![]() |
Ringkasan Khotbah : 29 September 2002 Panggilan Hidup Kudus Nats: 1 Ptr 1:13-16 Pengkhotbah : Pdt. Liem Kok Han |
Petrus sebagai rasul Tuhan dan gembala menulis surat tersebut untuk menasihati dan membangun orang Kristen yang tinggal di perantauan atau di tengah orang non Yahudi dan mengalami banyak kesulitan, tantangan, penderitaan serta aniaya. Di ayat 1 tercatat, “… kepada orang-orang pendatang, yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia.” Padahal dulu mereka tersebar karena dianiaya oleh orang Yahudi.
Di ayat 8-9 ia mengatakan, “Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihiNya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihatNya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu.” Dalam perjalanan mengikut Tuhan, iman mereka justru makin kuat dan bertumbuh. Bahkan mereka mengalami sukacita rohani dan suasana surgawi, tetap setia serta mengasihi Allah bukan secara emosional melainkan karena telah mencapai kedewasaan rohani penuh. Kalau emosi mudah pudar dan berubah tapi affection merupakan gairah yang memancar dalam hidup.
Bukan berarti iman mereka sempurna melainkan sedang dalam proses. Tantangan yang harus mereka hadapi yaitu pengaruh dosa. Pada waktu itu mereka tinggal di tengah budaya non Kristen yang belum kenal Tuhan serta masih hidup secara amoral dan duniawi. Maka mereka ditantang sekaligus diharapkan serta dimungkinkan untuk hidup kudus di dunia sekuler/hedonis yang cemar, licik dan rusak.
+ 2 juta orang Israel berhasil keluar dari Mesir menuju ke Kanaan. Tapi yang akhirnya diijinkan oleh Allah untuk masuk ke Kanaan hanya 2 orang yaitu Caleb dan Yosua. Sedangkan yang lain mati di padang gurun. Padahal selama 40 tahun mereka mengalami berkat dan mujizat Tuhan. Tapi rohani mereka tak pernah dewasa.
Meskipun orang Kristen sungguh giat dan semangat melayani Tuhan serta punya banyak karunia antara lain pandai berkhotbah tapi kalau hidupnya tak kudus maka semua prestasi pelayanannya jadi sia-sia. Kekudusan hidup sebenarnya lebih penting daripada karunia dan prestasi. Orang yang memilikinya mungkin tak terkenal atau berprestasi tapi dipakai oleh Allah.
Di keluarga, lingkungan pekerjaan dan pergaulan, anak Tuhan seharusnya dikenal sebagai orang kudus. Kehadirannya membuat suasana jadi beda. Pikiran, emosi dan motivasi hidupnya makin dikuduskan serta menyenangkan Allah setelah sekian lama belajar Firman.
Orang percaya terus dicobai, dirongrong dan diserang oleh godaan agar terjerat lalu jatuh ke dalam dosa. Tapi setelah beriman kepada Tuhan dan darahNya menebus serta menyucikannya, ia disebut orang kudus secara status serta dipanggil untuk jadi garam dan terang dunia. Secara kondisi, ia masih berdosa. Tapi dalam pandangan Allah melalui pengorbanan Kristus, ia telah dikuduskan. Meskipun di kalangan jemaat Korintus sering terjadi perselisihan, selingkuh dll, Alkitab tetap menyebut mereka orang kudus.
Pemahaman serta kesadaran orang Kristen akan statusnya sangat mempengaruhi langkah dan sikap hidup selanjutnya. Seringkali orang punya double standard atau perspektif kurang luas hingga menganggap orang kudus yaitu pendeta, penginjil, misionari, rohaniawan dan majelis. Kalau mereka hidup secara tak benar atau tak berkenan kepada Tuhan, langsung dikritik. Padahal jemaat juga tak boleh hidup semacam itu.
Di ayat 14-15 Petrus berkata, “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu.”
Ada anak majelis aktif di Gereja tapi juga jadi bandar narkoba. Di Amerika, tiap hari ada 1000 gadis remaja jadi ibu tanpa menikah, 1106 gadis remaja menjalani abortus, 4219 anak remaja terjangkit penyakit kelamin, 1000 anak remaja belajar minum minuman keras, 135 ribu anak membawa pistol dan senjata tajam ke sekolah, 3610 anak remaja diserang dan diperkosa serta 6 juta orang (sebagian besar mahasiswa) membuka situs porno di internet. Di Blitar, jumlah orang yang kawin-cerai paling banyak di antara kota lain di Jatim.
Orang tua Kristen seharusnya mampu dan bersedia investasi waktu, tenaga serta uang untuk melengkapi dan mendidik anaknya sejak kecil menurut ajaran Tuhan agar tak tercemar serta selalu waspada terhadap kondisi membahayakan semacam itu. Kalau dulu orang percaya, banyak anak banyak rejeki tapi sekarang banyak anak banyak kekuatiran.
Sejarah membuktikan, ketika ditekan, Kekristenan justru makin berkembang. Tapi orang Kristen sendiri malah menghambat pertumbuhan dan membuatnya mundur. Maka Petrus menasihati agar mereka memprioritaskan dan berupaya mengejar visi kekudusan hidup meskipun harus bayar harga. Fokus hidup tersebut harus diperjuangkan dalam tubuh Kristus. Karena Tuhan menghendakinya, Ia pasti menolong. Di Mat 5:48 tercatat standardNya mengenai kekudusan, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Kudus berarti orang Kristen dipisahkan dan dikhususkan untuk hidup hanya bagi kemuliaan Allah. Maka hidup sesungguhnya bukan miliknya lagi tapi milik Kristus yang telah mati dan bangkit. Inilah progressive sanctification (proses pengudusan terus menerus seumur hidup hingga makin serupa Dia sampai tiba saat bertemu denganNya).
Di tengah angkatan yang melawan Tuhan, Alkitab mengkonfirmasikan, nabi Nuh telah hidup saleh di hadapanNya. Keluarganya termasuk minoritas tapi mampu hidup kudus oleh anugerahNya. Di Ayb1:1 tercatat, “Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” Di antara 11 saudaranya, Yusuf juga tampil beda. Ia punya integritas baik hingga membuat saudaranya marah dan menjualnya. Di keluarga Potifar, ia mampu mempertahankan kekudusan dalam pencobaan yaitu ketika digoda oleh istri Potifar. Di Kej 5:22 tercatat, “Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun lagi, …” Ia telah menyerahkan hak hidup kepadaNya.
Gereja sebagai mempelai Kristus harus mampu memberi kesaksian mengenai kekudusan. Dengan kata lain, memelihara kesucian hidup sampai Tuhan datang kembali. Tindakan tersebut merupakan peperangan rohani. Mereka tak hanya melawan pengaruh kebudayaan belaka tapi juga penguasa kerajaan angkasa (Ef 6:10-18) yang mencoba menghancurkan Kekristenan. Di 1 Ptr 5:8 tercatat, “… Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.”
Orang Kristen hendaknya senantiasa kudus dalam segala aspek hidupnya. Seharusnya tak hanya di Gereja ia kelihatan saleh seperti malaikat dengan tutur kata teratur baik dan mukanya selalu tersenyum. Tapi di rumah ia jadi seperti setan dengan pikiran yang selalu kotor dan cara hidup/kebiasaan tak sopan.
Manusia telah mengalami total depravity dan akhirnya berada dalam keadaan total inability untuk menyelesaikan masalah dosa. Kecuali pekerjaan Roh Kudus memampukannya mengalahkan kecenderungan berbuat dosa.
Ada orang baru jadi Kristen ketika dewasa, contohnya usia 30 tahun. Sejak usia 1-30 tahun, ia punya cara pikir non Kristen serta emosi, perasaan dan habit diwarnai oleh kedagingan. Setelah jadi Kristen, ia punya rohani dan iman ‘kue lapis’. Ia mengenakan etika Kristen seperti ramah, rendah hati dsb. Tapi pola pikir serta karakter lama tetap ada di lapisan bawah dan tak terlihat. Ketika ada masalah, lapisan tersebut muncul kembali dan mempengaruhi tindakannya. Kadang sudah di bawah kesadarannya.
Pergumulan semacam ini tak hanya dialami oleh orang Kristen baru tapi juga yang lama termasuk hamba Tuhan. Di Rm 7:24 dan 26 Paulus berkata, “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa.” Di dalam dirinya ada pertentangan.
Orang Kristen perlu memeriksa hidup dan introspeksi diri senantiasa. Jangan mau ditipu oleh pujian manusia atau prestasi hidupnya sendiri karena pandangan Tuhan lebih menentukan. Ia bisa menipu diri sendiri maupun orang lain tapi tidak dengan Allah.
Keluarga Jonathan Edwards termasuk sederhana tapi saleh. Si ayah ialah pendeta dan si ibu ialah putri pendeta. Di antara keturunan mereka, 14 orang jadi rektor universitas di Amerika, 100 lebih orang jadi dosen dan profesor, 100 lebih orang jadi hakim dan pengacara, 30 orang jadi hakim, 60 orang jadi dokter, 100 orang jadi pendeta dan utusan Injil serta hampir tiap industri di Amerika, keluarganya punya andil dalam pendirian. Hidup mereka dapat dijadikan contoh/inspirasi bagi orang di sekitar.
Kekudusan hidup tak dapat dikejar dengan usaha manusia sendiri melainkan merupakan buah relasi/persekutuan/komitmen yang benar bersama Tuhan. Di Yoh 15:5 Kristus berkata, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. …, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Di Yoh 17:17 Ia berdoa, “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firmanMu adalah kebenaran.” Di Mzm 119:9-11 tercatat, “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firmanMu. Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, … supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.”
Orang Kristen harus dipenuhi dan dipimpin oleh Roh Kudus karena tanpa kuasaNya ia takkan mampu menjalankan Firman. Akibatnya, ia menghasilkan buah Roh antara lain penguasaan diri (Gal 5:22-23). Ketika pencobaan datang, ia diberi kekuatan untuk menahan diri.
Orang Kristen juga harus hidup dalam penyangkalan diri. Di Mat 16:24 Tuhan berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Kadang terasa tak enak tapi harus disertai kerelaan.
Ketika mengikut Tuhan, Paulus juga mengalami banyak kesulitan. Kadang keinginannya beda dengan Allah. Lama kelamaan ia mempercayakan hidupnya secara total kepadaNya. Dan ia menyaksikan Kristus berkarya menguduskan hidupnya. Amin.?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)