![]() |
Ringkasan Khotbah : 8 September 2002 Gereja & Kasih Karunia Allah Nats: Ef 5:25b-27; Yoh 1:14,17; Yer 18:1-6 Pengkhotbah : Ev. Solomon Yo |
Tema kita ialah Gereja dan kasih karunia Allah. Mengapa kita peduli terhadap Gereja? Apa itu Gereja? Gereja bukanlah gedung/bangunan melainkan orang, umat tebusan miliki Allah. Gereja tidak sama dengan club, yaitu perkumpulan orang-orang yang berkumpul atas interes dan kepentingan bersama yang datang dari inisiatif sendiri. Gereja dihimpun atas inisiatif Allah ke dalam satu ikatan di dalam Tuhan yang tidak akan terputuskan. Gereja juga berbeda dengan institusi dunia, di mana anggotanya dinilai dan diterima berdasarkan status dan pencapaian; di mana orang yang gagal, lemah dan tak mampu akan tersingkir; dan hanya orang yang sukses, kompeten dan berprestasi yang dipandang, disambut, dan diberi tempat terhormat. Di dalam Gereja setiap orang diterima ke dalamnya berdasarkan anugerah Tuhan. Gereja lebih mirip keluarga dimana setiap orang menerima hak-hak istimewa bukan karena pencapaian mereka tetapi karena dilahirbarukan oleh Roh Kudus ke dalam keluarga Allah. Mari kita melihat seperti apakah kehidupan Gereja dalam hubungannya dengan kasih karunia Allah.
Pertama, Gereja ada karena kasih karunia Allah. Gereja adalah orang-orang yang dikasihi Kristus, yang menerima penebusan darah-Nya dan diangkat menjadi anak-anak Allah dengan semua hak istimewanya, mereka dipelihara dan diperlakukan seperti biji mata-Nya, setiap gangguan terhadap gereja merupakan serangan terhadap Tuhan. Ketika dunia binasa dan seluruh institusi dunia berakhir, Gereja akan tetap ada dan dibawa ke dalam kekekalan untuk menerima kemuliaan bersama Tuhan. Sungguh suatu gambaran yang begitu luar biasa.
Jika Gereja mendapat perlakuan yang demikian luar biasa dari Allah, kita dapat menduga bahwa ia pasti sangat indah dan menarik. Karena itu kita tertarik untuk melihatnya secara lebih teliti untuk mengagumi keelokannya yang membuat Tuhan begitu mengasihinya. Dan apakah yang kita lihat? Apa kita temukan bukanlah kekaguman melainkan keterkejutan bahkan shock. Kita mendapati Gereja ternyata terdiri dari orang-orang berdosa dengan begitu banyak kelemahan dan masalah. Kita heran, bagaimana kasih yang begitu agung dan mulia dapat sampai diberikan kepada obyek yang tidak layak? [Padahal mengasihi obyek kasih yang bermasalah akan menimbulkan banyak kesedihan dan kesulitan bagi pihak yang mengasihi.]
Bagaimana kita mengerti realita kontradiksi ini? Gereja bagaikan bejana yang rusak, yang bagi orang lain, sudah tidak berharga dan layak dibuang, tetapi bagi Allah yang mengasihinya, ia menjadi berharga karena ia mengasihinya. Kasih adalah pencipta nilai terhadap obyek kasih. Cuplikan dari film ‘The Road Home’ yang kita saksikan, menolong kita untuk mengerti kebenaran yang sedang kita pelajari. Bagi sang gadis, mangkok yang hancur itu, yang dulunya selalu digunakan untuk memberi makan guru muda yang dicintainya itu, tetap ia simpan sebagai sesuatu yang berharga. Sampai suatu hari, ibu gadis itu meminta seorang yang ahli memperbaiki mangkok antik untuk memperbaikinya kembali, dan orang itu mengerjakannya dengan begitu rapi, sehingga walaupun ada bekas tambal, tetapi mangkok itu telah menjadi utuh kembali dan dapat dipakai tanpa ada setetes air pun yang bocor.
Ketika melihat gereja dengan cara pandang kita yang alamiah, maka kita cendrung menjadi kecewa dan putus asa, dan terdorong untuk mengabaikan dan menjauhi gereja. Tetapi jika kita belajar melihatnya dari cara pandang Allah, sikap kita akan berubah. Bagi saya ini mempengaruhi kita dalam (1) cara memandang diri sendiri. Jika Allah demikian mengasihi saya, maka saya tidak boleh menghina dan mengabaikan dan merusak diri. Ada pria yang telah hancur hidupnya, tetapi ketika mendapat kasih dan perhatian yang tulus dari seorang wanita Kristen tulus, ia menjadi begitu tersentuh dan mulai melihat dirinya secara baru, akhirnya ia dapat melihat kasih Tuhan dan harapan baru di dalam Tuhan dan diperbaharui. Kasih dan penghargaan Allah terhadap kita adalah suatu kekuatan yang mendorong kita untuk merawat diri dan mempersembahkan diri kita yang terbaik untuk membalas cinta Tuhan; (2) cara memandang Gereja. Kita tahu Gereja terdiri dari orang-orang dengan segala macam masalah, banyak hal yang dapat dan telah mengecewakan kita, tetapi karena Allah begitu mengasihi gereja, maka kita tidak dapat berbuat lain kecuali mengasihi dan merawatnya bagi Tuhan.
Kedua, gereja yang lahir dari kasih karunia Allah harus menjadikan kasih karunia sebagai prinsip hidupnya dan menjadi ciri-ciri dari keberadaannya. Biarlah setiap orang Kristen ditandai dengan kasih karunia dan gereja menjadi tempat di mana orang bisa mendapatkan kasih karunia Allah. Ketika hal ini dilaksanakan, kita harus menerapkan prinsip paradoks dalam memperlakukan setiap anggotanya: Di satu sisi, kita harus menuruti perintah Kitab Suci untuk menghormati orang yang patut dihormati dan menjalankan disiplin terhahap orang yang bermasalah; menghargai orang-orang yang melayani dengan penuh kesetiaan dan menjadi teladan bagi jemaat (1Tim 5:17) dan memberikan teguran dan didikan yang penuh wibawa kepada mereka yang berprilaku buruk, maka kita menjalankan prinsip kebenaran dan keadilan.
Di sisi lain, kita juga harus mewujudkan kasih karunia Allah, yaitu memperlakukan setiap orang sebagai saudara dalam Tuhan, menyambut dan menerima mereka tanpa pembedaan suku, golongan, pendidikan, kemampuan, status sosial, kaya/miskin, dll. Kita harus belajar mengatasi kecenderungan untuk membeda-bedakan orang dengan kepentingan kita sendiri. Di dalam gereja di mana ada orang yang dewasa, dan ada yang kekanak-kanakan; ada yang membanggakan dan ada yang memalukan; ada yang terhormat dan ada yang harus diberikan disiplin gereja, namun biarlah semuanya tetap dikasihi. Untuk melaksanakan hal ini kita membutuhkan hikmat ilahi dan kedewasaan rohani.
Inilah juga yang menjadi pelayanan gereja menjadi sulit, karena kita tidak dapat menyeleksi keanggotaannya berdasarkan kriteria dan ideal kita. Dalam institusi profesional, melalui seleksi kualitas kerja dan pemberian imbalan, kita bisa mendapatkan orang-orang pilihan. Tetapi Gereja adalah tempat di mana pintunya selalu terbuka untuk menyambut siapa saja yang datang, termasuk para perdosa, dari segala latar belakang agama, profesi dan masalah. Karena itu, kita harus mengerti bahwa Gereja bukanlah kumpulan orang suci, tetapi adalah tempat di mana orang berdosa, oleh kasih karunia dan kebenaran Allah akan diubahkan dan dididik menjadi murid-Nya yang semakin disempurnakan. [Memang di dalam penerapannya ada banyak aspek yang masih harus dibahas dan diluruskan.]
Di dalam kehidupan berjemaat kita harus menghindari dua ekstrim dalam memperlakukan sesama. Pertama, hanya menerima orang yang baik dan menyenangkan dan menolak yang tidak disukai dan menyusahkan. Ini adalah pertanda ketidakmampuan kita untuk menerima orang yang memerlukan bantuan dan menjadi berkat bagi mereka; dan dalam kemiskinan rohani kita, kita hanya mau (mampu) berteman dengan orang yang baik untuk mendapatkan keuntungan dari mereka. Kedua, secara kebalikannya kita bisa begitu lembut dan penuh pengertian kepada orang yang lemah dan tersisih tetapi bersikap sangat antipati kepada mereka di atas, berhasil dan memiliki status sosial yang baik. Ini merupakan ungkapan problem kejiwaan yang sama bermasalahnya dengan sikap pertama. Hanya ketika kita bisa bergaul dalam hubungan yang sejajar dan saling ‘take and give’ dengan orang yang di atas, dan bisa menerima dan meneguhkan orang yang bermasalah tanpa diperalat mereka kita baru menjadi orang Kristen yang sehat dan memiliki hubungan yang membangun dengan segala macam orang; di mana yang lemah dapat kita angkat dan yang kuat tidak kita cabik-cabik.
Kita juga harus waspada supaya Gereja kita tidak menjadi tempat di mana kasih karunia telah tidak ada. Seorang wanita tuna susila suatu hari mengisahkan kesulitan hidupnya kepada seorang Kristen, sampai suatu saat ia menyewakan putrinya yang berusia 2 tahun kepada seorang pria yang tertarik kepada seks yang tidak wajar untuk membiayai ketergantungannya kepada obat bius. Ketika orang Kristen itu menanyakan apakah tidak terpikirkan olehnya untuk mencari bantuan Gereja. Ia tidak bisa melupakan reaksi wanita tersebut yang tiba-tiba menjadi sengit, “Gereja!” teriaknya, “Buat apa aku ke sana? Saya sudah merasa benci pada diri sendiri. Mereka hanya akan membuat saya tampak lebih buruk.”
Ketika orang berdosa sadar mereka itu bejad dan tak berharapan lagi, siapa yang menjadi harapan terakhir mereka jika bukan Allah? Dan jika mereka mencari Allah, apakah mereka akan menemukan kasih karunia Allah, di dalam tubuh-Nya yang kelihatan, yaitu Gereja? Sebagai tubuhNya yang kelihatan, sadarkah kita bahwa Gereja telah dipanggil untuk menjawab seruan orang-orang lemah kepada Allah. Susanna Wesley, ibu John Wesley berkata, anak mana yang paling saya cintai? Saya mengasihi yang sakit sampai dia sembuh, orang yang lari dari rumah sampai dia kembali. Siapkah kita untuk menjadi saluran berkat dan kasih karunia Allah bagi orang yang terluka; atau mereka hanya akan mendapat sorot mata menghakimi yang akan membuat mereka semakin putus asa.
Ketiga, kasih karunia Allah yang menerima orang berdosa tidak membiarkan mereka tetap dalam kerusakan, sebaliknya kasih karuniaNya akan menjadi kuasa kreatif yang akan mentransformasi objek kasihNya ke dalam kesempurnaan sesuai kehendakNya.
Ketika Tuhan Yesus menunjukkan sikap yang sepertinya lebih menghargai orang berdosa (lebih menghargai pemungut cukai daripada orang Farisi; Luk 18:9-14; Mat. 23), itu bukan berarti Allah menyukai hal-hal yang rusak, tetapi karena Ia berkehendak untuk mengubah mereka menjadi manusia baru yang indah sesuai dengan rencanaNya. Dan karena orang berdosalah yang pertama-tama paling sadar akan kerusakan dirinya, sehingga harus mau rela untuk dibentuk secara baru oleh Tuhan; seperti tanah liat di tangan pejunan, demikian bejana yang rusak itu akan dibentuk ulang secara baru, bukan perbaikan kecil; (Yer 18:1-6). Inilah yang dikatakan rasul Paulus dalam Efesus 5:27, “supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diriNya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.”
Kasih bersifat menyempurnakan dan bukannya membiarkan pencemaran dan keburukan. Kasih yang murni menerima orang yang bahkan memiliki banyak kelemahan, tetapi tidak akan membiarkan kelemahannya itu merusak dan mencemari orang yang ia kasihi itu, sebaliknya ia akan berusaha dengan membayar harga untuk menolong obyek kasihnya itu mencapai kesempurnaan yang membuat dia semakin indah dan semakin layak dikasihi. Allah tidak memperlakukan kita apa adanya, dan membiarkan kita tetap dalam keburukan. KasihNya yang sempurna menerima kita walaupun kita sangat tidak layak, tetapi kasihNya yang sempurna pada saat yang sama akan mengubah kita sehingga layak bagiNya. Inilah kebenaran yang diungkapkan dalam lagu He’s still Working on Me’: “He’s still working on me to make me what I ought to be. It took Him just a week to make the moon and stars, the sun and the earth and Jupiter and Mars. How loving and patient He must be. He’s still working on me. There really ought to be a sign upon my heart. Don’t judge me yet. There’s an unfinished part. But I’ll be perfect just according to His plan. Fashioned by the Master’s loving hand.” Allah menerima orang Kristen apa adanya tapi memperlakukan sebagaimana seharusnya. Tangan kasihNya terus berkarya, menenun, membentuk dan memproses jemaatNya supaya tak bercacat cela di hadapanNya
Gereja ada karena kasih karunia, biarlah kasih karunia yang ia terima juga menjadi pola hidupnya, kita yang diampuni biarlah juga mengampuni; kita yang menerima kemurahan biarlah juga menaburkan kemurahan; kita yang walaupun tidak layak telah diterima dan dibawa ke dalam kemuliaan biarlah juga menjadi alat kasih karuniaNya yang mengangkat orang dari kehinaan ke dalam kemuliaan. Dan biarlah kita menunjukkan hidup yang diubahkan karena kasih karuniaNya bekerja dalam diri kita. Amin. ?
(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah)