Ringkasan Khotbah : 27 Oktober 2002

Reformasi, Injil dan Taurat

Nats: Gal 3:1-14

Pengkhotbah : Ev. Solomon Yo

 

I. Setiap orang mendambakan keselamatan: hidup dalam kesejahteraan dan dijauhkan dari kesengsaraan. Walaupun ini bukan tujuan hidup yang mulia dan yang tertinggi, bahkan agak egois, tetapi ini dipakai oleh Tuhan untuk membawa orang untuk datang kepada Tuhan, karena hanya di dalam Dialah orang mendapatkan kebahagiaan sejati. Dan setelah dididik dalam kebenaran ia baru dapat memiliki motivasi yang seharusnya: memuliakan Tuhan di atas segala-galanya.

Tetapi tidak semua orang yang menginginkan keselamatan pasti selamat, karena: (1) Dia mencarinya di tempat yang salah. Salah memilih bengkel mobil bukan saja mengakibatkan pemborosan uang yang banyak, tetapi juga membuat mobil menjadi tambah rusak; mencari dokter yang salah, bukannya tambah sembuh tetapi penyakitnya tambah parah, selain harus membayar biaya yang besar. Jika percaya kepada Allah yang salah, walaupun yang kita inginkan adalah keselamatan, tetapi yang akan kita dapatkan justru adalah kebinasaan.

(2) Dia tidak bersungguh hati untuk mendapatkannya. Semua orang ingin sehat dan tidak mau sakit, tetapi betapa banyak orang yang justru mengabaikan kesehatannya. Kebanyakan orang baru sungguh-sungguh memperhatikan kesehatannya ketika penyakit mulai mengganggu atau membahayakan hidupnya. Orang seperti baru sadar betapa berharganya kesehatan dan mau membayar harga yang mahal untuk menjadi sehat, hanya setelah tahu apa itu sakit dengan akibatnya yang sangat menyengsarakan.

Ada begitu banyak orang yang menganggap enteng keselamatanya, dan memperlakukannya sebagai hal yang boleh ada dan boleh tidak ada. Buktinya mereka begitu mudah untuk meninggalkan Tuhan ketika mendapatkan tawaran lain. Yesus menuntut setiap orang yang mengikuti Dia harus menyangkal diri dan memikul salib (Mat 16:24), dan ini adalah hal yang sulit; lalu bagaimana orang mau membayar harga untuk mengikut Yesus jika mereka belum menyadari bahwa dirinya berada dalam kebinasaan dan anugerah keselamatan Yesus adalah satu-satunya sumber sejahteranya. Hanya ketika orang yang sadar akan keadaannya yang celaka dan merasakan kengerian akan kebinasaan, dia akan mencari  keselamatan dengan sungguh-sungguh; dan ketika orang mencari keselamatan dengan serius saja yang akan menerimanya dengan penghargaan dan kesiapan membayar harga. Hanya orang sakit yang menghargai dan mau menerima perawatan dokter, itulah sebabnya Yesus berkata bahwa Dia datang untuk mencari orang yang sakit supaya disembuhkan; berdosa supaya diselamatkan.

Tidak ada orang yang begitu bersungguh-sungguh mencari keselamatan seperti Martin Luther. Di bawah ancaman sambaran petir ia berjanji untuk masuk biara, dan sejak itu ia berusaha sekuat tenaga untuk memupuk kesalehan supaya dapat berkenan kepada Allah. Kesadaran akan dosa dan keadaannya yang celaka telah mendorong dia untuk sungguh-sungguh mendapatkan keselamatan. Tetapi semua usaha kesalehannya itu tidak menolong dia. Baru dalam keadaan yang frustasi itulah ia menemukan Injil anugerah Yesus Kristus, bahwa dia dapat diselamatkan karena jasa penebusan Kristus yang sempurna. Dengan menemukan kembali Injil anugerah ini pintu sorga telah terbuka baginya. Hidupnya mendapatkan arah dan semangat yang baru, penuh iman dan pengharapan. Karena itulah Injil anugerah ini begitu berharga maka dia rela menghadapi segala ancaman dan kesulitan dari gereja Katolik Roma. 

II. Ketika berada di dalam biara Martin Luther dengan sungguh-sungguh melakukan semua tuntutan yang diajarkan sebagai jalan untuk mendapatkan keselamatan. Ia banyak membaca Alkitab, berdoa, berpuasa, menyiksa diri, mengumpulkan barang peninggalan orang suci dan berziarah, untuk mendapatkan keselamatan dan kedamaian, tetapi semua itu sia-sia. Ketika ia berusaha mengasihi Allah, sebagai ketaatannya kepada perintah Allah, tetapi ia menyadari betapa kasihnya itu egois dan cacat, karena itu ia sadar bahwa tidak ada sesuatu yang dapat ia lakukan yang melayak dia untuk diterima oleh Allah. Keadaan ini membuatnya sangat putus asa.

Kesulitan rohani yang dialami oleh Martin Luther ini terjadi karena pada waktu itu gereja telah mengabaikan Injil anugerah, dan telah menjadikan kekristenan hanya suatu bentuk agama Taurat. Orang-orang beranggapan bahwa dengan melakukan peraturan Gereja, mengejar kekudusan dan berbuat baik orang akan diselamatkan. Itulah prinsip Taurat: Lakukanlah, maka kamu akan hidup (Gal. 3:12). Semua agama manusia pada dasarnya dilandasi oleh prinsip Taurat ini. Dengan standar buatan sendiri yang rendah sebagian orang merasa telah memenuhi tuntutan untuk dapat diselamatkan. Dalam terang hukum Taurat yang sempurna, kita menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang sanggup melakukan perintah Allah, karena itu semua orang berusaha dibenarkan dengan melakukan Taurat pasti berada di bawah kutuk (3:10).

Berada di jalan buntu inilah Martin Luther belajar mengenai kegagalan dari keagamaan yang bersandar pada usaha / kesalehan manusia, dan ini merupakan langkah penting untuk mengerti Injil anugerah. Inilah fungsi pertama dari Taurat yaitu menghancurkan kecongkakan hati manusia yang merasa dirinya cukup hebat dan mampu untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Hanya setelah orang menjadi rendah hati dan menyadari keadaannya yang hancur, nestapa, miskin, buta, dan sangat najis di hadapan Allah, ia mulai menghargai dan menerima Injil Yesus Kristus dengan rasa syukur. Itulah sebabnya Tuhan berkata, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat 5:3).

Melalui studi Alkitabnya Martin Luther dibukakan bahwa keselamatan bukanlah hasil usaha manusia yang rapuh, tetapi karunia pembenaran yang dikerjakan oleh Yesus Kristus dan yang diterima dengan iman. Kini dia telah mendapatkan kelegaan dan kebahagiaan. Bagi Luther Injil Yesus Kristus adalah harta yang paling berharga. Hanya melalui Taurat Tuhan yang sempurna orang sadar akan kebutuhan akan Injil anugerah. Itulah sebabnya kita meragukan orang dapat mengerti Injil dengan benar tanpa Taurat.

III. Kita yang telah diselamatkan tanpa hukum taurat, tetapi berdasarkan iman tidak dimaksudkan menjadi pelanggar hukum Taurat, tetapi supaya menjadi pelaku kebenaran Allah. Taurat tidak dibatalkan, tetapi justru harus dilakukan secara lebih penuh dan murni di dalam semangat dan terang Perjanjian Baru.  Dan ini dimungkinkan karena adanya hidup baru yang dihasilkan oleh Injil.

Dalam Galatia 3:1-5 Paulus mengkontraskan dua macam kehidupan: mereka yang percaya kepada pemberitaan Injil dan yang bersandar kepada hukum Tau­rat. Mereka percaya kepada Injil menerima karunia Roh yang berlimpah-limpah dan mujizat; dan ini tidak diperoleh oleh mereka yang hidup berdasarkan pada Taurat. Melalui ini, Paulus mau menegaskan bahwa iman dalam Injil Yesus Kristus menghasilkan suatu pengalaman rohani yang tidak akan kita peroleh dari Taurat.

Melalui percaya kepada Injil, Allah mengaruniakan Roh Kudus ke dalam hati kita; Roh Kudus mengerjakan kelahiran baru dalam diri kita, menjadikan kita manusia baru, memberi hati yang baru, nilai dan selera yang baru, dan kekuatan rohani untuk melakukan kehendak Allah. Walaupun kita masih manusia yang memiliki yang banyak kelemahan, tetapi kuasaNya yang bekerja dalam diri kita mengerjakan pembaharuan yang menjadikan kita menjadi manusia rohani.

Hal ini berbeda dengan agama Taurat yang bersifat lahiriah / kedagingan. Karena tidak ada pembaharuan dari Roh Allah, maka orang melakukan perintah Allah karena kewajiban agama, bukan karena dorongan kasih karena telah diubah dari dalam diri mereka. Inilah fungsi kedua dari Taurat yaitu mengekang orang fasik yang tak peduli akan keadilan dan kebenaran sehingga menahan diri dari melakukan kejahatan karena takut pada ancaman hukuman. Anugerah umum ini diperlukan untuk dimungkinkannya masyarakat umum.

Jika keagamaan kita hanyalah dorongan kewajiban karena takut pada hukuman Allah, maka walaupun tubuh jasmani kita masih di rumah Tuhan, sebenarnya kita adalah orang-orang yang masih terhilang seperti si sulung (perumpamaan anak terhilang). Akibatnya kita tidak pernah merasakan kebahagiaan di dalam mengasihi Tuhan dan menaati Dia. Orang yang telah diubahkan oleh Tuhan akan merasakan sukacita dan berkat di dalam melakukan kehendak Tuhan, semua pelayanannya tidak akan dirasakan sebagai pengorbanan tetapi sebagai ungkapan kasih dalam hubungan kasih yang indah dengan Allah.

Kita belum sempurna, tetapi berdasarkan iman dalam Yesus Kristus kita akan terus bertumbuh dalam anugerahNya. Melalui mempelajari hukum Taurat, kita belajar mengenal kehendak Allah dan didorong untuk melakukan perintah­Nya. Inilah yang oleh John Calvin dijelaskan sebagai fungsi ketiga dari Taurat yaitu menuntun dan mengarahkan orang percaya untuk hidup kudus. Taurat sangat berguna bagi kita, supaya kita mengenal kehendakNya dan didorong untuk melakukannya.

Mengenai hubungan Injil dan Taurat kita harus memelihara keseimbangan antara keduanya, dan menghindari 2 ekstrim ini: (1) antinomian, yaitu hidup yang mengabaikan ketaatan kepada perintah Allah. Orang percaya yang telah dimerdekakan dalam Kristus dimaksudkan untuk menjadi pelaku kehendak Allah yang dinyatakan di dalam seluruh Alkitab. (2) Moralis/Legalis, dengan pengertian akan Injil yang kaku dan salah, orang menerapkan secara paksa dan akhirnya menjadi beban berat yang tidak membangun kesalehan sejati, kecuali keagamaan yang kecut dan menjadi musuh Allah dan sesama.

Orang Kristen perlu memiliki keseimbangan Injil anugerah dan Taurat yang kudus, sehingga dengan pengertian yang benar akan maksud Tuhan, kita dengan kuasa Roh Kudus yang bekerja di dalam kita, kita memakai kemerdekaan kita untuk melakukan berbagai kebajikan dan memuliakan Allah. Inilah hidup Kristen yang indah. GerejaNya diharapkan dapat mewujudkannya dengan pertolonganNya. Amin.?

 (Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhot­bah)