Ringkasan Khotbah : 03 November 2002

Reformed Theology & The Spirit of Ministry

Nats: Yoh 16:33; 14:27; Yes 53:3-6

Pengkhotbah : Pdt. Nico Ong

 

Orang Kristen seharusnya sadar, dirinya dicipta segambar dan serupa Allah tapi hidup dalam ruang dan waktu terbatas. Dunia selalu berubah. Tapi di tengah banyak masalah serta peristiwa ada 2 eksistensi yang takkan berubah yaitu dosa dan penderitaan. Ketika manusia lahir, dalam dirinya sudah ada benih dosa.  

Dalam iman Kristiani sejati Tuhan menggunakan Taurat untuk membuktikan semua orang berdosa. Di Rm 7:18 Paulus berkata, “… di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik.”

Tuhan memberi hati nurani untuk menuntut tiap pribadi ketika berbuat dosa. Manusia penuh kekurangan dan kecacatan. Tak ada yang sempurna atau lebih baik. Maka sebelum menuntut orang lain, ingat keberadaan diri sendiri. Sesungguhnya semua orang membutuhkan ketergantungan pada pertolonganNya.

Tuhan juga memperlihatkan kuasa dosa yang mengikat manusia dan sangat berbahaya. Pendosa mengira dirinya bebas menikmati hidup sesuka hati hingga sulit ditegur dan diberi nasihat. Sebenarnya ia telah menjual kebebasannya dalam belenggu dosa. Ia harus merenungkan kembali arti kebebasan dalam kebenaran Firman.

Dengan Theologi Reformed yang benar, orang Kristen seharusnya berani dan mampu mengkritik filsafat Cina lalu membawa mereka kepada Firman. Inilah tantangan bagi semua anak Tuhan.

Tuhan menunjukkan upah dosa ialah maut yang menakutkan. Inilah eksistensi dosa yang pasti tak terhindarkan. Selain itu, tak ada yang mau menderita. Tapi meskipun perkembangan teknologi dan kebudayaan makin pesat, bukan berarti penderitaan berkurang. Orang yang pernah memperkosa, mencuri, membunuh dll malah jadi lebih buas.

Jihad yang benar ialah peperangan rohani, bukan secara kedagingan. Kalau konsep positif tersebut diekstrimkan, akan jadi manusia jijik dan jahat. Maka jangan bangga melakukannya. 

Di jaman modern maupun postmodern, penderitaan tak lebih ringan. Semua orang tak pernah puas akan kebutuhan jasmani dan rohani. Mereka terus mendambakan konsep kebenaran tapi tak mampu menemukannya. Ada 4 tipe orang: (1)Orang yang penuh hikmat bijaksana berjalan melebihi waktu. Ia selalu siap dan waspada bukan karena kemampuannya melainkan kekuatan Firman. Maka ia berani mempertanggungjawabkan di hadapan Tuhan dan sesama. (2)Orang yang biasa saja. Ia hidup dengan waktu dan berjalan sesuai perubahan jaman. (3)Orang bodoh berjalan di belakang waktu. (4)Orang yang paling bodoh tak tahu waktu.

Anak kecil berpikir, waktu sangat panjang. Tapi orang tua sadar, waktunya sudah di ambang pintu kematian. Sesungguhnya realita hidup manusia sangat pendek dan sia-sia kecuali punya pengetahuan pengenalan akan Allah yang telah memberi tujuan sejati. Meskipun hidup terlalu singkat, Tuhan takkan menghapus penderitaan (Yoh 16:33).

Ketika memanggil 12 rasulNya, Tuhan tak menjanjikan kemakmuran, kesuksesan dan kebahagiaan. Di Mat 16:24 Ia berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Di Mat 10:16 Ia juga berkata, “…, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, …”

Pengakuan iman Westminster bagian 1 dimulai dengan tujuan penciptaan manusia yaitu untuk memuliakan Tuhan. Tapi orang Cina di Taiwan berkonsep, yang penting adalah tidur sepuasnya seperti bayi, perut dikenyangkan dengan makanan enak dan tiap hari tak dikacaukan oleh masalah. Konsep semacam itu salah. Ironisnya, banyak orang Kristen mengambil filsafat lain lalu dimasukkan ke dalam Gereja.    

Manusia pasti punya cita-cita. Bahkan ketika sedang makan, ia terus memikirkannya. Tapi ia harus selalu waspada dengan mulutnya karena tanpa pengertian, akan menyedihkan hati Tuhan yang suci dan kudus. Bukan mendatangkan berkat melainkan murkaNya. Maka ketika berdoa atau bernyanyi, hendaknya ia mengkoreksi motivasi diri.

Ada penderitaan bernilai dan tidak. Ada pula penderitaan sebagai akibat dosa atau perang. Dalam sejarah Cina, untuk mempertahankan komunisme mengakibatkan 50 juta orang mati dibantai. Tapi meskipun komunisme telah beredar, moral dan etika orang Cina masih harus diperbaiki. Ini membuktikan paham tersebut gagal mendidik. Ada juga perang karena mempertahankan kedudukan atau gila hormat. Selain itu, ada penderitaan karena kematian, bencana alam atau dikucilkan dari keluarga dan masyarakat. Orang yang tak mencapai keinginannya juga mengalami penderitaan.

Theologi Reformed mengajarkan orang Kristen tak jadi pengecut yang melarikan diri. Theologi tersebut justru mempersiapkan serta memberi iman yang besar dan agung pada semua orang percaya.

Dalam penderitaan, orang Kristen juga jangan terjebak dengan konsep postmodernism yang mengatakan, “Buatlah penderitaan tertidur.” Kalau demikian, ia mungkin akan merasa tak perlu lagi peka terhadap penderitaan orang lain. Penderitaan yang Tuhan ijinkan terjadi punya makna antara lain:

Pertama, agar misi kehidupan berGereja tetap makin berkembang sebagai tanda deeper faith and holiness. Orang Islam pernah memperlakukan secara tak adil, merusak dan membakar Gereja serta menganiaya hingga membunuh jemaat Tuhan. Tapi tak berarti mereka menang.

Bertobat yaitu meninggalkan dosa. Beriman ialah berpalingnya seseorang kepada Kristus lalu hidup dalam Dia dan Tuhan hidup dalam dirinya. Maka ia takkan mempermainkan keberadaanNya.

Kedua, menambah pengalaman. Maka pikiran orang Kristen jadi tak sempit. Dietrich Bonhoeffer dalam perjuangannya, pada bulan April 1945 dihukum mati di kamp konsentrasi. Di penjara ia menulis surat, “Penderitaan adalah lencana kemuridan yang sejati. Mengikut Kristus berarti harus menderita.”

Banyak Gereja mengadakan misi penginjilan tapi tak merasa terjebak dalam metode untuk menambah kuantitas tanpa meningkatkan qualitative difference. Maka kehidupan rohani mereka tak bertumbuh dengan baik.

Ketika bicara mengenai persekutuan Gerejawi, Martin Luther berkata, “… yang disiksa dan mati martir oleh Injil.” Ia juga berkata, “Pemuridan berarti kesetiaan kepada Kristus yang menderita.” Selain itu, katanya, “Penderitaan adalah sukacita dan pertanda suatu anugerah di dalam kehidupan.”

Ketiga, Tuhan memakai penderitaan para hambaNya atau mereka yang beriman kepada­Nya untuk membangunkan orang di sekitarnya yang sudah tertidur dari keacuhan mereka. Sehingga mereka kembali bersemangat melayani secara bertanggung jawab di hadapanNya dan menjunjung tinggi kebenaran Firman.

Keempat, orang Kristen harus sabar menanggung penderitaan, bukan bersungut-sungut melainkan dengan sukacita. Ada pahlawan di Kenya Selatan bernama Joseph. Ketika berjalan di daerah kotor dan panas, ia berjumpa misionaris yang mengabarkan Injil. Saat itu juga Tuhan mengetuk hatinya. Terjadilah konversi dalam panggilan. Artinya, pertobatan dan regenerasi/kelahiran baru. Lalu ia kembali ke desanya untuk memberitakan Injil. Banyak orang jengkel hingga berencana menangkapnya dengan cara menarik rambutnya. Di tengah kerumunan massa, seorang perempuan maju di depannya dan bertanya. Ketika ia berespon, perempuan tersebut langsung memukulnya. Tindakan ini termasuk penjarahan dan pengeroyokan. Mereka bersifat pengecut. Mereka menghajarnya hingga memar, sakit dan terluka. Kepalanya berlumuran darah. Lalu ia diseret keluar dan dilempar ke semak belukar di padang pasir. Setelah agak sembuh, ia tak takut atau jera. Ia kembali ke dusun tersebut. Peristiwa yang serupa terulang lagi. Ia berpendapat, “Kalau engkau dapat hidup sampai detik hari ini, itu adalah mujizat.” Kali ini ia diseret dari luar ke dalam lalu dipukuli hingga matanya bengkak. Sejenak ia menoleh ke kanan dan melihat seorang perempuan jatuh tersungkur, berlutut sambil menangis. Ia ingat perempuan itulah yang pertama kali memukulinya. Tapi ia tetap tersenyum. Setelah itu ia tak sadar selama beberapa hari. Ketika bangun, ia kaget karena berada di rumahnya. Ternyata perempuan itulah yang mengangkat, membasuh dan mengobati lukanya. Perempuan tersebut mengakui dosanya. Sejak itu ia memenangkan jiwa perempuan itu yang sama berharga di hadapanNya.          

Dalam Theology of Suffering musuh utama sesungguhnya bukan orang lain melainkan diri sendiri. Menurut Martin H., seharusnya manusia mampu mengontrol pribadinya. Bukan sebaliknya. Contoh, hati nurani berkata, “Tak ada gunanya mengampuni. Engkau sudah disakiti, dipermalukan dan dikhianati. Balas saja kejahatan dengan kejahatan. Tak usah kasih-mengasihi. Hancurkan dia.” Sifat pribadi yang di dalam berusaha mengontrol diri. Menurut Plato, orang pintar ialah yang rasionya mengontrol perasaan lalu perasaan mengontrol kemauan dan kebebasannya. Tapi Theologi Reformed mengajarkan dengan kebenaran Firman mengontrol rasio lalu rasio mengontrol perasaan dan perasaan mengontrol kemauan. Itulah yang berkenan kepada­Nya. 

Kelima, penderitaan menjalankan perintah penginjilan dengan mendisiplinkan diri. Rela menderita akan menimbulkan sukacita. Allah pasti mencukupi kebutuhan tiap anakNya. Sedangkan orang Kristen harus selalu mencukupkan diri. Dan panggilan hamba Tuhan bukan karena gaji atau fasilitas.  

Keenam, supremasi Kristus harus terlihat dalam penderitaan. Kalau orang Kristen menderita karena ambisi pribadi atau kemauan sendiri, ia tak layak. Penderitaan sebenarnya mendidik agar ia belajar bersandar kepadaNya dengan iman yang benar. Tapi iman tanpa perbuatan tak ada artinya. Maka diharapkan selain sebagai pendengar, ia juga melaksanakan perintah dan amanat agungNya yaitu terus mengabarkan Injil.

Di Yes 53:7 tercatat, “… seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.” Ia hanya dapat memberi tanpa membantah. Ia juga taat sampai mati. Amin.?

 (Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhot­bah)