![]() |
Ringkasan Khotbah : 24 November 2002 Agama sejati adalah Karya Allah Tritunggal Nats: Rm 7:13-26; 8:1-11 Pengkhotbah : Ev. Solomon Yo |
Mengamati fenomena agama akhir-akhir ini, membuat saya bertanya-tanya, Apakah Kekristenan hanya salah satu dari agama besar di dunia ini? Apakah keunikannya yang dapat menjadi harapan bagi umat manusia?
Setiap agama dalam bentuknya yang tidak ekstrim, yang mengajarkan moralitas dan kesalehan batin akan menimbulkan penghormatan dalam diri kita, apalagi ketika diajarkan oleh orang yang berwawasan luas dan berhati lapang. Ajaran dan himbauan moral yang diberikannya akan menimbulkan simpatik kita. Tetapi apakah ini cukup? Injil mengingatkan saya untuk berhati-hati terhadap agama natural (natural religion), karena agama yang didasarkan pada kekuatan manusia sendiri ini hanya indah di dalam ide, tetapi tidak pernah dapat memberikan kebebasan sejati bagi manusia. Orang yang tidak pengalaman akan terjebak dalam keindahan palsu ini.
Beberapa ratus tahun yang lalu, orang-orang seperti Thomas Jefferson dan Benjamin Franklin telah membuat orang-orang terkesan dengan ide-ide humanis mereka mengenai agama dan moralitas. Mereka adalah “Kristen” Deisme, yang tidak lagi percaya pada pewahyuan Alkitab, dosa, dan penebusan Kristus. Agama natural seperti inilah yang membuka pintu bagi masuknya humanis ateis yang membawa Amerika Serikat kepada sekularisme dan degradasi moral. Meminjam kategori Francis Schaeffer, “alam telah menelan anugerah.”
Inilah agama natural yang ditolak habis-habisan oleh Martin Luther (mengikuti rasul Paulus yang memperjuangnya dalam surat Galatia). Luther melihat dengan jelas kegagalan agama natural untuk membawa manusia mengenal Allah dan diperkenan oleh Allah, dan inilah yang ia alami. Agama natural yang penuh dengan idealisme manusia ini hanya ide-ide kosong yang tidak menolong manusia untuk mengenal sejati dalam cara yang menyelamatkan, dan akan membiarkan manusia tetap dalam keburukan dosanya, bahkan menjadi tambah buruk.
Agama yang selama ini dilihat hanya sisi positifnya ternyata juga membawa permasalahan yang serius, seperti kekerasan dan berbagai kejahatan yang serius. Dalam banyak peristiwa, agamalah yang menjadi sumber pertikaian yang berkelanjutan di banyak tempat, seperti yang terjadi di Irlandia, di India, dan Indonesia (di Aceh, di Ambon), bahkan sekarang ia dikaitkan dengan terorisme. Itulah sebabnya sebagian orang sudah muak terhadap segala sesuatu yang berbau agama. Karena itu, walaupun kita tidak setuju dengan isi lagu Imaginenya John Lennon, tetapi kita patut ikut merasa prihatin bersamanya. Ada apa dengan agama? Agama yang mestinya mendatangkan sejahtera bagi manusia, mengapa justru menjadi sumber masalah. Jika demikian, mampukah agama memberikan kemerdekaan sejati dari dosa dan kejahatan yang dihadapi manusia. Dalam perspektif Alkitab, khususnya Perjanjian Baru, tidak ada pun satu agama yang dapat menyelamatkan manusia dari masalah dosanya ini.
Allah telah memberikan Taurat kepada orang Yahudi, tetapi itu justru mendatangkan kematian? Karena itu, timbullah pertanyaan, “Apakah Taurat itu dosa?” (Rm 7:7). Tidak! Taurat itu kudus, benar, dan baik (ayat 12). Bukan Taurat, tapi dosa dalam diri manusia itulah yang mematikan manusia. Taurat hanya menyatakan kondisi manusia yang sebenarnya berdosa. Ketika orang meracuni diri dengan obat bius dan sekarat. Lalu ternyata dibawa ke rumah sakit dan tak tertolong lagi, apakah benar jika kita mengatakan ia mati karena kesalahan dokter yang gagal menolongnya, atau bahwa ia mati karena kesalahannya memakai obat bius sehingga menghancurkan dirinya sendiri.
Dosa telah merusak seluruh keberadaan manusia, termasuk menyebabkan dia mengalami kekacauan kehendak. Paulus berkata: Aku setuju Taurat itu benar dan baik, dan bahwa aku harus hidup sesuai dengan kebenaran Taurat. Tetapi yang aku lakukan justru yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat. Ternyata dalam diriku ada dosa yang membuat aku tidak dapat melakukan apa yang benar (ayat 15-17). Dalam ayat 19-23 hal ini diulangi kembali: Aku menginginkan yang baik, tetapi yang jahat yang aku lakukan (ayat 19), ini diakibatkan oleh dosa yang bekerja dalam anggota tubuhku (ayat 20). Dalam batinku, aku suka akan hukum Allah, tetapi dalam anggota tubuhku ada hukum dosa yang membuat aku menjadi tawanannya, itulah sebabnya, anggota tubuhku tunduk pada kuasa dosa untu melakukan kehendaknya yang jahat (ayat 22-23).
Jika demikian, apakah aku robot yang tidak memiliki kehendak? Tidak! Ia jelas aku memiliki kehendak (ayat 18b). Aku bahkan menghendaki yang baik, tetapi masalahnya ialah apa yang kulakukan justru yang jahat, karena hukum dosa yang bekerja di dalamku. Tetapi karena itu adalah bagian dari aku, dan aku sendiri dengan kesadaran penuh yang melakukan dosa itu; maka walaupun sepertinya aku menghendaki yang baik, sebenarnya ketika menghendaki, itu bukanlah hal berbuat apa yang baik (7:18b).
Semua ini merupakan gambaran dari perbudakan dan kekacauan kehendak manusia; manusia bahkan sudah kabur antara menghendaki yang baik dan yang jahat. Tetapi faktanya jelas. Kita selalu berbuat dosa! Sehingga kita yang katanya menghendaki yang baik (itu hanya wishful thinking yang belum dangkal dan menipu), sebenarnya di dalam batin kita yang terdalam menginginkan bukan hal berbuat apa yang baik (7:18b). Dan itulah yang kemudian kita nyatakan dalam perbuatan. Paulus yang menyadari realita ironis ini harus mengaku bahwa di dalam dirinya sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik (7:18a). Karena dia sama sekali bersifat daging dan terjual di bawah kuasa dosa (7:14). Seorang tokoh rohani mengatakan bahwa setelah belasan tahun ia baru sadar, bahwa ketika dulu ia berdoa minta Tuhan melepaskan dirinya dari dosa tertentu, baru belasan tahun kemudian ia menyadari di lubuk hatinya yang terdalam ia berkata tetapi jangan sekarang. Hati manusia berdosa memang licik dan sering menipu.
Walaupun banyak orang tidak menyukai ajaran mengenai dosa seperti ini yang merupakan ciri khas gereja Injili yang Reformed, tetapi inilah keadaan manusia yang sebenarnya. Dunia akan terus dipenuhi dengan dosa dan kejahatan. Agama coba memberikan harapan penyembuhan, tetapi kerusakan dosa terlalu parah untuk dapat ditangani oleh agama, sehingga Allah Tritunggal harus turun tangan menolong kita.
Seorang misionari yang pernah melayani di Tiongkok membuat ilustrasi ini untuk menjelaskan perbedaan Kekristenan dengan semua agama lain. Ada orang terjatuh ke dalam perangkap yang dalam ketika berjalan di hutan. Dalam keadaan terluka dan ketakutan ia berseru minta tolong. Seorang yang lewat di situ dengan simpati memberi pengajaran kepadanya, lalu melanjutkannya perjalanannya meninggalkan orang itu tetap di lubang itu. Demikianlah ini terjadi berulang kali. Semua petunjuk itu baik, tetapi tidak menolong dia pada saat itu. Ia membutuhkan lebih dari ajaran. Lalu datanglah seorang ke situ, mengetahui keadaan orang itu, ia dengan menggunakan tambang turun ke bawah untuk mengangkat orang yang jatuh itu naik ke atas, mengobati lukanya, memberi petunjuk hidup kepadanya. Inilah yang dilakukan Kristus bagi kita, Ia tidak sekedar memberikan ajaran, tapi turun ke bawah untuk membawa kita ke atas.
Dalam Roma 1:16-17 Paulus menyatakan Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan. Kalimat ini terdengar begitu sederhana, tetapi hanya setelah menyadari kehancuran kita oleh ikatan dosa dan kegagalan keagamaan kita, kita baru mulai menyadari bahwa Injil bukan sekadar ajaran kosong melainkan kuasa ilahi yang sanggup untuk menghidupkan kita dari kematian rohani dan menghasilkan kerohanian sejati yang berkemenangan kepada kita. Kekristenan adalah unik, karena Allah Tritunggal sendiri yang turun tangan menyelamatkan kita. Bapa mengutus AnakNya untuk memenuhi tuntutan Taurat, supaya kita terlepas dari penghukuman karena gagal untuk memenuhi tuntutan kesucian Allah, sebagaimana yang dinyatakan dalam Taurat. Ia mengirim Roh Kudus-Nya ke dalam hati kita supaya melalui pimpinan Roh kita dimampukan untuk hidup dalam kebenaran dan tidak hidup menurut daging (Rm 8:3-4; 1 Ptr 1:2).
Ada banyak alasan yang meyakinkan kita bahwa pergumulan yang diceritakan Paulus dalam Roma 7 adalah pengalamannya sesudah menjadi Kristen. Dan ini sesuai dengan pengalaman kita, bahkan setelah menjadi Kristen, kita masih bisa hidup secara duniawi. Antara hamba Tuhan, majelis dan jemaat yang sama-sama mengasihi-Nya bisa terjadi perselisihan yang runcing, ini bukti unsur manusiawi atau sifat dosa kita masih kuat. Dalam diri kita masih ada banyak kedagingan. Bahkan dalam diri hamba Tuhan yang sangat hebat dan dikagumi, setelah kenal dekat, akan dapat kita lihat sifat manusiawinya yang masih kental. Dalam bukunya, Philip Yancey menunjukkan ada banyak kemunafikan dan kekerasan dalam kehidupan gereja dan orang-orang Kristen. Lalu apa bedanya hidup Kristen dengan non-Kristen?
Di satu pihak, kita harus mengakui kenyataan bahwa kita masih harus terus bergumul melawan kedagingan kita selama hidup di dunia ini sampai pada saat kita disempurnakan ketika Kristus datang kembali. Selama masih tinggal dalam tubuh dosa ini, kita masih sering jatuh bangun dan melakukan banyak kesalahan. Tetapi Allah menyediakan pertolongan bagi kita untuk hidup berkemenangan, yaitu hidup dipimpin oleh Roh Kudus. Hidup menurut Roh ini akan menghasilkan buah-buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, dll. Dan ini bukan hasil usaha kita dari suatu keagamaan natural. Bagaimana ini dapat terwujud dalam hidup kita? Kita akan memperhatikan beberapa prinsip ini:
(1) Pengalaman diremukkan oleh Tuhan. Orang yang belum diremukkan tidak mungkin dapat belajar untuk bersandar pada anugerah Allah. Inilah keuntungan orang berdosa yang dilihat oleh Yesus. Ia tidak memuji keberdosaan mereka, tetapi melihat kesadaran akan dosa mereka yang tidak dapat lagi disembunyikan itulah keuntungan yang tidak dimiliki para rohaniwan yang terhormat yang selalu tergoda untuk berlagak sok suci. Orang yang merasa kuat tidak akan meminta pertolongan Tuhan. Hanya orang yang sadar dirinya berdosa, gagal, dan binasa rela untuk dibentuk oleh Tuhan walaupun itu sangat menyakitkan, sebab egonya telah dihancurkan. Hanya orang menyadari ketidakmampuan dirinya saja yang akan bersandar kepada Allah untuk dapat menjalani hidup dengan benar.
(2) Menyatu dengan Kristus di dalam kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. Manusia dikuasai oleh dosa dan tidak berdaya untuk melepaskan dirinya dari kuasa dosa yang mengikat dirinya. Kita tidak dapat berbuat apa-apa untuk mengatasi dosa. Hanya dengan mati terhadap dosa dalam kesatuan dalam Kristus, kita terbebas dari kuasa dosa dan beroleh hidup kebangkitan Kristus. Ketika orang berusaha untuk hidup benar dengan kekuatannya sendiri, dalam kedagingannya ia justru akan melakukan yang jahat. Bagi Paulus, dengan mati disalib bersama Kristus (dalam iman), dan mempersilahkan Kristus hidup di dalam dirinya, kita baru bisa memiliki hidup yang diperkenan oleh Tuhan. Inilah rahasia kemenangan rohani dalam kehidupan banyak hamba Tuhan penting.
(3) Hidup dipimpin oleh Roh Kudus. Kepada kita diperhadapkan dua prinsip hidup: hidup menurut daging yang berakibat maut dan hidup menurut Roh yang menghasilkan hidup dan damai sejahtera. Hanya orang yang telah merasakan kehancuran hidup dalam kedagingan, menyadari kebutuhannya untuk hidup dengan pertolongan anugerah Allah, yaitu hidup dalam kepenuhan Roh Kudus, karena inilah yang memberi dia harapan untuk beroleh hidup dan damai sejahtera. Siapa yang menguasai hidup kita? Sudahkah kita menyadari bahwa tanpa pimpinan-Nya kita tidak mungkin dapat hidup benar? Apakah kita sadar bahwa kita tidak berhak atas memakai anggota tubuh kita yang telah ditebus Kristus ini untuk melakukan kejahatan? Apakah kita siap mengakui hak dan otoritas Allah untuk memakai tubuh kita untuk melakukan kehendak-Nya? Maukah kita hidup berkemenangan dan berkenan kepada-Nya? Itu hanya akan kita peroleh di dalam hidup yang dipimpin sepenuhnya oleh Roh Allah. Amin.?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)