Ringkasan Khotbah : 06 Oktober 2002

"Di luar Kristus, kamu tidak dapat berbuat apa-apa."

Nats: Yoh 15:5-6

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Yoh 15:5 termasuk salah satu bagian yang mungkin sulit diterima bahkan sangat tak disukai oleh banyak orang karena dianggap terlalu kuno, melecehkan dan menjengkelkan. Orang humanis berupaya menonjolkan potensi dan jiwanya yang egois. Dalam sejarah filsafat, sejak  Renaissance (abad 14) muncul humanisme sebagai akibat ditemukan kembali buku dan karya Aristotle yang telah 1000 tahun lebih hilang. Di abad 12 ajarannya mulai merebak di Eropa. Beberapa filsuf Islam akhirnya melakukan sinkritisme antara iman mereka dan Aristotelian. Demikian pula di Kekristenan muncul tokoh seperti Thomas Aquinas dsb. Mereka mencoba mengkombinasikan antara pemikiran Aristotelian dan religius yang berorientasi kepada Allah. Maka muncul ketegangan.

Salah satu moment terpenting adalah lukisan Monalisa oleh Leonardo da Vinci yang mendobrak sejarah seni. Sebelumnya, semua seni memandang kepada Tuhan. Lukisan pra-renaissance di Eropa bernuansa agama dimana selalu ada salib, gereja, orang suci (saint) dengan lingkaran di atas kepala, Maria, Tuhan Yesus, tangan menghadap ke atas dan mata juga melihat ke atas. Tapi Monalisa digambarkan tersenyum sinis, mata tak memandang ke atas dan tangan berada di bawah. Latar belakangnya adalah sawah. Artinya, orang diajak berpikir duniawi. Maka lukisan tersebut dianggap sebagai perubahan.

Pemikiran tersebut terus berkembang hingga August Comte masuk ke dalam konsep positivisme. Di abad 19 ia mempelopori semangat enlightment sebagai lanjutan dari Renaissance. Menurutnya, hanya orang primitif atau bodoh yang masih percaya kepada Allah. Orang yang lebih pandai atau maju percaya pada metafisik (sesuatu melampaui dunia fisik tapi masih dalam analisa fisika). Artinya, science jadi citra yang harus dipelajari. Sedangkan orang positif percaya logika, dunia fisik serta kekinian dan tak perlu Allah. Iman dan agama harus dibuang karena dulu cara pikir orang seringkali negatif. Contoh, ketika ada petir, berarti Tuhan marah. Padahal dengan sarana otak manusia, dunia mampu. Tak boleh ada ungkapan ‘tak mampu’ melainkan ‘belum mampu’ karena kelak pasti mampu. Manusia memang sangat sombong.

Di Yoh 15:5 Tuhan berkata, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Meskipun manusia punya gelar doktor, rumah besar atau kedudukan tinggi. Tapi istilah tersebut juga bukan berarti total. Sebenarnya ada ‘apa-apa’ yaitu ‘apa-apa’ yang tak ada apa-apanya (nihilisme). Jadi, ia melakukan aktivitas tak bermakna. Setelah itu, ia menyesalinya. Di ayat 6 Ia melanjutkan, “Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.” Inilah yang sering tak disadari oleh manusia.

Tujuan anak dibimbing dan dididik hingga bertumbuh dalam studi yaitu agar ia tahu mengerjakan sesuatu yang bernilai. Kalau tidak, semua yang dilakukan akhirnya terbuang sia-sia. Sejak kecil, anak diajar bergerak terkontrol oleh otaknya. Itulah latihan motorik. Sehingga tiap gerakannya meaningful dan cocok/sinkron dengan pikiran serta perkataannya.

Orang Kristen harus dilatih mencakup nilai dalam kekekalan. Di luar Kristus ia lepas dari sumber hidup serta potensi tindakan dan kelakuan tepat. Di Rm 6:15-23 Paulus menjelaskan, manusia terkunci hanya di 2 posisi perhambaan: (1)Sebagai hamba dosa, ia dijerat, dicengkeram dan akan terus diperbudak atau tunduk di bawah kuasa Iblis. Lama kelamaan ia menganggapnya wajar dan terbaik karena telah terbiasa; (2)Sebagai hamba kebenaran, ia dipimpin oleh Tuhan. Posisinya tak boleh naik di atas kebenaran sejati yaitu Kristus. Jadi, selamanya ia takkan pernah jadi tuan. Fakta tersebut tak disadari oleh orang humanis.

Di Yoh 14:6 Tuhan berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Dan Ia membuktikan perkataanNya. Hingga saat kematianNya, tak ada yang membuktikan Ia berdosa. Lalu Ia bangkit mengalahkan kuasa maut dan naik ke Surga. Maka manusia tak berhak mengucapkan ayat tersebut.

Di Yoh 8:31-32 Tuhan berkata pada orang Yahudi, “Jikalau kamu tetap dalam firmanKu, kamu benar-benar adalah muridKu dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Di ayat 33 mereka menjawab, “Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun.” Lalu di ayat 34 Ia menegaskan, “…, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.” Di akhir pembicaraan tersebut mereka mengambil batu untuk melempari Dia. Tindakan tersebut menunjukkan kekakuan dan kebodohan mereka hingga tak mau mengerti.            

Di dunia hanya manusia yang diajar mengerti konsep nilai dan makna. Orang dunia menganggap uang sebagai nilai tertinggi hidup. Manusia secara umum telah ditipu oleh kelicikan Setan. Iblis tak punya hidup maka menawarkan uang/harta dan sebagai gantinya ia minta hidup manusia. Di Luk 4:6-7 ia berkata kepada Tuhan, “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepadaMu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milikMu.” Kalau manusia ditawari seperti itu, mungkin langsung berdoa, “Tuhan, roh memang penurut, tetapi daging lemah.” Akibatnya, ia kelak masuk ke Neraka. Manusia sangat ceroboh hingga berambisi mengejar sesuatu yang dianggap bernilai tapi akhirnya ia mati. Di Mat 6:19 Kristus berkata, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya ...“ Jadi, manusia lahir dan mati tanpa membawanya. Bukan berarti ia tak boleh cari uang. Tapi uang sekedar sarana.

Ada yang bertanya, “Orang Kristen boleh kaya atau tidak?” Ketika ditanya, “Kenapa bertanya seperti itu?”, ia tak menjawab karena takut motivasinya terbongkar. Lalu ia menjawab, “Di Alkitab, Abraham tergolong kaya.” Maka kalau ia kaya, seharusnya seperti Abraham. Di Kej 13:1-12 tercatat, antara para gembala Abraham dan Lot terjadi perkelahian. Untuk menghentikannya, di ayat 9 Abraham berkata pada Lot, “Baiklah pisahkan dirimu daripadaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri.” Lalu Lot memilih Lembah Yordan yang banyak airnya, seperti taman Tuhan. Tindakan tersebut menunjukkan, Abraham sungguh kaya hingga tak takut kekurangan uang. Ia juga dapat predikat “bapa orang beriman”. 

Ada orang berpendapat, kalau tak pelit, takkan bisa kaya. Di Mrk 12:41-44 tercatat mengenai persembahan janda miskin. Di ayat 43-44 Tuhan berkata pada para murid­Nya, “…, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.” 

Ayub juga jadi berkat sangat besar bagi orang lain melalui attitude/sikapnya dalam pergumulan. Sejarah kemenangannya dibaca dan dipelajari di seluruh dunia, bukan hanya oleh orang Kristen tapi termasuk sosiolog, psikolog, ahli budaya dll.

Banyak orang berusaha mencapai double happiness. Sebenarnya kebahagiaan berlimpah bukanlah tujuan. Kebahagiaan seperti fatamorgana yang menghilang ketika dikejar. Happiness seharusnya termasuk daily life. Menurut Alkitab, point terpenting ialah hidup di dalam Kristus dan berbuah banyak. Itulah the true life. Sesungguhnya orang Kristen sekarang telah mencapai dan menikmati happiness tapi belum sempurna. Inilah konsep paradoksikal Alkitab. Seharusnya hidup Kristen sejati itu ringan karena tak tergantung pada permainan dunia melainkan pengaturan Allah yang mutlak. Di Mat 18:3 Tuhan berkata, “…, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Maka orang Kristen seharusnya hidup sebagai anak yang taat di hadapanNya. Pasti aman dan tak mungkin salah. Biarpun kelihatan gelap tapi ketika melewatinya, Ia buka satu per satu dan semua tergenapi. Badai akan segera teratasi dan hidupnya kembali bersukacita. 

Kebanyakan orang Kristen belum terbiasa hidup bergaul dekat dengan Allah melalui doa dan Firman. Akibatnya, ia tak mengerti kehendakNya. Padahal di Yoh 15:7 Tuhan berjanji, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firmanKu tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.”  

Jemaat GRII hendaknya mencapai 2 tujuan yang harus diperjuangkan dan dipergumulkan seumur hidup: (1)in­ternal goal yaitu Ef 4:13, “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.” (2)external goal yaitu amanat agung di Mat 28:19-20, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Jadi, bergereja bukan sekedar tiap Minggu datang kebaktian. Amin. ?

 (Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhot­bah)