Ringkasan Khotbah : 1 September 2002

Carang yang Sejati

Nats: Yoh 15:1-3; Mat 7:15-23

Pengkhotbah : Pdt. Sutjipto Subeno

 

Yoh 15:1-3 termasuk bagian eksklusif dimana Kristus menyatakan hubungan antara umat Tuhan sejati dan Allah yang sangat intim/dekat hingga disebut the communion/the mistical union with Christ. Bagian tersebut akan sangat bahaya jikalau tak dimengerti secara tepat. Mereka yang bukan anak Tuhan sejati boleh membaca bagian tersebut dan mungkin mampu memperoleh pengertian tepat tapi tak mungkin sanggup menjalankannya karena pelaksanaannya harus dimulai dari Allah. Selain itu, bagian tersebut cenderung dimanipulasi. Maka Kristus tak  mengajarkan prinsip tersebut pada orang lain sebelum Yudas diusir.

Sesungguhnya, tak seorang pun berhak menentukan nasib orang lain. Ironisnya, ada orang Kristen dengan logika yang tampak benar berani menggunakan ayat 4, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” untuk menunjukkan dirinya dan Kristus telah bersatu lalu perkataannya boleh dianggap sebagai kehendakNya. Inilah sikap mentuhankan diri.

Di ayat 2 Kristus menggambarkan umatNya sebagai ranting/carang/branches yang tumbuh di dalam kebun anggur. Ranting tersebut kelihatan sama tapi sebenarnya ada 2 macam: (1) yang berbuah, (2)yang tak berbuah. Carang asli yaitu yang berbuah. Carang tersebut akan selalu dibersihkan sehingga berbuah banyak bagi KerajaanNya. Inilah cara terbaik meski kadang menyakitkan bahkan menghancurkan. Sedangkan carang palsu takkan pernah berbuah maka dipotong lalu dibuang, dibiarkan jadi kering dan akhirnya dibakar. Sebenarnya, kedua positioning tersebut telah terjadi dalam diri 12 murid Tuhan yaitu 11 yang asli dan 1 palsu.

Dalam konsep tersebut Tuhan menunjukkan, yang terjadi di dunia bukan sesuatu yang tampak beda total melainkan mirip tapi palsu. Untuk membedakan Kristen dan agama lain sangat mudah. Tapi yang sulit justru ketika harus membedakan 2 orang Kristen dengan banyak kesamaan. Ayat tersebut juga seringkali disalah mengerti dengan mengatakan, orang Kristen suatu saat selamat masuk ke Surga tapi di lain waktu tak selamat lalu masuk ke Neraka.

Di Mat 7 Tuhan memberi gambaran lebih jelas yang menunjukkan konektivitas/hubungannya dengan Yoh 15. Selain itu, pengungkapan Mat 7 lebih tegas, tajam dan terbuka untuk mengkritik sekaligus memperingatkan karena konteksnya yaitu khotbah di bukit dimana banyak orang mendengarkan. Tapi Yoh 15 lebih mendalam.

Di Mat 7:15 Tuhan berkata, “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.” Jadi, antara yang asli dan palsu sulit dibedakan. Lalu Ia menggunakan perumpamaan, “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.” (ayat 16-18)

Lalu Tuhan melanjutkan, “Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, … Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu, dan mengusir setan demi namaMu, dan mengadakan banyak mujizat demi namaMu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah daripadaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!”  (ayat 21-23)  

Di Mat 13:30 mengenai perumpamaan tentang gandum dan lalang, Tuhan berkata, “Biarlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.”

Kalau orang Kristen terkecoh lalu salah menempatkan diri hingga beriman palsu tapi tetap meyakininya benar, masalah tersebut tergolong sangat besar karena menyangkut nyawa. Hendaknya ia sadar, bertobat dan mencoba mengerti Kekristenan sejati sebelum terlambat yaitu ketika harus berhadapan dengan Tuhan. Meskipun ia aktif melayani di Gereja, sering berbuat baik, kelihatan saleh dan khusuk saat berdoa atau berpuasa, semua itu tak menunjukkan kesejatian imannya. Orang saleh semacam itu tak selalu Kristen. Baptisan juga belum membuktikan ia beriman Kristen sejati. Banyak orang dibaptis bukan karena ingin jadi Kristen. Contoh, supaya diterima di sekolah Kristen dengan biaya murah dan tanpa dipersulit. Ada pula yang berpikir, baptisan merupakan jaminan untuk masuk ke Surga. Maka setelah itu, ia boleh bertindak sesuka hati dan menghilang dari Gereja. Konsep tersebut bukan gambaran the true Christian. Ada pula yang berpendapat, orang Kristen sejati harus mampu berbahasa Roh sebagai manifestasi. Pendapat tersebut juga tak sesuai Alkitab.

Pohon anggur tak mudah berbuah. Kalau tak disiangi dan dipelihara sebaik mungkin, lama kelamaan jadi semak belukar. Calvin berpendapat, orang Kristen harus menemukan kon­sep dasar dari perumpamaan yang diungkap oleh Tuhan.

Orang Kristen sejati bertumbuh, mulai dengan kesadaran bahwa dirinya kotor, najis, jahat, berdosa dan binasa hingga butuh pengampunan, penebusan sekaligus pembersihan oleh darah Kristus yang tercurah di salib untuk membasuh serta menyucikan karena manusia tak  sanggup mengupayakannya. Itulah reaksi semua tokoh Alkitab ketika pertama kali bertemu Tuhan. Maka pengertian iman Kristen sejati dimulai dari berita penginjilan mengenai manusia berdosa. Inti berita tersebut yaitu bahwa Kristuslah Tuhan atas hidup jemaatNya. Tanpa Roh Kudus berkarya, dunia yang humanistik takkan mau menerima fakta tersebut karena terlalu sombong untuk mengakui kelemahan. Ketika dosanya ditegur sekaligus dikoreksi, mereka takkan berterimakasih melainkan marah karena merasa orang lain mengganggu keangkuhannya dan mencam­puri urusan pribadinya.

Ada orang Kristen mengatakan, baptis curah membersihkan hanya bagian kepala. Maka harus baptis selam untuk membersihkan secara total dan memperoleh keselamatan. Bagaimana dengan jemaat yang sakit hingga tak mungkin dibaptis selam? Dosa merupakan masalah rohani bukan jasmani. Baptisan hanyalah kebersihan bersifat simbolik dimana Roh Kudus turun ke dalam diri jemaat. Jadi, bukan air yang membersihkan. Baptisan juga bukan kategori penyelamatan. Selain itu, kebenaran­Nya tak tergantung kondisi. Ada pula yang berpendapat, baptisan harus menggunakan minyak. Orang dunia malah percaya pada praktek mistik seperti perdukunan.

Di 2 Raj 5:10 nabi Elisa menyuruh Naaman, panglima raja Aram, “Pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir.” Tapi Naaman tak mau, “Bukankah Abana dan Parpar, sungai-sungai Damsyik, lebih baik dari segala sungai di Israel? Bukankah aku dapat mandi di sana dan menjadi tahir?” (ayat 12) Para pegawainya berkata, “Bapak, seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah bapak akan melakukannya?” (ayat 13) Lalu di ayat 14 tercatat, “Maka turunlah ia membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai Yordan, … Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir.” Jadi, perkataan nabi yang powerful.

Di Yoh 15:3 Tuhan berkata, “Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.” Pembersihan oleh Firman bukan sebagai bukti supaya diselamatkan. Ia justru menyelamatkan dahulu barulah pembersihan dilakukan. ‘Sudah dibersihkan’ mengandung unsur paradoksikal yaitu sebagai titik awal untuk terus menerus dibersihkan sampai mati. Maka pembersihan oleh Firman seharusnya membuat orang Kristen yakin dan confident untuk terus menikmati sekaligus bersandar kepadaNya.  

Aktivitas otak manusia dibedakan jadi 2: (1)rasional/pemikiran, (2)emosional/perasaan. Jadi, perasaan bukan di hati/lever atau jantung/heart. Ia pasti mengerjakan dan memperjuangkan hanya yang menurut anggapannya baik dan benar. Kalau otaknya salah, semua yang dijalankannya juga salah. Otak dapat dibersihkan dan dididik hanya dengan Firman yang adil, suci dan mulia. Maka Kekristenan terutama Reformed mengajak kembali kepada Alkitab meskipun tak mudah.

Ketika menanam anggur, pemilik kebun menunggu hasil terbaik. Buah itu akan jadi kriteria kesuksesan the owner. Ia memotongnya berulang kali per bagian supaya hidupnya berproses hingga akhirnya dapat dipakai untuk menjalankan pekerjaanNya. Hidupnya terus dimurnikan. Maka hendaknya orang Kristen tak marah ketika diproses olehNya.

Paulus berprinsip, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.” (Flp 1:21-22) Maka ia selalu jadi berkat. Amin.?

(Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhot­bah)