Ringkasan Khotbah : 10 November 2002

Dinamika Iman Daud

Nats: 1 Sam 17:26-39

Pengkhotbah : Ev. Thomy J. Matakupan

 

Cerita tentang Daud dan Goliat sebenarnya dapat menggambarkan banyak hal di dalam pengalaman iman Daud, karena jika diperhatikan konflik yang terjadi tidak saja berkenaan antara Daud dengan Goliat saja, melainkan juga dengan bangsa Israel, Eliab dan Saul. Bagaimanakah memahami realita pengalaman dan pergumulan iman yang riil di dalam kehidupan sehari-hari akan membawa seseorang untuk melihat pada akhirnya bahwa semua itu merupakan penggenapan rencana Allah di dalam kehidupannya. Namun sebelum sampai ke sana, nampaknya semua itu terjadi di dalam pengalaman keseharian dan mungkin sekali ada banyak hal yang bersifat “biasa” dan “kebetulan” yang sebenarnya merupakan bagian penggenapan rencana Tuhan tersebut. Bagaimana cara mencermati setiap bagian yang “biasa” dan “kebetulan” itu merupakan bagian pergumulan mengerti rencana dan kehendak Allah di dalam hidup. Kita akan melihat bagaimana setiap konflik yang terjadi itu satu demi satu dan pada akhirnya kita akan mencoba memikirkan beberapa hal yang dapat ditarik menjadi pelajaran. 

Daud & Bangsa Israel.

Nampaknya perseteruan dengan bangsa Filistin ini bukan yang pertama di alami oleh Israel. Di dalam beberapa bagian sebelumnya Alkitab mencatat setiap perseteruan tersebut (1Sam 4, 7, 8). Di dalam banyak kesempatan kita melihat bagaimana Tuhan berperang bagi Israel sehingga bangsa ini mendapatkan kemenangan. Memang terdapat pula catatan bangsa ini ditaklukkan oleh Filistin. Pengalaman ini seharusnya memberikan catatan penting bagi perjalanan hidup bangsa Israel, bahwa Tuhan adalah Tuhan yang terus menerus menjaga dan memelihara mereka sehingga tidak perlu merasa ciut hati karena jumlah musuh yang lebih besar. Misalnya saja pengalaman bagaimana Jonathan dan seorang prajurit yang lain, hanya mereka berdua menyerang perkampungan militer bangsa Filistin dan menghasilkan kemenangan. Tidakkah hal ini merupakan bukti bahwa Tuhan berperang bagi mereka? Namun kejadian yang sedang terjadi saat ini, bangsa Israel justru sedang ketakutan dan ciut hati melihat jumlah tentara Filistin yang besar dan ditambah munculnya seorang pahlawan mereka yang besar, Goliat. Selama 40 hari orang ini mencemooh dan menantang Israel untuk berperang. Ia memberikan tekanan mental yang hebat. 

Daud pada saat itu sedang dalam misi mengantarkan makanan kepada saudara-saudaranya yang berada di garis depan bersama dengan seluruh tentara Saul. Setelah menitipkan kambing dombanya, ia berjalan ke perkemahan. Isai, ayahnya memberi perintah mengantarkan makanan, menanyakan keadaan saudaranya dan segera kembali. Ketika sampai di perkemahan, ternyata seluruh pasukan sudah berangkat ke medan pertempuran sehingga Daud juga berangkat ke garis depan. Sampai di sana “kebetulan” ia mendengar perkataan Goliat dan merasa orang ini tidak sepatutnya mengatakan kalimat seperti itu, “Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan daripada Allah hidup?” Kalimat seruan Daud ini nampaknya bersifat spontan, keluar begitu saja sebagai akibat tidak rela ada orang yang menghina Israel. Itu sebab ketika ia kemudian harus berhadapan dengan Goliat, peristiwa itu merupakan tamparan yang keras terhadap Israel dan raja Saul oleh karena mereka sudah lack of faith. Mungkin sekali Daud tidak menyadari signifikansinya, namun itulah pengalaman yang dia lewati. 

Daud dan Eliab.

Pada saat bertemu dengan Eliab, kakak tertua, Alkitab mengatakan bagaimana Eliab menjadi berang karena kehadiran adik bungsunya ini di medan pertempuran. Bahkan ia dengan keras menghardik Daud sedemikian rupa dan membangun prasangka yang negatif terhadapnya. Apa yang menjadikan Eliab bertindak seperti ini? Mungkin sekali karena pengalaman melihat bagaimana adiknya ternyata yang dipilih oleh Samuel (Allah) dan diurapi menjadi Raja. Mengapa bukan dia? Padahal ia mempunyai semua persyaratan yang cukup untuk menjadi raja, tinggi, tegap, besar. Sementara Daud digambarkan pipinya kemerahan dan masih sangat muda. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan melihat hati daripada penampilan di luar. Eliab nampaknya tidak memiliki hati yang baik dan ini ternyata dari tindakannya ini. Daud harus berhadapan dengan kondisi semacam ini di dalam konteks “kebetulan.” Kebetulan menjalankan perintah ayahnya membawa rantang makanan kepada saudara-saudaranya, kebetulan sampai diperkemahan, semua tentara sudah keluar dan mengharuskan dia pergi ke medan pertempuran. 

 

Daud dan Saul.

Saul selama 40 hari mendengarkan cemooh Goliat dan ia tidak berbuat apa-apa, demikian juga seluruh pasukan Israel. Ketika Daud mengatakan keberatannya terhadap perkataan Goliat, nampaknya hal ini menjadi suatu titik terang bagi Saul dan Israel. Ada orang yang berani mengeluarkan kalimat balasan tantangan itu. Nampaknya seruan Daud ini tidak hanya sekali, dan perkataan ini didengar oleh pasukan Israel dan pada akibatnya sampai ke telinga Raja.

Tekanan yang hebat secara mental ini nampaknya membuat raja memberikan semacam sayembara, bagi yang dapat mengalahkan Goliat akan mendapatkan kekayaan, istri dan bebas pajak. Mungkin sekali setiap bagian sayembara ini keluar satu persatu.

Raja kemudian memanggil Daud dan menjumpai ternyata orang yang berani menantang Goliat ini tidak seperti yang dibayangkan di dalam pikirannya. Ia hanyalah seorang pemuda yang tidak masuk hitungan sama sekali, seorang gembala domba, tidak memiliki pengalaman bertempur. Apalagi jawaban Daud tentang bagaimana ia akan mengalahkan Goliat hanya berdasarkan pengalaman dia sebagai seorang gembala ketika harus berhadapan dengan binatang buas untuk melindungi setiap domba-dombanya. Bahwa domba akan dikeluarkan dari mulut singa dan apabila ia menyerang aku, aku akan menangkap janggutnya. Bahwa Tuhan yang telah menolong dia menghadapi setiap binatang buas akan menolong ia pula menghadapi Goliat. Perkataan ini terdengar terlalu kekanak-kanakan dan tidak ada di dalam kamus kemiliteran. Setelah mendengar jawaban Daud dan karena tidak ada alternatif orang lain, maka kata Saul, “Pergilah, TUHAN menyertai engkau.” Dengan kata lain, sebenarnya Saul sangat meragukan kemampuan Daud, apalagi hanya didasarkan pada pengalaman sudah pernah mengalahkan binatang buas. “Pergilah, semoga kamu menang dengan cara seperti yang kamu katakan.” 

Daud dan Goliat.

Pemuda Daud berdiri di hadapan Goliat dengan perlengkapan sehari-hari seperti yang ia kenakan. Ia menolak untuk terus menggunakan perlengkapan yang ditawarkan Saul kepadanya. Selain terlalu besar ukurannya, perlengkapan itu sendiri akan menjadi penghambat baginya kelak. Sementara itu Goliat berdiri dengan semua perlengkapan militer. Semua tubuh dibalut dengan besi, hanya bagian muka saja yang terbuka. Melihat Daud, bangkitlah amarah Goliat. Ia menghina Daud dan menjanjikan tubuh Daud akan diserahkan kepada binatang liar. Sekali lagi, Daud mengatakan pengalaman bersama Tuhan akan menjadi dasar peperangannya dengan Goliat. Alkitab kemudian mencatat bagaimana Daud memperoleh kemenangan atas Goliat. Bahwa dengan batu, ia mengalahkan Goliat, bahwa ia kemudian memancung kepala lawannya itu. Kemenangan ini membangkitkan kembali moral pasukan yang sudah jatuh. 

Hal apa yang dapat kita pelajari bersama dari pengalaman iman Daud muda ini?

1.    Problema Being & Doing. “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang engkau tantang itu.” (ay. 45). Perkataan ini lahir sebagai pernyataan iman Daud. Secara being, ia adalah seorang yang percaya kepada Allah Yahweh yang sudah menolong dia sampai sejauh ini, dan secara doing hal ini terekspresi secara spontan dari perkataan mulutnya. Perkataan di luar mencerminkan keadaan yang ada di dalam. Pengalaman riil bersama Tuhan tiap kalinya telah membentuk sebuah pola iman yang terekspresi spontan keluar.

2.    Daud nampaknya mengembangkan imannya justru dari pengalaman kesehariannya bersama dengan domba-domba di padang. Pengalaman yang melahirkan sebuah konsep teologis tertentu akan pemeliharaan Tuhan. Memang iman di bangun atas dasar kebenaran Allah di dalam Firman, tetapi kalau tidak ada pengalaman yang hidup di dalam kebenaran Firman itu sendiri, iman tersebut tidak akan nyata. Keduanya saling berkaitan satu sama lain.

3.    Problema Metode dan Sarana. Ketika Daud menolak memakai perlengkapan perang yang ditawarkan Saul, ia tampil apa adanya sebagaimana kesehariannya. Justru di dalam cara seperti ini ia mendapatkan bagaimana pertolongan Tuhan di dalamnya. Jaminan pertumbuhan iman tidak harus selalu menggunakan metode dan sarana orang lain di dalam pertumbuhan iman mereka. Setiap orang di dalam keseharian, kebiasaan mereka dapat saja mempunyai pengalaman melihat pertolongan Tuhan dan bertumbuh di dalam iman masing-masing. Jika Martin Luther menghabiskan waktu 3 jam sehari berdoa sebelum memulai semua kegiatannya; Jika D.L. Moody tidak akan pergi tidur sebelum mengabarkan Injil kepada satu orang dalam satu hari, maka itu adalah pengalaman mereka di dalam kesehariannya bersama dengan Tuhan. Belum tentu metode ini akan berhasil di dalam diri setiap orang di dalam pertanggungjawaban secara pribadi kepad Tuhan.  

Jika kita coba kembali kepada kisah awal peristiwa ini, semua pengalaman Daud dapat dikatakan terjadi secara “biasa” dan “kebetulan.” – Memang diakui tidak ada yang kebetulan di dalam iman Kristen; bahwa Tuhan memang sedang merancangkan sesuatu. Tapi pengakuan ini kerap dimengerti di belakang. Hal “biasa” dan “kebetulan” ini terlihat, kebetulan di suruh mengantar makanan oleh Isai, ayahnya. Kebetulan terlambat dan menjumpai tenda tentara kosong, kebetulan mendengar kata-kata Goliat, Kebablasan mengeluarkan kalimat balasan, kebetulan bertemu dengan Eliab dan Saul dsb. Semua pengalaman “biasa” dan “kebetulan” ini membawa Daud kepada pengalaman iman sejati. Bahwa peristiwa hari itu mempunyai arti yang sangat signifikan baik di dalam diri Daud secara pribadi maupun kepada bangsa Israel secara umum. Alkitab mengatakan bahwa Daud adalah orang yang berkenan kepada Allah. (13:14 bd: 16:17). Bagaimana dengan hidup Kristen kita? Apakah kita dapat melihat tangan Allah di dalam hal yang biasa dan kebetulan di dalam hidup kita? Ataukah justru kita mengabaikannya karena biasa dan hal kebetulan tidak ada di dalam kamus iman kita! Di dalam kesederhanaan dan kebiasaan yang ada Tuhan dapat melakukan “sesuatu” yang sangat berarti dan signifikan. Mari kita memikirkan dan menggumulinya secara serius. Amin.?

 (Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhot­bah)