![]() |
Ringkasan Khotbah : 15 Desember 2002 Dimensi Doa Nats: Mat 6:5-7 Pengkhotbah : Ev. Thomy J. Matakupan |
PENDAHULUAN
“Berdoalah” … itulah yang kerap dikatakan sebagai nasehat ketika berbicara tentang salah satu aspek dari kehidupan Kristen. Di satu pihak kita mendengar bagaimana orang-orang memiliki pengalaman di dalam doa-doa mereka … mereka memiliki pengalaman merasakan kehangatan, kasih dan pertolongan Allah pada saat mereka berdoa. Jamahan tangan Allah yang lembut mereka rasakan di dalam kehidupan mereka sehingga kehidupan doa menjadi sesuatu yang sangat indah. Tapi di lain pihak kita melihat adanya orang-orang yang sudah berdoa juga, tapi tidak mengalami hal yang sama. Kehidupan doa menjadi sesuatu yang kering dan menjemukan. Apa sebenarnya yang terjadi?
Pada suatu kali murid-murid melihat Yesus sedang berdoa dan kemudian memperbandingkan Guru mereka dengan Yohanes Pembaptis dan bertanya, mengapa Yohanes mengajar mereka berdoa sedangkan Yesus tidak? Pertanyaan ini mempunyai arti yang dalam sekali karena menunjukkan esensi dari keberadaan manusia yang mencari dan membutuhkan persekutuan dengan Allah. Kita akan melihat apa yang Yesus sendiri ajarkan tentang berdoa tersebut.
1. BERDOA : LUAR & DALAM SAMA
Yesus pertama-tama mengajarkan kalau berdoa jangan seperti orang munafik yang berdoa di tikungan jalan supaya dapat dilihat oleh orang lain kalau mereka sedang menjalankan sebuah kegiatan agama. Ini bukan berdoa, melainkan sedang memamerkan kebiasaan di dalam sebuah pola beribadah. Ketika Yesus mengatakan bahwa tindakan ini munafik, maka kita dapat mengerti bahwa sesungguhnya orang yang sepertinya berdoa itu sebenarnya sedang tidak berdoa. Allah tidak menghendaki orang-orang yang sedemikian. Ia mencari orang yang luar dan dalam sama ketika menghampiri tahta Allah … yang tidak munafik. Dia mencari orang-orang yang sungguh mencari Dia.
2. MENCARI ALLAH DI DALAM KEHENINGAN
Sebagai kontras yang Yesus ajarkan ketika seorang berdoa adalah, masuk ke dalam kamar, tutup pintu dan berbicara dengan Allah. Alkitab mengatakan selanjutnya bahwa Bapa ada di dalam tempat yang tersembunyi … dan Bapa itu melihat yang tersembunyi yaitu orang yang berdoa di dalam kamar tersebut dan akan membalasnya bukan memberi upah. Tentu ayat ini tidak berarti kalau setiap kali kita mau berdoa harus masuk kamar, bukan itu maksudnya. Tapi Alkitab di sini dengan tegas pula mengatakan adanya suatu tempat tertentu, tempat yang sunyi … yang tidak ada kebisingan dan gangguan dimana seorang dapat datang dan berdoa kepada Allah.
Terkadang kita memang memerlukan tempat seperti itu untuk berdoa. Sebuah lagu dengan lirik yang indah mengungkapkan kebenaran ini, “Indahlah saat yang teduh menghadap tahta Bapaku …” memberikan kesan ketenangan ini. Jiwa kita memerlukan keteduhan itu dimana kita dapat bersekutu dengan Bapa. Kita tidak dapat melihat Allah tidak dapat dilihat di dalam kebisingan, ketergesa-gesaan. Kita perlu saat di mana kita dapat berdua saja dengan-Nya … di dalam keheningan.
Seorang rekan di dalam pelayanan mempunyai kebiasaan yang unik ketika berdoa pada saat kami berada di dalam Seminari. Waktu doa pribadinya adalah pada saat lampu kamar di dalam asrama sudah harus dimatikan dan kami semua sudah harus tidur. Apa yang dia lakukan? Di dalam kegelapan itu, dia mengambil sebuah lilin, membakar dan menaruhnya di meja belajar dan mulai dia bercakap-cakap dengan Bapa di dalam doanya. Sendiri di dalam keheningan.
Hadirat Allah adalah tempat yang tepat bagi perteduhan jiwa yang letih dan merindukannya. “Datanglah padaku … dan kamu akan beroleh kelegaan” (Bd: Mat 11:28). Di dalam keheningan, berdua saja dengan Allah … di sana ada perhentian dan perteduhan yang sejati bagi jiwa.
3. BERDOA DAN KEBUTUHAN
Hal yang ketiga yang diajarkan Yesus adalah berkaitan dengan kebutuhan di dalam doa dan banyaknya kata-kata yang diucapkan. Allah tidak menyukai doa yang bertele-tele, yaitu doa dengan kata-kata yang banyak dengan harapan Allah menjawab doa tersebut. Ini adalah konsep berusaha mempengaruhi Allah untuk menjawab doa dengan kata-kata. Alkitab menyatakan bahwa kebiasaan seperti ini adalah kebiasaan kafir, yaitu kebiasaan orang-orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka dapat menyogok Allah dengan kata-kata.
Allah sama sekali tidak menghendaki cara seperti ini. Allah tahu semua yang kita perlukan. Perhatikan sekali lagi bahwa Allah tahu apa yang kita perlukan. Mungkin sekali kita sendiri tidak tahu apa yang kita perlukan. Di sini perlu dibedakan dengan apa yang kita inginkan. Tidak selalu apa yang kita inginkan adalah apa yang kita perlukan. Kita melihat gambaran yang indah sekali antara doa dan pemeliharaan Allah. Kita berdoa dan mengatakan kepada-Nya akan apa yang kita perlukan dan Allah mengetahui dengan jelas isi doa itu. Kita perlu belajar memikirkan apa yang kita sungguh-sungguh perlukan ketika berdoa.
Di dalam hal pengabulan doa, Alkitab mencatat hal yang jelas sekali bahwa penilaian akan keperluan kita itu berasal dari Bapa. Bapa yang menilai itu benar menjadi keperluan kita dan Bapa melihat mana yang baik. Hal inilah yang akan diberikan kepada kita. Jadi bukan kita yang menganggap itu baik dan bahwa Bapa harus memberikannya, melainkan kita menerima apa yang Bapa anggap itu baik bagi kita. Inilah yang harus kita terima.
Alkitab mengajarkan prinsip-prinsip penting tentang doa itu. Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana kenyataan tentang doa dan hidup doa di dalam hidup orang percaya setiap harinya. Ternyata kehidupan doa ini banyak sekali dimensinya, dalam arti segala hal yang dimengerti tentang doa terkadang menjadi hal yang sulit untuk dipahami dan diterima di dalam kenyataan hidup. Timbulnya penolakan-penolakan bahkan mungkin, marah kepada Tuhan karena Dia tidak datang dan menolong pada saat dibutuhkan menjadi gambaran nyata dan dialami banyak orang percaya.
4. Kehidupan Doa : Sebuah “Petualangan”
Suatu saat saya membaca sebuah majalah yang di dalamnya ada sebuah kalimat yang ditulis oleh seorang yang bernama Harold L. Myra. Dia menuliskan sebuah artikel yang berjudul, “Hidup dengan mujizat-mujizat Allah”. Di bagian awal tulisannya itu, dia mengatakan demikian, “Kehidupan doa adalah suatu petualangan …”
Doa adalah sebuah petualangan? Apa maksudnya? Memikirkan kata-kata ini, kita masuk kepada sebuah pemahaman yang lebih lagi tentang apa itu doa. Di dalam tulisannya ini, Myra mencoba memaparkan beberapa pengalamannya tentang doa yang justru ia pelajari pada saat ia pergi menyendiri di sebuah tempat di tepi hutan. Dia menceritakan situasi dan keadaan yang menyelimutinya, keadaan dimana di dalamnya dia memikirkan dan merenungkan pengalaman berdoa di dalam kehidupannya. Membaca bagian demi bagian cerita itu, ada beberapa kebenaran penting tentang doa dan pengalaman berdoa; bahwa ada banyak hal yang Allah lakukan dan nyatakan di dalam hidupnya yang tidak terpikirkan sebelumnya.
5. Allah, Tragedi Hidup & Karya-Nya yang Menakjubkan
Kita harus jujur terhadap diri bahwa ada banyak hal yang tidak kita inginkan yang justru terjadi di dalam kehidupan kita ini. Ada banyak kesakitan serta kesedihan-kesedihan yang mendalam terukir. Di mana Allah pada saat seperti ini datang? Kenapa Dia tidak melepaskan dari kesulitan semacam ini? Apakah Dia diam dan tidak melakukan apa-apa? Kalau dapat dikatakan, sebenarnya ada banyak hal yang kita mungkin tidak akan pahami seumur hidup kita bahkan sampai kita kembali kepada-Nya.
Apakah memang Bapa tidak peduli sama sekali? Tentu tidak! Alkitab mengatakan bahwa Dia sungguh peduli. Tetapi kenapa kita tidak dapat menangkap kepedulian-Nya ini. Justru inilah pokok persoalannya. Kita memikirkan apa yang kita anggap baik dan bukan apa yang Bapa anggap baik. Di dalam doa nampaknya kita kerap bersikap “Ini yang aku mau” dengan mengatakan “Tuhan, inilah yang saya pikir baik dan biarlah Tuhan menjawabnya berdasarkan hal ini”. Akibatnya kita tidak siap hati ketika melihat cara lain, jalan lain yang Tuhan tempuh berdasarkan apa yang Dia anggap baik untuk menjawab doa kita itu. Bapa membawa kita dengan kasih-Nya masuk ke dalam rencana-Nya yang kekal. Jangan terlalu cepat menyimpulkan bahwa Allah tidak peduli. Sesungguhnya Dia sangat peduli dan mengetahui apa yang kita perlukan.
Di dalam ceritanya ini Harold L. Myra menceritakan tentang anak angkatnya yang terlibat di dalam pemakaian obat bius. Dia kemudian melarikan diri dan bersembunyi di suatu tempat. Namun kemudian ada seorang ibu yang mengetahui lalu memberitahukan kepada polisi. Tentu saja dia menjadi kalut dan sangat tidak senang kepada ibu ini. Ia kemudian menghadang dan menembak ibu tersebut dengan sebuah senapan. Akibatnya dia dipenjara seumur hidup. Harold kemudian bertanya di dalam diri, “Mengapa doa-doa kita terdahulu yang kita panjatkan untuknya tidak dapat mencegah penderitaannya yang mendalam?” Ini adalah sebuah tragedi hidup. Kita sulit memahami kenapa Allah tidak menjaganya sedemikian rupa sehingga ia tidak melakukan kesalahan fatal itu. Apakah ini yang terbaik bagi anak tersebut dari sudut pandang Allah? Mungkin sekali. Sekali lagi ada banyak hal yang mungkin kita tidak pahami saat ini.
Dimana karya-Nya yang menakjubkan itu? Adakah Allah di dalam situasi seperti ini? “Ya”, Dia tetap ada bahkan di dalam situasi yang sangat tidak menentu. Daud mengatakan, “Di dalam bayang-bayang maut … Allah ada bersamanya” (Mzm 23).
6. Suatu “Kebetulan” yang berasal dari Allah
Apakah maksud “kebetulan” di sini? Menarik sekali, cara Allah menjawab doa itu terkadang membawa kita kepada situasi kita merasa itu hanya “kebetulan” saja. Seperti sebuah pandangan sekilas dan akibatnya, kita tidak merasakan sebagai suatu yang khusus. Ada banyak jawaban doa yang diberikan Allah di dalam konteks “kebetulan”. “Akh … memang kebetulan saja koq … “ Hal seperti ini yang biasa terdengar atau muncul di dalam hati kita mengomentari peristiwa yang sedang terjadi. Di sini seperti ada bias antara pengertian bahwa Allah sungguh memelihara dan memperhatikan setiap umat-Nya dengan konsep “kebetulan”.
Setiap “kebetulan” sebenarnya adalah mujizat yang Allah beri di dalam hidup kita dan kebetulan ini memang merupakan bagian dari rencana-Nya. Kita berdoa dan meminta sesuatu kepada-Nya dan Dia menjawab doa tersebut dan kita menganggap ini kebetulan saja?
Kita dapat saja diperdaya oleh konsep ini sehingga akibatnya kita tidak melihat dan memahami bagaimana Allah bertindak. Maksudnya, di dalam hal yang terlihat sebagai alamiahpun merupakan bagian dari rencana Allah mengajar kita. Di dalam kitab Amsal kita memahami bagaimana hikmat berseru-seru di jalan-jalan untuk memberikan pengertian kepada kita.
7. Allah & Kejutan-kejutan-Nya
Allah bertindak penuh dengan kejutan. Di dalam Alkitab kita melihat beberapa catatan tentang hal ini. Misalnya ketika Allah memberi perintah kepada Nuh untuk membangun bahtera di tengah-tengah daratan. Siapa yang menyangka akan mendapat perintah seperti ini. Demikian juga cerita tentang seorang pemilik ladang yang mencari pekerja yang dapat bekerja di ladangnya. Antara pekerja yang bekerja lebih awal dan yang terakhir, upahnya sama. Selain itu cerita tentang perumpamaan kedatangan-Nya kali kedua. Semua penuh dengan kejutan.
Adakalanya Allah menjawab doa-doa kita dengan kejutan-kejutan. Dengan cara yang kita tidak pernah antisipasi dan pantau sebelumnya. Mungkinkah Allah menjawab doa melalui cara kepedihan? Mungkin sekali. Akibatnya ada orang yang mengatakan bahwa Allah memiliki “humor” yang tinggi.
Banyak orang merasa tersiksa dan kebingungan karena melihat dunia ini seperti sebuah teka-teki. Ada banyak kejutan yang terjadi di dalamnya. Seorang pernah berkata bahwa ketika berhubungan dengan Allah, maka saat inilah yang memberi ketidakpastian. Apa maksudnya? Kita tidak tahu apa yang akan dilakukan Allah selanjutnya. Yang pasti adalah Allah membalut hidup kita. Sehingga di sini muncul konsep paradoks, “Ketidakpastian yang menyenangkan”. Tidak pasti karena tidak tahu apa yang akan Allah lakukan, tetapi menyenangkan karena tahu bahwa hidup kita tidak pernah terlepas dari pengamatan-Nya. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)