Ringkasan Khotbah : 22 September 2002

Hidup yang Berbuah

Nats: Yoh 15:4-7; Mat 7:15-23

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Tuhan berulang kali memberi gambaran mengenai prinsip orang Kristen harus terus menerus berbuah. Salah satu prinsip penting, Kekristenan tak diarahkan jadi iman yang mati secara essensial melainkan hidup.

Materi tak mengalami proses dan tak punya nuansa hidup. Batu tak mungkin beranak melainkan terkikis oleh erosi. Tapi tumbuhan bahkan sel amoeba hidup. Dan unsur vitalitas termasuk paling penting dalam hidup. Ada pula unsur mortalitas dan kekuatan prokreasi. Maka pohon tak hanya cari makan tapi juga bertunas dan berbuah. Kalau tidak, ia akan terancam punah. Jadi, hidup punya qualitative difference. Kemungkinan hidup terus diperjuangkan oleh dunia medis. Tapi benda mati jadi hidup ialah tipuan palsu ilmu pengetahuan tak bertanggung jawab karena tak terbukti.

Kalau kerohanian mati, demikian pula Gereja. Kalau hidup, harus berbuah. Kalau tidak, akan dipotong, dibuang dan dibakar karena sebenarnya ia sudah mati. Bukan berarti Tuhan membunuhnya tapi ia telah mati terlebih dulu. Kalau berbuah dan kualitasnya bagus, akan dipelihara serta dibersihkan (pruned) supaya hasil berlimpah (Yoh 15:2) sehingga namaNya makin dipermuliakan. Kalau tak lagi mampu mengembang dan berbuah bukan untuk kepentingan diri sendiri melainkan jadi berkat bagi orang di sekelilingnya, berarti sudah mencapai tingkat kemandulan yang membahayakan.

Saat ini banyak orang Kristen hanya memikirkan keuntungan yang dapat dinikmatinya sendiri. Ketika melayani Tuhan, mereka tak memikirkan buah yang dihasilkan. Padahal ketika baru bertobat, mereka punya jiwa penginjilan dan semangat rela berkorban yang sangat besar untuk melayani. Contoh, pergi ke Gereja untuk mempelajari ilmu seperti teknik pelayanan, struktur organisasi, administrasi, dll yang improving/memperkaya diri sendiri. Motivasi tersebut kelihatan baik tapi sebenarnya tak seimbang. Gereja jadi tempat magang. Seharusnya ia mencari kekurangan Gereja tersebut lalu mau sharing. Hidup Kristen bukan mencari hak melainkan mengejar kewajiban dan takkan puas sebelum berbuah banyak. Selain itu, ia harus berdoa agar berkenan di hadapanNya.

John F. Kennedy pernah mengatakan, “Don’t ask what the country can do for you, but ask what you can do for your country.” Tapi Allah telah berbuat banyak untuk jemaatNya maka Ia mengharapkan mereka berbuah. Kristus yang mati disalib telah menjadikan mereka hidup padahal seharusnya binasa. Ia telah menebus dosa mereka. Yang rusak juga telah diperbaikiNya.

Ketika carang berbuah banyak, pemilik kebun anggur datang lalu memotong dan membawa buah yang terbaik. Bijinya akan ditanam lagi. Sedangkan bibit jelek takkan dipakai.

Di dunia yang hanya memikirkan rights dan meniadakan responsibility, Allah mengajak umatNya kembali mengerti essensi kehidupan Kristen yaitu berbuah karena seseorang berada di kampus, kantor, lingkungan atau keluarga tertentu bukanlah kebetulan melainkan pimpinanNya. Ada 2 prinsip pelayanan Kristen yang harus dijalankan yaitu:

(1)Sebagai terang, ia melakukan iluminasi/memancar/menyinari. Untuk tugas tersebut, Tuhan tak menuntutnya jadi sempurna seperti malaikat melainkan harus sungguh bertobat hingga terjadi perubahan hidup yang drastis. Orang yang melihatnya, langsung menyadari bedanya. Dulu gelap, sekarang terang.

(2)Sebagai garam, ia melakukan penetrasi. Untuk merasakan masakan yang pakai dan tanpa garam, tak perlu keahlian khusus meskipun garamnya tak terlihat. Setelah masuk ke dalam masakan, garam langsung larut seluruhnya. Masakan yang kelihatan enak, tanpa garam jadi hambar.

Ketika orang Kristen masuk ke dalam lingkungan tertentu, mungkin keberadaannya tak disadari oleh yang lain tapi mereka merasakan pengaruhnya. Suasana jadi berubah. Dulu beku, sekarang enak.

Tuhan menghendaki kehidupan orang Kristen tak berorientasi pada diri sendiri. Di ayat 7 Ia berjanji, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firmanKu tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” Kalau ayat tersebut selalu diingat tapi ayat 1-6 tak dimengerti secara tepat berdasarkan konteks pengertian semula, ia jadi sangat egois. Sesungguhnya ayat tersebut bukan himbauan melainkan perintah. Lalu buah seperti apa yang Allah inginkan?

Pertama, buah harus sesuai/menentukan jenis pohonnya. Di Mat 7:15 Tuhan memberi perumpamaan sangat tajam, “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.” Di ayat 21-23 Ia berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di Sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah daripadaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

Logika terlalu dangkal beranggapan orang semacam itu pasti bukan hamba setan. Padahal iblis punya taktik licik luar biasa. Tuhan tak dapat berbohong atau melakukan yang tak benar dan tak bermoral. Iblis sanggup berdusta, membunuh dll. Tampaknya ikut iblis lebih enak. Ketika menyaksikan orang mengadakan mujizat, kebanyakan beranggapan dia itu hamba Tuhan. Padahal dukun juga mampu melakukannya.

Di Mat 7:16 Ia melanjutkan, “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.” Di ayat 17 Ia mengatakan, “Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.” Maka buah Kekristenan tak dapat lepas dari kepribadian Kristus dan seluruh misi panggilanNya. Tanpa pengetahuan cukup, orang Kristen akan jadi korban kebodohannya sendiri.

Kedua, Tuhan menuntut kualitas buah baik. Anggur yang bagus, jumlahnya banyak dan rasanya enak. Kualitas buah harus tetap diperjuangkan agar mempermuliakan Bapa di Surga.

Ada ilustrasi mengenai pelayanan. Seorang kakak yang sudah SMA punya adik berusia 6 tahun. Si kakak melayani di Gereja sebagai guru sekolah minggu. Ia berencana akan mempersiapkan aktivitas prakarya bagi para muridnya di kelas kecil. Lalu ia pergi ke perpustakaan sekolah untuk mencari gambar yang bagus dan mudah digunting. Akhirnya ia menemukannya lalu gambar tersebut difotocopy sebanyak 41 kali karena muridnya berjumlah 40 anak dan 1 lembar untuk dirinya memberi contoh pada mereka. Pada hari Sabtu dipersiapkannya semua yang diperlukan untuk mengajar antara lain 41 lembar fotocopy, gunting dan pensil warna. Semua peralatan tersebut diletakkannya di atas meja di ruang tamu. Setelah itu, mamanya memanggil dan memintanya pergi belanja ke supermarket. Ia diberi daftar belanjaan dan uang. Lalu ia berangkat dengan bersepeda. Si adik merasa kasihan pada kakaknya. Lalu ia bermaksud membantu menyelesaikan pekerjaan kakaknya. Ketika melihat gambar, gunting dan pensil warna, ia langsung mengerti. Ia mulai menggunting gambar tersebut satu per satu. Setelah selesai menggunting seluruhnya, si kakak masih belum pulang. Lalu ia mulai  mewarnai gambar tersebut. Sesudah mewarnai 6 gambar, kakaknya pulang. Ia segera merapikan ruangan. Bekas guntingan dikumpulkannya dan dibuang ke tong sampah. Gunting dan pensil warna disusun rapi kembali. Ia mengira akan mendapat pujian dari kakaknya. Setelah mengembalikan sisa uang ke mamanya, si kakak langsung masuk ke ruang tamu untuk menyelesaikan persiapannya. Ia sangat terkejut dan berteriak, “Siapa yang mengerjakan semua ini?” Si adik dengan innocent muncul dan berkata, “Saya.” Kakaknya langsung putus asa karena rencananya hancur berantakan. Sedangkan si adik tak merasa bersalah melainkan berjasa.          

Kegiatan pelayanan Gereja harus dimulai dari beban yang Tuhan tanamkan dalam hati jemaat. Maka diperlukan pergumulan dan doa. Kalau ada beban pelayanan yang dirasa perlu dikerjakan, sebaiknya dishare dengan orang lain terlebih dulu. Kalau setelah itu tak ada yang menanggapi, berarti mungkin hanya ambisi pribadi. Tapi kalau beban tersebut dari Allah, Ia pasti membakar semangat bukan hanya 1 orang melainkan beberapa orang. Dan semangat mereka makin lama semakin besar. Setelah itu, coba delay untuk sementara waktu. Tindakan tersebut untuk menguji. Kalau sesudah masa delay, semangat bertambah besar, beban tersebut boleh dikerjakan karena Tuhan memimpin. Tantangan mungkin sangat berat tapi tak perlu takut melainkan tetap yakin. Orang boleh coba menghambat atau memadamkan semangat tersebut tapi rencanaNya tak dapat digagalkan. Lebih baik support dan menjalankannya, pasti semua tergenapi.

Anak Tuhan harus peka terhadap prinsipNya sehingga dapat dipakaiNya. Allah tentu sangat bersukacita. Tapi Ia tak pernah memaksa. Menurut Pdt. Stephen Tong, Ia kelihatan diktator tapi sebenarnya demokrat. Ia memberi kebebasan pada manusia, mau menjalankan atau malah melawan perintahNya. Kadang ada orang yang kurang ajar hingga berani mengatakan Tuhan jahat. Padahal Ia sangat sabar dan mau memberi kesempatan bertobat. Kalau tetap tak mau bertobat, berarti salah orang itu sendiri. Amin.?

 (Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhot­bah)