Ringkasan Khotbah : 01 Desember 2002

Dinamika Iman Eli

Nats: 1 Sam 3:1-18

Pengkhotbah : Ev. Thomy J. Matakupan

 

Seorang anak bermain layangan di sebuah lapangan. Layangan tersebut dinaikkan sangat tinggi sehingga sulit terlihat dengan pandangan mata. Seorang temannya datang dan bertanya, “Mana layanganmu?” sambil berusaha mencari-cari ke atas tetapi tidak menemukannya. “Saya tidak melihatnya.” Si anak menjawab, “Saya sendiri juga tidak dapat melihatnya, namun saya dapat merasakan melalui benang ini bahwa layangan itu ada di sana.” Hal ini sama seperti pengalaman iman seseorang bersama dengan Tuhan. Melalui “benang” Roh Kudus kita tahu bahwa ada Allah di sana dan bahwa Ia sedang terus berhubungan dengan kita walaupun kita tidak melihat-Nya. 

Seri Khotbah Dinamika Iman selama ini sebenarnya ingin menelusuri dan melihat bahwa ternyata pengalaman iman itu memiliki dimensi tersembunyi yang terjadi di dalam realita pengalaman seseorang dengan Tuhan. Realita itu begitu tersembunyi sehingga terkadang kita takut menghadapinya atau mungkin juga tidak menyadarinya sehingga terjebak ke dalam situasi-situasi sepertinya kita sedang beriman. Kenyataannya sebenarnya kita sedang bermasalah dengan hidup iman kita sendiri. Kita dapat memanipulasi atau bahkan menipu diri sendiri. Kita tidak tahu bahwa ada hal yang tidak beres sedang terjadi dan karena itu tidak segera mengambil langkah pembenahan diri. Atau tidak mau melihat secara jujur dan terbuka, menggumulinya lebih lanjut bersama Tuhan.  

Khotbah pagi ini akan menyoroti dinamika iman seorang Imam yang bernama Eli. Pada masa itu Eli menjadi seorang bapak rohani bagi Samuel muda di rumah Tuhan. Tugasnya di sini adalah membimbing Samuel menjadi pelayan Tuhan. Situasi penting yang terjadi saat itu adalah Firman Tuhan jarang dan penglihatan juga tidak sering (ay.2). Apakah yang menjadi penyebabnya? Bukankah Allah adalah Allah yang menyatakan Diri dan kehendak-Nya kepada umatNya.

Keadaan ini dapat saja disebabkan oleh karena Eli tidak tegas terhadap dosa anak-anaknya. Alkitab menjelaskan bahwa anak-anak Eli, Hofni dan Pinehas yang juga adalah imam di kemah pertemuan tidak peduli terhadap Tuhan, memandang rendah korban untuk Tuhan. Mereka mengambil bagian yang seharusnya menjadi milik Tuhan. Mereka juga tidur dengan perempuan-perempuan di pintu kemah pertemuan (1Sam 2:12-14). Anak-anak Eli tidak mengenal Tuhan, karena itu tidak mengherankan jika tindakan merekapun mencerminkan hal ini walaupun mereka berada di dalam keluarga dimana ayah mereka adalah seorang imam.  

Bahkan Alkitab mengatakan Eli sendiri memilih untuk tidak memarahi anak-anaknya. Istilah “memarahi” (ay.13) menunjuk pada keadaan tidak dapat melihat dengan jelas (Bd: keadaan fisik Eli setelah ia menjadi tua. ay.1). Dengan kata lain, Eli tidak dapat membedakan antara salah dan tidak mungkin karena pertimbangan mengasihi anak-anaknya lebih daripada mengasihi Tuhan di manakah ia harus tegas dan di manakah ia harus lembut terhadap mereka. 

Dengan demikian, problem sebenarnya tidak terletak pada Diri Allah tidak menyatakan firmanNya melainkan pada diri manusia itu sendiri. Allah tetap berbicara dan menyatakan kehendakNya, sementara manusia berharap Allah tidak berbicara kepadanya atau bahkan mempunyai kecenderungan untuk tidak mau mendengarkan apalagi mematuhinya. Inilah cara Tuhan menghukum bangsa ini dan bukan hanya itu, di dalam pasal 4 Tuhan sendiri mengijinkan tabut perjanjian dirampas bangsa Filistin. Meski demikian Alkitab memberitahu bahwa Tuhan sendiri juga yang kemudian memulai sesuatu yang baru, berbicara kembali dan memilih memulainya melalui Samuel muda.  

Situasi ini Tuhan diam nampaknya kemudian membentuk kebiasaan baru bagi Eli, tidak tahu lagi manakah suara Tuhan. Ia tidak tahu lagi bagaimana menyadari kehadiran Tuhan dan manakah yang menjadi gejala natural. Itulah sebabnya ketika Tuhan memanggil Samuel sampai kali ketiga baru ia menyadari kalau ini bukan sesuatu yang biasa. Ketika Tuhan membangunkan Samuel, Eli justru menyuruh Samuel kembali tidur.

Alkitab mengatakan bahwa Samuel tidak mengenal Tuhan namun di dalam arti belum memiliki pengalaman mendengar Tuhan berbicara padanya secara langsung. Ia belum memiliki keindahan mempunyai hubungan pribadi dengan Tuhan. Namun tidak bagi Eli. Ia memiliki semua pengelaman ini. Meski demikian ia kehilangan momen-momen penting itu. Hal-hal apakah yang dapat kita pelajari dari pengamalan iman imam Eli ini? 

(1). Belajar Bersedia Mendengar Firman dengan Hati Terbuka.

Pada waktu kita mendengarkan Firman Tuhan di dalam  berbagai kesempatan, adakah hati yang terbuka di sana? atau justru hal mendengarkan firman Tuhan sudah menjadi bagian yang biasa oleh karena merasa sudah mengerti. Alur khotbah seorang hamba Tuhan sudah dapat ditebak. “Ah, sudah tahu kira-kira apa isinya.” Atau mungkin mendengar dengan tujuan membandingkan pengertian sendiri dan pengkhotbah di depan. Tidak ada lagi hati yang mengatakan, “Tuhan, Engkau mau berbicara apa padaku hari ini!” Kata-kata di dalam doa-doa kita, hati yang menangis dan air mata yang tercurah pada waktu bersama dengan Tuhan, masih adakah itu di dalam pengalaman rohani kita dengan Tuhan? Atau justru kita telah menjadi tebal di dalam “pengalaman rohani” kita masing-masing. Kita seakan sudah tahu dan bahkan pro di dalam hal-hal yang rohani. Kita mencap diri lebih baik dari gereja atau orang lain. Moto kembali kepada Alkitab seakan menjadi prestise tersendiri sementara ironisnya tidak ada hati untuk dibentuk oleh firman. Prinsip ini memang tidak salah dan bahkan harus terus ditegakkan, namun yang menjadi persoalan adalah hal-hal semacam ini justru kemudian menggantikan pengalaman kita dengan Tuhan, relasi pribadi dengan Tuhan. Keindahan itu hilang bersamaan dengan “pengalaman rohani” kita. 

 

(2) Selalu Ada Kesempatan Kedua, bahkan di dalam Kegagalan Kita

Allah memberikan kesempatan kepada Eli untuk menebus kesalahannya. Apa yang ia gagal lakukan terhadap Hofni dan Pinehas, mungkin sekali akan terulang kepada Samuel. Kesempatan ini diberikan Allah melalui pemanggilan terhadap Samuel. Eli di bagian awal hanya menyangka bahwa Samuel muda sedang bermimpi. Sebagai seorang imam, ia seharusnya peka bahwa ini kejadian yang tidak biasa pada waktu kali kedua Samuel membangunkan dia dengan pertanyaan yang sama, “Apakah Bapa memanggil saya?” Sampai kepada kali ketiga baru ia segera menyadari bahwa itu suara Tuhan. Di sini Tuhan membawa Eli kembali melalui kepentingan Tuhan dengan Samuel.

Terkadang Tuhan dapat membawa kita melalui pengalaman rohani orang lain untuk menolong kita melihat sesuatu yang tidak beres sedang terjadi di dalam kehidupan iman kita. “Mengapa orang ini bisa memberikan kesaksian seperti itu ya?”   “Saya ingin sekali mempunyai pengalaman doa seperti doa orang itu.” “Tuhan saya ingin mempunyai kehidupan rohani sama seperti pertama kali mengenalMu.” Dsb. Kerinduan semacam ini mungkin sekali menjadi semacam tanda awas yang tidak tentu berarti negatif bahwa sedang terjadi “sesuatu” di dalam kehidupan rohani kita, dan Tuhan tetap memberikan kesempatan kedua.  

(3) Hati-Hati: Pengalaman Rohani yang Kosong

Tanggapan Eli setelah mendengar perkataan Samuel lebih menunjuk kepada Fatalisme. Paling tidak Allah telah berbicara dua kali tentang hukuman terhadap keluarganya oleh karena ia tidak memperhatikan dengan serius dosa-dosa kedua anaknya. Bahkan sampai dengan saat itu ia pun tetap tidak melakukan apa-apa sehingga perkataannya ini “Dia TUHAN, biarlah diperbuatNya apa yang dipandangNya baik.” (ay.18) dapat disebut sebagai ungkapan kosong. Mengapa demikian? Eli nampaknya tidak berbuat apa-apa. Ia hanya mengatakan bahwa itu adalah kehendak Allah justru lebih menunjuk kepada kekecewaan terhadap Allah. Berita yang ia dengar dari Samuel tidak ada perubahan dari yang ia dengar sebelumnya, bahwa hukuman Allah itu pasti bagi keluarganya dan bahwa tidak ada korban yang dapat dipersembahkan sebagai korban tebusan. Apalagi yang dapat dilakukan Eli kecuali menerima dan tidak dapat membantah kepada Tuhan. Tidak ada respon rohani bagaimana berusaha mencari Allah di dalam relasi pribadi serta memahami dan mematuhi kehendakNya. Eli hanya fokus kepada keputusan Allah dan tidak pada Diri Allah. Ia kehilangan momen-momen indah bertemu dengan Allah secara pribadi. Dengan kata lain, seakan-akan ia mengatakan kalau memang anak-anaknya melakukan hal semacam itu biarlah, dan jika Tuhan kemudian akan menghukum, hukumlah. Reaksinya lebih kepada ungkapan iman kosong, tidak ada drive dan sukacita. Eli tidak melihat pribadi Allah melainkan lebih kepada apa yang akan Allah lakukan. Ia hanya fokus terhadap tindakan Allah menghukum dosa dan itu pasti lebih daripada pribadi Allah sendiri.  

 

Penutup

Semua pengalaman Eli diawali dengan ketidaktegasannya terhadap dosa anak-anaknya dan hal ini menjadi semacam penyakit yang menjalar ke bagian-bagian lain.

Sama seperti benang layangan yang dipegang anak kecil di awal khotbah ini kita tahu bahwa Tuhan ada di sana dan bahwa Ia tetap sedang melakukan sesuatu di dalam hidup kita. Kita tidak dapat melihatnya namun kita dapat tahu bahwa Ia ada.

Mari kita belajar menghadapi kenyataan yang sedang terjadi di dalam pergumulan kita memahami kehendak Tuhan. Belajar terbuka akan keadaan yang sebenarnya dari iman kita dan meminta pertolongan Tuhan membereskan, membersihkan dan membentuk ulang bangunan iman yang tidak beres. Maukah kita? Amin.?

 (Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhot­bah)