Ringkasan Khotbah : 20 Oktober 2002

"Mintalah apa saja . . ."

Nats: Yoh 15:7-8

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Ayat 7 tersebut sangat riskan dan sering disalahgunakan serta dimanipulasi hingga tampaknya orang Kristen berhak minta lalu pasti akan menerima. Inilah jiwa egois yang hanya memuaskan keinginan duniawi dan sikap kedagingan tak bertanggung jawab. Maka  Yoh 15 terbatas hanya untuk murid sejati yang mengerti dengan tepat.

Ayat tersebut dibahas dalam kerangka yang menggambarkan mystical union tapi tak seperti versi dunia melainkan hubungan mutual/personal sangat unik serta dekat antara Tuhan dan umatNya. Ayat 4-6 membicarakan 2 kondisi: (1)orang Kristen yang berada dalam Kristus diumpamakan seperti ranting tinggal pada pokok anggur sebagai sumber hidup; (2)di luar Kristus ia tak dapat berbuat apa-apa. Di ayat 8 Ia menekankan, yang berhak dapat fasilitas terse­but di ayat 7 ialah mereka yang berbuah banyak dan termasuk murid sejati. Agar buahnya bagus, saluran makanan dari akar ke carang harus lancar. Maka buah tersebut akan mempermuliakanNya dan menyatakan pada semua orang bahwa merekalah murid­Nya. Ini seharusnya jadi cara pikir/paradigma dan format pengambilan keputusan orang Kristen.

Orang Kristen seharusnya menyadari dirinya ialah ranting dan bukan pohon yang independent. Kalau tak berbuah, ia akan dipotong, dibuang, dikumpulkan lalu dibakar. Hidup di dunia sangat risky dan dipilah jadi 2: (1)terpelihara dalam Kristus, (2)di luar Kristus ia jadi mandul hingga akhirnya dibinasakan. Tuhan yang maha kasih menyayangi manusia tapi juga menyediakan Neraka. Sebelum mengetahui aksi yang dapat dikerjakan dan porsi bagiannya, harus terlebih dulu secara jelas ditentukan eksistensi, identity serta posisi diri dalam kaitan dengan pokok anggur sejati. Maka diperlukan kemampuan memilah. Hidup orang dunia sebenarnya siap dibuang tapi belum saatnya. Sedangkan citra Kristen ialah hidup dalam Kristus.

Orang Kristen sejati pasti berbuah banyak dan bagus. Maka ia dapat jaminan tersebut di ayat 7. Seringkali kebanyakan orang mau claim janji Tuhan tapi mengabaikan tugas. Padahal ayat 7a merupakan penyebab dan 7b sebagai akibat. Kalau tak ada tugas, ayat 7 juga takkan dinyatakan. Dan Ia tak mungkin bohong maka janjiNya pasti terjadi. Sedangkan manusia tak dapat diandalkan karena ada kemungkinan tak menepati janji.

Di Mat 7:16-18 Tuhan berkata, 1 pohon sejati pasti menghasilkan buah yang sejenis. Di ayat 16 Ia mengatakan, dari buahnyalah diketahui jenis pohon. Jadi, buah mencerminkan identifikasi pohon.

Banyak orang mudah menyatakan diri sebagai anak Tuhan karena beranggapan takkan ada ancaman/resiko. Banyaknya kegiatan sosial Kristen dan janji teologi sukses membuat orang terkecoh hingga mau jadi Kristen. Tapi akhirnya ia kecewa karena menurut logikanya, “apa saja” di Yoh 15:7 berarti tanpa perkecualian. Jadi, ia menyatakan kenal dan percaya kepada Kristus karena adanya nats tersebut dan janji keselamatan masuk ke Surga. Akibatnya, rusaklah Kekristenan.

 Di Gal 4:9 Paulus menulis, “Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, (kalimat tersebut tak salah tapi kurang tepat dan berbahaya karena subyektif) atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, …?” 2 pendekatan tersebut beda. Kalau yang pertama, ada kemungkinan Tuhan tak kenal mereka. NamaNya memang lebih beneficial untuk dicatut. Padahal yang menentukan ialah Allah. Yang perlu diperhatikan dari Yoh 15:7:

Pertama, “… firmanKu tinggal di dalam kamu, …” Artinya, obyektivitas kebenaran harus diutamakan. Tuhan tak mau umatNya terkunci oleh semangat humanisme. Kalau “firmanKu” diganti dengan “Aku”, hubungan manusia dan Kristus jadi mistik versi dunia, seperti hubungan dengan Setan/roh. Contoh, ada orang meyakini, yang diucapkannya ialah yang Kristus katakan. Keyakinan semacam ini sesat. Banyak orang Kristen tak mau belajar Firman karena takut tak bisa minta seperti versi humanistik.    

Ketika jatuh ke dalam cengkeraman dosa, pikiran manusia akan terbelenggu. Perkataan Tuhan di Yoh 8:31-32, “Jikalau kamu tetap dalam firmanKu, …, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” malah membuat orang Yahudi yang percaya kepadaNya jadi sangat marah hingga terakhir di ayat 59. 

Karl Barth, tokoh teologi modern memilah antara Kristus dan Firman. Menurutnya, iman hanya kepada Tuhan. Sedangkan Alkitab tak boleh dipedulikan karena sekedar kesaksian beberapa orang secara subyektif mengenai pengenalan mereka akan Yesus. Di Yoh 15:4-7 Tuhan justru langsung memparalelkan DiriNya dan Firman.

Kedua, “…, mintalah apa saja …” Kadang manusia terpilah jadi 2: (1)Berani minta hingga memaksa. Padahal Tuhan pasti melengkapi kebutuhannya. (2)Tak berani minta dan hanya menerima nasib. 2 ekstrim tersebut jelek.

Permintaan orang Kristen seharusnya sesuai kehendak Tuhan dalam kebenaran Firman dan mempermuliakan Bapa serta jadi berkat bagi sesama. Dalam menggumulkan rencana­Nya, ia harus berani maju dan minta di hadapanNya dengan motivasi murni. Inilah the true freedom in God. Kekristenan sesungguhnya tak dibatasi oleh boleh atau tidak, seperti Taurat melainkan justru kebebasan bergerak/melangkah tapi harus dalam kerangka Firman.     

Kadang orang Kristen tertipu oleh konsep dunia yang terbalik. Dunia kelihatannya lebih bebas. Sebenarnya mereka terikat dan terkunci oleh perkataan fiktif serta bohong untuk membius diri. Sedangkan orang bebas pasti hidup normal, tenang dan santai karena Tuhan menyertainya.

Ketiga, “…, dan kamu akan menerimanya.” Garansi tersebut didasarkan pada kedaulatan, kemahadahsyatan dan kemahakuasaan Allah sehingga tak ada yang dapat menghalangi anugerah­Nya. Ia tak dapat dipermainkan.

Sepanjang sejarah penebusan, dari Kej 2 sampai Mat 1 Setan berulang kali berusaha menggagalkan kedatangan Kristus. Hingga saat ini Kekristenan diupayakan untuk dilenyapkan dari muka bumi tapi tak berhasil. Sebaliknya ketika belum waktunya Ia naik ke Surga, tak ada yang dapat membunuhNya.

Keempat, “… yang kamu kehendaki, …” Inilah the free will. Kehendak selalu jadi produk/ efek, bukan pemicu. Mungkin produk dari perasaan atau rasio. Akan aneh kalau keinginan muncul tanpa alasan. Itulah keinginan tak terkontrol.

Kalau perasaan dan pikiran orang Kristen sama dengan Kristus maka kehendaknya pasti tepat sesuai Firman. Perasaan dan pikirannya telah dikuasai oleh Firman. Justru dari keinginannya diketahui siapa dia sebenarnya.

Jangan biarkan kehendak dikuasai oleh nafsu karena akan membuatnya jadi liar. Maka diperlukan introspeksi diri agar bertumbuh sesuai kehendak­Nya. Perbaikilah hubungan dengan Tuhan. Lalu periksalah apakah hubungan tersebut sudah berbuah. Kalau sudah, periksalah kualitas buahnya. Sudahkah jadi saksi di rumah tangga/keluarga? Bagaimana dengan kesaksian di lingkungan, tempat kerja, sekolah dan di Gereja? Kebanyakan orang Kristen mau dilayani tapi tak bersedia melayani. Kalau begitu, bagaimana mereka dapat berbuah? Inilah beberapa hal yang perlu dievaluasi kembali. Diharapkan apa yang telah dipelajari saat ini jadi warning keras mengenai bagaimana hidup di tengah dunia yang semakin berdosa. Amin. ?

 (Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhot­bah)