. Lalu siapa yang dapat kita percaya di dunia ini? Hanya kepada seseorang yang mencintai Tuhan terlebih dahulu dan mencintai kita dengan sungguh-sungguhlah, kita bisa letakkan rasa percaya kita. Kita akan menanggung resiko yang sangat besar jika kita meletakkan rasa percaya kita kepada seseorang yang tidak mencintai kita karena dengan demikian kita akan dimanipulasi. Lalu sampai seberapa jauhkah kita dapat mempercayai  seseorang? Yaitu ketika suatu saat dia kita sakiti tapi dia masih tetap mencintai kita. Di dunia, hal ini mungkin hanya kita dapati hanya pada suami atau istri kita, true love, cinta agape, mencintai tanpa melihat kondisi dan tanpa mengharapkan balas. Dia mencintai bukan untuk kepentingan diri tapi  demi kepentingan kita. 

Firman Tuhan mengatakan hanya satu yang layak kita percaya yaitu, Dia yang tidak menyayangkan anakNya sendiri, tetapi yang menyerahkanNya, mati, untuk kita, manusia berdosa yang seharusnya dibinasakan. Tuhan tahu betapa jahat dan kejamnya manusia tapi Dia masih mengasihi kita, orang yang seharusnya dibinasakan. Di tengah dunia ini kita masih mau percaya kepada siapa? Bahkan diri sendiri pun tidak bisa kita percaya. Psikolog mengatakan, “ the most, the greatest enemy for ourself is ourself”. Dunia makin modern makin bertambah susah, banyak orang tidak bisa berdamai dengan orang lain bahkan kepada diri sendiri sekalipun jadi serahkanlah diri dan berdamailah dengan Allah, iman harus diserahkan kepada kasih yang terbesar. Iman yang terlepas dari kasih merupakan suatu kecelakaan besar. Celakalah, iman yang didasarkan pada kebencian!

Memasuki abad 21 ini biarlah kita kembali kepada esensi iman yang benar. Jangan percaya pada siapapun kecuali kepada dia yang mengasihi kamu dengan sungguh-sungguh, don’t trust anybody except those who love you more. Di tengah dunia ini makin banyak manipulator, makin banyak orang licik, makin banyak orang kejam, kecuali dia betul-betul mencintai kita kepada dia kita boleh memberikan kepercayaan,’iman’, kepada dia. Jangan tergiur oleh apapun yang sepertinya secara fenomena mengiming-iming kita, jangan tergiur dengan tawaran-tawaran menarik yang sepertinya memberikan janji surga! Perhatikan, siapakah yang lebih mengasihi kita?

1. Kasih Tuhan yang besar. Tuhan lebih mencintai kita lebih daripada kita mencintai Tuhan. Jika kita mencintai seseorang lebih besar daripada kita mencintai Tuhan, maka fatallah hidup kita. Dia mengasihi dengan begitu besar maka Dia berhak mendapat ‘iman’ yang terbesar dari kita. Dan itu dipakai sebagai grading, standart bagi kita jika kita mau menyerahkan ‘iman percaya’ kita pada seseorang. Apakah dia mengasihi kita lebih besar dari  kasih yang diberikan Bapa, yang telah menyerahkan anakNya mati bagi kita? Seorang ayah sejati akan merasa berat, tertekan, menderita jika melihat anak yang dikasihi, mati, dibunuh di depan matanya. Seorang ayah sejati lebih rela jika dirinya sendiri yang mati menggantikan anaknya daripada melihat anaknya mati dibunuh di depan mata. Karena baginya hal itu sama dengan membunuh dua orang sekaligus, yaitu anak yang dikasihi sekaligus dirinya sendiri dengan melihat kematian anak yang sangat dikasihi. Demikian halnya dengan Bapa di sorga kalau Dia telah memberikan yang terbaik, yaitu anakNya, mati untuk kita, Dia pasti akan memberikan yang terbaik dan terindah demi untuk kebaikan kita.

2. Iman membawa kita taat melangkah pada pimpinanNya. Bapa sudah membuktikan kasihNya yang besar, Dia sudah berkorban, yaitu dengan memberikan anakNya sendiri mati, untuk kita. Kematian seorang anak,  bagi seorang ayah sejati lebih berat dibanding dengan kematiannya sendiri. Maka Dia layak menjadi sandaran iman, percaya kita. Dia sudah tidak menyayangkan anakNya, memberikannya untuk kita, maka Dia pasti akan memberikan yang terbaik dan terindah untuk kebaikan kita.

3. Dalam Tuhan ada pengharapan sejati sehingga membuat manusia berpengharapan. Siapa yang dapat menolong kita dengan tulus, tanpa mengharapkan imbalan, saat kita dalam kesusahan? Jikalau ada orang, yang dengan tulus, tanpa mengharap imbalan mau menolong maka orang tersebut dapat kita jadikan ‘pengharapan’ kita. Saat kita mengalami kesusahan, datang meminta pertolongan pada orang yang bukan mencintai kita, maka kita akan ‘dimakan’ oleh dia. Dunia selalu mengambil keuntungan atas kesusahan, penderitaan yang dialami orang lain. Lalu kepada siapakah kita dapat berharap? Manusia tidak pantas, tidak layak untuk menjadi sandaran iman dan pengharapan karena sifat manusia berdosa, selalu mengharapkan imbalan, selalu berubah. Kalau ada orang yang mau menolong kita, tanpa pamrih, demi supaya kita dapat menjadi baik, maka orang tersebut layak untuk kita jadikan sebagai sandaran hidup, harapan kita. Makin dia mencintai dengan sungguh-sungguh maka disitulah kita dapat meletakkan pengharapan kita. Di tengah dunia ini siapa yang dapat memberi pengharapan pada kita? Pengharapan sejati hanya ada dalam Tuhan kita, Yesus Kristus, yang sudah membuktikan kasihNya, dengan menyerahkan nyawaNya, mati untuk kita.

Di tengah-tengah ketidakpastian jaman, kita punya satu kepastian, jaminan dan pengharapan di dalam Tuhan dan sejarah sudah membuktikan hal itu. Sudahkah kita menikmati anugrah Tuhan yang mengasihi kita, dengan memberikan anakNya, mati untuk kita, sehingga kita boleh mempunyai iman pengharapan padaNya? Amin. ?

 (Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)